Naomi

Naomi
eps 16



" loe yakin bik mira nitipin abu nya disini ?" tanya naomi dengan melihat bangunan di depannya


" rumah pemakaman senja " baca naomi pada tulisan atas gedung itu


" iya ibuk bilang disini masuk aja " ajak desi dengan masuk


naomi melihat sekitar tak ada tanda tanda arwah biasanya ada arwah atau makhluk lainnya yang ada ini benar benar tidak ada


" siang " sapa desi


" siang ada yang bisa di bantu ?" tanya seorang wanita muda dengan ramah


" saya desi anak bik mira saya mau tanya apa benar ibu saya meletakan abu sodara saya disini ?"


" sebentar saya periksa dulu " ucapnya dengan membuka buku


naomi melihat sekitar aura dingin dan hangat bercampur namun yang jelas naomi tak nyaman berada disini


" benar namanya dio di lorong nomor 7 barisan ke 36" sahutnya dengan senyum


desi melihat naomi lalu mengejak naomi ke sana


" kenapa ?" tanya desi yang binggung naomi hanya diam


" disini kok ngak ada arwah sama sekali?" tanya naomi


desi menghentikan langkahnya" ngak ada arwah?"


naomi mengangguk


" tapi kita harus pastikan dulu abu kak dio disini apa ngak " ajak naomi lagi


naomi dan desi saling pandang ketika melihat abu dio memang benar ada di sana bahkan guci nya pun tidak di ganti sama sekali


" gue jadi tenang ternyata kak dio benar benar udah tenang disana " sahut naomi


" loe bener kita ngak akan khawatir lagi sama dia " sahut desi dengan senyum


.


.


.


.


setibanya di rumah mereka di hadapkan dengan jenny yang telah ada di rumah


" mama " panggil naomi


" kapan mama pulang " tanya naomi dengan menghampiri jenny


" barusan, mama cuma mau ngasi ini brosur dan formulir pendaftaran mahasiswa ada 4 kampus kamu tinggal pilih yang mana " ucap jenny dengan memberikan brosur


naomi melihat brosur tersebut lalu melihat jenny


" ma desi?" sahut naomi dengan melihat desi


" desi juga kuliah tapi dia di jakarta aja bantuin bik mira ngak papa kan bik ?" tanya jenny


bik mira mengangguk senyum " iya nyonya "


" naomi di jakarta juga ma " sahut naomi


jenny mengeleng " di luar aja lebih baik, bagus kampus nya dan lebih hebat"


naomi mengeleng" ma "


jenny mengeleng " mama udah capek minta formulir malah mau di jakarta" sahut jenny


" naomi udah daftar formulir nya tinggal di kumpul " sahut naomi berbohong


jenny menghela napasnya " naomi"


" ma, biarkan saja toh disini ada bik mira sama desi " sahut ardan yang datang dari luar


" iya ma kan ada mereka selama ini naomi baik baik aja kan sama mereka " sahut naomi lagi


" iya, ngak papah di jakarta aja satu kampus sama desi " sahut ardan lagi


" pa "


" udah biarin " selah ardan lagi


" yaudah kalo gitu mama nurut aja " sahutnya lalu duduk di dekat ardan


naomi tersenyum" naomi ke kamar dulu " pamit naomi


setibanya di kamar naomi langsung berbaring melihat langit langit kamar entah sejak kapan rasa respek terhadap orang tuanya hilang rasa kagum serta hormat nya hilang


kenapa setiap ia melihat orang tuanya ia terus merasa ada yang mengganjal


naomi tersenyum kecut seakan lupa jika dirinya hanya anak yang terasing anak yang hanya butuh biaya dan uang bukan perhatian


.


.


.


.


.


" apa mereka tidak ke kampus?" tanya rudi


" sepertinya tidak pak sudah dua hari ini mereka ngak ke sini " sahut romi dengan melihat ke jalan


" besok kampus sudah mulai buka bersikaplah seperti biasa " sahut rudi lalu masuk ke dalam kampus


" mereka kayaknya ada sesuatu pak " sahut seorang lelaki dengan melihat ke arah kampus


" sudah leh jangan ngurusin orang mending nyapu aja " sahut pak tono dengan terus menyapu samping kampus


" tapi pak kalau benar gimana apalagi sama neng naomi "


pak tono mengeleng " kamu itu neng naomi aman ngak bakal di ganggu sama mereka ngak ada hubungan nya "


" tapi pak rata rata perempuan disini meninggal apalagi mereka masih gadis semua "


" Leh susan meninggal karna takdir bik andriana buk kiki semua takdir gusti allah, jika kedepannya neng naomi dalam bahaya kita harus bantu ingat dia sudah pernah bantu susan " nasehat pak tono pada anaknya itu


" iya pak iya " sahutnya lalu melanjutkan menyapu halaman


.


.


.


" ngapain benggong disini ?" tanya desi yang melihat naomi duduk di teras


" udah lama ngak liat arwah mereka pada kemana ya ?" desi melihat naomi dengan kesal


" kirain apaan tanya nanyain yang begituan" kesal desi


" eh des gue perna denger dari youtube air mata anjing hitam bisa bikin orang liat hantu aww" desi langsung menepuk tanggan naomi


" ngak habis habis hantu mulu kerjaan nya kayak ngak ada kerjaan lain aja loe udah ah gue mau masuk kesel lama lama sama loe disini " sahut desi dengan masuk ke rumah


naomi menghela napasnya satu bulan kematian buk kiki selama itu pula naomi tak melihat andriana atau indriana entah kemana arwah itu pergi


" jadi loe udah yakin mau ngelamar di kampus trisakti?" tanya desi


naomi mengangguk" gue ngak tenang andriana udah lama ngak muncul muncul "


" siapa tau aja dia udah tenang " sahut desi


naomi mengeleng" ngak mungkin gue curiga ini pasti ada yang salah " sahut naomi lagi


" yaudah keburu tutup serahin formulir nya dulu " ajak desi pada naomi


setelah selesai keduanya langsung menuju parkir untuk pulang


" loe kuliah disini ?" suara seorang lelaki membuat naomi dan desi menoleh


" gue kira loe ke luar negeri" naomi hanya cuek ketika lelaki itu mendekat


" evan gue ke sini mau belajar bukan ngurusin arwah " sahut naomi


" ya sekalian aja kan bisa " sahut evan


" dua guru gadis dan satu anak satpam gue rasa kampus ini cukup banyak makan korban apalagi semua cewek " sahutnya lagi


" ngapai loe disini ?"


" eh gilang ni naomi sama temennya kuliah di sini juga gue cuma nyapa kok " sahut evan


gilang melihat naomi yang hanya diam lalu melihat evan " udah, balik " ajaknya pada evan


" By naomi " sahut evan dengan pergi dari sana


.


.


.


.


.


.


" naomi melamar disini " sahut dava dengan melihat formulir pendaftaran mahasiswa baru


mendengar itu reza melihat dava


" ni bener kan " sahut dava dengan memberikan kertas itu


Reza hanya diam melihat formulir naomi


" apa menurut loe dia ke sini karna kasus kiki?" tanya dava


Reza meletakan kertas itu lalu kembali sibuk dengan leptopnya


entah kenapa reza tak ingin naomi berkuliah disini ia ingin naomi jauh jauh dari kampusnya


" kenapa ?" tanya dava yang melihat reaksi reza


" harusnya dia tidak kuliah disini "


" memangnya kenapa ?" tanya dava


Reza melihat dava " disini terlalu bahaya berapa hari dia kenal kampus ini sudah berapa kejadian yang ia alami "


dava tersenyum" oh ternyata dosen ini lagi khawatir dengan seorang gadis"


" dava "


" iya gue paham loe takut dia kenapa napa iya iya iya " sahut dava dengan tersenyum


tampa keduanya sadari seseorang tersenyum mendengar pembicaraan mereka


.


.


.


.


" udah selesai?" tanya desi


naomi mengangguk lalu keduanya keluar kamar mandi namun ketika akan menutup pintu tiba tiba kaca toilet mengeluarkan hufur


" pergi dari sini " baca keduanya bersamaan


" naomi apa ini ulang arwah itu lagi ?" naomi mengangguk lalu mengeleng


" tapi gue ngak bisa liat arwah nya ?" ucap naomi membuat desi kaget


" loe ngak nutup mata bantin kan ?" tanya desi


" ya enggak la" sahut naomi


" Des bantuin gue nyari arwah di kampus ini" pinta naomi pada desi


" loe gila buat apa ?" tanya desi


" ya nyari info lain gue takut aja nanti ada hal lain " sahut naomi


" tapi "


" tulisan itu hanya tertuju pada kita " ucap naomi membuat desi takut


"gue cuma ngerasa ini akan berhubungan sama kita " sahut naomi


" ngak akan ada hubungan nya kalau kita ngak ikut campur, naomi gue tau loe kasihan sama mereka tapi loe juga harus pikirin diri loe sendiri " nasehat desi


" lagian loe ngak capek apa ngelakuin semuanya? " naomi mengangguk mendengar ucapan desi


" yaudah gue bantu ibuk dulu awas jangan bikin sesuatu yang akhirnya bikin loe susah sendiri " ucap desi lalu beranjak pergi


bukan naomi namannya jika ia mendengar ucapan orang dan disinilah naomi sekarang menunggu reza di taman yang tak jauh dari kampus trisakti


" sudah lama ?" naomi menoleh lalu mengeleng


" kenapa ?" tanya reza


" em ini masalah andriana?" sahut naomi


" semenjak dari rumah sakit dia ngak perna muncul bahkan di kampus semuanya hilang gue cuma merasa kayak ada yang aneh karna mereka ngak ada " sahut naomi


" apa kamu masih bisa liat hantu ?" tanya reza


" masih yang lain ada, cuma yang di kampus aja ngak ada " sela naomi dengan cepat


" kenapa bisa begitu ?" tanya reza


naomi mengangkat kedua pundaknya


" jadi apa yang ingin kamu ketahui ?" tanya reza


" gini andriana kan pacar loe apa loe bisa cerita tentang dia siapa tau ada solusinya " sahut naomi


Reza menghembuskan napasnya " sekitar 4 tahun lalu kita ketemu di pemakaman, dia menangis di makam orang tua nya saya kasihan mencoba menghibur nya sampai kita dekat, sekitar 2 bulan setelah itu kita los kontak saya benar benar ngak tau dia kemana , dan akhir desember nya kita ketemu lagi ketika dia melamar di kampus trisakti bersama kiki dengan sering bertemu akhirnya kita dekat lagi , kita jarang jalan berdua karna banyak waktu di habiskan di kampus" jelas reza


" apa hanya itu tidak ada yang lain " tanya naomi lagi


Reza mengeleng " bahkan sampai dia meninggal die tidak mau bilang siapa nama orang tuanya yang saya tau dia anak tunggal orang tuanya meninggal karna kecelakaan "


" kecelakaan?" tanya naomi lagi


Reza mengangguk" iya kecelakaan mobil di america "


naomi melihat reza dengan binggung kenapa cerita keduanya berbeda


" loe bisa ajak gue ke rumah nya ?" tanya naomi


" rumah andriana?" naomi mengangguk


dan disinilah keduanya berdiri di depan gerbang yang tingginya mencapai tiga meter


" jadi loe masuk ke dalam pas tunangan doang ?" reza hanya mengangguk lalu memencet bel


" eh den reza ada apa den ?" tanya satpam yang membuka kan pagar


" bik lastri masih kerja disini mang ?"


" masih den ada perlu apa ya ?" tanya satpam itu


" ini ada perlu bentar bisa kan mang " satpam itu membukakan pintu lalu keduanya masuk


naomi melihat ruang tamu yang hanya berisi satu lukisan


" den reza kenapa ?" tanya seorang perempuan paru baya


" bik maaf mengangguk" sahut reza melihat naomi


" ada yang mau saya tanyakan masalah andriana"


" dan indriana" sahut naomi dengan cepat