
" ngak mau di angkat dulu ?" tanya desi dengan melirik hp naomi yang di nangkas
" Ngak deh biarin aja "
Naomi kembali menghabiskan makanannya
" Naomi loe ngak maj coba buka hati buat pak dosen itu beri kesempatan gitu " tanya mika dengan mengupas buah di tangga nya
Naomi hanya diam tak menjawab
" Kasian pak dosen dong kalau gitu loe ngak mau berjuang dulu sama dia "
Naomi menghela napasnya
" Udahla mika ngak usa di bahas kasian juga kan jika prasaan harus di paksa " sahut cleo
" Ya pelan pelan aja siapa tau bisa " ucapan mika membuat naomi beranjak
" Eh mau kemana ?" tanya mika yang khawatir naomi bergerak sendiri sedangkan kakinya masih di gips
" Kamar mandi " sahut naomi yang langsung di bantu cleo dan desi
Mika ingin membantu namun nyalinya menciut ketika di plototi cleo
Setelah selesai naomi langsung minum obat membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata
" Gue salah bicara ya ?"
Mika melihat kedua temannya dengan takut
Desi dan cleo sama sama mengangguk membuat mika menunduk
" salah lagian ngotot banget loe sama tu dosen " sahut cleo dengan kesal
" Kita keluar aja ya bicara di luar biar lebih enak" ajak desi agar tak mengangguk istirahat naomi
Setelah di luar mereka memilih duduk di teras
Desi menghembuskan napasnya lalu membuangnya lagi berharap menghentikan sesak di dadanya
" Naomi sanggat suka sama pak reza setiap bersama pak reza dia selalu bahagia dia selalu cerita setiap kali pak reza chat atau telpon ia selalu berbunga bunga, pak reza perhatian sanggat tapi entah perhatian sebagai wanita atau sebagai mahasiswa yang berprestasi "
" Maksudnya bukannya naomi dekat dengan pak dosen karna bantuin mantan pacarnya pak dosen masa sempet sempet nya pdkt"
Mika menatap desi binggung atas penjelasan desi
" andriana dan pak rudi keduanya menjadi jembatan untuk naomi dan pak reza dekat tapi tak seharusnya pak reza memberi harapan pada seorang gadis "
" Harapan? maksudnya?" tanya cleo tak paham
" Bisa di bilang pak reza selalu ada untuk naomi waktu naomi ilang juga dia yang ikut cari bahkan pak reza sempat melarang naomi dekat walaupun cuma dengan gilang dan evan menurut loe itu memberi harapan bukan? " pertanyaan desi membuat mereka mengangguk setujuh
" berarti semacam posesif lah bisa di bilang " timpal cleo
" menurut gue gue juga akan baper dan berharap lebih lah sama cowok yang selalu ada untuk gue apalagi sampai ngelarang gitu" jelas desi
" Tapi ya itu pak reza mungkin gengsi bilang suka sampai naomi pindah dia baru sadar " sahut desi lagi
" Kalo pak dosen sadar harusnya naomi seneng dong artinya cintanya berbalas tapi kenapa malah di angurin " tanya mika yang tak habis pikir dengan naomi
" Mungkin naomi ada pertimbangan sendiri" sahut alexa yang datang dari luar
" Bisa jadi sih " sahut desi
" gue perna denger kalo naomi minta pak reza ketemu bokapnya " sahut alexa yang datang dengan kresek di tangganya
" serius loe ?" tanya mika yang kaget
Alexa mengangguk " suer, waktu itu gue mau ambil charger cuma ngak jadi karna denger mereka ngomong"
" terus gimana pak dosen mau ketemu bokap nya naomi ngak ?"
alexa mengeleng
"pantesan naomi jauhin pak dosen kalau gitu " sahut cleo kesal
.
.
.
.
naomi menghela napasnya harapan tinggal harapan ia pikir kepergian ardan dan jenny beberapa hari lalu membuat nya bisa lengah tapi semua hanya impian buktinya sekarang kedua orang tuanya itu tengah menatapnya dengan tatapan mematikan
karna desi telah menjadi kunci utama bagi ardan dan jenny dan dengan berat hati desi menceritakan semuanya pada ardan tampa terkecuali
sedangkan naomi hanya tersenyum ketika ardan menatapnya
" setelah mendengar semuanya papah ingin istirahat dulu keputusan nya akan papah sampaikan nanti malam " sahut ardan dengan beranjak
sedangkan jenny menatap lesu naomi sejujurnya ia kasihan dengan naomi tapi ia juga tak ingin anaknya terus berada di indonesia karna itu sama saja memberi harapan untuk dosen yang tak punya hati itu
ya itulah julukan jenny pada reza setelah semua yang reza lakukan menarik ulur hari naomi kini ia tak ingin naomi dekat dengan reza lagi
" mama ke kamar ya kamu istirahat" jenny menepuk pundak naomi lekas pergi
naomi menghela napasnya mengusap wajahnya yang terasa di mandikan oleh keringat
mereka yang berdiri di belakang naomi saling pandang lalu duduk di dekat naomi
" sabar ya naomi kita selalu bersama loe kok " sahut mika
naomi mengangguk lalu tersenyum " makasih ya"
" naomi maaf ya "
desi menunduk merasa telah membocorkan keadaan naomi
" ngak papa buka ke inginkan loe juga " sahut naomi
" naomi jadi bener yang gue liat selama ini itu ngak bohong " tanya cleo yang melihat mika dan yang lain
" maksudnya apa ?"
" naomi bisa liat hantu " jelas cleo
" bukan hantu tapi arwah " koreksi naomi
" sama aja sama sama beda dunia " keluh cleo
" gue juga bisa liat cewek yang selalu ngikutin loe " sahut naomi seketika membuat mereka terdiam
" tu di belakang loe " sahut naomi dengan menunjuk belakang cleo mengunakan dagunya
" di belakang gue ? " sahut cleo menunjuk dirinya sendiri
" iya "
cleo melihat mika dan alexa yang perlahan menjauh
" naomi pasti becanda kan iya kan " cleo menyengir seolah itu hanya lelucon
" bener dia ada dari pertama gue masuk kampus kenalan sama loe tapi kayaknya dia baik ngak ngapa ngapain loe " jelas naomi lagi
" naomi loe bohong kan gue takut beneran naomi " cleo berteriak dengan memeluk naomi
" usir naomi usir " cleo menangis membuat mika dan alexa langsung menenangkan nya
" ngak bisa dia ngak perna mau komunikasi sama gue bahkan sama dika juga "
" Dika siapa ?" tanya desi
" arwah supermarket " sahut naomi
" astaga arwah aja ada namanya naomi loe ini nyari hobi yang bagus aja ini ngak ada bagus bagusnya" sahut alexa yang ikut duduk di dekat cleo
" udah dia ngak akan ngangguin kalian mungkin dia penjaga loe " jelas naomi
cleo mengeleng " gue ngak punya leluhur yang aneh aneh "
" saya andin kakaknya cleo "
naomi langsung menoleh mendengar suara arwah yang ada di dekatnya
" he cleo loe punya kakak ?" tanya naomi dengan menjauhkan sedikit badannya yang di peluk cleo
cleo mengangguk lalu mengeleng
" punya tapi udah meninggal " jelas cleo
" sama aja punya, nah itu namanya andin kakak loe "
cleo melihat naomi " ayolah naomi jangan bikin gue jadi berani mau kakak gue mau siapa arwah tetaplah arwah udah mati gue takut "
naomi mengeleng " orang dia ngak ngapa ngapain kok takut, kalo loe bisa liat dia itu baru takut "