
10 Menit Kemudian.
Kedatangan mereka berdua membuat semua murid yang berada di sekitar gerbang melihat ke arah Vero dan cewek yang dibonceng Vero. Namun karena sikap keduanya hampir sama, mereka berdua melewati murid lain dengan santai tanpa rasa malu ataupun takut.
"Makasih" ucap Vero.
"Inget pulang sekolah Lo harus tepatin janji Lo" ucap Frisil.
"Iya iyaa" jawab Vero membelai lembut rambut Frisil. Hal itu pun membuat Para siswi yang berada di sekitar parkiran langsung ramai membicarakan mereka berdua.
"Ihh kann jadi berantakan rambut gue" ucap Frisil cemberut.
"Sini sini biar gue rapi in" ucap Vero langsung merapikan kembali rambut Frisil.
"Udah stopp, tuh liat tatapan mereka" ucap Frisil langsung pergi meninggalkan Vero.
Namun ketika Frisil berjalan menyusuri lorong, ia juga sempat berpapasan dengan Bryan. Yah dari kemarin Frisil memang menjauhi kakanya, ia tidak percaya jika kakanya lebih mempercayai orang lain ketimbang dirinya.
Semua orang juga disibukkan dengan acara yang akan di adakan di halaman sekolah nya, akan banyak siswa dan siswi dari sekolah lainnya. Event Fashion akan diperlombakan antar sekolahan, hal itu membuat banyaknya peserta yang akan mengikuti perlombaan.
"Dasar cewek murahan" bentak Anez yang tiba tiba datang dari belakang yang langsung mendorong keras tubuh Frisil.
"Lo yang udah ngehasut Vero buat benci sama gue. Iya kan!!" ucap Anez.
"Lo apa apa sih, Lo yang harusnya sadar diri" ucap Frisil.
"Posisi Lo sekarang cuma masalalu Kak Vero, camkan itu" bentak Frisil, langsung pergi menuju kelasnya.
"Akhhh dasar cewek gak tau diri" bentak Anez melihat kepergian Frisil.
Di Kelas.
"Kenapa muka sahabat ku kusut nian" ucap Cika.
"Tuh ketemu lampir di lorong" ucap Frisil.
"Siapa? Anez?" ucap Selin.
"Yaa siapa lagi" ucap Frisil.
"Pantas lah kak Anez marah, cowoknya goncengan sama cewek gak tau diri" ucap Krisa tiba tiba datang, dan melirik tajam ke arah Frisil.
"Hufhhh" Frisil membalikkan malas bola matanya.
"Harusnya Lo sadar diri, kak Vero udah punya pacar masih aja di deketin" ucap Krisa kepada Frisil.
"Lo iri? kasian banget" ucap singkat Frisil, membuat Krisa semakin emosi.
"Apalo bilang!!!" bentak Krisa, tidak terima.
"Camkan kata kata gue, gausah ngatur hidup gue kalo Lo masih mau sekolah disini" ucap Frisil penuh penekanan.
"Lo siapa? gue gak takut sama ancaman Lo" ucap Krisan langsung pergi.
"Kepala gue pusing banget" ucap Frisil.
"Lo gapapa Sil" ucap Selin.
"Males banget gue ngladenin orang kayak gitu" ucap Frisil.
Disisi Lain.
"Vero" panggil Brayen, di ikuti Leo di belakang nya.
"Hemm" ucap Vero.
"Tadi gue lihat Frisil di dorong sama Anez" ucap Brayen, ia ingin membantu adeknya. Namun Frisil ialah seorang yang cerdas, ia akan dengan mudah meladeni orang seperti Anez.
"Terus sekarang dimana?" ucap Vero langsung berdiri, terlihat cemas.
"Ciee khawatir" ucap Leo.
"Gue serius" ucap Vero.
"Seperti biasa, dia bisa ngatasin situasi kaya tadi dengan tenang" ucap Brayen.
"Broo, ada yang Lo pikirin?" ucap Leo.
"Gue minta bantuan ke kalian berdua" ucap Vero.
"Apa? dengan senang hati kita akan bantu Lo" ucap Leo.
Brayen dan Leo tersenyum melihat rencana sahabat nya kali ini, mereka langsung setuju untuk membantu Vero kali ini.
"Makasih bro" ucap Vero.
"Lo tenang aja, rencana kita akan berjalan sesuai keinginan Lo" ucap Leo.
"Good job bro" ucap Brayen senang.
Setelah pulang sekolah, Frisil langsung bergegas menuju parkiran. Ia melihat Vero dengan teman temannya sedang asik mengobrol.
"Wihh tuan putri sudah datang ternyata" ucap Leo.
"Apasih Kak" ucap malu Frisil.
"Yaudah kita balik duluan" ucap Brayen.
"Yoi hati hati" ucap Vero.
"Buruan kak" ucap Frisil.
"Iya sabar, nih pake" ucap Vero memberikan helmnya.
Mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan di dekat sekolahan. Vero menggandengnya tangan Frisil masuk ke dalam, yah seperti biasa mereka selalu menjadi pusat perhatian para pengunjung lain. Vero mendorong troli menuju Snack yang ada disana.
"Ambil yang Lo mau, buat adek Lo juga" ucap Vero lembut.
"Iya bawel" ucap Vero mengusap lembut rambut Frisil.
Ketika mereka asik mengobrol, tiba tiba Frisil melihat Bryan dan Melia yang saat itu juga sedang berada disana. Entah dorongan dari mana Frisil langsung menghampiri mereka.
"Lo mau kemana?" ucap Vero.
"Tunggu disini sebentar" ucap Frisil.
"Dasar ******" bentak Frisil menjambak rambut Melia.
"Lo apa apaan sih" ucap Melia.
"Jangan sok suci, Lo cuma mainin perasaan kak Bryan kan? Lo cuma butuh duwit nya kak Bryan aja" bentak Frisil.
"Lo omong apasih?" ucap Melia berlagak tidak mengerti.
"Frisil kakak gak pernah yah didik kamu jadi cewek gak sopan kayak gini" bentak Bryan.
"Kak Frisil gak bohong, dia memang wanita ****** yang mau uang nya kakak aja" ucap Frisil.
"Kakak? oh dia adeknya Bryan ternyata!" batin Melia.
"Apa salah Kakak sama kamu? Kakak sayang tulus sama Bryan" ucap Melia lembut.
"Gak usah sok drama di depan gue, seumur hidup gue gak akan ngebiarin Lo nyakitin perasaan kakakku" bentak Frisil.
"Dek Lo nyadar gak sih?? mana sikap sopan yang Kakak ajarin dulu" bentak Bryan, membuat mata Frisil langsung berkaca kaca.
"Kakak lebih percaya sama wanita ini?" ucap Frisil.
"Ya kakak lebih percaya sama Melia, jangan pernah ikut campur urusan kakak lagi" ucap Bryan penuh penekanan, dan meninggalkan Frisil sendiri.
"Aku gak nyangka kakak bisa ngebentak aku seperti itu demi wanita yang jelas jelas tidak baik untuk nya" batin Frisil kecewa dengan sikap kakaknya.
"Kamu dari mana aja?" ucap Vero tiba tiba datang.
"Frisil kamu nangis? siapa yang buat kamu nangis?" ucap Vero langsung melihat sekelilingnya.
"Gue gapapa, ini cuma kelilipan aja" ucap bohong Frisil.
"Yaudah ayo kita lanjut belanja" ucap Vero, ia tau jika ada yang disembunyikan Frisil darinya. Frisil menjawabnya dengan anggukan.
Setelah selesai, Vero mengantarkan Frisil dan langsung bergegas menuju kantor. Karena ia sudah harus menguasai tentang bisnis.
Saat Makan Malam.
"Bryan" panggil Mamah Airin.
"Iya mah?" ucap Bryan.
"Ada masalah apa dengan Frisil, kenapa kalian berdua tidak pernah saling bicara" ucap Mamah Airin.
"Hanya masalah kecil mah, mamah tenang aja." ucap Bryan.
"Segera lah selesai kan masalah kalian, mamah tidak ingin ada perseteruan antara kamu dan Frisil." ucap Mamah Airin.
"Iya mah" ucap Bryan.
Malam ini, Frisil tidak ikut makan malam bersama. Dan dimalam hari ia turun menuju dapur untuk memasak mie kesukaannya dan bersamaan Brayen lewat saat itu.
"Dek" ucap Brayen.
"Ya kak" ucap Frisil.
"Apa ada masalah lagi dengan Bryan?" ucap Brayen.
"Mending kakak tanya yang lain, Kakak juga pasti akan berpihak pada kak Bryan." ucap Frisil.
"Dek kakak tau, kamu ngga akan ngarang cerita soal Melia. Tapi kamu tau kan sikap Bryan seperti apa" ucap Brayen.
"Kak aku sayang sama kak Bryan, aku gamau kak Bryan dapat cewek seperti Melia" ucap Frisil menitikkan Air matanya.
"Kakak tau itu, suatu saat Bryan juga akan tau yang sebenarnya" ucap Brayen memeluk tubuh adeknya agar lebih tenang.
Setelah hari itu, yah Frisil tetap saja menghindari Bryan. Frisil sebenarnya sudah memiliki banyak bukti keburukan Melia, namun kata kata Bryan waktu itu membuat Frisil mengurungkan diri untuk memberikan semua bukti kejahatan Melia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Jangan lupa LIKE, COMENT, FOLLOW yaaa
Makasih yang udah support Outhor sampai sekarang
Instagram @linaa.pndk