
keduanya saling pandang ketika tiba di dalam mobil
" apa ada yang aneh ?" tanya reza
naomi mengangguk " cerita mereka beda versi indriana dan pembantunya beda "
" tapi gue rasa pembantu ngak tau apa apa mana mungkin dia akan cerita semuanya pada pembantu " sahut naomi lagi
" jadi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya reza
naomi mengeleng " pikiran saya buntuh pak ngak tau mau ngapain " keluh naomi
Reza mengusap kepala naomi " jangan terlalu dipikirin nanti jadi beban makan dulu yuk " sahut reza dengan menghidupkan mobilnya
sedangkan naomi hanya diam melihat reaksi reza yang berlebihan
" kenapa ?" tanya reza
naomi mengeleng " ngak papah yuk makan "
setelah selesai makan keduanya langsung pulang
"apa sebaiknya di tutup aja kasusnya" naomi menoleh
" kayaknya ngak akan ada penemuhnya kematian mereka " sahut reza
" jadi ini real karna takdir gitu ?" sahut naomi
Reza mengangguk" iya mau gimana lagi kita juga ngak ada bukti yang kuat jika pembantu nya bilang begitu tapi indriana bilangnya beda kita juga ngak bisa apa apa "
" pak ini tuh pacar loe sendiri setidaknya nyawa loe pak reza nyawa " sahut naomi tak habis pikir
" naomi dengar setiap yang bernyawa pasti akan pergi 2 tahun bersama membuat kami saling mengenal tapi tidak saling memahami jika kasusnya kita bukak lantas untuk siapa pemenangnya ?" tanya reza membuat naomi diam
" saya tau dia pasti tidak tenang tapi dia pasti mengerti jika kasusnya di buka akan ada korban lainnya " sahut reza lagi
baru ingin menjawab deringan ponsel terdengar membuat naomi diam
" ya dava kenapa ?" tanya reza ketika dalam perjalanan
" ke rumah gue sekarang ada yang mau gue omongin " sahut dava
Reza melihat naomi" iya tapi saya anter naomi sebentar "
" ajak aja sekalian biar dia tau " sahut dava
" masalah apa kiki atau andriana? ngak deh saya antar naomi dulu " sahut reza
mendengar namanya disebut naomi melihat reza " kenapa ?" ucapnya tampa bersuara
" bawah sini biar dia tau sekalian jangan di tinggal " sahut dava dengan kekeh
" iya iya saya ajak" reza langsung mematikan sambungan dan berbelok arah
" kemana ?" tanya naomi
" rumah dava katanya ada yang mau di omongin " sahut reza
sekitar 10 menit keduanya tiba di rumah dava dengan dava yang menunggu di teras rumah
" kenapa ?" tanya reza yang menghampiri dava
berbeda dengan naomi yang pokus ke rumah yang ada di samping rumah dava
" ngomong di dalam aja ayo naomi" ajak dava
" naomi " panggil reza
naomi melihat reza lalu kembali melihat rumah itu
" kenapa ?"
naomi mengeleng " ayo " ajaknya lalu ikut masuk
" kenapa mau ngomong apa ?" tanya reza dengan duduk di kursi
dava membuka box kecil yang berisi anting dan gelang
" ini gue temuin di ruang rapat persis di bawah lemari buku " sahut dava
" ini kayak punyanya buk kiki " sahut naomi dengan melihat gelang itu
" iya bener punya buk kiki "
" iya gue juga curiganya begitu " sahut dava
" tau dari mana ?" tanya reza
" gue perna liat buk kiki pakai gelang sama anting ini pas dia jemput gue di rumah " sahut naomi
" kenapa bisa di ruang rapat ?" tanya reza
" mungkin aja pas dia jatoh " sahut naomi
" ngak kiki meninggal di ruangan kerja nya dan ngak mungkin benda ini bisa jalan sendiri " sahut dava
" kecuali ada yang membawanya" sahut naomi membuat keduanya diam
" rumah yang di samping rumah siapa ?" tanya naomi
dava menoleh ke arah pandangan naomi " rumah pak rudi dosen trisakti juga " sahut dava
naomi mengangguk dengan masih melihat rumah itu
.
.
.
.
.
" kenapa kamu kuliah di trisakti.?"
naomi menghentikan tangganya yang ingin membuka pintu lalu melihat reza
" emang ngak boleh ?" tanya naomi
" 3 bukannya 2 ya ?" tanya naomi binggung
" awal januari susan anaknya pak tono cuma berjarak beberapa minggu andriana dan sekarang kiki "
" jadi susan meninggal karna kasus serupa ?" tanya naomi
" iya cuma bedanya susan meninggal di depan kampus dengan muka yang hancur jazad nya dapat di kenali dari barang barang dan ktp nya " sahut reza lagi
naomi mencoba tersenyum " mahasiswi masih banyak pak di sana ya mungkin takdir aja kalau mau mati ngak harus kuliah disana kan" sahut naomi
" kenapa ngomong gitu ?" tanya reza membuat naomi diam
"maaf, saya, hanya khawatir " sahut reza dengan memelankan suaranya
" khawatir kenapa ? " tanya naomi dengan melihat wajah reza
tak mendapat jawaban dari reza naomi tersenyum " gue ngak akan mati pak sebelum arwah mereka bebas"
" naomi berhubungan dengan arwah itu akan membuat kamu kesulitan sendiri " sahut reza
" apa pak reza juga ngak mau bantu saya ?"
" naomi saya berbeda dengan kamu saya tidak tau apakah ada arwah atau tidak bahkan sebelum bertemu kamu saya tidak percaya jika ada arwah " keluh reza
mendengar itu naomi tersenyum kecil " besok bisa kan bantu saya ke kampus lagi "
" ngapain lagi ?" tanya reza kesal
" ada perlu, ok pak reza ? by " sahut naomi dengan keluar dari mobil reza
" naomi" kesal reza menghadapi naomi yang keras kepala
.
.
" dosen itu ?" naomi mengangguk
" loe masih ngebet bantuin arwah itu ?" tanya desi lagi
" loe inget arwah yang gue ceritain ketemu di sekolah?" desi mengangguk
" susan ?"
" iya ternyata dia juga korban trisakti " sahut naomi
" apa dia cewek yang loe liat di kubur di belakang kampus sebelum kematian andriana " ucapan desi seketika membuat naomi sadar
" ya ampun untuk loe ingetin tentang jazad itu , tapi bisa jadi sih "
" kapan mau di cek gue bantuin " sahut desi membuat naomi tersenyum
" tapi yang gue minta ada kan ?" tanya naomi
desi memperlihatkan sebuah botol kecil " buat apaan ?"
flashback
naomi melihat rumah yang ada di samping rumah dava
seorang wanita berdiri di kaca dengan tatapan kosong serta wajah yang pucat di belakang nya ada beberapa candi kecil yang biasa tempat meletakan abu kremasi
naomi bisa membedakan antara arwah dan manusia dan naomi yakin jika itu adalah arwah dan masih banyak arwah lainnya yang ada di sana
tapi yang naomi binggung kenapa mereka tak bergerak mereka hanya diam sama seperti waktu di ruangan reza
now.....
" jadi buat pak reza?" naomi mengangguk
" loe mau bantu atau ngak itu terserah tapi yang pasti gue akan bebasin mereka gue ngak bisa tenang "
desi mengela napasnya " gue ngak tau gimana hati loe tapi yang pasti loe itu terlalu baik, ni ramuannya " desi menyerahkan botol kecil dengan keadaan kesal lalu pergi dari sana
berbeda dengan naomi yang tersenyum senang melihat ramuan itu
.
.
.
.
.
" jadi kita harus ngapain?" tanya reza yang melihat kampus trisakti di hadapannya
" sebelum masuk ni olesin dulu ke mata " naomi member botol kecil pada reza
" buat apa ?" tanya reza
" udah olesin aja dulu ke mata ngak akan perih "
dengan keadaan kesal reza tetap melakukan apa yang di pinta naomi mengoleskan air dalam botol itu ke matanya
" udah ?, sekarang kita masuk " ajak naomi
keduanya masuk melihat sekitar benar benar sepi naomi binggung mulai dari kepergian indriana bahkan kini beberapa arwah disini tak perna muncul apa mereka benar benar sudah hilang
" bisa kita ke tempat pak dava " ajak naomi lagi
Reza hanya mengangguk lalu keluar kampus bersama naomi
" mereka ngapain ke kampus pak ?"
" sudah biarkan saja saya yakin pak reza orang baik " sahut pak tono
" apa bisa menjaga neng naomi?" tanya nya lagi
pak tono tersenyum " bapak yakin dia bisa " sahut pak tono dengan kembali menjalankan pekerjaan nya
Hay hay maaf ya lama bikin cerita nya tolong komen ya guys kalau cerita nya salam typo atau kurang menarik agar bisa di perbaiki di bab selanjutnya
terimakasih