
"Plakkkkk" satu tamparan keras mendarat di pipi Melia.
"Jadi loo yang nyelakain sahabat gue" bentak Cika penuh emosi.
"Berani berani nya Lo nampar gue!! siapa loo?? Lo gak berhak nampar gue" bentak Melia, masih tidak mau kalah.
"Dasar cewek gatau diri" bentak Cika menarik kasar rambut panjang Melia.
"Auwww,, lepasin" ucap Melia menahan sakit di kepala nya karena jambakan keras Cika.
"Ada manfaatnya juga kita ajak Cika" ucap Bryan tersenyum puas melihat Melia saat ini.
"Good sih" ucap Vero.
"Lo tadi bilang apa? Frisil berhak mati!! Lo yang harusnya dilenyapin dari duni ini" bentak Cika penuh emosi.
"Lihat aja, Lo yang akan jadi sasaran gue berikut nya. Karena Lo berani ke gue" ucap Melia.
"Sasaran berikutnya" ucap Cika.
Cika berjalan menuju ke arah berbagai macam pisau yang ada diruangan itu. Bryan dan Vero hanya mengamati apa yang akan dilakukan Cika.
Cika kembali melangkah mendekati Melia dengan pisau yang sudah ada ditangannya. Hal itu membuat Melia semakin panik, ia mulai memberontak.
"Lo yang akan jadi sasaran utama kemarahan gue" ucap Cika, mulai mengusap wajah, leher Melia dengan pisau yang ada di tangannya.
"Lo mau apaa?? pergii loo" teriak Melia semakin ketakutan.
'Sringgg' satu goresan kecil dibagian leher Melia.
"Auwww Lo gila ya" Bentak Melia.
"Gue emang gila,, siapapun yang berani main main sama orang terdekat gue, akan habis ditangan gue" ucap Cika penuh penekanan.
Sedangkan Bryan terus menatap ke arah Cika, ia tidak menyangka sahabat Frisil memiliki sisi pembunuh yang hampir sama dengan Frisil. Bahkan Vero juga sedikit terkejut melihat Cika yang sekarang.
"Melia itu hanya luka kecil saja, kenapa kau kesakitan seperti Lukanya besar saja" ucap Cika, terus memutar pisau dengan jari jemari nya memutari tubuh Melia.
"Bryan gue mohon lepasin gue!! Gue janji ngga akan ganggu Lo lagi" ucap Melia menatap kearah Bryan.
Namun Bryan tidak menggubris sama sekali, seolah olah rasa sayang dan cinta nya selama ini kepada Melia berubah seketika menjadi benci yang sangat besar.
'Sringggg ' suara pisau yang mulai melukai tangan mulus Melia.
"Ini pembalasan, karena Lo udah berani berani nya nyentuh sahabat gue" ucap Cika dengan senyuman.
"Akhhhhhh, sakitttt,,, tolong lepasin gue" teriak Melia.
Cika melukai tangan Melia cukup besar kali ini, darah mulai bertetesan. Bryan mulai menghampiri Cika.
"Sudah lah, kita ngga punya banyak waktu. Jangan kotori tangan Lo" ucap Bryan menarik tangan Cika, karena semakin nekat.
"Kenapa?? gue yang akan ngebunuh dia" ucap Cika.
"Kenzo tugas Lo udah habisi wanita itu" ucap Bryan, terus menarik tangan Cika untuk keluar dari ruangan diikuti Vero dibelakangnya.
Mereka bertiga kembali ke rumah sakit, Bryan memberitahukan kepada Cika untuk merahasiakan yang terjadi barusan. Hal itu disetujui oleh Cika.
"Dokterr, suster" panggil Brayen keluar dari ruangan.
Vero yang melihat itu pun langsung berlari di ikuti yang lain.
"Ada apa?" ucap Vero.
"Frisil siuman" ucap Brayen, Vero segera masuk ke dalam. Di ikuti dokter yang sudah datang untuk memeriksa keadaan Frisil.
"Pasien sudah melewati masa kritis nya, saya permisi" ucap Dokter, pergi meninggalkan ruangan.
"Syukurlah" Vero mendekat ke arah Frisil, di ikuti yang lain.
"Sayangg" panggil lembut Vero mengusap rambut Frisil.
Frisil hanya menatap Vero dengan senyuman, ia juga melihat ke arah kedua kakanya dan sahabat nya. Bryan mendekat dan meraih tangan Frisil.
"Dek maafin kakak" ucap Bryan tulus. Dijawab senyuman oleh Frisil, sudah lama Bryan tidak menyapa nya dan kali ini Bryan terlihat khawatir dengannya.
Frisil hanya bisa tersenyum, Vero membantu kekasihnya untuk meminum air putih. Vero sangat bersyukur bisa melihat kembali senyum di raut wajah cantik kekasih nya.
"Makasih sayang" ucap lembut Frisil.
"Sil Lo harus semangat okey" ucap Cika.
"Cepat sembuh, biar kita bisa main lagi" ucap Selin memeluk tubuh sahabat nya.
Setelah beberapa menit, mamah Airin datang di ikuti Ayah Alfa dan Ara. Mamah langsung memeluk tubuh Frisil yang masih terbaring, Frisil tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Kak bagaimana keadaanmu?" ucap Ayah Alfa.
"Frisil baik baik saja yah" ucap Frisil tersenyum manis.
"Kapan Frisil bisa pulang? Frisil gamau lama lama dirumah sakit" ucap Frisil.
"Sayang kondisi mu masih belom pulih, kamu yang sabar yah" ucap mamah Airin mencium kening Frisil.
"Ayah kemarilah" ucap Brayen tiba tiba datang. Ayah Alfa langsung keluar mengikuti Brayen.
Di Luar.
"Orang yang mendorong Frisil sudah dihabisi yah" ucap Brayen.
"Siapa orang nya?" ucap Ayah Alfa.
"Melia, mantan pacar Bryan" ucap Bryan menundukkan kepalanya.
"Syukurlah kalo sudah dihabisi" ucap Ayah Alfa.
"Tapi sepertinya pelaku yang mencoba membunuh Frisil kemarin bukan Melia yah" ucap Brayen.
"Iya yah, orang yang berbeda" ucap Bryan sudah menyelidiki dan terbukti bukan Melia.
"Kita harus hati hati, seperti nya dia bukan orang biasa" ucap Ayah Alfa, dijawab anggukan oleh Bryan dan Brayen.
Di Dalam Ruangan.
"Mah aku mau ke toilet" ucap Frisil, membuat Mamah Airin langsung menatap Vero dan teman temannya yang ada diruangan.
"Mah ayo bantu aku" ucap Frisil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Jangan lupa Like, Coment, Follow yaaa
Makasih yang udah support Outhor sampai sekarang
Instagram @linaa.pndk
Salam kenal semuanya 🤗🤗