
naomi menghirup udara segar ketika melihat gedung kampus yang beberapa hari ini ia tinggalkan
" segitu kangen nya loe " sindir evan yang berdiri di samping naomi yang tersenyum
" iyalah kan loe tau naomi anak pinter pasti kangen belajar lah " sahut desi membuat evan mencebik kesal
" udah mending masuk sebentar lagi dosen masuk " sahut gilang yang mendahului ketiganya
beberapa mahasiswa berbisik heran melihat mereka pasalnya semenjak masuk kampung ke empatnya tak perna terlihat akrab tapi kini mereka malah berjalan bersama
" obat kemaren gimana?" tanya naomi setelah mereka duduk di bangku masing masing
desi yang mendengar itu langsung berdiri mendekati naomi
" belom di coba masih mikir mikir " sahut evan dengan lesu
" kenapa ? kan seru liat mereka ?" ejek gilang
naomi melihat desi " sayang banget padahal kita mau liat reaksi loe gimana ?"
" nanti deh gue siapin mental dulu " sahut evan malas
naomi terus memperhatikan desi yang terus melihat evan seketika senyum licik nya keluar
" Van kalau loe belom siap loe boleh shering ke gue biar tau gimana ngadepin mereka " seketika desi melihat naomi membuat naomi tersenyum
" ngapain loe senyum ?" sahut desi dengan kembali duduk
" ngak biasa aja, eh pak dava tu " sahut naomi dengan menghadap ke depan
.
.
.
.
" kita harus segera bertindak sebelum polisi mencari bukti yang lain " sahut rudi dengan menyandarkan punggungnya
" tapi pak saya takut bisa jadi bukti lain ada sama mereka " sahut romi
" sekarang kita memang belum menjadi tersangka jika polisi mendapat bukti kita pasti di penjara pak " sahutnya lagi
" semuanya karna naomi sialan itu karna dia kita jadi begini " sahut rudi dengan emosi
" bagaimana jika temannya yang pakai kacamata itu kita jadikan korban ?" sahut romi
" kamu akan mencari 11 gadis perawan? " romi mengeleng
" jika dia bisa kenapa harus mencari yang lain " sahut rudi lagi
" ini uang untuk biaya pengobatan anak mu, nanti saya ke mbah dukon dulu biar dia kasih kita mantra untuk mendapatkan naomi itu " rudi memberikan uang pada romi
romi mengambil uang itu lalu mengangguk
.
.
.
" kalian disini ?" sahut dava dengan ikut duduk
ke empat orang tersebut langsung melihat ke kiri kanan
" kenapa ?" tanya dava yang binggung
" ngak enak aja sama dosen lain pak " sahut gilang dengan kembali melihat bakso nya
" udah makan ngak usah mikirin orang " sahut dava lagi
" di cariin ternyata disini " sahut reza yang ikut bergabung di meja mereka
" laper makan " sahut dava enteng
" kalian ada yang liat pak rudi " ucapan reza seketika membuat naomi tersedak
" uhuhhhkk..... " naomi langsung batuk mendengar nama pak rudi
" minum minum " sahut desi dengan memberikan air pada naomi
" pak reza kayak ngak mikir lagi kalo ngomong " kesal desi dengan menepuk pundak naomi
" salah saya dimana ? kan cuma nanya " sahut reza lagi
" ngak ada salah cuma waktunya aja ngak tepat " sahut evan
" polisi bilang doni juga jadi saksi " sahut reza lagi
" pantes hari ini ngak masuk " sahut dava dengan mengangguk
" Oya van gimana minyaknya ampuh ?" tanya reza tak peduli kekesalan desi dan evan
" pak makan dulu ya saya laper " sahut naomi dengan melihat reza
" iya makan aja " sahut reza enteng
" Van gimana ?" tanya reza lagi
" pak reza makan nanti keselek " sahut naomi dengan sedikit meninggikan suaranya
membuat beberapa orang melihat ke arah mereka
" saya bicara sama evan naomi bukan sama kamu " sahut reza
" sejak kapan mas reza jadi bawel gini ?" tanya gilang membuat mereka mengangguk
" saya salah ?" tanya reza
mereka kompak mengeleng lalu melanjutkan makannya
" gue selesai duluan " sahut evan yang langsung pergi
dava dan naomi lekas berdiri membuat Reza melihat mereka
" kita duluan " sahut dava yang di ikuti naomi
" kalian ngak nungguin saya ?" namun mereka hanya pergi tampa menjawab ucapan reza
.
.
.
.
.
.
pagi ini kampus trisakti gempar apalagi di jurusan menejemen 3b
bagaimana tidak pagi ini hampir seluruh mahasiswa jurusan menejemen mendapat pesan photo doni yang tergantung di dalam rumah nya dengan keadaan pipi yang tersayat
" gila si ini menurut gue " sahut desi dengan meletakan tasnya
" setau gue doni ngak punya musuh " sahut gilang
" apa kita ke rumah sakit aja sekalian liat hasilnya " sahut gilang lagi
" hasil apaan hasil otopsi ? udah gue yakin tu anak di bunuh " sahut evan
" tapi kok bisa ya doni tu anak yang baik ngak perna nyari masalah suka kasih contekan juga " sahut naomi
" apa mungkin ini ada hubungannya sama kasus loe " sahut desi membuat mereka melihat desi
" bisa jadi kan doni yang di minta pak rudi manggil loe " sahut gilang
" apa selanjutnya bakalan kita ?" tanya desi
" kita ngak ketemu sama pak rudi?" sahut evan
" tapi pak rudi tau kita bikin laporan " sahut desi lagi
" terus kita gimana ?" tanya evan dengan takut
" kalian ngak liat doni?" tanya amel teman sekelas mereka
" kalian mau ke rumah sakit ?" tanya naomi
mereka mengangguk
" denger denger mayatnya akan di makamin di tempat neneknya di cianjur jadi kita ke sana sebagai penghormatan terakhir " sahut amel
mendengar itu mereka sepakat ikut ke rumah sakit tempat doni di otopsi
.
.
.
.
suara tangis memecah ruangan di mana mayat doni berada tak hanya kedua orang tuanya tapi kerabat yang lain juga menangis
para dosen dan mahasiswa hanya bisa menunggu di luar karna tak tega melihat keluarga doni
" Des gue kebelet pipis tungguin ya " sahut desi dengan memberikan tasnya pada desi
naomi langsung pergi ke toilet yang tak jauh dari sana, setelah menyelesaikan tugasnya naomi langsung keluar
" permisi " sahut naomi pada wanita yang menghalanginya jalannya
wanita itu menoleh melihat naomi
" adek ngapain disini ? tanya naomi pada gadis berseragam di depannya
gadis itu hanya diam tak menjawab lalu melihat pakaiannya
" oh baju kamu kotor mau di cuci di dalam ya ?" tanya naomi lagi yang langsung mengeser badannya agar wanita itu bisa masuk
" tunggu " naomi menoleh
" apa yang meninggal itu keluarga kakak?"
naomi mengeleng " bukan cuman teman satu kampus " sahut naomi
wanita itu mengangguk
" gue duluan ya " pamit naomi langsung pergi
naomi menoleh ke kanan kiri ketika tak menemukan desi dan yang lain
" apa mereka udah pulang ?" tanya naomi pada dirinya sendiri
" mereka di parkiran " sahut seseorang membuat naomi menoleh
" eh loe lagi belom pulang ?" tanya naomi
" belom kak nunggu di jemput " sahutnya lagi
" oh yaudah gue duluan makasih infonya " sahut naomi dengan melihat kiri kanan
" orang orang pada kenapa sih ?" tanya nya dengan binggung karna melihat dirinya
setibanya di parkiran benar saja desi dan yang lain menunggu di sana
" eh maaf ya lama " sahut naomi dengan mendekati desi
" udah ? " naomi mengangguk
" yaudah kita balik " sahut gilang dengan masuk ke mobil di ikuti yang lain