One Night Surprise

One Night Surprise
EPISODE 80 - Sisi Kejam Cika



"Syukurlah kau koma saat ini, memudahkan ku untuk menyingkirkan cewek seperti Lo" batin Anez melihat foto Airin yang ada ditangannya.


"Semuanya sudah siap untuk nanti malam bos, tinggal menjalankan rencana kita" ucap Anak buah Anez.


"Okey baiklah" ucap Anez menyeringai.




Di Cafe.


"Brukkkk" Bryan menggebrak meja.


"Ada apa sayang?" ucap Melia berlagak polos.


"Mulai sekarang hubungan kita berakhir, jangan tunjukkan wajahmu di depanku!!" Bentak Bryan.


"Sayang kenapa kamu bicara seperti itu? apa salahku?" ucap lembut Melia.


"Aku menyesal telah mempercayai wanita murahan seperti mu!!" Bentak Bryan penuh emosi.


"Sayang aku ngga ngerti, kenapa kamu emosi seperti ini?" ucap Melia berusaha menenangkan Bryan.


"Apa masih kurang uang yang gue kasih ke Lo, sampai Lo menjual badan lo demi uang" ucap Bryan, membuat Melia mati kutu.


"Dari mana Bryan tau? bukankah Frisil sekarang udah mati" Batin Melia.


"Sayangg maafin aku, aa..aku terpaksa" ucap Melia mencari alasan.


"Berhenti manggil sebutan itu, aku jijik dengan sebutan itu dari mulut kotormu" bentak Bryan langsung meninggalkan cafe.


"Akhhhhh" teriak Melia, karena rencananya gagal menguasai harta Bryan.


Banyak pasang mata yang melihat kejadian itu, membuat Melia merasa malu dan langsung pergi dari Cafe.


Malam Hari.


"Brayen mamah pulang dulu, jaga adikmu" ucap Mamah Airin, karena dirumah ada Ara yang membutuhkan Airin juga.


"Ayah pulang dulu, kalo ada apa apa segera hubungi ayah" ucap Ayah Alfa.


"Iya yah, hati hati" ucap Brayen.


Tidak lama kemudian, Bryan datang terburu buru. Membuat Vero dan Brayen yang ada di dalam langsung melihat kedatangan Bryan.


"Ada apa?" ucap Vero.


"Kenzo menyuruh kita untuk ke markas, ada sesuatu yang ingin diperlihatkan" ucap Bryan.


"Baiklah, Vero Lo ikut Bryan. Gue akan jagain Frisil disini" ucap Brayen, dijawab anggukan oleh Vero.


Bryan dan Vero Langsung melajukan mobilnya menuju ke markas ALGADRA Blue. Diperjalanan Bryan juga menceritakan jati diri Frisil sebenarnya, Vero sedikit syok.


Ketika memasuki markas, semua pengawal langsung tunduk dihadapan Bryan dan Vero. Bryan mengajak Vero langsung keruangan Kenzo. Vero sedikit kagum dengan markas mereka, banyak sekali para mengawal dan berbagai macam senjata disana.


"Kenzo apa yang ingin kau tunjukkan?" ucap Bryan.


"Lihat lah ini" ucap Kenzo mereplay rekaman cctv yang berada di cafe saat itu.


Walaupun Melia sudah menghapus rekaman saat kejadian itu, namun dengan mudah Kenzo mendapatkan nya kembali karena keahlian nya.


"Stopp bukan kah itu Melia??" ucap lirih Bryan mengenali ciri ciri wanita yang ada di dalam monitor.


"Apa tuan mengenalnya?" ucap Kenzo.


"Ya aku yakin dia Melia" ucap Bryan penuh emosi, melihat Frisil yang di dorong oleh kekasihnya dulu yang ia cintai.


"Aku ngga nyangka Lo yang udah hampir merenggut nyawa Frisil" batin Bryan.


"Kenzo suruh pasukan untuk cari dia" ucap Bryan langsung mengajak Vero untuk kembali ke rumah sakit.


"Baik tuan." ucap Kenzo.


Dirumah Sakit.


"Maaf, bisa tunggu di luar. Pasien akan kami periksa terlebih dahulu" ucap salah perempuan berpakaian suster.


"Baik sus" ucap Brayen meninggalkan ruangan.


Di Dalam Ruangan.


"Mudah sekali ternyata melabuhi Brayen, dan sekarang hanya tinggal aku dan Lo" ucap Anez yang menyamar menjadi suster.


Anez menatap tajam ke arah Frisil yang ditubuhnya dipenuhi dengan selang untuk membantunya bernafas. Anez langsung melepaskan alat pernafasan yang membuat Frisil langsung sulit untuk bernafas.


"Rasain Lo, ucap selamat tinggal pada dunia" ucap Anez penuh dengan kebencian.


Anez mengeluarkan suntikan yang sudah ia iso dengan racun yang dapat membunuh seseorang hanya dengan beberapa menit saja.


Di Luar.


Vero datang bersama Bryan menuju ruangan Frisil, ia melihat Brayen yang sedang menunggu di depan ruangan. Entah kenapa perasaan Vero tidak tenang saat ini.


"Aku akan masuk, perasaan ku ngga tenang tiba tiba" ucap Vero yang akan membuka pintu, namun tiba tiba di halang oleh Brayen.


"Permisi tuan, kami akan memeriksa keadaan pasien" ucap Suster, membuat Brayen langsung menatap kearah Vero.


"Tapi sus, yang di dalam.." ucap Brayen belom selesai. Vero langsung membuka paksa pintu yang saat itu dikunci dari dalam.


'Brukkk' suara pintu terbuka, membuat Anez langsung menoleh kebelakang.


"Siapa Lo" teriak Vero, membuat Anez langsung berlari dan mendorong tubuh Vero dan Bryan.


"Kejar dia" teriak Vero kepada Bryan.


Vero langsung menghampiri tubuh Frisil yang saat ini kesulitan untuk bernafas karena alat pernafasan yang terlepas. Suster juga langsung membantu untuk memasangkan kembali alat pernafasan pasien.


Vero mengambil suntikan yang dijatuhkan oleh wanita tadi. Bryan kembali, ia tidak menemukan jejak suster tadi. Seperti sudah direncanakan sedari awal. Brayen juga langsung menelfon ayah.


"Gue cabut dulu, gue mau cari tau cairan yang ada di suntikan ini" ucap Vero.


"Baiklah hati hati" ucap Brayen dan Bryan.


Brayen tau jika Vero memiliki ruangan tersendiri, Vero memiliki bakat dalam hal membuat racun dari mulai dosis tingkat rendah ataupun tinggi. Vero segera melajukan mobilnya menuju ruangan khusus miliknya, yang tidak banyak orang tau.


"Akhhhhh, siapa yang berani mencoba membunuh Frisil. Aku ngga akan tinggal diam" ucap Vero penuh emosi.


Karena melihat jika cairan yang akan disuntik kan di tubuh Frisil ialah racun yang sangat berbahaya, racun yang mampu membuat musuh dalam waktu singkat langsung terbunuh.


Setelah hari itu, Alfa mulai memperketat pengamanan di sekitar rumah sakit. Ia tidak ingin kejadian itu terulang lagi, kondisi Frisil juga mulai membaik. Oma dan Opa juga menjenguk keadaan cucunya.


Leo, Cika dan Selin juga sudah diberitahu Brayen tentang keadaan Frisil saat ini. Mereka juga syok jika ternyata Bryan, Brayen dan Frisil ialah saudara kandung.


Saat itu Kenzo menelfon Brayen, Melia sudah berada di ruang bawah tanah. Dengan cepat Brayen dan Bryan mengajak Vero untuk menuju ke markas.


"Kalian mau kemana??" ucap Cika.


"Pelakunya sudah di markas" ucap Bryan.


"Gue ikut" ucap Cika.


"Gausah Lo disini aja, kasian Selin jika sendirian" ucap Vero.


"Brayen Lo aja yang disini, gue ikut Bryan" ucap Cika.


"Kamu disini aja" ucap Selin kepada Brayen.


"Yaudah lo ikut mereka, gue akan disini jagain Frisil sama Selin." ucap Brayen.


Cika langsung berjalan mengikuti Bryan dan Vero di belakang. Vero melajukan mobilnya menuju markas, ini pertama kali bagi Cika datang di tempat seperti ini.


Diruang bawah tanah.


"Gue gak nyangka lo bisa ngelakuin hal keji seperti ini" ucap Bryan mendekat ke arah Melia dengan posisi terikat.


"Bryann gue mohon lepasin gue" ucap Melia memohon kepada Bryan.


"Jadi Lo yang udah buat pacar gue celaka" ucap Vero datang menaikkan dagu Melia.


"Dia pantas mati, dia pantas matiii" Teriak Melia penuh emosi.


Vero mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali ia memukul wanita yang ada di depannya ini. Namun ia menahan nya, tiba tiba Cika datang dengan penuh emosi.


"Plakkkkk" satu tamparan keras mendarat di pipi Melia.


"Jadi loo yang nyelakain sahabat gue" bentak Cika penuh emosi.


"Berani berani nya Lo nampar gue!! siapa loo?? Lo gak berhak nampar gue" bentak Melia, masih tidak mau kalah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Haii semuanya


Jangan lupa Like, Coment, Follow yaaa


Makasih yang udah support Outhor sampai sekarang


Instagram @linaa.pndk


Salam kenal semuanya 🤗🤗