Naomi

Naomi
eps 32



" apa semuanya sudah selesai ?" tanya ardan pada naomi dan jenny


keduanya mengangguk


sopir langsung menutup bagasi mobil


" tuan saya bisa bicara sama naomi?" tanya desi dengan pelan


ardan melihat desi lalu mengangguk " ayo ma masuk dulu " ajak ardan pada jenny yang duluan masuk mobil


" naomi loe beneran mau pindah ?" tanya desi


naomi mengangguk " mungkin ini jalan terbaik buat gue " sahutnya


" tapi bagaimana dengan pak reza?"


" kita ngak ada hubungan apa apa des " sahut naomi


" naomi"


" cuma itu aja ?" tanya naomi dengan melihat desi


" arwah itu gimana ?" tanya desi lagi


" gue ngak mau berurusan sama dia lagi " sahut naomi


" apa loe akan tutup indra pengelihatan loe ?"


naomi mengangguk " mungkin jalan yang terbaik des gue juga capet bersama arwah itu"


" naomi loe bener mau ninggalin gue, gue rasa -"


" loe tenang aja des gue cuma kuliah libur gue balik lagi ke sini "


desi mengangguk pelan lalu memeluk naomi " loe di sana hati hati jaga diri loe gue pasti kangen sama loe "


" iya gue juga "


" sudah selesai naomi?" naomi mengangguk lalu melepaskan pelukan desi


" gue pamit ya" ucap naomi dengan menaiki mobil


naomi melambaikan tanggan pada bik mira dan desi hingga dia keluar pagar rumah nya


" pa papa ingatkan janji papa ?" tanya naomi pada ardan


" tenang begitu kamu tiba papah pastikan mereka di penjara " sahut ardan dengan tersenyum


naomi mengangguk lalu melihat gedung gedung jakarta yang akan ia tinggalkan


" semoga ini menjadi pilihan yang terbaik untuk kita, jika memang kita berjodoh, kita pasti bertemu pak reza"


.


.


.


.


" yang sabar ya pak, kami turut berduka cita atas kepergian anak bapak " ucap beberapa dosen yang hadir di pemakaman termasuk reza dan dava


Romi hanya bisa mengangguk dengan terus melihat gundukan tanah itu


" kami permisi dulu pak " sahut mereka lagi


satu persatu dari mereka pergi dengan menyalami pak romi


setelah kepergian mereka romi menangis tersedu sedu anak yang ia rawat dengan kasih sayang ia bahkan rela melakukan segala cara demi biaya pengobatan anaknya tapi kini anaknya harus berpulang


" bagaimana perasaanmu sekarang?" romi mendongak melihat seorang yang berdiri di samping nya


" pak ardan ?" sahutnya dengan kaget


" bapak apa kabar ?" sahut romi dengan berdiri menyalami tanggan ardana


namun ardan langsung menarik tanggan nya tampa menoleh ke romi


" serahkan diri kamu dan berikan keterangan yang sebenarnya atau selama kamu hidup akan merasa ketakutan" romi binggung mendengar ucapan ardan


ardan memasukan tangganya ke dalam saku celananya " jangan pikir saya tidak tau apa yang kalian lakukan pada anak saya naomi, bisa saja saya langsung mencebloskan kalian tapi itu terlalu gampang, silahkan pilih yang mana menurutmu baik kamu tinggal pilih " setelah berucap ardan langsung pergi meninggalkan romi


.


.


.


.


" om "


" kalian siapa ?" tanya ardan ketika di hadang 2 lelaki yang ia taui seumur anaknya


" saya gilang dan ini teman saya evan, kita temannya naomi om " sahut gilang dengan menyalami ardan


" saya ardan " sahutnya


" kita cuma mau nanya apa bener naomi pindah kampus karna sudah 2 hari ini ngak masuk ?" tanya gilang dengan berani


ardan tersenyum" terima kasih sudah mau menjadi teman naomi, maaf jika dia tak sempat berpamitan pada kalian"


" kenapa om ? maksudnya kenapa om pindahin naomi " tanya evan


" sama sama om sudah seharusnya kita sesama teman saling membantu "


" kalian benar, beruntung naomi memiliki teman seperti kalian ini, saya pamit dulu ya " sahut ardan lalu menuju ke mobilnya


" sekarang loe tau kan jika selama ini naomi punya mata mata " ucap evan membuat gilang melihatnya dengan sinis


" bukan mata mata tapi bodyguard dari jauh, untung aja itu bener bapaknya naomi gue udah takut jika salah orang " sahut gilang lekas berjalan menuju motornya


" gue inget pas dia ke kampus, eh berarti bapaknya naomi tau donk tentang mas reza " sahut evan membuat gilang berhenti memakai helm


" apa karna mas reza naomi setujuh pindah?" tanya gilang lagi


" bisa jadi loe kan tau mas reza udah cuek sama naomi "


" cepet van naik kita balik "


keduanya mengandarai motor dengan kencang hingga menuju rumah gilang


" eh loe mau ngasi tau mas reza ?" cegat evan ketika gilang bergegas masuk


" emang kenapa ?" tanya gilang


" gue saranin mending ngak usa ngak mungkin dia dosen ngak tau jika mahasiswa nya pindah mustahil kan lagian apa dia perna nanyai naomi ngak kan " ucapan evan membuat gilang melihat evan


" loe bener juga jika mas reza ngak punya rasa sama naomi kasian naomi kan ?" sahut gilang


" yaudah kita masuk aja " ajak gilang lagi


.


.


.


.


" gimana kuliahnya sayang ?" naomi tersenyum


" baik ma " sahutnya dengan bersandar


" besok papa ke sini apa ada yang mau kamu titip ?" tanya jenny


naomi menggeleng " ngak ada ma, ma naomi ke kamar ya mau istirahat " sahut naomi lalu pergi


naomi membuka hpnya yang ia simpan di laci kamar hp yang ia gunakan di indonesia, ia lekas membuka aplikasi hijau yang ada di hp nya


Pak Reza 🧑‍🏫


kenapa kamu tidak kuliah ?


sudah berani bolos ?


jika sampai minggu depan tidak masuk maka nilai kamu nol pada mata pelajaran saya


naomi hanya membacanya tampa ada niat untuk membalas pesan itu


ia hanya tak ingin berurusan lagi dengan masa lalu nya


siang hari ini naomi dan jenny pergi ke orang pintar, tabib, biksu untuk menutup indra pengelihatan naomi


" maaf buk seperti ini bawaan saya tidak bisa melakukan nya "


" maaf buk saya menyerah "


" maaf buk"


" maaf buk "


" maaf "


" maaf mungkin bisa ke tempat yang lain "


" ma udah kita pulang aja " sahut naomi dengan lesu


" tapi naomi masih -"


" ma udah berapa orang yang kita temui jawaban mereka semua sama udah mungkin ini memang takdir naomi " ucap naomi dengan memalas


" naomi "


" ma naomi capek mending pulang ya lagian disini ngak ada arwah ma naomi aman " bohong naomi


karna sedari mereka ke tempat orang pintar pertama sudah banyak arwah yang melihatnya namun ia berusaha tak melihat dan cuek karna naomi benar benar capek pengen istirahat


" yaudah ayo kita pulang " ajak jenny membuat naomi mengangguk


setibanya di rumah naomi langsung merebahkan dirinya di kasur tampa makan malam tampa mandi


.


.


.


.


" pak dia sudah menyerahkan dirinya ke polisi tinggal rudi yang belum "


" pastikan ia tak bisa keluar rumah apalagi keluar kota "


" siap pak kami akan terus memantau "