
" jadi benar dugaan saya kalian dalang di balik semua ini "
ardan dan yang lain langsung menoleh mendengar suara di belakang nya
" siapa kalian kenapa kalian melakukan ini pada saya " tanya rudi dengan prustasi
" suci tenang papah akan selamat kan kamu " rudi langsung mendekat tak menghiraukan mereka semua yang ada di sana
" kamu ini gila rudi suci sudah lama meninggal kenapa kamu begitu egois " sahut ardan
" meninggal suci cuma tidur apa kamu tidak lihat hah cepat kalian keluarkan lagi suci akan kedinginan di tanah "
namun tak ada yang mendengar mereka mala langsung menutup peti dan memasuk suci ke dalam tanah
" sialan kalian "
rudi langsung melompat ke dalam tanah tak ingin suci di kubur
" tahan dia " pinta ardan pada ajudannya
mereka langsung ikut masuk ke liang lahan menahan rudi agar tak menahan peti suci lagi
setelah menyingkirkan rudi pemakaian suci langsung di lakukan karna tak ingin ada kendala lagi, mereka juga meletakan pagar besi agar tak di gali rudi setelah selesai ardan melihat rudi yang meraung raung menangis tak jauh dari mereka
" lepaskan dia " ucap ardan pada kedua pengawal nya
seketika badan rudi ambruk ke tanah dengan terus menangis
" kamu jahat kenapa memisahkan ayah dan anak " teriaknya di depan wajah ardan
ardan duduk berjongkok memegang wajah rudi agar melihat nya
" apakah se sakit itu ? jika iya kenapa kamu tega melakukan pada gadis lain bahkan karna ulah mu anakku juga hampir menjadi korbannya " sahut ardan dengan menekan kedua pipi rudi
rudi menatap ardan dengan takut
" anggap saja ini sebagai balasan untuk kelakuan mu selama ini " ardan mengkode pengawalnya untuk kembali memegang rudi
" bawa dia ke kantor polisi bilang jika kalian menemukan nya di jalan " sahut ardan lantas melihat rudi
" lebih baik kamu menyerahkan diri karna semua kesalahan mu sudah sangat patal, ingat saya bisa lebih kejam dari ini "
setelah berucap ardan langsung pergi meninggalkan rudi yang terus merontah rontak minta di lepaskan
.
.
.
.
.
" naomi gimana kata dokter ?"
mereka serempak mengerumbuni naomi yang baru tiba dari rumah sakit
" baik 2 hari lagi bisa di lepas "
mendengar itu mereka kompak mengangguk
" baguslah artinya pas masuk kaki loe udah sembuh total " ucap mika
" yaudah naomi mama mau ke dalam dulu ya " pamit jenny membuat mereka mengangguk
" tadi ada pak reza ke sini ?" ucapan desi membuat mereka menoleh ke arah desi
" gue ngak bisa bohong karna tadi ada tuan ardan, gue ngak tau apa yang mereka omongin tapi tuan ardan mintak siapin makan malam spesial malam ini "
penjelasan desi membuat mereka menerka nerka akan ada apa malam ini
" kita liat aja apa yang akan mereka omongin nanti malam " ucap mika
" gue mau istirahat di kamar " sahut naomi dengan mengambil tongkatnya
setelah melihat kepergian naomi mika langsung mendekati desi
" bokapnya naomi tegas ya ?"
desi mengeleng lalu mengangguk" tegas sih iya tapi cuma masalah naomi aja selebihnya dia lebih milih musyawarah sama kita semua "
" bukannya di majikan loe kok pakai musyawarah ngajak kalian ?" kali ini cleo yang bersuara karna penasaran dengan ucapan desi
" iya dia ngak perna mengambil keputusan secara sepihak tapi jika itu menyangkut keselamatan naomi beda ceritanya kalau masalah kampus acarah atau apalah dia selalu minta pendapat dulu "
" ibu kerja disini dari mereka pertama nikah sampe sekarang bayangin udah berapa tahun " sahut desi lagi
desi melihat mereka semua ia tak ingin nama keluarga naomi jahat di mata siapa pun walaupun dulu tuan dan nyonya tak perna perduli pada naomi tapi sekarang ia bersyukur mereka sudah akur kembali dan naomi hidup dengan keluarga yang lengkap
tapi desi masih takut kedatangan reza apa akan membawa hal baik atau malah petaka untuk keluarga naomi karna seperti yang ia tau jika nyonya jenny tak suka dengan reza setelah apa yang terjadi pada naomi
.
.
setibanya naomi di kamar ia di kagetkan dengan adanya dika yang sudah berdiri di kamarnya
" naomi saya tidak punya waktu lagi " sahut dika membuat naomi binggung
" besok ibu saya akan di eksekusi tolong naomi tolong saya "
naomi menjadi binggung ia serba salah mau membantu tapi keadaannya tak memungkinkan
" eksekusi memangnya ibu kamu di mana ?" tanya naomi
" di lapas ****"
mendengar itu seketika kaki naomi lemas sebenarnya siapa dika ini dan apa yang ia bawah sehingga bisa menyelamatkan ibunya
naomi duduk di ranjang memijat kepalanya yang mendadak pusing
" kamu tau saya ngak bisa masuk ke sana " sahutn naomi pada dika
" saya mohon naomi " pinta dika
" saya bisa bantu kamu " tiba tiba andin datang membuat naomi kaget
"saya akan bantu kamu tapi saya titip cleo sama kamu " sahutnya lagi
naomi melihat keduanya bergantian
" kamu bisa percayakan dengan saya ayo" andin langsung mengajak dika pergi dari hadapan naomi
" ah sudahlah toh mereka sama sama arwah ngak mungkin juga mereka berantem sampai patah tulang "
" tapi kalau benda itu ketemu gimana mereka ngambilnya?" tanya naomi pada dirinya sendiri
" astaga kenapa mereka membuat ku pusing " kesal naomi lekas keluar kamar untuk pergi ke tempat jazad dika
.
.
" Loe mau nyari mati ya " keluh desi ketika mendengar tujuan naomi
" plis des bentaran doang ya ya " desi tetap mengeleng
" cleo loe juga mau kan ada kakak loe di sana "
cleo melihat mika dan yang lainnya
" kalo kalian ngak mau gue pergi sendiri " ancaman naomi membuat mereka mau tak mau terpaksa ikut
tapi dengan perjanjian laki laki haru ikut
naomi mengangguk saja yang penting ia bisa membantu mereka
setibanya di sana mereka menunggu gilang dan evan yang akan ikut
" la pak dosen ngapain ikut ?" bisik mika pada desi ketika melihat reza yang ikut turun
" kamu ini bebal sekali kenapa masih ke sini begitu penting arwah itu sampai keadaan sakit pun kamu masih ke sini "
naomi menghela napasnya ketika mendapat ceramah dari reza
" di dalam ngak hanya ada dika tapi ada andin juga dan jika saya ngak bawa itu barang ibu nya dika akan di eksekusi pak "
" Andin siapa lagi ? "
" kakaknya cleo " sahut naomi dengan pelan
Reza menarik napas panjang dan membuangnya lagi mencoba menahan amarahnya di depan naomi
" kita akan masuk sama sama ke dalam "
naomi melihat mereka yang juga mengangguk tak ada pilihan lain akhirnya ia juga mengangguk
dari pada tak bisa membantu lebih baik ia masuk dengan yang lainnya toh ia juga ngak bisa naik tangga sendiri