
" dava " panggil reza tegas
dava yang tengah berbincang dengan mahasiswa jadi binggung karna jika di depan mahasiswa reza akan memanggil nya dengan pak bukan hanya nama
" pak reza ada apa ?" sapa dava dengan melirik mahasiswa menyuruh nya pergi
" keruangan bimbingan sekarang" sahutnya lantas meninggalkan dava
dava mengekor dari belakang dengan pikiran dan perasaan yang bercampur aduk
" kenapa tidak bilang jika naomi pindah ?" dava terperanjat ketika reza langsung menodongkan pertanyaan yang ia sendiri binggung
" jika bukan bertanya pada mahasiswa saya tidak tau jika naomi tidak kuliah disini lagi " sambungnya lagi
dava menghela napasnya " dekan dan rektor meminta gue merahasiakan dari dosen mana pun " sahut dava
" dan gue rasa bukan sepenuhnya salah gue loe kan juga ada makul di kelas naomi kenapa ngak nanya " sahut dava dengan duduk
" sejak kapan dia pindah ?" tanya reza
" loe inget ketika loe keluar dari ruangan pak rudi ?" tanya dava
Reza mengangguk
" hari itu adalah surat keluar resminya naomi " sambungnya lagi
" artinya 2 minggu yang lalu ?" dava mengangguk lagi
" kenapa loe ngak bilang ?" tanya reza dengan kesal
" kan udah di bilang dekan sama rektor minta saya rahasiakan dari dosen lain " sahut dava kesal
" tapi kamu kan tau saya sama naomi-"
" apa ? "pancing dava
" ngak, saya permisi" sahut reza lekas keluar ruangan
" udah pergi aja baru nyariin dasar sok jual mahal" cibir dava dengan ikut meninggalkan ruangan itu
.
.
.
.
.
" permisi " sahut reza dengan mengetuk pintu pintu berulang kali
" lo pak dosen ? ada apa pak " sahut mira yang baru datang dari pasar
" bik apa saya bisa bertemu naomi?" tanya reza pada bik mira
" pak dosen ngak tau non naomi sudah pindah ?" tanya bik mira
" tau bik mangkanya saya ke sini "
" bukan maksudnya non naomi pindah ke luar negeri"
mendengar itu reza tercengang
" ke luar negeri ?"
bik mira mengangguk" iya pak dosen 2 minggu yang lalu"
Reza mengangguk lesu lalu pamit pada bik mira
.
.
berulang kali reza menghubungi naomi namun hasilnya masih sama tidak perna ada jawaban
" mas reza loe kenapa ?" tanya evan yang melihat reza berulang kali memainkan ponselnya
Gilang mengeleng " mungkin baru sadar naomi ilang " sahutnya enteng
" mas reza kenapa ?" tanya evan yang mendapat sikutan dari gilang
" evan ? kamu punya nomor desi kan hubungi dia minta nomor nya naomi" sahut reza dengan cepat
evan melihat gilang lalu kembali melihat reza " naomi ngak pakai nomor Indonesia mas, itu kata desi "
" saya tau mangkanya saya mau minta nomor nya " sahut reza lagi
" loe sih mancing mancing " bisik gilang dengan pelan
" iya mas nanti saya tanyain ke desi " sahut evan
.
.
.
" naomi?"
naomi menoleh ketika di panggil
" ya, kenapa ?" tanya naomi pada gadis bermata biru
" gue mika, gue teman sekelas loe ?" sahutnya membuat naomi binggung
" maksud gue, gue ketinggalan catatan pak robert boleh ngak gue pinjem buku nya "
naomi yang mengerti langsung mengangguk
naomi mengangguk" gue kantin duluan " sahut naomi dengan senyum lalu pergi
" bener kan tu cewek baik " sahutnya setelah kedua temannya datang
" iya baik, tapi kenapa ngak ada orang yang mau berteman dengan dia ?" tanya seorang gadis dengan rambut warna warni nya
" oh sudahlah alex, mungkin dia butu adaptasi dia kan baru dari indo " sahut mika yang di anguki wanita di sampingnya
" sudah lebih baik jika kita ke kantin ok " sahut mika dengan cepat
.
.
setibanya di kantin naomi memesan makanan ia lekas mencari tempat duduk
naomi menghela napasnya ketika ia melihat ada meja kosong dan itu pun di duduki arwah seorang gadis se usianya yang ikut makan
entah dorongan dari mana naomi malah duduk di meja itu
" kamu makan disini ?" tanya arwah itu
walaupun bisa mendengar dan melihatnya naomi berusaha keras untuk mengabaikan ia tak ingin ada arwah atau siapa pun tau jika ia bisa melihat mereka
" naomi boleh gabung ?"
naomi mendongak melihat 3 gadis itu
" boleh " sahut naomi
ketiganya langsung duduk dan makan setelah makan mereka mengobrol sesekali naomi menimpali obrolan mereka membuat naomi akrab dan tau gaya ketiganya
.
.
.
.
.
brak.....
" jadi sialan itu sudah di penjara ?" sahutnya dengan marah
" baiklah jika itu pilihan kamu saya akan berusaha sendiri " sahutnya lekas melihat gadis yang terbaring
" suci jangan cemas papa akan membuat kamu bersama papa lagi bagaimana pun caranya "
Rudi mengambil buku yang sempat ia hempaskan lalu membukanya lagi seketika senyum terbit di wajah nya
" abu ya mungkin dengan cara memakai abu kremasi suci bisa sembuh" sahutnya dengan senyum
Rudi mengamb jaket masker topi serta kacamata ia tak ingin orang mengenalinya
setelah selesai ia lekas menuju salah satu rumah pemakaman di mana banyak abu kremasi jenazah yang di simpan
setibanya di sana rudi lekas masuk
" Dina " panggilannya tegas
Dina yang tau siapa lelaki ini hanya tersenyum
" untuk apa rudi kamu kemari ? apa sudah menyerah dan ingin mengkremasi suci ?" sahutnya dengan senyum
Rudi tersenyum " sampai kapanpun aku tidak akan mengkremasi suci"
" apa kamu gila rudi 5 tahun bukan waktu yang sebentar kasian suci "
" kamu salah suci akan bahagia jika bersama saya " sahutnya dengan melihat sekitar dina
" gila kamu rudi kamu tidak kasihan rudi dia keponakan saya satu satunya tolong lepaskan dia agar dia tenang " ucap dina yang mulai melemah
Rudi tersenyum" saya hanya menjaganya dengan baik kenapa kamu beranggapan saya seperti saya menculik nya " keluh rudi
" tapi rudi -"
" sstt...... dina jika kamu saya dengan suci berikan saya 7 abu gadis ayo cepat "
Dina mengeleng " jadi kamu masih mengikuti aliran sesat itu ? rudi ingat dia yang membuat mba lisa meninggal "
" bukan dia tapi lisa meninggal karna menyerahkan dirinya sendiri untuk menjadi korban "
" itu karna keserakahan kamu ingin menghidupkan suci "
" ssttt... jangan banyak bicara serahkan buku nya "
" buku apa?" tanya dina dengan tangganya yang menyelipkan buku ke tumpukan buku lainnya
" jangan pura pura tidak tau, buku daptar riwayat abu disini dina, saya tau kamu mencatat setiap riwayat abu itu cepat berikan " ucap rudi dengan mengulurkan tangannya
" tidak ada " sahut dina
rudi menghela napasnya " jangan buat saya marah dina jangan sampai hana dan jasmin menjadi korbannya " ancam rudi membuat dina geram
" kamu pikir saya takut dengan kamu rudi kamu itu hanya pria gila yang tidak terima kematian anak mu " marah dina yang malah membuat rudi tertawa
" ha ha ha ha dina dina jika kamu tau saya gila apa kamu tak merasa takut dengan ancaman saya ?" pertanyaan rudi membuat dina diam
" saya bahkan bisa lebih nekat dari itu dina jika kamu ingin tau " sahutnya dengan meletakan beberapa poto di depan dina
" rudi kamu gila mereka keponakan kamu "
" serahkan bukunya dan mereka akan aman "