Naomi

Naomi
eps 14



" buk kiki meninggal ? tapi kenapa indriana melarang gue masuk ? apa indriana tau sesuatu?" tanya naomi pada dirinya sendiri


" kenapa loe ngak bantuin kiki ?" sahut andriana yang tiba tiba datang


naomi melihat andriana " gue mau nanya sama loe buk kiki siapa yang bunuh ?" tanya naomi ketika berhadapan dengan andriana


" jawab gue andriana"


" mana gue tau " sahut andriana


" di arwah ngeselin tinggal bilang aja apa susahnya sih " keluh naomi


" gue tu salah ya percaya sama loe, loe tu ngeselin belagu pantes aja indriana benci sama loe "


" eh gue kan udah jujur gue ngak tau "


" eh jelas jelas loe tau kan loe yang bilang buk kiki dalam bahaya" sahut naomi


andriana menoleh " salah sendiri ngak mau bantu "


" tapi loe tau sendiri di sana ada arwah indriana yang cegah gue bahkan loe sendiri juga tau gue lempar keluar kampus "


" kenapa loe ngak lawan " sahut andriana


" loe pikir gue dukuh ? silat aja ngak bisa mau lawan arwah yang ada badan remuk gini " sahut naomi kesal lalu kembali berbaring di kasurnya


" ngak loe ngak indriana kalian sama selalu menutupi kebenaran "


naomi menghela napasnya " hantu bodoh sekali pun gue tau gue ngak punya bukti bego mana ada polisi percaya kalau gue bisa tau loe mati karna gue bisa liat loe, ngak ada, malah polisi suru gue ke rumah sakit jiwa "


" tapi loe harus jelasin gue meninggal karna di bunuh pak romi " kesal andriana


" dan indriana meninggal karena kelakuan loe kan "


" bukan gue dia meninggal karena prustasi dia hamil anaknya andres " andriana membela diri


" iya itu karna loe coba kalo tu cowok ngak loe embat ngak akan dia di perkosa"


" salah sendiri kenapa tu cowok di tolak "


" loe yang gila loe tu ngak punya otak sumpah itu sodara loe sendiri dia nolak tu cowok agar loe mikir bukan malah ngelunjak sekarang liat loe mati juga kan "


kesal dengan naomi yang selalu membela indriana andriana lekas menghilang membuat naomi menghela napasnya


" jadi kamu tau kenapa andriana meninggal " sahut suara membuat naomi sadar


" pak reza "


" kenapa kamu ngak bilang jika kamu sudah tau "


" apa kalian akan percaya dengan saya ?" tanya naomi


" saya tidak punya bukti atau apapun yang membuat kalian percaya dengan ucapan saya " sahut naomi lagi


" tapi setidaknya beritahu saya biar saya tidak binggung " sahut reza


" itu akan mengancam nyawa saya, pelakunya akan tau lantas saya yang akan jadi target selanjutnya " sahut naomi seketika


" maaf saya ngak ke pikiran sampai ke sana " sahut reza


"oya mengenai kematian bu kiki bisa antar saya ke kampus?" tanya naomi


Reza mengeleng" napas aja kamu masih susah mau ke kampus "


" tapi kita harus tau penyebab kematiannya " sahut naomi


" itu urusan polisi, yang saya mau tanya kenapa kamu ke kampus ?"


" Bu kiki nelpon dia minta tolong mangkanya gue ke sana " jelas naomi membuat reza binggung


" kiki nelpon ? ngak mungkin karna kita lagi rapat persiapa mabah dan ospek " sahut reza tak percaya


naomi langsung mengambil hpnya membuka daftar panggilan masuk


" ni jam 1.05 menit buk kiki nelpon tapi pas di telpon balik nomonya udah ngak aktif, " sahut naomi dengan memberikan hpnya pada reza


Reza mengeleng " jam 1.40 saya keluar beli makan bahkan kiki masih sehat dia sama dava dan pak rudi, menurut keterangan mereka ketika kejadian dava ke luar dan pak rudi ke toilet bawah bahkan kiki di nyatakan meninggal jam 2.20 itu artinya kita di jalan ketika saya membawa kamu ke rumah sakit " jelas reza lagi


naomi terdiam mendengar ucapan reza


" saya tiba di kampus jam 2 05 menit tapi saya ngak bisa naik karna di sana ada arwah bahkan ketika saya berusaha masuk mereka malah melempar saya keluar kampus " jelas naomi lagi


" ini aneh " sahut naomi lagi


" bik mira ngak di sini kan ?" naomi mengeleng


Reza duduk mendekati naomi " jangan cerita pada siapa tentang kamu ke kampus kita akan selidiki sendiri saya hanya takut jika nanti malah kamu yang jadi kambing hitam nya " sahut reza dengan melihat naomi


Tampa sadar reza tersenyum lalu mengusap kepala naomi


.


.


.


.


.


" jadi kiki meninggal karna benda tumpul yang menghantam kepala nya ?" tanya reza


dava mengangguk " iya anehnya badan kiki biru kayak orang gagal jantung eh tapi polisi juga menemukan bekas darah di luar kampus "


" bekas darah ? kiki kan meninggal di lantai 3 masa darahnya di depan kampus?" tanya pak rudi


dava mengangkat kedua pundaknya sedangkan reza hanya diam mendengarkan saja


" jadi bagaimana kenapa kampus ini jadi tidak aman " sahut dimas dengan pelan


" pak dimas yang namanya musibah mana kita tau bisa datang kapan saja dan di mana saja bukan salah kampus " sahut pak wiryo sebagai dosen senior


" iya tapi kok kayak tumbal ya " sahut amira


" tumbal gimana ?" tanya dava binggung


" yang meninggal perempuan semua mana di kampus ini lagi " sahut amira


" mungkin cuma kebetulan kita berdoa saja " sahut pak wiryo


" oya kata pak dekan libur di perpanjang jadi dua minggu anak anak kasih tugas online saja takut menghambat penyidikan " sahutnya lagi lalu pergi keluar


" baikla kalau gitu saya pulang " sahut pak rudi begitu juga di ikuti dosen lain


di ruangan itu hanya tinggal reza dan dava


" darah yang di depan itu darah naomi kan ? " reza mengangguk


" loe udah bilang ke naomi jangan cerita ke siapa siapa " tanya dava


" udah untuk saat ini aman tapi kita harus selidiki kematian kiki " dava melihat reza


" loe mau gue jadi naomi? ngomong sama arwah ? ngak de makasih gue cukup mantau aja " sahut dava lalu mengambil tas nya


" eh gue balik dulu salamin sama naomi cepet sembuh " sahut dava lalu pergi


Reza mengambil tasnya lalu ikut keluar dari ruangan itu


" pak tono kata pak romzan dua minggu libur tapi pak harus tetap jaga " ucap reza


" iya pak tadi pak wiryo sudah bilang " reza mengangguk lalu pergi


tepat di dekat parkir reza melihat tempat naomi jatuh sudah di bersihkan bahkan darah nya pun sudah tidak ada


tak ingin ambil pusing reza lekas pulang ke rumah nya


.


.


.


.


" mama belum pulang kan ?"


desi mengeleng " belum tuan juga belum "


" oya besok kita di suru ke sekolah buat sidik jari " ucap desi dengan melihat naomi


naomi mengangguk " gue bisa kok loe tenang aja "


" tapi loe belum sembuh apa gue bilang aja sama buk riski" usul desi


" ngak nanti satu sekolah tau gue sakit "


" ya kan emang sakit " jelas desi lagi


" ngak deh besok gue ke sekolah aja ngak papa bisa gue"


mendengar penuturan naomi desi pasrah ia juga tak bisa melawan ijazah memang harus mengunakan sidik jari yang bersangkutan