Naomi

Naomi
eps 35



brak brak...


" sial, kenapa dengan abu ini tidak bisa, semuanya sudah sesuai arahan " sahutnya dengan marah


di ruangan putih yang luas 4 meter x 4 meter itu penuh dengan lilin yang menyalah taburan abu yang melimpah sangkin banyaknya ketika berpijak tapak kaki akan tercetak jelas


" suci papa akan coba cara lain ya biar kamu bisa kembali, papa janji nak " sahutnya dengan mengelus wajah yang hanya tinggal kulit saja


rudi beranjak mengambil buku yang selalu ia percayai itu


" jika dengan roh dan abu tidak bisa, maka dengan 7 darah perawan " sahut rudi dengan tersenyum cerah


" kamu dengar 7 darah perawan, ya akan papa cari kamu tunggu disini " rudi lekas mematikan semua lilin ritualnya


seketika akan keluar dari rumah langkanya terhenti melihat banyaknya orang di dekat rumah nya


" kenapa semangkin hari para pedagang itu berkeliaran di sini ?" sahutnya dengan melihat sekeliling


" sudahlah mungkin mereka mencari nafkah" sahutnya lekas masuk ke dalam mobil dan pergi


" ikuti dia jangan sampai kehilangan jejak, dan kamu masuk rumahnya lihat siapa yang ada di dalam " sahut seorang lelaki dengan mengunakan handuk kecilnya


.


.


.


.


" sampai kapan loe akan begini ?" reza mendongak mendengar suara dava


" apa sampai dekan yang harus menegor agar sikap loe ngak gini ?" tanya dava lagi


" saya bersikap berprofesional" sahut reza dengan kembali membereskan buku nya


" gue tau loe profesional cuma loe ingat loe itu dosen di kampus bukan berhadapan dengan musuh " sahut dava lagi


" jika cuma itu yang mau kamu sampaikan saya permisi " ucap reza tampa perduli dengan dava


" naomi besok ke jakarta " ucapan dava sukses menghentikan langkah reza


" saya ngak perduli " sahut reza tampa membalikan badannya


" saya tau tapi dia di jakarta cuma 3 hari " ucap dava lalu meninggalkan reza sendiri


.


" pak dava gila " sahut desi dengan mengeleng


" cuma itu satu satunya cara dan kalian liat kan respon dia, ngak mungkin dia ngak suka sama naomi " sahut dava lagi


" iya tau pak tapi ngak perlu berbohong seperti itu" ucap desi lagi


" gimana cara bujuk naomi nya ." tanya gilang dengan melihat dava


" desi " sahut dava


" kok saya pak " sahut desi dengan menunjuk dirinya sendiri


" kan cuma kamu yang punya nomor naomi, lagian kalian kan akrab bujuk la naomi nya ya"


" tapi jika naomi ngak mau gimana ?" sahut desi


" Desi jangan menyerah coba aja dulu, ok, nanti kalian saling kabarin ya saya ke ruangan dulu " sahut dava lekas pergi


" gimana ni ?" tanya desi pada keduanya


" coba aja dulu siapa tau dia bener bisa pulang " sahut evan


" gue rasa ngak perlu, biarin aja mas reza gini mungkin bisa membuat dia sadar apa yang udah dia lakuin ke naomi " sahut gilang dengan santai


" jangan gitu lang loe kan adeknya masa sama mas sendiri tega " tegur evan


" gue cuma ngak suka aja sikapnya sama naomi, dia lebih dewasa harus nya dia mengalah kalian tau kan dari dulu naomi ngak perna dekat sama lawan jenis wajar lah jika naomi sakit hati sama ucapan mas reza " jelas gilang lagi


" mungkin naomi nya aja yang baper " sahut desi yang tak ingin membuat keributan


" udah lah gue dukung sikap naomi gini biar tau rasa " kesal gilang yang malah membuat evan dan desi mengeleng


" dendam banget loe sama mas reza " sahut evan dengan tersenyum


" kasian aja nasib naomi, apa mungkin dia cuma sebagai pelarian setelah kematian mba indriana?"


" terlepas pelarian atau bukan mungkin mas loe emang belum bisa buka hati kayaknya, buktinya sama naomi" sahut desi


" tapi kata naomi sih pak reza masih sering chat dia walaupun cuma sekedar bilang pagi, sore, malam" jelas desi


desi mengangguk" iya bahkan kemaren masih ada " sahut desi


" fiks lang kayaknya bener ni mas loe bener bener suka sama naomi " goda evan dengan menaikan alisnya


" kita liat aja nanti die beneran galau karna naomi atau galau karna sesuatu yang lain " ucap gilang


" udah mending kita ke kanti bentar lagi makul lainnya nanti beburu masuk lagi " ajak desi pada keduanya


" tapi naomi gimana ?" tanya evan


" naomi lagi naomi lagi nanti deh bahas naomi nya makan dulu laper ni " sahut desi dengan berjalan menuju kantin kampus


.


.


.


.


" jadi kamu pulang ke indo ?" tanya jenny pada naomi yang lagi nonton


" kayaknya jadi ma kasian bik mira sakit pengen jengguk, mama mau ikut ?"


jenny mengangguk" ikut tapi nanti izin dulu sama papa bisanya kita berapa hari di sana "


" kalian mau kemana ?" tanya ardan yang datang dengan plastik di tanggan nya


" papa udah pulang, ini naomi mau jenguk bik mira bolehkan ?" tanya jenny dengan menghampiri ardan


" kapan ?" tanya ardan lagi


" kalau bisa besok pa soalnya kasian bik mira sakit " jelas naomi


" boleh besok jam 6 pagi harus sudah di bandara ya " sahut ardan dengan duduk


" kenapa pagi sekali ?" jawab jenny


" lusa papa ada pertemuan di bandung jadi sekalian aja kan " sahutnya lagi


" jadi papa juga ikut ke indonesia ?" tanya naomi


" iya sayang papa ikut " jelas ardan membuat naomi tersenyum


naomi melihat jenny" ma pa kalau gitu naomi beres beres dulu "


" iya bawa barang jangan banyak banyak barang kamu di sana kan ada " ucap jenny membuat naomi mengangguk


" mas gimana kasus rudi?" tanya jenny ketika naomi sudah pergi


" nanti juga kamu tau " sahut ardan dengan memainkan hpnya


" tau gimana mas ? saya cemas lo naomi mau ke indo nanti mereka berulah lagi " ucap jenny


" ngak akan tenang saja, sekarang anaknya sudah sama kita "


jenny melihat ardan " anak ? jadi ucapan dina itu benar jika ia melakukan semuanya demi anaknya "


" mas apa bukti bukti yang mas dapat belum bisa membuat rudi di tahan ?"


ardan melihat jenny" semua mayat yang di temuka itu tidak ada satu pun bukti yang mengarah ke rudi bahkan setelah romi menyerahkan diri, polisi hanya menganggap romi gangguan jiwa karna kehilangan anaknya "


" tapi kamu tenang saja jika polisi tidak bisa bertindak maka kita yang akan membuatnya menderita " sahut ardan


" tapi anaknya rudi bagaimana mas "


" bagaimana apanya ?" tanya ardan tak mengerti


" jika kita menghukum ayahnya kasihan dia tidak ada yang mengurus dia_"


" apa kamu pikir anaknya manusia?" tanya ardan membuat jenny binggung


" anaknya sudah meninggal hanya jazadnya yang tersisa "


mendengar itu jenny langsung menutup mulutnya " jadi jazad ?"


" ya rudi mempercayai jika anaknya bisa hidup lagi dengan melakukan hal mistis yang bahkan di luar nalar "


" astaga mas untung waktu itu naomi selamat jika tidak dia akan menjadi tumbal " sahut jenny lagi


" sudah tidak perlu cemas yang penting sekarang kita lindungi naomi "


" tapi mas apa kedua anaknya dina akan selamat dari rudi ?" pertanyaan jenny membuat ardan diam