One Night Surprise

One Night Surprise
EPISODE 76 - Romantis



"Dan lagu yang akan saya bawakan ialah lagu spesial untuk wanita yang ada disana" ucap Vero menunjuk ke arah Frisil.


"Wuwhhhhh"


"Aaaa sosweet"


"Aaaaaa pengennn"


"Sosweet bangett"


Banyak para kaum hawa yang mengagumi mereka berdua, dan ada juga yang iri dengan hal itu.


"Cieee" ucap Cika.


"Jangan gitu, aku malu nanti" ucap Frisil masih salting karena hal itu.


"Frisilla Reyna Anatasya kemarilah" ucap Vero, membuat Frisil membulatkan bola matanya.


"Haa apa? aku?" ucap Frisil, dijawab anggukan oleh Vero.


"Sana Sil" ucap Selin.


"Ya ampun baper banget gue" ucap Cika.


Frisil berjalan menaiki tangga, Vero segera mendekati Frisil yang saat itu sangat gugup karena riuh para penonton.


"Frisilla Reyna Anatasya, wanita yang mampu membuatku seperti orang gila selama ini. Wanita yang selalu membuat ku tertawa sendiri ketika mengingat senyumnya, membuatku selalu memikirkannya setiap saat" ucap lembut Vero membuat Frisil tak menyangka dengan apa yang Vero ucapkan.


"Frisilla Reyna Anatasya bersediakah kamu menjadi pasangan hidup ku?" ucap Lembut Vero membuat semua murid berteriak histeris dengan kata kata manis yang Vero ucapkan.


"Terima Terima Terima" ucap Riuh para penonton.


Frisil menatap Brayen yang ada di belakang Vero, Brayen tersenyum dan menganggukkan kepalanya membuat Frisil tersenyum.


"Yaa aku mau" ucap Frisil, dengan cepat Vero langsung memeluk erat tubuh Frisil.


"Makasih sayang, Love you" bisik Vero.


"Love you too" ucap lirih Frisil.


Brayen mulai memainkan Gitar nya, Vero masih dengan posisi menggenggam erat tangan Frisil. Sedangkan Anez dan Kiya langsung pergi meninggalkan acara melihat kejadian di depannya.


CINTA PERTAMA DAN TERAKHIR - Sherina Munaf


Sebelumnya tak ada yang mampu


Mengajakku untuk bertahan


Di kala sedih


Sebelumnya kuikat hatiku


Hanya untuk aku seorang


Sekarang kau di sini


Hilang rasanya


Semua bimbang tangis kesepian


Kau buat aku bertanya


Kau buat aku mencari


Tentang rasa ini


Aku tak mengerti


Akankah sama jadinya


Lalu senyummu menyadarkanku


Kau cinta pertama dan terakhirku


Hu-uu


Sebelumnya tak mudah bagiku


Tertawa sendiri di kehidupan


Yang kelam ini


Sebelumnya rasanya tak perlu


Membagi kisahku


Saat ada yang mengerti


Sekarang kau di sini


Hilang rasanya


Semua bimbang tangis kesepian


Kau buat aku bertanya


Kau buat aku mencari


Tentang rasa ini


Aku tak mengerti


Akankah sama jadinya


Lalu senyummu menyadarkanku


Kau cinta pertama dan terakhirku


Bila suatu saat


Kau harus pergi


Jangan paksa aku


Tuk cari yang lebih baik


Karena senyummu


Menyadarkanku


Kaulah cinta pertama dan terakhirku


Wo-u wo-ho- oh


Kau buat aku bertanya


Kau buat aku mencari


Tentang rasa ini


Aku tak mengerti


Akankah sama jadinya


Lalu senyummu menyadarkanku


Kau cinta pertama dan terakhirku


hu-hu


(Kau buat aku mencari)


Tentang rasa ini


Aku tak mengerti


Akankah sama jadinya


Lalu senyummu menyadarkanku


Kau cinta pertama dan terakhir


Ku


Oo-oh ho-o


Ye-ee-ei


"Cuppp" satu kecupan mendarat di kening Frisil.


"Terimakasih semuanya" ucap Vero, menggandeng tangan Frisil untuk ke belakang.


"Aaaaaaa gemesss"


"Sosweet"


"Aaa pengenn"


"Beruntung banget jadi Frisil"


Di belakang panggung.


"Cie yang baru jadian" ucap Cika yang sudah menunggu mereka.


"Gue ke toilet bentar" Ucap Frisil.


"Mau ditemenin ngga?" ucap Vero.


"Gausah, gue bisa sendiri" ucap Frisil langsung pergi menuju kamar mandi.


Setelah selesai, ketika Frisil akan melangkahkan kaki menuju keluar. Tiba tiba saja dua laki laki berpakaian hitam menariknya, dan menutup mulut Frisil hingga tidak ada orang yang mendengarkan teriakan Frisil.


Frisil mulai tidak sadarkan diri akibat obat bius yang ada di sarung tangan. Mereka membawa Frisil lewat pintu belakang karena tidak akan ada orang disana.


Setengah jam berlalu.


"Kenapa perasaan ku ngga enak?" ucap lirih Vero terus mondar mandir menunggu Frisil.


"Lo kenapa sih, mondar mandir pusing gue liat nya" ucap Leo.


"Ini udah setengah jam Lo, Frisil belom balik balik" ucap Vero, langsung bergegas menuju kamar mandi.


"Gue ikut" ucap Brayen berlari mengikuti Vero.


Ada cewek keluar dari kamar mandi perempuan.


"Maaf di dalam apa masih ada orang?" ucap Vero.


"Aku cuma sendirian kak, di dalam udah ngga ada siapa siapa" ucap salah satu adek kelas.


"Dimana Frisil?" ucap Vero berusaha menelfon Frisil, namun hpnya tidak aktif.


"Ikut lah denganku" ucap Brayen menuju ruang komputer.


Brayen langsung menyalakan monitor, ia langsung mengetikkan sesuatu. Dan muncul lah lokasi dimana titik letak Frisil saat ini.


"Frisil di culik" ucap Brayen.


"Kita kesana sekarang." ucap Vero, dijawab anggukan oleh Brayen.


Mereka sudah sepakat untuk tidak memberitahukan Leo dan yang lain, Brayen langsung melajukan mobilnya menuju lokasi Frisil.


Disisi lain.


Frisil mulai sadar, namun ia tidak langsung membuka mata. Ia mendengar kan di sekeliling nya sekarang masih banyak orang.


"Gimana bos?" ucap salah satu laki laki.


"Kalian jaga dia, kalau dia sudah siuman kabarin" ucap wanita itu, suaranya sangat tidak asing menurut Frisil.


"Siapa wanita itu, kenapa suaranya pun tidak asing" batin Frisil.


"Kemana bos pergi?" ucap salah satu preman.


"Dia akan ke sekolahan, agar tidak dicurigai" ucap Salah satu preman.


Frisil yang sudah memastikan wanita yang menculiknya sudah pergi, dengan cepat ia memencet tombol di jam tangan khusus miliknya. Hanya butuh waktu 10 menit, pasukan Frisil sudah berhasil menghabisi para preman yang ada disana.


"Apa Queen tidak apa apa?" ucap Kenzo melepaskan tali ditangan Frisil.


"Aku tidak apa apa, urus mereka semua" ucap Frisil langsung menghidupkan kembali ponselnya.


Banyak sekali notif panggilan dari Vero, ataupun Brayen. Frisil yakin jika sekarang mereka menuju ke lokasi nya.


Dengan cepat Frisil menyuruh Kenzo dan pasukan lain segera pergi dari lokasi. Frisil berjalan menuju warung dekat sana, ia memesan minuman.


"Sayang kamu dimana?" ucap Vero penuh khawatir, tiba tiba Frisil telfon.


"Aku baik baik saja, jemput aku di warung X. Aku tunggu" ucap Frisil.


"Tunggu disana, sebentar lagi aku sampai" ucap Vero.


5 menit kemudian, Brayen berhenti tepat di depan warung makan. Mereka langsung masuk kedalam mencari keberadaan Frisil.


"Kamu gapapa?" ucap Vero langsung memeluk erat Frisil.


"Seperti yang kamu lihat, i'm Okey" ucap Frisil.


"Siapa yang menculikmu?" tanya Brayen.


"Aku tidak tau pasti, karena saat sadar mata ku tertutup." ucap Frisil.


"Bagaimana kamu bisa lolos?" ucap Vero.


"Aku hajar lah mereka, terus aku kabur" ucap Frisil degan cengengesan.


"Yaudah buruan kita kembali, takutnya yang lain curiga" ucap Brayen.


Vero langsung merangkul pundak Frisil. Brayen melajukan mobilnya kembali menuju sekolahan, mereka berjalan mencari Leo dan yang lainnya. Untung saja mereka sedang asik melihat performa dari para musisi.


"Kak Vero lepasin, dilihatin banyak orang" ucap Frisil.


"Gakk, ga akan aku lepasin. Nanti kamu ilang lagi" ucap Vero, hal itu membuat Frisil langsung nurut.


"Kenapa dia ada disini? dasar anak buah gak becus" batin Anez melihat Frisil dengan penuh amarah.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Haii semuanya


Jangan Lupa Like, Coment, Follow yaaa


Makasih yang udah support Outhor sampai sekarang


Instagram @linaa.pndk


Salam kenal semuanya 🤗