
perlahan naomi membuka matanya melihat sekitar yang tak ada satu orang pun
naomi menghela napasnya melihat tangganya yang lagi lagi harus di infus
" maaf naomi maafkan saya karna saya kamu begini " suara serta munculnya dika membuat naomi kaget
" astaga dika kenapa muncul tiba tiba gitu " sahut naomi kesal
Dika menggaruk kepalanya " maaf"
naomi hanya tersenyum " ngak pa pa, tapi kemaren loe kemana kenapa ngilang ?" tanya naomi
Dika mengeleng " saya ngak tau tiba tiba ada yang menarik saya kembali ke dekat tubuh cuma saya ngak tau siapa "
naomi menghela napasnya " maaf ya untuk sekarang gue ngak bisa bantuin loe dulu "
" kamu sudah sadar " sahut suara membuat naomi menoleh
" mau makan ? mandi ? atau apa ?" tanya reza dengan meletakan buah di meja
naomi mengeleng lalu melihat dika yang sudah menghilang entah kemana " pak reza sama siapa ?"
Reza melihat ke belakang " sendiri ? kamu jangan bikin saya takut naomi"
" pak reza aja yang salah paham orang nanya bapak ke sini sama siapa bukan berarti bapak ada temen hantu " cerocos naomi
Reza duduk mendekati naomi " bisa ngak panggilannya di ganti ?"
naomi melihat reza binggung " di ganti maksudnya?"
" ehm gini seperti mas reza atau mungkin sayang juga boleh " sahutnya dengan nyengir
naomi memutar matanya malas sekarang ia tau arah pembicaraan reza
naomi melihat tangganya yang di infus lalu bergantian menatap reza
" kapan gue bisa pulang ?" tanya naomi dengan mengalihkan pembicaraan
" jika kamu sehat besok sore sudah bisa pulang " jelas reza membuat naomi mengangguk
" apa pak reza serius dengan saya ?" tanya naomi dengan mantap
reza terdiam ia tau jika naomi memanggil dengan bahasa formal itu artinya ia tengah serius dalam berbicara
sedangkan naomi diam menantikan jawaban reza ia akan lihat apakah reza serius atau tidak dengannya jika benar reza serius ia tak perlu lama berpikir
" saya serius sama kamu saya hanya menunggu kamu selesai kuliah " sahut reza
namun tak membuat naomi puas dengan jawaban itu, naomi menghela napasnya kali ini malah ia yang ragu apakah ia akan meminta reza bertemu ardan atau tidak
tapi ardan sudah pernah bilang ia ingin bertemu reza jika reza benar benar serius dengannya
naomi yakin inilah saat yang tepat jika bukan sekarang kapan lagi, lagi pula ia takut jika ardan tau ia pasti akan cepat di bawah pergi
" apa pak reza bisa bertemu papah saya ?" tanya naomi dengan satu tarikan napas
kali ini malah reza yang ragu ia menatap naomi seakan meminta kejelasan atas ucapannya tadi
" untuk apa ?" tanya reza membuat naomi mencolos
naomi tersenyum kecut " ngak perlu lupakan "
" apa papah kamu tau kamu masuk rumah sakit ?"
naomi mengeleng
" saya akan bertemu papah kamu setelah kamu lulus dan memintanya padamu saya yakin pada saat itu dia tidak akan menolak " sahut reza dengan pede
" kamu akan terus bersama saya kan saat hari itu tiba ?" tanya reza
" saya janji naomi tidak akan perna berpaling " sahutnya dengan memegang tanggan naomi
.
.
.
.
" bogo loe za kok bisa bisa nya ucapan gitu loe ngak ngerti sih kalau orang tua mau ke temu pastilah dia mau kenal masa gitu aja loe ngak ngerti " ceramahan dava membuat reza terdiam
" loe sama andriana sudah sama sama dewasa bahkan kalian sempat berteman yang artinya kalian udah tau satu sama lain tampa perkenalan dengan naomi beda, bisa jadi bokapnya khawatir naomi dekat sama loe "
" jadi gue gimana ?" tanya reza
" telpon naomi tanyai kapan bokapnya ngak sibuk bilang loe mau ketemu sama bokapnya " ucap reza dengan kesal
entah apa yang ada di kepala reza sehingga dengan polosnya ia bertanya kenapa ayahnya mau ketemu dia
kalau itu di posisi dava maka dava akan sangat senang karna ia ingin sekali bertemu orang tua naomi yang merupakan orang terpenting di kampus
bahkan setiap kali ke rumah naomi ia akan selalu mencari photo orang tua naomi karna ia penasaran seperti apa orang yang di takuti dekan kampus
" va di telpon sekarang?"
seketika dava melihat reza dengan geram lalu mengelus dadanya
" sabar dava sabar " sahutnya lalu melihat reza dengan senyum
" sekarang za sekarang"
.
.
.
" semuanya sudah beres ?" tanya mika
desi, alexa dan cleo mengangguk dengan melihat sekitar
" udah selesai " sahut cleo lekas mengambil tas naomi
desi dan mika lekas membantu naomi berjalan awalnya mereka minta pakai kursi roda namun naomi menolak ia merasa dirinya masih sanggup berjalan
mereka berempat memasuki parkiran di mana mobil naomi terparkir
" naomi pak reza" sahut desi dengan menyerahkan hp naomi
naomi mengeleng " jangan di angkat" sahutnya lalu membuka pintu mobil
dengan cepat mika dan yang lain membantu naomi masuk
" Gilang sama evan jadi penelusurannya ?" tanya naomi memecah keheningan di mobil
" iya jadi evan udah tu kalau loe balik hari ini tapi gue bilang jangan sampai pak reza tau " sahut desi
" sebenarnya loe sama tu dosen ada apa sih, tu dosen kayaknya suka sama loe tapi loe malah ngehindar " tanya mika yang langsung di sikut alexa
naomi menghela napasnya " ada banyak hal yang mungkin membuat kalian binggu bukan cuma kalian sih tapi gue juga bahkan sangkin gue ngak ngertinya gue ngak bisa bedain apa dia bener suka sama gue atau cuma mainan" sahut naomi
" tapi liat dia beberapa hari ini kayaknya bener suka deh sama loe " mika berucap tampa menoleh ke belakang
" kapan balik ke canada?" tanya naomi mengalihkan pembicaraan
" loe mau balik canada ?" tanya desi spontan
" bentar lagi kan libur usai ya gue juga kan harus kuliah des" sahut naomi
" kita ngikut loe aja kapan balik soalnya kita ngak mungkin ninggalin loe dalam keadaan begini " sahut cleo
mereka terus bercerita hingga tiba di kediaman naomi
" ya ampun non ini gimana bisa gini sih kakinya " ucap bik mira dengan cemas melihat keadaan naomi
" ngak papa bik cuma ke sleo urut dikit bisa lah " canda naomi
" apaan sih non ini orang serius juga yaudah atuh ayo masuk " ajaknya dengan membantu naomi berjalan
adanya cleo mika dan alexa membuat naomi benar benar terbantu bagaimana tidak jika ada yang membereskan baju ada yang menyuapi makan ada yang memijat badan dengan alasan naomi pasti capek terbaring di ranjang rumah sakit
naomi hanya menikmati perlakuan mereka toh ia sendiri tak sanggup jika harus melakukan semuanya jadi biarla ia manja manja sebentar pada temannya
" naomi pak reza terus nelpon" ucap desi membuat naomi menghela napasnya
" jangan bilang loe keluar rumah sakit tampa pamit sama pak reza " tebak desi yang malah di anguki naomi
" astaga naomi kenapa ?" tanya desi tak habis pikir
" gue punya alasan tersendiri jika pun dia kemari bilang kalau gue udah balik ke canada "