
" kamu lagi ?" tanya naomi dengan duduk di samping seorang gadis berseragam
" Kakak, kakak kenapa ke sini ?" tanya nya
" nungguin temen tebus obat, kamu sendiri ?" tanya naomi dengan melihat sekitar
" aku perna liat temen disini jadi aku tungguin" sahutnya membuat naomi binggung
" maksudnya gimana?" tanya naomi
" naomi ayok " ajak desi dengan memasukan obat ke tas
" eh gimana kalau kita antar kamu pulang biar kamu ngak nungguin temen kamu lagi ?" tanya naomi pada gadis itu
desi melihat naomi " ngomong ama siapa loe ?"
naomi melihat gadis itu yang juga melihatnya
naomi menunduk sembari memukul kepalanya " good girl pantes tempo hari mereka liatin gue ternyata arwah " sahut naomi dalam hati
.
.
" jadi di anak sekolah?" tanya desi dengan berbisik
naomi mengangguk " seragam sekolah SMA"
" kamu sekolah di mana ?" tanya naomi pada gadis di depannya
" SMA negeri 2 jakarta" naomi mengangguk
" berarti rumah loe di sekitar sana ya ?" tanya naomi lagi
gadis itu mengeleng " aku ngak ingat "
seketika naomi reflek menginjak rem motornya
" kenapa ?" tanya desi
" ni anak lupa di mana rumahnya " sahut naomi membuat desi menepuk jidatnya
" yaudah ajak pulang aja kan biasanya loe suka bawah mereka pulang " sahut desi kesal
" ngak papah ni bonceng tiga ?" tanya naomi seakan lupa siapa yang mereka ajak
" aman yang penting balik dulu " sahut desi lagi
" bener nih ?"
" iya naomi, loe kan ngajak arwah polisi mana tau kita bonceng tiga"
.
.
.
.
" gimana keadaan evan ?" tanya reza pada gilang yang lagi mengerjakan tugasnya
" kayaknya lebih baik mas, tapi masih belum mau pulang ?"
" mas reza udah balik ?" tanya evan yang datang dengan jus di tangganya
" barusan " sahut reza
" mas izin nginep ya mungkin sampai 4 atau 5 hari lagi " ucap evan
" lama banget kosan loe gimana " sahut gilang
" masa cuma 4 5 hari lama mas reza aja ngak keberatan " sahut evan
" za reza " teriak dava dengan langsung masuk
" kenapa si pak maen teriak aja " sahut evan kesal
" tamu aja belagu loe, za kita ke kampus sekarang polisi nemuin tulang di belakang kampus" ucapan dava membuat mereka kaget.
.
.
beberapa polisi dosen serta penjaga sudah ada di sana ketika reza dan dava tiba
banyak polisi mengolah TKP hingga terbentang nya garis polisi
" kami permisi dulu pak kami akan melakukan penyidikan dan otopsi untuk sekarang ini tolong kerja samanya jangan sampai ada yang keluar negeri atau keluar kota baik siswa atau dosen " sahut polisi itu
" iya pak pasti jika di butuhkan kami siap 24 jam " sahut pak wiryo yang di anguki pak dimas
" kami permisi pak selamat sore"
" sore " sahut mereka bersamaan
" kita berkumpul di ruangan rapat panggil yang lain " sahut pak wiryo dengan tegas
.
.
.
" ayo van jangan takut " ajak gilang pada evan
" lang loe jangan gila ya baru tadi sore mereka nemuin mayat sekarang ngajak gue ke kampus ngak deh lang mending balik aja yuk " sahut evan dengan meringis
" tanggung kita baru sampek " sahut gilang lalu memarkirkan mobilnya di parkiran
" ayo "
" gue cuma pengen tau van ayo turun " namun bukannya turun evan malah mengunakan penutup mata
" eh ngapain pakai penutup mata segala " sahut gilang dengan melempar penutup kepala evan
gilang melihat sekitar kampus yang sepi sunyi
" Van itu ada kayak ada orang, kayak naomi van" ucap gilang dengan melihat gadis yang berdiri di dekat parkir
" iya van bener itu naomi" sahut gilang lagi
" naomi? ngapain dia disini ,?" tanya evan dengan ikut melihat ke depan
" yaudah ayok turun " gilang langsung turun mendekati naomi
" loe ngapain ke sini ?" tanya gilang ketika mendekati naomi
naomi menoleh " gue denger dari anak anak polisi namuin tulang "
" bener tadi sore, gue tau dari mas dava "
" berarti bener " sahut naomi
" la iya kan garis polisi ada "
" Ama siapa ke sini ?" tanya evan dengan melihat sekitar
" sendiri desi ngak bisa ikut "
" loe tau siapa yang di kubur ?"
naomi mengangguk lalu mengeleng" gue taunya dia cewek tapi ngak tau siapa orangnya, dia di kubur udah lama sebelum andriana meninggal "
" udah lama banget itu " sahut evan
" iya tapi aneh die ngak gentayangan " sahut naomi
" maksudnya mau mereka jadi arwah semua gitu ?"
" bukan gitu, gini dia mati ngak wajar di kubur di sini kalau itu gue, gue ngak akan tenang minimal mandiin dulu atau apa kek"
" sukur sukur dia ngak jadi arwah udah balik yok disini serem " ajak evan
" bener disini juga ngak ada apa apa sih " sahut naomi
mereka pergi ke kendaraan masing masing lalu pergi
.
.
" dari mana ?" naomi menoleh melihat lelaki yang duduk di depan rumah nya
" pak reza "
" dari mana naomi" tanya reza lagi
" dari kampus pak " sahut naomi dengan melepas helm nya
" ngapain ke sana ? nanti di kira kamu pelakunya lagi "
naomi duduk menyandarkan kepalanya " penasaran aja pak dia kan udah lama di kubur keluarga atau arwah nya aja ngak ada gitu kayak mati tenang " sahut naomi
" udah ngak usa di pikirin pokus ke kuliah kamu aja, bukannya bagus dia ngak ngerepotin " sahut reza dengan melihat naomi
" pak reza ngapain ke sini ?" tanya naomi dengan membenarkan posisi duduknya
" cari angin "
kening naomi berkerut " cari angin ? jauh amat ke sini segala ngak ada modus lain pak " goda naomi dengan senyum
"iya cari angin, udah saya pulang dulu " sahut reza dengan beranjak
" lah kok pulang kita ngak ngedet pak " goda naomi
Reza berbalik " mau ngedet "
naomi melihat reza lalu tersenyum "serius amat pak, balik deh udah malam"
Reza mendekati naomi " tadi katanya mau ngedet ayo " reza memegang tanggan naomi lalu mengajaknya ke mobil
" serius ini pak kita ngedet ?" tanya naomi penasaran
" anak kecil tau ngedet segala udah kita cari makan aja kebetulan saya belum makan " seketika senyum naomi luntur
" udah gede saya pak udah dapet KTP bisa nikah " sahut naomi dengan menoleh ke samping
" udah ngak usa mikir aneh aneh kamu itu masih kecil pokus kuliah jangan pacaran setelah lulus baru pacaran" sahut reza dengan melihat sekitar warung makan
.
.
.
" jadi loe di angep anak kecil sama pak reza " naomi mengangguk sedih
" la tu orang, tapi masa iya sih secara gue liat dia tu kayak suka sama loe bener deh " sahut desi menenangkan naomi
" ngak tau des mungkin pak reza bener gue harus kuliah yang rajin biar cepet lulus " sahut naomi dengan berbaring
" la terus prasaan loe gimana ? bukannya loe udah mulai suka sama pak reza " tanya desi lagi
" biarin des kubur aja gue ngak mau terlanjur berharap mending gue kayak dulu aja sibuk sama arwah ngak mikirin cowok apa segala macem itu "
" masa loe nyera sih baru di gituin" sahut desi lagi
" ngak deh biarin aja gue ngak mau cinta cinta an lagi " sahut naomi lalu menutup matanya
" em baru aja mau buka hati udah gini " sahut desi lalu ikut berbaring