
derap suara sepatu yang beradu dengan lantai memenuhi pendengaran di setiap orang yang ada di sana bahkan tak hanya suara sepatu tapi juga suara seorang lelaki yang berteriak
" hey pak pak berhenti "
" pak jangan masuk ke sana "
" pak berhenti pak "
Teriakan demi teriakan dari satpam yang mengejar di belakangnya namun tak lelaki itu hiraukan ia terus berlari agar wanita nya tak pergi untuk selamanya ia tak ingin meyesal untuk yang kesekian kalinya
" tunggu naomi" teriaknya ketika naomi ingin memberikan tiketnya pada petugas
jangan kan naomi seluruh orang yang dan di bandara langsung menoleh ke sumber suara bersamaan dengan derap langkah yang tergesa-gesa
" kamu ngak boleh pergi " sahut reza dengan napas ngos ngosan
Ya lelaki yang berlari sedari tadi adalah reza sedangkan naomi kaget melihat reza yang kini ada di depannya
" jangan tinggalkan saya naomi saya mohon "
" tante saya mohon izinkan saya bicara sama naomi tante" pinta nya pada jenny
jenny melihat ke arah naomi yang hanya diam
" saya mohon tante"
" sepuluh menit" sahut jenny membuat naomi menoleh pada ibunya
" maaf pak anda tak boleh berada disini silahkan ikut kami " sahut satpam dengan napas ngos ngosan
" sebentar pak " sahut reza ketika kedua satpam memegang tangannya
" ayo jangan menganggu ketertiban mereka pak "
" biarkan pak, biar dia menjadi urusan kami " sahut jenny pada satpam tersebut
kedua satpam itu saling pandang lalu mengangguk lekas melepaskan tangan reza " baiklah tapi silahkan kalian keluar dari antrian" sahutnya
dengan berat hati naomi dan jenny keluar dari barisan loket
" tante kasih waktu sepuluh menit, naomi mama ke sana dulu " sahut jenny lantas meninggalkan keduanya
" naomi apa kamu mencintai saya ?" pertanyaan reza membuat naomi bingung
" naomi jawab pertanyaan saya ? karena saya sangat mencintai kamu jadi tolong jawab " sahut reza lagi
" apa ini sebuah pengakuan atau pemaksaan ?" sahut suara dari belakang reza
naomi memiringkan kepalanya melihat siapa yang bersuara di belakang reza
seketika ia kaget melihat dava, evan , desi, gilang berjajar di belakang reza dengan membawa tulisan i love you
" jangan pokus ke mereka naomi saya disini " ucap reza dengan mengarahkan wajah naomi agar menghadapnya
" posesif" sahut dava
" pak reza ngak perlu ngelakuin semua ini "
" naomi"
" saya bukan andriana yang akan luluh dengan sikap yang membuat saya tidak pasti "
" saya mohon jangan kanak Kanakan lagi jika memang anda serius dengan saya silahkan anda tunggu saya selesaikan S2 saya " ucapan naomi membuat semuanya kaget tak hanya reza tapi yang lainnya juge
pasalnya sekarang naomi baru semester 2 ada kemungkinan 2 sampai 2.5 tahun lagi lagi ia lulus S1 dan ini S2 sungguh hal yang tak wajar bisa bisa reza jadi kakek kakek
" naomi mau bikin reza menyerah ?" tanya evan yang langsung dapat sikutan di perut nya
" diam jangan bikin situasi panas " bisik desi
" jika itu keputusan kamu saya akan tunggu tapi saya mohon pakai cincin ini sampai kamu kembali " reza memberikan kotak kecil
sebenarnya naomi hanya berucap asal ia hanya ingin menguji reza namun mendengar jawaban reza naomi yakin jika reza benar benar suka dengannya
namun ia tak mungkin menarik kata katanya sendiri demi bersama reza
dengan penuh percaya diri naomi mengangguk membuat reza tersenyum dan memakaikan cincin di jari manis naomi
lambaian tangan reza menjadi pemisah antara keduanya naomi dan jenny langsung menuju ke dalam pesawat sesuai tujuan awalnya
Sedangkan yang lain menatap haru keadaan reza setelah melepaskan naomi
" mas reza yang sabar ya kita doa kan semoga hati naomi tidak berpaling " sahut gilang dengan ikut mendongak melihat pesawat yang di tumpangi naomi hampir hilang di telan awan
.
.
.
.
hari bulan dan tahun berganti setiap akhir semester naomi selalu menyempatkan diri untuk pulang ke indonesia walau pun hanya beberapa hari tapi ia selalu pulang
selain mengunjungi desi dan bik mira naomi juga selalu ikut evan dan gilang penyelurusan yang selalu di dampingi reza
awalnya jenny tak suka naomi sering ke indonesia namun ia mencoba percaya jika reza menepati janjinya dan bersungguh-sungguh dalam menjalin hubungan dengan putri nya
sedangkan reza jangan di tanya ia selalu menempatkan dirinya dimana naomi berada menjaga naomi dengan segenap jiwanya
sering kali reza mendapat godaan dari dava, evan dan gilang yang menjulukinya dosen bucin namun ia tak ambil pusing ia tak memperdulikan semua selagi ia bisa beersama naomi
namun reza masih menjaga sebatas wajar ia akan bersama naomi jika naomi keluar jika naomi di rumah maka ia hanya akan sebatas menelpon tak pergi ke rumah naomi, bukan tidak menghargai tapi ia hanya ingin naomi bebas tak selalu dengannya
seperti sekarang yang penyulusuran evan dan gilang sedangkan naomi menunggu di dipan pintu masuk bersama reza dan desi memantau dari monitor yang di pegang gilang
" apa di sini tidak berbahaya ?" tanya reza dengan melihat sekitar gedung yang sudah lama terbengkalai
" seperti nya bahaya pak jika plafon nya runtuh " sahut desi yang ikut mendongak menatap langit langit gedung
sedangkan naomi pokus pada layar monitor dimana ia yang mengarahkan harus ke mana dan apa yang di lakukan karena ia tak ingin keduanya melanggar peraturan yang di buat oleh bangsa lain
" apa bapak serius dengan naomi?" reza langsung menoleh ketika desi mempertanyakan sesuatu yang menurutnya aneh
" saya hanya tidak ingin naomi terluka pak hanya dia satu satunya saudara saya dan saya Tidaka kan tinggal diam jika bapak hanya ingin mempermainkan naomi"
reza tersenyum" kamu tenang saja saya akan terus bersama naomi dan saya tidak akan pernah menyakitinya ini janji saya " shaut reza
desi mengangguk " baguslah setidaknya dia akan bahagia jika memang itu yang akan ia rasakan "
" pak Ardan dan buk jenny mungkin tak akan membiarkan saya hidup jika saya kembali menyakiti hati putrinya "
kening desi berkerut tak apham dengan pembahasan reza " apa bapak takut dengan mereka hingga memilih bersama naomi ?"
" tentu tidak saya bersama naomi murni dari hati saya, saya tidak ingin kehilangannya lagi cukup dulu hidup saya tak tentu arah " sahut reza dengan lesu
" kalian kalau mau ngobrol mic sama headphone nya di lepas dulu " tiba tiba suara evan mengemah di telinga keduanya
reza dan desi kompak melihat mic kecil yang masih berada di baju mereka
" ah kenapa sampai lupa " sahut desi dengan melepaskan mic tersebut
" tidak apa apa setidaknya saya tau jika ada yang sayang dengan saya " sahut naomi dengan gaya sok manja
" seharusnya pak reza tak membuat pengakuan lihatlah dia seperti wanita kurang belaian "
.
maaf ya guys lama karna mimin habis kena musibah anak mimin harus di larikan ke rs karna DBD 🙏