Naomi

Naomi
eps 30 naomi



" ngapain masih disini ?" tanya naomi dengan meletakan kedua tanggannya di dada


" naomi saya _"


" gue ngak akan bantuin loe " sahut naomi dengan cepat


" tapi cuma kamu yang bisa liat saya" sahutnya dengan sedih


naomi melihat sinta dari ujung kaki hingga kepala


" kamu ngak kasihan sama ayah saya " sahut Sinta lagi


" apa dia kasihan pada gue ? sama cewek lain ? apa dia ngak mikir bagaimana jika itu menimpa anaknya ?" tanya naomi dengan kesal


" tapi dia ngelakuin itu agar saya sembuh saya yakin dia hanya di pralat sama pak rudi" sahutnya dengan membenarkan


" mau di pralat atau sukarela tetap aja salah dan loe juga tau polisi lagi ngincer mereka " sahut naomi


" naomi gue mohon mungkin dia hilap karna butuh uang "


naomi tersenyum mengejek " loe denger sendiri kan jika bokap loe melakukan segala cara untuk membuat loe sehat ? tapi dengan cara yang salah dia ngak mikir bahwa ayah lainnya akan kehilangan anak karna ulahnya, masih banyak cara lain agar dapetin uang dan gue yakin rektor kampus juga akan kasih pinjaman sama bokap loe " sahut naomi dengan marah


setelah mengetahui jika sinta anaknya pak romi naomi dan yang lainnya menceritakan semua kelakuan pak romi pada sinta namun sayang sinta malah membela ayahnya hingga membuat naomi kesal


" kamu ngak tau apa yang ayah rasakan kehilangan anak yang di cintai nya saya hanya saya satu satunya keluarga ayah mangkanya dia ngak bisa mikir cara lain kalian aja yang salah paham "


" semoga aja loe ngak sembuh sembuh itu karma atas perbuatannya selama ini " sahut naomi kesal lalu keluar kamarnya


.


.


naomi mengeleng pelan melihat tv yang masih menyala sedangkan ardan malah tertidur di depan tv


" naomi " naomi menoleh


" kenapa di matikan papah sedang menonton bola "


" papah tidur bukan nonton sama balik ke kamar " sahut naomi tampa beban


" papah tidur dulu kamu jangan begadang ya " sahut ardan dengan beranjak menuju kamarnya


naomi melihat papahnya berjalan hingga menuju ke kamar " tapi loe ngak perna tau rasanya memiliki orang tua tapi tidak memperdulikan loe "


.


.


.


.


" kami hanya bisa mendoakan semoga dalam waktu 2 minggu ini anak bapak ada perkembangan jika tidak maaf pak kami terpaksa melepaskan alat alatnya "


" dokter saya mohon saya akan bayar berapa pun biayanya asal anak saya tetap di rawat "


lelaki yang di panggil dokter itu menghela napasnya" bukan karna biaya pak, tapi beberapa hari ini otot otot dan organ lainnya sudah mulai menciut kami kesulitan memberikan obat, kami takut jika ini terus berlanjut organ lainnya akan menjadi rusak parah" sahut dokter itu


romi menghela napasnya lalu mengangguk pelan


" ngak ngak yah ayah ngak bisa lepasin semua alat alat nya yah aku mohon aku masih ingin tetap hidup yah aku mohon " racun sinta dengan cemas melihat keputus asaan romi


.


.


.


.


.


" no orang pada kemana sih bel bunyi dari tadi ngak denger semua " grutu naomi dengan menuju ke pintu rumah


" pak reza " ucap naomi ketika tau siapa yang membunyikan bel


" apa saya bisa bicara sama kamu ?" tanya reza dengan melihat naomi


naomi mengangguk " di luar aja pak " ajaknya dengan keluar


" mau ngomongin apa ?" tanya naomi dengan cepat


" saya dengar dari evan arwah anaknya pak romi ngikutin kamu ?"


naomi mengangguk pelan " pasti tau dari desi "


" kenapa ?"


" kenapa di bantu ayahnya sudah bikin kamu celaka kamu hampir mati naomi"


naomi tersenyum " pak reza khawatir sama gue ?"


" naomi saya hanya takut kamu kenapa napa " sela reza


naomi mengangguk " iya pak tau artinya bapak khawatir kan sama gue ngaku aja pak, gue ngak akan kenapa napa pak tenang aja "


" saya hanya tidak ingin mahasiswa berprestasi seperti kamu mendapat kamalangan universitas pasti rugi apalagi sebagai uang kuliah kamu dapat dari beasiswa" sahut reza dengan tenang


seketika senyum naomi memudar lalu melihat ke depan pintu " saya pikir bapak peduli sama saya "


" saya peduli dengan kamu "


" tapi bukan sebatas mahasiswa dan dosen " sahut naomi cepat


reza melihat naomi dengan diam


" jika itu yang bapak khawatir kan bapak tenang saja sebelum kenal bapak saya baik baik saja tanggan kaki semuanya masih utuh" sahut naomi dengan berdiri


" jika tidak ada lagi saya masuk pak sudah sore " sahut naomi langsung meninggalkan reza


di balik pintu rumah naomi menatap dada nya yang berdegup kencang seketika air matanya mengalir


" andriana sepertinya gue udah jatuh cinta sama pacar loe tapi maaf gue ngak akan bisa jaga dia buat loe karna rasanya mustahil "


.


.


.


"kenapa kamu sembunyikan semuanya naomi?" naomi mendongak melihat gambar yang berserakan di atas meja


" kamu pikir kamu siapa ? kamu hanya anak kecil yang belum mengerti bahaya "


"mangkanya pah mama udah bilang pindahin naomi dari jakarta bila perlu tutup kemampuan naomi agar dia ngak bahaya " sahut jenny dengan kesal


" ma pa naomi baik baik aja " sahut naomi


" kamu sama bik mira sama saja menutupi semuanya " sahut jenny lagi


" mama kamu benar jika saja papah tidak menyuru orang untuk menyelidiki kami tidak akan tau jika kamu hampir mati " sahut ardan


naomi menunduk" selama ini kalian juga ngak peduli sama naomi, naomi punya teman, naomi makan, yang kalian tau cuma kirim uang " sahut naomi dengan pelan


" naomi"


" naomi tau kalian ngelakuin itu agar hidup naomi tercukupi tapi naomi juga butuh perhatian kalian " keluh naomi


" dari dulu teman naomi cuma arwah tomi sama desi naomi juga mau punya keluarga yang lengkap " sahut naomi


" naomi mama sama papah minta maaf kita mulai semuanya dari awal ya " sahut jenny dengan mendekati naomi


" bisa naomi?" sahut ardan


naomi mengangguk lalu tersenyum


" sekarang bisa kamu ceritakan tentang rudi dan romi ?"


naomi mulai menceritakan semua kejadian yang ia alami bertemu arwah andriana, indriana, susan mayat di kampus semuanya hingga akhirnya ia di culik ia juga menceritakan jika mereka sudah melaporkan ke kantor polisi


" cabut laporan nya " sahut ardan membuat naomi dan jenny binggung


" kenapa pah ?" tanya naomi


" apa kamu tidak curiga ? kasus kamu ini sudah hampir 2 bulan tapi polisi tidak" menahan mereka ?" sahut ardan


" polisi pasti sedang mencari bukti lainnya pah" sahut jenny


" kematian doni menjadi peringatan pertama untuk kalian bisa saja penemuan mayat itu juga mereka yang bocorkan karna tidak mungkin mereka masih berkeliaran jika ada beberapa saksi yang meyakinkan " sahut ardan lagi


" bisa aja pah polisi kurang bukti harus ada penyelidikan lainnya " sahut naomi yang di benarkan jenny


" kamu mau mereka di tangkap polisi?" naomi mengangguk


" kamu harus pindah dari jakarta" sahut ardan dengan memberikan surat pindah kampus


" pah apa hubungannya dengan naomi pindah dan polisi?"


" papah ngak bisa bilang sekarang karna papah juga butuh bukti tapi jika kamu sudah pindah papah yakin mereka akan mendekam di penjara " sahut ardan


" lantas siapa yang akan melaporkan mereka jika naomi mencabut laporannya?" tanya jenny


" mereka akan menyerahkan diri sendiri "