
" naomi cepat ada yang datang " naomi melihat indriana tapi tangganya gemetar
" sembunyi dulu naomi" naomi melihat sekitar apa ada tempat sembuyian yang muat di badannya
naomi melihat papan yang berdiri di dinding naomi dengan pelan berjalan ke sana perlahan menyembunyikan diri nya
" aman ?" tanya naomi pada mereka
mereka mengangguk membuat naomi lega itu artinya dirinya tak terlihat dari luar
hampir 15 menit naomi bersembunyi terdengar suara pintu yang terbuka lalu terkunci lagi
naomi tak dapat melihat dengan jelas siapa yang masuk tapi ia tau jika itu laki laki terdengar dari langkah kaki dan suara roda yang berjalan
" cepat naomi dia sudah pergi " sahut indriana
naomi mulai keluar ia kembali membuka pintu dan membawa toples keluar tak lupa sama seperti sebelumnya ia kembali mengunci pintu
" cepat naomi dia akan sadar jika kita pergi " sahut andriana dengan kesal
" apa loe ngak bisa diam ? gue juga lagi berusaha" sahut naomi dengan kesal
" naomi belok kiri "
" naomi lurus "
" naomi belok kiri "
" naomi cepat buka pintu ya "
" perasaan pertama masuk ngak secapek ini ?" sahut naomi dengan bersandar di dinding
" udah cepet pergi " sahut susan membuat naomi kesal
" kalian enak tinggal terbang gue kan jalan" kesal naomi
" naomi tinggal pintu itu " tunjuk indriana pada pintu di samping kanan mereka
naomi menyeret kakinya yang sudah kaku perlahan menuju pintu
senyum naomi mengembang ketika melihat hutan yang lebat daun yang rimbun berada di depannya
naomi kembali mengunci pintu lantas berjalan ke kiri mengikuti tapak mobil yang melintas andriana dari depan susan berjaga di belakang bersama indriana
" naomi ada yang datang " teriak andriana
naomi langsung lari ke arah pohon besar membawa 3 toples itu, di balik pohon yang besar naomi meringkuk agar badanya gak terlihat oleh siapa pun
setelah mobil menjauh naomi mulai duduk
" siapa yang datang ?" tanya naomi dengan mengatur napasnya
" pak rudi " sahut susan dengan marah
" jangan perna bukak toples itu sebelum kamu selamat naomi" sahut indriana yang melihat kemarahan susan
naomi mengangguk lalu meletakan toples nya ke tanah
melihat angin yang kencang serta kilat membuat naomi ingat sesuatu
" rambut ini ngak papa basah ?" tanya naomi dengan memegang rambut yang ia taro di kantong celana nya
" kita kubur disini aja gimana ?" tanya naomi lagi
Susan mengangguk " mereka udah damai juga ngak masalah kan "
" jangan, kuburin di pemakaman aja kasian disini mereka sendirian" sahut indriana pelan
terdengar suara teriakan pak rudi membuat naomi kembali merapatkan badannya ke pohon
" cepat cari jika malam ini tidak ketemu anak kamu akan menjadi korbannya " teriak rudi dengan kesal
hari mulai gelap sedangkan naomi tak membawa senter atau benda yang membuat jalannya terang
" sampai kapan gue harus disini ?" tanya naomi pada ketiga arwah itu
" ngak ada pilihan lain selain siang hari " sahut andriana
.
.
.
.
.
" terakhir kalian liat disini ?" tanya reza pada gilang dan evan
" ia mas setelah itu kita kehilangan jejak " sahut evan
Reza memijat pelipisnya pelan
" kita harus gimana ? hari sudah malam hujan lagi " sahut dava
" ngak ada pilihan selain pulang " sahut reza
" dan mas akan membiarkan naomi menjadi tumbal ?" sahut evan
" bukan begitu "
" bukan begitu van mas reza cuma ngak mau kita kenapa napa " sahut gilang
" gue ngak dekat sama naomi tapi gue tau dia adalah orang baik jika kita menunda besok tidak ada yang menjamin naomi dalam keadaan baik baik saja "
" saya akan ikut " sahut reza dengan maju
" pedulih heh" pancing evan
" saya lebih peduli dia dari pada kamu " sahut reza lekas masuk ke mobilnya
gilang dan evan tos membuat dava binggung
" tahap pertama " sahut keduanya
" tahap apa ?" tanya dava
" dava mau ikut atau saya tinggal " teriak reza membuat dava lekas masuk mobil
.
.
.
.
naomi memegang perutnya yang lapar
" loe lapar ?" naomi mengangguk pelan
" apa kita bisa keluar setidaknya nyari makanan " sahut naomi
ketiga arwah itu saling pandang " pak rudi dan pak romi masih di dalam hutan kita ngak yakin loe bisa aman " sahut susan
" kalian aja deh cariin sungai atau apa gitu biar gue bisa minum "
" gue aja " sahut andriana lalu menghilang
" nasip gue ngenes amat di hutan laper yang ada hanya arwah lagi "
" bersyukur naomi loe masih hidup ngak kayak kita " sahut susan membuat naomi cemberut
tak lama andriana datang " ada di sebelah sana tapi ada pak rudi di dekat sungai
" loe di depan kita di belakang " sahut indriana membuat andriana mengangguk
naomi mulai beranjak mengikuti andriana yang menuju sungai
" pak rudi di sebelah sana " tunjuk andriana pada lelaki yang sedang merokok
" kita akan alihkan perhatian dia tapi loe harus cepat " sahut andriana lagi
naomi mengangguk lalu mulai mencari wadah yang bisa menampung air
sementara naomi mengambil air andriana dan indriana mulai menjahili pak rudi mulai dari rokok yang patah bau busuk hingga suara aneh membuat pak rudi lekas pergi dari sungai
naomi duduk dengan menghela napasnya sembari menahan dinginnya malam
" loe masih kuat jalan ?" tanya andriana pada naomi
naomi mengangguk mulai beranjak " apa masih jauh ke jalan besar ?"
" kita ngak tau tapi kita bisa ikutin jejak mobil mereka " tunjuk andriana pada jejak mobil yang melintas di hutan
" mending Istirahatin aja dulu biar kita cari jalan buat loe " sahut susan dengan melihat andriana dan indriana
" loe jaga naomi aja biar gue ama susan nyari jalan " setelah berucap mereka benar pergi
" makasih loe udah mau nyelamatin kita " naomi menoleh melihat indriana
" jika bukan karna loe mungkin gue sama yang lain akan jadi mangsanya"
naomi melihat indriana yang mengelus perutnya
" berapa bulan ?" tanya naomi
" 3 minggu "
" 3 minggu usia yang menarik untuk menjadi janin hantu " sahut naomi
indriana melihat perutnya " harunya gue lahirin anak ini dulu "
" baru meninggal gitu ?" sahut naomi membuat indriana diam
" jika pikiran loe begitu loe salah gimana rasanya kehilangan orang tua loe ? pasti sakit begitu juga anak ini loe lahirin dan loe buang atau loe meninggal siapa yang akan merawatnya " sahut naomi lagi
" loe udah minta maaf sama andriana?" tanya naomi
indriana mengangguk" selama kita di sana kita jadi baikan sama sebelum semua nya terjadi "
" baguslah setidaknya orang tua kalian ngak pusing mikirin kalian " sahut naomi membuat indriana tersenyum
" gimana loe sama pak dosen itu ?" tanya indriana membuat naomi menoleh padanya
" apaan kagak gue sama dia cuma dosen sama mahasiswa ngak ada yang lain " sahut naomi dengan cepat
" bener ?"
" iyalah ngak ada apa apa, udah ayo kita cari jalan keluar dari sini " sahut dengan meninggalkan indriana yang tersenyum sendiri