
naomi perlahan membuka matanya ternyata pura pura pingsan membuat benar benar tertidur bahkan membuat matanya sakit belum lagi perut yang keroncongan karna belum makan
naomi melihat ruangan yang berbeda dari sebelumnya ruangan ini lebih besar bersih serta wangi ada tirai yang tak jauh dari naomi dan berjejer loker di samping kiri dan kanan nya
naomi membenarkan posisi duduknya lalu melihat tanggan dan kakinya yang merah akibat di ikat tali
" ini ruangan apa ?" tanya naomi dengan berdiri
naomi melihat ke kiri dan kanan ia mencoba membuka loker satu persatu tapi semuanya terkunci
dengan penasaran naomi menyibak tirai di hadapannya seketika ia terjatuh melihat apa yang ada di balik tirai
" mayat " sahut naomi dengan kaget
seorang wanita mungkin seusia nya terbaring dengan keadaan pucat di dalam peti kaca tampa ada serat darah sedikit pun, seketika ia ingat ucapan evan tentang sebuah ritual pembangkitan manusia
" ngak mungkin kan gue bakal jadi persembahan" sahutnya dengan menjauhi mayat itu
naomi berdiri mencoba membuka pintu tapi terkunci
naomi melihat ke sekeliling tas, hp, buku semuanya hilang
" gue harus keluar dari sini gue ngak mau jadi persembahan" sahut naomi dengan takut
.
.
.
.
.
dava melihat reza yang terus diam " apa kita perlu lapor polisi?"
Reza mengeleng " lebih baik jika kita ke rumah pak rudi "
" sekarang ?" tanya dava
Reza mengangguk" pak rudi lagi di kelas kan ? jika kita ke rumah nya kita bisa cari bukti " sahut reza dengan bergegas
tak ingin ketinggalan dava juga ikut pergi
" lo kalian mau kemana ? bukannya sebentar lagi jam nya pak dava" sahut pak rudi yang akan masuk ruangan dosen
" iya pak saya harus pulang ibu saya berkunjung ke rumah sekarang ada di terminal " sahut dava berbohong
" pak reza ?"
" saya ke minimarket depan pak ada yang harus di beli " sahut reza
" Oh ya sudah hati hati " sahut pak rudi lalu masuk
" loe juga curiga sama pak rudi ?" tanya dava ketika keduanya di dalam mobil
" gue perna liat arwah yang di rumahnya bisa jadi ada hubungan dengan naomi"
keduanya pergi dengan kecepatan tinggi jarak dari rumah yang biasanya memakan waktu 30 menit kini di tempuh dengan 20 menit
" cepet turun " sahut reza dengan masuk ke dalam rumah dava
" kenapa parkir di belakang ?" tanya dava dengan binggung
" siapa tau pak rudi pulang dia bisa curiga " sahut reza membuat dava mengangguk
keduanya berdiri di depan jendela yang tepat mengarah ke rumah pak rudi
Reza melihat dari jendela samar samar bayangan wanita itu ada namun kadang hilang
" arwah nya masih ada ?" tanya dava yang penasaran
Reza berulang kali mengucek matanya " ada tapi kadang hilang "
dava melihat reza binggung " apa obat nya udah ngak bereaksi?"
setalah dava berucap reza benar benar tak bisa melihat arwah itu lagi membuat Reza mengumpat pelan
" sial "
" kenapa ?" tanya dava
" sepertinya obatnya benar benar hilang " sahut reza
" jadi gimana ?" tanya dava dengan mengusap wajahnya
Reza mengeluarkan hp mengetikan sesuatu lalu memasukkan nya lagi ke saku
" gilang ?" reza mengangguk
" pak rudi pulang " ucap dava membuat reza beralih ke jendela
" pak romi kenapa bisa sama pak rudi ?" tanya dava binggung
keduanya terus melihat rumah pak rudi sampai pak romi keluar dengan membawa toples kaca
" pak romi bawa apaan ?" tanya dava
" kita ikutin aja " usul dava namun di tahan reza
" yang pergi pak romi tapi pak rudi masih di dalam rumah " sahut reza membuat dava kembali
" jadi kita gimana ? apa kita akan terus disini ?" tanya dava
bersamaan dengan itu pula hp reza berdering
" ya gilang ?"
" mereka menuju puncak mas, tapi masih saya ikutin "
" iya kalau bisa ikutin terus "
" iya mas, nanti saya kabarin lagi"
" iya iya"
Reza langsung mematikan sambungan
.
.
.
.
.
.
suara pintu membuat naomi tersenyum sebelum keluar naomi mengembalikan jepit rambut yang ia ambil dari mayat tersebut
" makasih ya ni gue balikin jepitannya" ucap naomi dengan menjepitkan jepit itu pada rambut mayat
tak sengaja naomi melihat nama yang tertulis di depan peti kaca
" oh namanya suci, makasih ya jepitnya suci semoga loe tenang di alam sana " naomi kembali menutup peti lekas membuka pintu
seketika wajah berseri naomi berganti menjadi kesal setelah keluar bagaimana tidak di hadapannya ada banyak sekali arwah yang berkeliaran
tapi naomi sedikit binggung kenapa hanya ada arwah perempuan tidak ada satu pun arwah laki laki di ruangan itu
" Susan " ucap naomi dengan pelan ketika melihat gadis yang duduk terdiam di pojok ruangan
ia yakin itu susan arwah yang pernah minta tolong padanya tapi arwah itu hilang sebelum semua selesai
(di episode 4 ceritanya tentang susan )
naomi ingin menghampiri tapi ia takut arwah lain akan menyadarinya jika ia bisa melihat mereka ini saja ada beberapa arwah yang melihatnya dengan selidik
" gue harus keluar dari sini " ucap naomi dengan melihat ruangan yang hanya ada jendela kecil
naomi berjalan perlahan berusaha biasa saja agar tak menarik perhatian arwah
" loe ngak akan bisa kabur dari sini" naomi menoleh
seketika ia kaget melihat andriana dan indriana nya berada di sana juga
" kalian ?" ucap naomi dengan binggung
" ya kita terkurung" sahut andriana
naomi melihat sekitar para arwah yang sadar jika ia bisa melihat arwah
" kalian semua bisa ama kita akan keluar sama sama " ucap naomi berusaha meyakinkan mereka
" salah satu bagian tubuh kita di tahan kita ngak bisa pergi "
naomi melihat para " jika gue bebasin apa kalian bisa pergi ?"
" di dalam loker " sahut salah satu arwah disana
" tapi cuma kita loe ngak bisa keluar" sahut susan dengan mendekati naomi
" kenapa begitu ?" tanya naomi
" pintu nya banyak akan butuh waktu lama membuka nya "
seketika naomi ingat jika dia sudah mengembalikan jepit itu
" gue harus masuk ke dalam lagi " naomi kembali ke ruangan tadi dimana mayat suci berada
ia langsung mengeser peti dan mengambil kembali jepit nya
" di dalam loker ini kan ?" tanya naomi pada mereka
" apa loe yakin bisa ?" tanya indriana
naomi mulai mencoba membuka satu persatu loker yang terdapat toples kaca
" ini rambut?" tanya naomi
" buka itu rambut saya "
naomi langsung membuka toples seketika arwah itu perlahan menghilang
" terimakasih" sahutnya sebelum benar benar menghilang
naomi terus membuka loker dan toples tersebut hingga bersisa 3 toples yang belum di buka
dan arwah yang tersisah hanya andriana, indriana dan susan
" jika loe buka kita ngak akan bisa bantuin loe " sahut andriana ketika naomi akan membuka toples miliknya
" sekarang loe pergi sebelum mereka datang " sahut susan
naomi mengangguk lalu membawa 3 toples itu bersamanya
" belok kiri naomi" naomi hanya menurut apa yang di arahkan para arwah karna bentuk bangunan ini sudah seperti labirin banyak beloka
" buka pintu kiri naomi" naomi meletakan toples lekas membuka pintu mengunakan jepit
setelah berhasil naomi kembali mengambil toples lalu membawa nya lagi
" apa bisa kita istirahat dulu " tanya naomi dengan napas ngos ngosan
.
.
.
.
.
" pak rudi masih di dalam ?" tanya dava
Reza mengangguk " belum keluar dari tadi "
" astaga gilang" sahut reza dengan kesal lalu membaringkan badannya ke kursi
" kenapa ? " tanya dava
Reza melihat chatting dari gilang seketika badan dava lesu
" mereka kehilangan jejak " sahut dava
Reza beranjak " saya pulang nanti saya kabari lagi " sahut reza tampa menunggu jawaban dari dava
.
.
.
.
.
" sepertinya mereka sudah tidak mengikuti saya lagi pak " ucap pak romi bicara pada benda kecil di depannya sembari melihat sekitar
" bagus kalau begitu kamu pergila cepat sebelum naomi sadar, saya juga akan kesana setelah reza pulang "