
naomi menghela napasnya dengan meletakan kepalanya di meja entah kenapa seharian ini ia merasa benar benar lelah
" loe sendiri, desi mana ? " tanya evan yang langsung duduk di dekat naomi
naomi membenarkan posisi duduknya " desi mana ?"
" la gue nanya dia dia nanya balik " keluh evan dengan menoleh kiri kanan
" bukannya tadi desi sama loe ?" tanya naomi lagi
" iya tapi tadi desi liat bokap loe ke kampus mangkanya dia mau nyariin loe soalnya nomor hp loe ngak aktiv " naomi menoleh ke evan
" serius loe ? bokap gue "
Evan mengangkat kedua pundaknya" gue sih ngak tau bokap loe yang mana, tapi tadi desi bilang nya bokap loe "
" gue cabut dulu desi tolong anter pulang " sahut naomi dengan beranjak pergi meninggalkan evan sendiri
" pa papa " panggil naomi dengan masuk ke rumah
" kenapa si naomi teriak teriak segala " sahut jenny yang sedang menonton tv
" ma papa mana ?" tanya naomi
" papa di kamar, kenapa sih ?" bukannya menjawab naomi langsung pergi membuat jenny binggung lantas mengikuti naomi
" papa tadi ke kampus?" tanya naomi langsung pada ardan
Ardan mengangguk " iya kenapa ?"
" ngapain pa papa kesana papa belum berencana mindahin naomi kan ?" tanya naomi
ardan tersenyum lalu memberikan map pada naomi
jenny yang kepo ikut melihat apa isi map yang di bukak naomi
seketika badan naomi lesu berbeda dengan jenny yang malah tersenyum puas
" papa memang hebat mama suka " sahutnya lekas duduk di dekat ardan
" kenapa cepet banget pa ?" tanya naomi kesal
" lebih cepat lebih baik, ngak ada yang kamu tunggu kan disini ?" sahut ardan
jenny melihat naomi " apa kamu punya rasa sama dosen kamu itu ?"
naomi mengeleng " ngak ma lebih cepat lebih baik " sahutnya dengan senyum
" naomi ke kamar dulu" sahut naomi lantas pergi
" kenapa papa mindahin naomi secepat ini ?" tanya jenny binggung
karna ia tau naomi baru saja masuk belajar
ardan melihat jenny " saya hanya tidak ingin anak saya menjadi keuntungan bagi mereka dan di sia siakan lelaki tak berperasaan" sahut ardan membuat jenny binggung
" maksudnya siapa yang akan memperoleh keuntungan dan sia sia siapa pa kenapa papa ngak bilang " sahut jenny yang binggung siapa yang di maksud ardan
" nanti mama akan tau juga sebaiknya bersiap kita akan segera pergi " sahut ardan dengan memainkan leptop nya
" loe serius " sahut dava dengan menghentikan makannya
" serius gue tau dari desi " sahut evan dengan berbisik
" tapi kenapa perasaan naomi ngak ada masalah apa apa disini kenapa harus di pindahkan?" tanya gilang yang malah binggung
evan mengangkat kedua pundaknya
dava mengecek hpnya " kayaknya bokap nya naomi orang yang berpengaruh " sahut dava memperlihatkan chat rektor untuk nya
" apa selama ini dia mantau keadaan naomi" tanya gilang
" bisa jadi, tapi kata desi bokapnya naomi orang yang sibuk di balik ke indo bisa 2 3 bulan sekali itu aja paling 3 hari " sahut evan
" gue cuma mikirnya naomi ngak mungkin di lepasin sama pembantu secara dia anak semata wayang bisa aja bokapnya nyiapin penjaga selama ini " sahut gilang membuat mereka mengangguk
" Reza pasti kaget ini " sahut dava dengan mengusap wajahnya
" mas reza tu suka ngak sama naomi?" tanya evan
" kenapa nanya gitu ?" tanya dava
evan menceritakan apa yang ia tau tentang reza tentang sikap reza selama ini pada naomi
" ngak mungkin kalau dia ngak cinta ? tapi kenapa die beruba cuek ?" tanya dava binggung
" siapa nama bokapnya naomi?" tanya dava
evan mengeleng " desi ngak kasih tau"
Rudi meremas kertas yang ada di meja lantas melempar nya ke tong sampah
" jika dia pindah semuanya kacau dia sudah bikin saya menunggu purnama lagi dan dia malah pergi "
" saya dengar begitu pak tapi saya tidak tau siapa yang memindahkan nya bahkan pak rektor begitu akrab dengannya " sahut romi dengan menunduk
" cari tau siapa ayahnya naomi, jika suci tidak bisa bangun makan naomi yang akan tidur " romi mengangguk lalu pergi
tok tok tok
" masuk "
" oh pak reza ada apa pak ?" sapa rudi dengan rama
" ini ada beberapa jadwal bapak baca dulu jika acc akan di tempel di mading " sahut reza
pak rudi mengangguk" nanti biar saya yang tempel terima kasih pak "
Reza mengangguk lalu keluar
" ngapain ?" tanya dava membuat reza menoleh
" ngasi jadwal kenapa ?" tanya reza
" loe baik baik aja ?"
reza mengangguk " kenapa ?"
dava mengeleng lalu pergi membuat reza binggung
" va dava "
" kenapa tumben nanyai keadaan saya biasanya ini ada apa apanya " sahut reza
dava hanya mengeleng " tetap semangat aja "
" kenapa si tu orang" sahut reza lekas masuk ke ruangannya
" gimana nasip saya "
naomi menghela napasnya
" kan udah gue bilang gue ngak akan bantuin loe bokap loe udah bikin gue hampir mati dan gue ngak mau kejadian lagi " sahut naomi dengan menyusun baju ke kopernya
" plis naomi cuma loe yang bisa liat gue "
" dan gue ngak bisa bantu roh yang badannya masih hidup " sahut naomi cepat
Sinta menunduk " maaf " sahutnya lalu pergi menghilang
naomi menghela napasnya lalu duduk di kasur
sejujurnya ia tak tega namun ia tak ingin lama terjebak bersama roh roh itu ia takut namun lagi lagi pikiran nya berperang
" ok naomi cuma sekali ini " sahutnya lalu mengambil tas
" mau kemana naomi?" tanya desi yang melihat naomi membawa tas
" ada yang mau gue beli bilangin mama ya " sahut naomi dengan cepat
desi hanya mengangguk melihat kepergian naomi
dan disinilah naomi berdiri di depan raga yang terbaring
" kenapa ke sini lagi ?" tanya nya dengan melihat badan nya
" dokter udah mau mencabut semua alat di badan gue apa gue ngak berhak hidup lagi ?" tanya nya dengan pelan
" gue udah perna bilang gue bukan dukun yang bisa kembaliin roh ke badannya " sahut naomi lagi
" lantas ngapain ke sini ? "
" gue cuma mau pamit, gue titip saran mending loe mati dari pada hidup tapi banyak ayah yang kehilangan anaknya bokap loe bukan orang baik seperti yang loe pikir selama ini, gue pamit " naomi keluar ruangan tampa menunggu jawaban sinta
Sinta melihat badanya yang hanya tingga kulit serta banyaknya alat yang terpasang di badannya
" apa gue se egois itu ? " tanya sinta pada dirinya sendiri
tittttttt.....tittttttttt.
Suara alat detak jantung bermunyi nyaring membuat sinta meneteskan air matanya
" maaf jika belum bisa menjadi anak yang berbakti ayah maaf maaf, naomi benar saya hanya akan menjadi beban bagi ayah saya tidak ingin ayah melakukan kesalah lagi demi saya "
" dokter cepat dokter anak saya " teriakan romi membuat sinta menangis tersedu sedu