
"Lo ngapain jalan mundur" tanya Vero cuek. Namun tidak ada jawaban dari Frisil.
Frisil semakin panik, keringat pun mulai membasahi seluruh tubuhnya terutama bagian kepala nya. Frisil terus menoleh kesana kemari dengan kegugupannya.
"Lo ngapain sihh" tanya Vero dengan suara yang meninggi.
"Tolongin gue" ucap Frisil memohon sambil memegang erat tangan Vero.
"Lo kenapa sih" ucap Vero masih dengan sikap dinginnya. Ketika Frisil melihat ke arah belakang ternyata bola mata nya menangkap keberadaan Tiara yang mulai mendekat.
"Gue harus pergi" ucap Frisil yang akan melangkahkan kaki nya meninggalkan Vero. Namun tak disangka suara itu mampu membuat langkah Frisil terhenti tepat di samping tubuh Vero.
"Tungguu" Suara dari belakang tubuh Frisil.
"Dia kemari" ucap lirih Frisil dan langsung bersembunyi di belakang tubuh kekar milik Vero.
Flashback
Perusahaan Rey mengalami kebangkrutan setelah menikah dengan Tiara, karena istrinya itu selalu menuntut uang yang nominalnya cukup besar.
Rey selalu membanding bandingkan Tiara dengan Airin yang sekarang bahkan karirnya semakin tinggi karena menikah dengan seorang pengusaha sukses.
"Lihat lah, jika aku menikah dengan Airin. Pasti hidupku akan bahagia" Bentak Rey.
"Stopp, Airin Airin Airin!! Hargai aku disini sebagai istrimu" ucap Tiara.
"Akkhhhh" teriak frustasi Rey, meninggalkan Tiara.
Hal itu membuat Tiara semakin tidak menyukai Airin. Ketika Tiara mengendarai mobilnya dengan tatapan kosong, tiba tiba saja mobil Tiara langsung dihantam oleh mobil yang sedang melaju kencang.
Rey yang saat itu berada di kantor dan mendengar kabar Tiara kecelakaan dan kritis ia langsung memesan tiket, karena bagaimana pun ia masih mencintai Tiara cinta pertama nya.
"Sayang bangunlahh,, maafin aku,, aku benar benar egoiss,, bangunlahh,, jangan tinggalin aku" ucap Rey memegang tangan Tiara yang tidak sadarkan diri.
"Bangunlahh,, aku janji tidak akan membandingkanmu dengan Airin lagi" ucap Rey menyesal. Seketika Tiara mulai menggerakkan jarinya.
"Dokterrr dokterrr, tadi istri saya menggerakkan jarinya" Teriak Rey. Dokter pun langsung datang dan memeriksanya.
"Keadaan Nyonya Tiara sudah mulai membaik tuan, kemungkinan sebentar lagi beliau akan segera sadar" ucap Dokter itu.
Semenjak hari itu, ketika Tiara
13 tahun kemudian.
"Mahh beliin Dira daging ya nanti" ucap Dira melalui telfon.
"Iya sayang nya mamah,," ucap Tiara menutup telfonnya.
"Sayang nanti mampir ke supermarket depan itu ya" ucap Tiara kepada Rey.
"Iyaa" jawab Rey.
Mereka berdua masuk ke dalam supermarket menuju ke tempat daging.
"Sayang Aku mau beli minuman dulu, kamu tunggu disini aja" ucap Tiara pergi meninggalkan suaminya. Dijawab anggukan oleh Rey.
Namun ketika memilih milih minuman, tiba tiba saja saat akan mengambil minuman bersamaan dengan seorang gadis yang tidak asing bagi Tiara.
"Wajah ituu" batin Tiara menatap Gadis yang berada di depannya yang mulai melangkah mundur.
"Wajah itu!!! Apa dia anak wanita sialan itu, wajah nya mirip sekali!!" ucap pelan Tiara sedari tadi mencoba mengingat siapa gadis itu.
Tiara yang melihat Gadis itu sudah jauh dari posisi nya, ia segera mencari cari keberadaan Gadis itu. Ketika di dekat kasir ia melihat tubuh gadis itu.
"Tunggu" ucap Tiara meninggikan suara melihat Gadis itu. yang akan pergi.
Flasback Off
"Siapa wanita ini? kenapa gadis ini terlihat sangat ketakutan dengan wanita ini" batin Vero bertanya tanya.
"Ada perlu apa ya sama pacar saya?" tanya Vero meraih tubuh Frisil yang bersembunyi dibelakangnya dan merangkul tubuh mungil Frisil.
"Apa yang dia lakukan" batin Frisil ingin sekali melepaskan tangan Vero yang tanpa izin tiba tiba merangkulnya.
"Oh dia pacarmu? Mungkin saya salah orang." ucap bohong Tiara, karena ia tidak ingin malu di depan orang lain.
"Yaudah saya permisi dulu" ucap Vero meraih tangan Frisil yang masih dingin dan keringat yang masih berada di area wajahnya.
"Lihat saja, kali ini Lo bisa lari." batin Tiara, terus menatap tajam ke arah Frisil.
Frisil menoleh kebelakang, ia melihat Tiara terus menatap tajam ke arahnya. Hal itu membuat Frisil semakin ketakutan.
"Lo betah ya, terus terusan megang tangan gue" ucap Vero. memecahkan lamunan Frisil. Dengan segera Frisil langsung melepaskan tangannya
"Sorry, makasih" ucap Frisil langsung pergi meninggalkan Vero dengan wajah pucat nya.
"Tunggu" ucap Vero, namun sudah tidak di dengar oleh Frisil.
"Vero udah selesai?" tanya wanita paruh baya itu yaitu Mama Sara.
"Ehh udah kok mah" ucap Vero.
Vero segera menuju ke parkiran untuk mengambil mobil nya.
"Kak tau gak? tadi Marcel nabrak bidadari tauuu" ucap Marcel adek kandung Vero paling kecil.
"Masaa??" ucap Vero.
"Cantik bangett orang nya, baik, lemah lembut." ucap Marcel dengan menyatukan jari jari nya sambil membayangkan.
"Kamu tuh masih kecil, udah genit aja" ucap Mami Sara.
"Cocok tau mah sama kakak" ucap Marcel menggoda kakak nya yang sedang fokus menyetir.
"Paan sih" ucap Vero ketus.
"Vero kamu udah mau lulus loh, kapan kamu bawa cewekmu itu" ucap Mamah Sara.
"Vero masih mau kuliah, gak mau mikirin cewek" ucap ketus Vero.
"Kalo kelamaan awas aja, mami akan jodohin kamu sama anak temen nya mami." ucap Mamah Sara.
"Emang masih jaman yaa perjodohan???, mamah aneh banget" ucap Vero tertawa kecil.
Disisi lain.
Tutt tuttt tutt
"Sayang kamu sekarang dimana? kakak kamu udah pada pulang, kamu dimana sekarang?" tanya mamah Airin cemas.
"Frisil gapapa kok, bentar lagi sampe" ucap Frisil dengan nada yang lemas dan langsung mematikan telfonnya.
"Loh kok dimatiin sih, ada apa sebenarnya?" ucap Mamah Airin.
"Gimana mah? Frisil ada dimana?" tanya Brayen yang baru datang, di ikuti Bryan di belakangnya.
"Katanya bentar lagi sampai" jawab Mamah.
"Kakakk main yukk" ucap Ara menarik tangan Brayen dan Bryan.
"Baiklah putri" ucap Brayen langsung menggendong tubuh mungil Ara.
"Nihh Rasain" ucap Bryan menggelitik tubuh Ara yang berada di gendongan Brayen.
"Ampunnn kakk,, hahahahahha,, geliii" ucap Ara tertawa lepas.
"Hati hati Brayen, nanti jatuh lo adekmu" ucap mamah Airin.
"Iya mah" jawan Brayen.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, muncullah Frisil yang berjalan lurus menuju kamarnya tanpa menyapa kakak, adiknya dan mamah nya di ruang Keluarga.
"Itu Frisill mah" ucap Brayen melihat Frisil melewati nya tanpa menyapa.
"Tumben tuh bocah gak ada suara nya" ucap Bryan.
"Yaudah mamah samperin Frisil dulu" ucap Mamah Airin. Di jawan anggukan oleh ketiga anak nya.
Tok tok tokk
"Frisill!! Buka pintunya" ucap Mamah Airin mengetuk pintu Airin yang terkunci dari dalam.
Ceklek'
"Kamu kenapa?" tanya Mamah Airin melihat kedua mata Frisil yang sembab.
"Mahh,, Frisil takutt,,, Hikss Hikssss" Tangis Frisil pecah di pelukan mamahnya.
"Heiii,, siapa yang bikin kamu nangis dan ketakutan seperti ini??" ucap Mamah cemas melihat kondisi anak nya.
"Mahhh dia datangg,hiksss hiksss,,, Frisil takut mahhhh, Hikssss,,,hiksss" Tangis Frisil semakin menjadi jadi dan memeluk erat tubuh Mamahnya.
"Brayennnnn" teriak mamah Airin, karena melihat keadaan Frisil yang semakin tidak kondusif.
Brayen yang mendengarkan teriakan Mamahnya, langsung berlari menuju kamar adeknya itu.
"Bryan kamu jaga Ara dulu,, aku mau kesana dulu" ucap Brayen meninggalkan Bryan dan Ara.
"Ada apa mahh" ucap Brayen kaget melihat kondisi Frisil yang menatap depan dengan tatapan kosong dan terus menangis.
"Telfon ayahmu, suruh pulang cepet" perintah Mamah Airin.
"Baik mah" ucap Brayen mengambil hpnya.
Tuttt tuttt tuttt.
"Yahhh buruan pulang!!! Sepertinya penyakit Frisil kambuh lagi yahh" ucap Brayen khawatir melihat kondisi adeknya.
"Baiklah ayah pulang sekarang" ucap Ayah Alfa langsung menutup telfonnya.
"Gimana Brayen?" tanya mamah Airin.
"Bentar lagi ayah segera sampai mah" jawab Brayen mendekati tubuh Frisil.
"Kenapa bisa kambuh lagi mah" tanya Brayen.
"Mamah juga gak tau" ucap Mamah Airin.
Tidak lama kemudian suara langkah kaki menuju kamar Frisil. Datang lah Alfa yang terlihat sangat cemas di ikuti dokter di belakang nya.
"Sayang apa yang terjadi?" tanya Alfa cemas.
"Gatau yah, pulang sekolah langsung nangis" ucap Mamah Airin.
Dokter langsung memberikan suntikan kepada Frisil. Selang beberapa saat Frisil sudah tidak sadarkan diri akibat efek obat penenang.
"Ini obatnya, jika Frisil sudah bangun. Segera beri dia obat ini." ucap Dokter.
"Yahhh wanita itu datang lagii" ucap Frisil memegang erat tangan ayahnya dengan mata yang masih tertutup.
"Wanita itu?? siapa?? apa dia Tiara?" batin Airin.
.
.
.
.
.
.
.
#Haiii Semuanyaa.
Jangan Lupa VOTE
Dan juga LIKE, COMENT, FOLLOW yaaa
Instagram @Linaa.pndk