
naomi mengikat sepatu nya sembari menunggu desi yang sedang mengambil bekal untuk mereka
" kenapa kakak ngak pakai mobil ?" tanya arwah gadis berseragam SMA yang bernama sinta
naomi juga baru tau jika namanya sinta setelah dia ikut pulang
naomi menoleh ke garasi di mana mobil berjejer rapi " itu mobil mama sama papah bukan punya gue " sahut naomi dengan cuek
" kan sama aja punya mereka yang artinya punya kakak juga "
Sinta mendekati naomi "kak ayo sesekali kita naik mobil "
naomi menghela napasnya lalu menoleh ke dalam rumah " des masih lama ngak "
sinta malah duduk di dekat naomi " ayo kak kita naik mobil aja ya "
naomi tak menghiraukan ucapan sinta setelah desi datang ia lekas memasang helm di kepalanya
" kak ikut " sahutnya
" loe kan bisa kesana kemari dengan ilang tinggal cus cus aja beres, udah ya kita pergi dulu" sahut naomi dengan tersenyum lalu meninggalkan arwah itu
" naomi arwah itu mau ikut ke kampus ?" naomi mengangguk
" ngapain ?" tanya desi
" katanya dia mau cari temennya " sahut naomi
desi memajukan badannya " temen ? "
" iya des loe inget pas ngelayat doni di rumah sakit nah itu pertama kali gue ketemu dia katanya bapaknya udah lama ngak ke rumah sakit jenguk dia mangkanya dia mau cari bapaknya " jelas naomi dengan membelokan motor menuju parkiran kampus
" la jadi dia belum mati ?" tanya desi dengan turun dari motor
" belum " sahut naomi dengan enteng
.
.
.
.
" pertemuan cukup sampai disini tugas silahkan di kumpulkan di ruangan saya " sahut deva lantas berjalan keluar
" kak itu temanku " naomi menoleh ke arah yang di tunjuk
" mawar ? " tanya naomi
Sinta mengangguk " aku tidak tau namanya yang aku ingat dia teman kelasku "
naomi melihat desi " kita harus bicara dengan mawar "
setelah membereskan buku naomi dan desi langsung mengejar mawar
" mawar " panggil naomi
" kenapa, kalian butuh sesuatu?" tanya mawar yang merupakan asisten dosen
naomi mengeleng " kita mau bicara sama loe boleh ?"
mawar melihat jam di tangganya
" sebentar aja 10 menit ?"
mawar mengangguk dan disinilah mereka di halaman kampus
" mau nanya apa ?" tanya mawar langsung
naomi mengambil kertas lalu menggambar gadis di samping nya
" loe kenal gadis ini ?" tanya naomi
mawar melihat gambar yang di buat naomi " ini orang? "
" iya mawar ini orang" kesal naomi
" sorry gue becanda, tapi kayak perna kenal "
" namanya sinta katanya loe temen sekelas dia " tanya naomi dengan antusias
" Sinta temen sekelas?"
" coba deh loe inget inget lagi " sahut desi
" gue masih simpan photo sekolah sih bentar gue liat dulu" mawar mengotak atik hpnya lalu memberikan pada naomi
" apa ini ?" tanya mawar
naomi mengangguk " namanya sinta kan ?"
" Sinta iya, ini anaknya pak romi, terakhir dengar kabar dia kecelakaan masuk rumah sakit tapi udah lama, emang kenapa ?" tanya mawar
" pak romi satpam sini ?"
" iya "
" apa loe tau rumahnya ?" tanya naomi
mawar mengeleng " kita ngak begitu dekat pas SMA dia juga termasuk anak yang kurang bergaul lah sama temen temen lain " sahut mawar
"ok mawar makasih ya atas infonya" sahut desi dengan cepat
" oh iya, kalau gitu gue duluan " sahut mawar lalu pergi
" bokap loe pak romi satpam kampus sini dan artinya loe seumur sama kita jadi jangan panggil kakak lagi " sahut naomi kesal
desi hanya bisa tersenyum mendengar penuturan naomi yang di panggil kakak oleh arwah
" apa saya sudah meninggal ,?"
naomi mengeleng" belum, karna kalau loe udah meninggal aura loe ngak merah tapi hitam " sahut naomi
naomi mengeleng" gue ngak yakin karna gue ngak perna bantuin arwah gitu "
" tragis banget nasip saya " sahut nya dengan lesu
" udah mending loe tunggu di rumah sakit siapa tau pak romi ke rumah sakit " sahut naomi dengan berdiri
" kita mau ke kantin loe jangan ikut " sahut naomi memperingati santi yang masih duduk di kursi
.
.
.
.
.
" gimana hubungan loe sama naomi?" tanya dava dengan kepo
Reza melihat dava sekilas lalu kembali memakan makanannya
" ayolah gue tau loe perhatian, cemburu, khawatir kan sama naomi"
" naomi sini " teriak seorang lelaki membuat reza dan dava menoleh
naomi berjalan bersama desi dengan membawa buku
" gimana tugas kemaren udah selesai?" tanya artur teman kelas mereka
" belum, leptop gue eror lagi " sahut naomi pelan namun masih terdengar oleh reza dan dava yang hanya berjarak satu meter dari mereka
" leptop gue aja pakek ni " sahutnya dengan memberikan leptop pada naomi
" bener ni ? "
artur mengangguk
" loe des belum juga ?" tanya mawar
" belom "
" udah sore ini tau beres tugas kita des " sahut naomi dengan mulai menyalakan leptop nya
" kayaknya mereka akrab ya " sahut dava dengan berbisik
" makan " sahut reza
setelah makan reza langsung pergi tampa menunggu dava selesai makan
" naomi gimana masalah sinta?" tanya mawar
naomi melihat sekitar " dia di rumah sakit"
" jadi dia masih di rumah sakit " sahut mawar membuat naomi mengangguk
" dia lagi jagain badannya " sahut naomi lagi
" jagain badanya gimana ?" tanya mereka kompak
" dia belum meninggal, koma tapi dia ngak tau cara balik ke badannya" sahut naomi lagi
" Sinta anaknya pak romi?" tanya artur
" iya tur sinta yang pendiam itu " sahut mawar
" die kecelakaan pas kita mau ujian kelulusan SMA " sahut artur yang di anguki mawar
" pantes dia masih pakai baju sekolah " sahut naomi
" apa loe mau bantu dia ? " tanya desi
naomi mengangguk lalu mengeleng
" gue takut sama pak romi " sahut naomi
" Oya ngomongin pak romi semenjak kejadian loe waktu itu dia belum masuk lagi ? apa dia di pecat " tanya artur
" pak rudi juga dia hanya sesekali terlihat di kampus, apa mereka benar benar bersalah ?" tanya mawar
naomi melihat desi " gue ngak bisa bilang iya karna buktinya masih minim "
" oya gimana mayat di belakang kampus ada kejelasan?" tanya naomi
"belom " sahut artur
" kalian di sini " sahut evan yang langsung duduk bersama gilang
" dari mana?" tanya desi
" perpustakaan no buku yang buat referensi " sahu evan
" udah makan ?" desi mengeleng
" buk bakso 2 es teh 2 juga ya, kalian pesan apa ? " tanya evan
" kita kenyang ven liat loe bucin sama desi " sahut gilang
" Kalian pacaran ?" tanya naomi
desi tersenyum simpul sama naomi
" lah kapan jadiannya " tanya mawar
" pj pj, buk bakso 4 mangkok es teh 4 " sahut artur dengan santai
" bayar sendiri ya " kesal evan
" la kok kita kan loe yang jadian traktir kita sesekali ngak akan bikin bokap loe bangkrut van " sahut gilang yang di anguki mereka