Naomi

Naomi
eps 28



" kamu lagi ?" tanya naomi dengan duduk di samping seorang gadis berseragam


" Kakak, kakak kenapa ke sini ?" tanya nya


" nungguin temen tebus obat, kamu sendiri ?" tanya naomi dengan melihat sekitar


" aku perna liat temen disini jadi aku tungguin" sahutnya membuat naomi binggung


" maksudnya gimana?" tanya naomi


" naomi ayok " ajak desi dengan memasukan obat ke tas


" eh gimana kalau kita antar kamu pulang biar kamu ngak nungguin temen kamu lagi ?" tanya naomi pada gadis itu


desi melihat naomi " ngomong ama siapa loe ?"


naomi melihat gadis itu yang juga melihatnya


naomi menunduk sembari memukul kepalanya " good girl pantes tempo hari mereka liatin gue ternyata arwah " sahut naomi dalam hati


.


.


" jadi di anak sekolah?" tanya desi dengan berbisik


naomi mengangguk " seragam sekolah SMA"


" kamu sekolah di mana ?" tanya naomi pada gadis di depannya


" SMA negeri 2 jakarta" naomi mengangguk


" berarti rumah loe di sekitar sana ya ?" tanya naomi lagi


gadis itu mengeleng " aku ngak ingat "


seketika naomi reflek menginjak rem motornya


" kenapa ?" tanya desi


" ni anak lupa di mana rumahnya " sahut naomi membuat desi menepuk jidatnya


" yaudah ajak pulang aja kan biasanya loe suka bawah mereka pulang " sahut desi kesal


" ngak papah ni bonceng tiga ?" tanya naomi seakan lupa siapa yang mereka ajak


" aman yang penting balik dulu " sahut desi lagi


" bener nih ?"


" iya naomi, loe kan ngajak arwah polisi mana tau kita bonceng tiga"


.


.


.


.


" gimana keadaan evan ?" tanya reza pada gilang yang lagi mengerjakan tugasnya


" kayaknya lebih baik mas, tapi masih belum mau pulang ?"


" mas reza udah balik ?" tanya evan yang datang dengan jus di tangganya


" barusan " sahut reza


" mas izin nginep ya mungkin sampai 4 atau 5 hari lagi " ucap evan


" lama banget kosan loe gimana " sahut gilang


" masa cuma 4 5 hari lama mas reza aja ngak keberatan " sahut evan


" za reza " teriak dava dengan langsung masuk


" kenapa si pak maen teriak aja " sahut evan kesal


" tamu aja belagu loe, za kita ke kampus sekarang polisi nemuin tulang di belakang kampus" ucapan dava membuat mereka kaget.


.


.


beberapa polisi dosen serta penjaga sudah ada di sana ketika reza dan dava tiba


banyak polisi mengolah TKP hingga terbentang nya garis polisi


" kami permisi dulu pak kami akan melakukan penyidikan dan otopsi untuk sekarang ini tolong kerja samanya jangan sampai ada yang keluar negeri atau keluar kota baik siswa atau dosen " sahut polisi itu


" iya pak pasti jika di butuhkan kami siap 24 jam " sahut pak wiryo yang di anguki pak dimas


" kami permisi pak selamat sore"


" sore " sahut mereka bersamaan


" kita berkumpul di ruangan rapat panggil yang lain " sahut pak wiryo dengan tegas


.


.


.


" ayo van jangan takut " ajak gilang pada evan


" lang loe jangan gila ya baru tadi sore mereka nemuin mayat sekarang ngajak gue ke kampus ngak deh lang mending balik aja yuk " sahut evan dengan meringis


" tanggung kita baru sampek " sahut gilang lalu memarkirkan mobilnya di parkiran


" ayo "


" gue cuma pengen tau van ayo turun " namun bukannya turun evan malah mengunakan penutup mata


" eh ngapain pakai penutup mata segala " sahut gilang dengan melempar penutup kepala evan


gilang melihat sekitar kampus yang sepi sunyi


" Van itu ada kayak ada orang, kayak naomi van" ucap gilang dengan melihat gadis yang berdiri di dekat parkir


" iya van bener itu naomi" sahut gilang lagi


" naomi? ngapain dia disini ,?" tanya evan dengan ikut melihat ke depan


" yaudah ayok turun " gilang langsung turun mendekati naomi


" loe ngapain ke sini ?" tanya gilang ketika mendekati naomi


naomi menoleh " gue denger dari anak anak polisi namuin tulang "


" bener tadi sore, gue tau dari mas dava "


" berarti bener " sahut naomi


" la iya kan garis polisi ada "


" Ama siapa ke sini ?" tanya evan dengan melihat sekitar


" sendiri desi ngak bisa ikut "


" loe tau siapa yang di kubur ?"


naomi mengangguk lalu mengeleng" gue taunya dia cewek tapi ngak tau siapa orangnya, dia di kubur udah lama sebelum andriana meninggal "


" udah lama banget itu " sahut evan


" iya tapi aneh die ngak gentayangan " sahut naomi


" maksudnya mau mereka jadi arwah semua gitu ?"


" bukan gitu, gini dia mati ngak wajar di kubur di sini kalau itu gue, gue ngak akan tenang minimal mandiin dulu atau apa kek"


" sukur sukur dia ngak jadi arwah udah balik yok disini serem " ajak evan


" bener disini juga ngak ada apa apa sih " sahut naomi


mereka pergi ke kendaraan masing masing lalu pergi


.


.


" dari mana ?" naomi menoleh melihat lelaki yang duduk di depan rumah nya


" pak reza "


" dari mana naomi" tanya reza lagi


" dari kampus pak " sahut naomi dengan melepas helm nya


" ngapain ke sana ? nanti di kira kamu pelakunya lagi "


naomi duduk menyandarkan kepalanya " penasaran aja pak dia kan udah lama di kubur keluarga atau arwah nya aja ngak ada gitu kayak mati tenang " sahut naomi


" udah ngak usa di pikirin pokus ke kuliah kamu aja, bukannya bagus dia ngak ngerepotin " sahut reza dengan melihat naomi


" pak reza ngapain ke sini ?" tanya naomi dengan membenarkan posisi duduknya


" cari angin "


kening naomi berkerut " cari angin ? jauh amat ke sini segala ngak ada modus lain pak " goda naomi dengan senyum


"iya cari angin, udah saya pulang dulu " sahut reza dengan beranjak


" lah kok pulang kita ngak ngedet pak " goda naomi


Reza berbalik " mau ngedet "


naomi melihat reza lalu tersenyum "serius amat pak, balik deh udah malam"


Reza mendekati naomi " tadi katanya mau ngedet ayo " reza memegang tanggan naomi lalu mengajaknya ke mobil


" serius ini pak kita ngedet ?" tanya naomi penasaran


" anak kecil tau ngedet segala udah kita cari makan aja kebetulan saya belum makan " seketika senyum naomi luntur


" udah gede saya pak udah dapet KTP bisa nikah " sahut naomi dengan menoleh ke samping


" udah ngak usa mikir aneh aneh kamu itu masih kecil pokus kuliah jangan pacaran setelah lulus baru pacaran" sahut reza dengan melihat sekitar warung makan


.


.


.


" jadi loe di angep anak kecil sama pak reza " naomi mengangguk sedih


" la tu orang, tapi masa iya sih secara gue liat dia tu kayak suka sama loe bener deh " sahut desi menenangkan naomi


" ngak tau des mungkin pak reza bener gue harus kuliah yang rajin biar cepet lulus " sahut naomi dengan berbaring


" la terus prasaan loe gimana ? bukannya loe udah mulai suka sama pak reza " tanya desi lagi


" biarin des kubur aja gue ngak mau terlanjur berharap mending gue kayak dulu aja sibuk sama arwah ngak mikirin cowok apa segala macem itu "


" masa loe nyera sih baru di gituin" sahut desi lagi


" ngak deh biarin aja gue ngak mau cinta cinta an lagi " sahut naomi lalu menutup matanya


" em baru aja mau buka hati udah gini " sahut desi lalu ikut berbaring