
"Ayahhh gimana terus???" Ucap panik Mamah Airin.
"Frisill, nak tolong jagain Ara ya.. Ayah sama mamah sayang sama kalian" ucap Ayah merebut hp yang ada ditangan Airin.
"Ayah ngomong apaan sih. Ayah dimana??" ucap Panik Frisil.
"Sayang maafin mamah" teriak mamah Airin.
"Mahhhh Yahhh??" panggil Frisil panik.
"Akhhhhhhhhhhhh Tolonggggg" teriak Mamah Airin dan Ayah Alfa.
Telfon pun tiba tiba mati. Mobil yang ditumpangi Airin pun terjun bebas ke jurang yang cukup dalam di daerah sana, Mobil pun terjatuh dan langsung meledak.
Sedangkan Dirumah.
"Ayahhh mamahhhh" panggil Frisil meneteskan air matanya.
"Kenapa sayang?" ucap Vero datang mendengarkan suara Frisil yang panik.
"Mamahhh ayahhh remblongg" ucap Frisil penik.
"Ayo kita tolongin ayah" ucap Frisil.
"Apaa?? rem blong?" ucap Vero.
"Mereka jalan menuju puncak, ayo kak bantu aku kesana" ucap Frisil panik.
Bersamaan datangnya Bryan dan Brayen, mereka yang melihat kepanikan Frisil langsung berlari mendekati adeknya.
"Dek kenapa?" ucap Brayen panik.
"Ayah mamahh, mobilnya rem blong hikss hikss hikss" ucap Frisil dengan tangisannya.
"Apaa??" ucap Brayen dan Bryan bersamaan.
"Ayo kak kita kesana!! mamah butuh bantuan kitaa" teriak Frisil menangis sejadi jadinyaa.
Bryan langsung meraih hp Frisil, benar saja barusan mamahnya telfon di hp milik Frisil. Dengan cepat mereka berlari menuju mobil dan melajukan mobil mereka menuju puncak.
"Kak mamah ayah hikss hiksss" Tangis Frisil dipelukan Brayen.
Sedangkan Vero fokus dengan perjalanan mereka menuju arah puncak.
"Tenang dek, ayah sama mamah pasti baik baik saja" ucap Brayen mengusap lembut rambut Frisil yang terus menangis.
"Tadi mamah minta tolong, ayah teriakk hikss hikss" tangis Frisil semakin pecah.
Sedangkan Vero, Brayen dan Bryan masih berfikir positif. Namun setelah lama nya perjalanan, ketika mereka sampai di atas tiba tiba macet total.
"Ada apa sebenarnya? ngga biasanya disini macet seperti ini apalagi malam hari" ucap Vero yang pernah melewati jalan itu.
"Ayo kita turun!!!" ucap Frisil panik.
"Bryan seperti nya ini ngga akan jalan" ucap Vero.
Mereka melihat hanya montor yang saat ini bisa tetap ke atas. Vero dan Brayen langsung turun dari mobil, mereka menuju ke salah satu rumah warga di sana yang masih terbuka.
"Permisi" ucap Vero sopan.
"Iya nak ada yang bisa kami bantu?" ucap ramah warga disana.
"Ada apa sebenarnya di atas?" ucap Vero sopan.
"Ada mobil jatuh ke jurang dan terbakar, sekarang masih dalam evakuasi" ucap salah satu warga disana.
Brayen langsung menatap lekat ke arah Vero, terdapat ketakutan tentang apa yang dibilang Frisil.
"Saya minta tolong untuk pinjam sebentar sepeda montor sebentar saja. Mamah sama Ayah saya barusan telfon mobilnya rem blong" ucap Brayen.
"Saya mohon ini uang untuk jaminan sepeda montor kalian. Saya minta tolong sekali kepada kalian" ucap Brayen berlutut.
"Bawalah sepedanya nak, kami tau kalian orang baik. Segera lah ke atas untuk mengetahui pastinya" ucap salah satu warga dengan sopan, memberikan 2 kunci sepeda montor.
"Terimakasih pak" ucap Brayen langsung mengambil kunci sepeda montor.
Vero dan Brayen menaiki sepeda montor dan langsung menuju mobil. Bryan yang melihat Brayen berhasil meminjam sepeda montor, ia langsung menggendong Frisil untuk menaiki sepeda montor yang ditumpangi Vero.
Vero dan Brayen langsung melajukan sepedanya ke atas, ada mobil polisi yang terparkir disana dan banyak sekali orang orang yang berada di pinggir jurang.
"Kak segera kesana" ucap Frisil tetap di montor.
Brayen, Bryan dan Vero langsung berjalan membuka jalan. Mereka tertuju pada satu polisi yang ada disana.
"Pak permisi, mobil apa yang masuk ke jurang?" ucap Brayen sopan.
"Mobil Pajero warna putih" ucap polisi itu, membuat mereka bertiga langsung saling tatap satu sama lain.
"Berapa play nomernya?" ucap Bryan.
"***•****" ucap Polisi itu.
"Ayah mamahh" ucap lemas Brayen langsung terduduk menatap ke arah jurang.
"Apa kalian mengenali mobil korban?" ucap Polisi.
"Ayah dan mamah saya disana. Saya mohon tolong selamatkan mereka" ucap Bryan.
Mereka bertiga melihat ke arah jurang, dengan tatapan kosong. Hati mereka terasa sakit sekali kali ini, cobaan bertubi tubi di keluarga nya.
"Aku harus kesana cari mamah sama ayah" ucap Brayen akan turun ke jurang, namun dengan cepat polisi langsung menahan nya.
"Biarlah para tim evakuasi yang turun nak, akan berbahaya jika kamu kesana." ucap polisi karen tebing disana yang cukup curam.
"Apa?? terbakar?? gak mungkin pak, itu bukan mobil orang tua kami" ucap Frisil datang tiba tiba dengan bantuan warga yang ada disana.
"Frisil" ucap Vero dan Bryan bersamaan.
"Sayangg" ucap lembut Vero langsung mengambil alih tubuh Frisil.
"Pak polisi salah, mobil itu bukan mobil ayah sama mamah kami" ucap Frisil.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mengevakuasi korban" ucap Polisi.
"Dekk" ucap Bryan merangkul tubuh Frisil dengan tangisan yang sudah tidak tertahan.
"Kakk mamah sama ayah gamungkin ninggalin kita hikss hikss hikss" ucap Frisil menangis melihat ke arah jurang.
"Mamahhh ayahhh " teriak Frisil, mulai merasa pusing dan sesak.
Brayen dan Bryan melihat kondisi Frisil yang mulai tidak membaik langsung mendekat dan memeluk nya untuk menenangkan kondisi adeknya.
Malam semakin larut, pihak polisi tidak menemukan korban di dalam mobil. Mereka akan terus berpencar mencari keberadaan korban, Bryan dan yang lainnya kembali kerumah setelah mengisi formulir pihak keluarga korban.
Dikamar Frisil terus menangis, ia sangat terpukul. Vero tetap berusaha menenangkan kekasihnya.
"Kenzo serahkan seluruh pasukan untuk menyusuri jurang daerah X, jalan ke arah puncak sekarang" perintah Bryan.
"Baik tuan" ucap Kenzo langsung menjalankan tugasnya.
Brayen menuju ke arah kamar Ara, disana juga ada nenek Iyah yang menemani Ara. Bi Iyah sudah tau akan yang terjadi oleh Airin dan Alfa.
"Nek siap kan susu hangat dan obat untuk Frisil, aku akan menjaga Ara" ucap Brayen duduk disamping ranjang.
"Baik den" ucap Bi Iyah berjalan keluar dari kamar Ara.
Brayen menatap sendu ke arah adeknya, entah bagaimana jika kemungkinan terburuk ayah dan mamahnya tidak selamat. Bagaimana dengan Ara? Ia masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian, Oma dan opa datang dengan kepanikan nya. Di ikuti Lala dan Farhan, mereka langsung menemui Bryan di ruang keluarga.
"Nakk apa yang terjadi?" ucap Oma panik.
"Mobil mamah sama ayah masuk jurang Oma" ucap Bryan.
"Yah anak kita" ucap lemas Oma Laila.
"Tenang kan dirimu, ingat dengan kesehatan mu mah" ucap Opa Gio.
"Dimana Frisil? Brayen?" ucap Farhan.
"Frisil dikamar sama Vero, dan Brayen ada dikamar Ara" ucap Bryan.
Lala langsung segera berjalan ke arah kamar Frisil dengan kesedihan yang menimpa dikeluarga sahabatnya.
"Sayang" ucap lembut Lala, langsung memeluk erat tubuh Frisil yang masih syok.
Vero berjalan keluar dari kamar meninggalkan Kekasihnya menuju ruang keluarga.
"Sayang tenang lah" ucap Lala menangis memeluk tubuh keponakan nya.
"Auntyy mamahh Ayahhh" ucap Frisil menangis dipelukan Aunty Lala.
"Kamu yang tabah sayang, Aunty ngga akan ninggalin kamu. Ada aunty yang akan nemenin kamu" ucap Aunty Lala lembut menenangkan Frisil.
Selang beberapa saat Frisil tertidur di pelukan Lala. Hal itu membuat Lala sangat prihatin dengan kondisi putri Frisil kali ini.
Sedangkan Diluar.
"Opa" panggil Bryan kepada opa Gio.
"Ada apa Bryan" ucap Opa Gio.
"Sepertinya ada seseorang yang sudah merencanakan ini semua" ucap Bryan.
"Opa sudah mengerahkan anak buah opa untuk menyelidiki cctv yang ada di perusahaan Alfa." ucap Opa Gio.
Disisi lain.
"Selamat tinggal Airin" Batin Abel tersenyum kemenangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Jangan lupa Like, Coment, Follow yaaa
Makasih yang udah support Outhor sampai sekarang
Instagram @linaa.pndk
Salam kenal semuanya 🤗🤗