
Kawaki berjalan dengan angkuhnya memasuki gudang kosong yang cukup luas, di kepung sekitar 100 orang berpakaian serba hitam dan mengenakan topeng untuk menutupi wajah mereka. Aku yang berada di tengah – tengah dalam kondisi terikat di gantung terbalik di atas air mendidih.
“Dimana pemimpin kalian!” seru Kawaki yang berdiri dengan wajah dinginnya menatap ke semua orang yang berada disana.
Seketika beberapa orang mulai menyerangnya membabi buta, Kawaki yang memiliki insting pembunuh langsung duel sendirian menghadapi mereka.
“BAK…BUK…BAK….BUK!” hantaman demi hantaman serta tendangan di layangkan Kawaki.
Pisau kecil mulai di keluarkannya dari dalam jaketnya, dengan cekatan dia menyayat lawan – lawannya. Di keroyok begitu banyak orang dia terus dapat bertahan dan menyerang. Langkahnya yang cepat, responnya yang sangat tepat, dia memang petarung dengan level pro.
“DOOOOORRRRR!!!” suara tembakan terdengar memecah pertarungan yang telah terjadi.
Suasana menjadi hening, para lawan yang telah terkulai di tanah hanya bisa terkapar sedangkan yang masih hidup mulai mundur perlahan. Mereka memberikan ruang dan jalan untuk pemimpinnya masuk ke tengah – tengah menghadapi Kawaki.
Seorang wanita bertubuh ramping, rambut hitam lurus terkuncir rapi, dengan baju super ketat dan wajahnya mengenakan topeng. Dia membawa senjata, berjalan sangat anggun dengan sepatu bootsnya.
“TAP…TAP…TAP….” Derap langkahnya terdengar nyaring, dia membawa senapan laras panjang di tangan kanannya.
“Luar biasa! Kamu masih sangat kuat dan tangguh bertarung sendiri menghadapi ratusan orang. Tak salah ayahmu menjadikan dirimu sebagai penerus klan Endo. Aku sangat kagum, dia bisa menumbuhkan anak laki – laki sepertimu yang sangat buas” ujar wanita itu.
“Cih…wanita tua, suaramu masih saja tak enak di dengar. Aku akan mengikuti permainanmu dan ku pastikan kamu tidak akan lolos dari pisauku” sahut Kawaki dengan sinis.
“Perangaimu masih saja sama, baiklah kalau begitu. Mari kita mulai membuat anak nakal ini mendapatkan sanksi, aku akan melepaskan tubuh wanitamu ke dalam kolam air mendidih kalau kamu melawan” ancam wanita itu lalu tali yang menggantungku mulai turun hingga wajahku merasakan uap panas. Sedikit lagi kepalaku menyentuh air mendidih.
Kawaki yang melihatnya hanya terdiam dengan wajar datar. Dia tidak menunjukkan respon apapun, lalu menatap lagi kepada wanita yang ada di depannya.
“Bunuh saja dia kalau kamu mau” kata Kawaki.
“Benarkah kamu tidak membutuhkannya lagi, lantas kenapa kamu jauh – jauh datang kesini untuk menghadapiku” kata wanita itu.
“Aku hanya ingin membunuh mangsaku yang kabur” kata Kawaki dengan tenang.
“HAHAHAHAHAAHA!!!!” wanita itu tertawa menggema ke udara.
Tiba – tiba sebuah mobil sedan berwarna merah menerobos masuk sambil menyalakan klakson.
“TIN…TIN…TIN” suara klakson membuat kegaduhan.
Nampak seseorang mengenakan kemeja bunga – bunga dari bahan satin, sangat nyentrik dengan kacamata hitam.
DHEG!
Kak Soma turun dari mobil dengan begitu memukau, Kawaki menatap sinis melihat kak Soma menghampirinya.
“Maaf…semua, jadwalku padat sehingga aku datang terlambat atas” kata kak Soma dengan tersenyum.
“Kamu mengundangnya?” tanya Kawaki tak suka.
“Sudah lengkap kalau begitu, benar aku mengundang semua keponakanku putra dari kakakku Kumiko. Bukankah kita perlu bernostalgia bersama para darah daging klan Aihara” jawab wanita itu, membuat mataku terbelalak tak percaya kalau Kak Soma bersaudara dengan Kawaki.
“Cih… jangan bercanda, bukankah ibuku sudah di buang dari klan Aihara. Aku tak akan mengakui sebagai klan Aihara” kata Kawaki dengan tatapan mata yang tajam.
“Diskusi macam apa ini, aku yang baru datang sudah disambut dengan debat keluarga. Ayolah…” celetuk Kak Soma.
“Mari kita mulai dengan merebus wanita itu sebagai pertunjukan pembuka. Turunkan talinya!” seru wanita itu, aku pun berusaha meronta untuk tak tercebur ke dalam kolam air mendidih di bawahku.
Sontak Kawaki dan kak Soma menatapku, rambutku yang menjuntai ke bawah sudah masuk sebagian ke dalam air. Wajahku memerah merasakan uap panas, mulutku terlakban sehingga aku tak bisa berteriak.
“Sial! Hentikan!” teriak kak Soma.
“Aku tak menyukainya tapi aku mengenalnya, lepaskan dia. Mari kita bicara baik – baik bibi” ucap kak Soma.
Wanita itu meminta menaikkan lagi tali yang melilitku, sungguh kepalaku sangat pusing terus - terusan tergantung terbalik.
“Baiklah…kalau begitu lawan anak brandal yang juga saudara tirimu itu, kalau kamu menang aku akan melepaskannya” kata wanita itu lalu dia duduk di kursi yang disiapkan anak buahnya dan meletakkan senapannya.
Kawaki dan kak Soma saling menatap tajam, tak butuh waktu lama kak Soma mulai menyerang Kawaki dengan tangan kosong. Kawaki yang menerima serangan spontan siaga, kedua mulai baku hantam di depanku dan wanita itu.
Semua orang yang ada di gudang menyaksikan betapa luar biasanya mereka berduel, kekuatan seimbang yang membuat keduanya tak terkalahkan.
Di tengah perkelahian yang sedang berlangsung, wanita itu membidik bahu Kawaki dengan senapan “DOOORRR!!!”.
Lalu paha kak Soma menjadi sasaran, keduanya sama – sama terluka dan wanita itu hanya tertawa melihatnya.
“HUAHAHAHAHAAHAH!!! Teruslah bertarung, aku membuat luka itu untuk terlihat lebih dramatis. Agar pertandingan ini tidak membosankan, lanjutkan!” serunya.
Kawaki jelas unggul posisi bahunya yang terluka tak begitu mempengaruhi gerakannya, sedangkan kak Soma mulai tertatih.
“DUUUUUUAAAAAARRRRR!!!!” suara bom dari luar terdengar dasyat.
Asahi datang membawa bala bantuan dengan mobil off road di ikuti puluhan anggota klan Endo. Terjadilah tembak – menembak antara para anggota. Asahi yang biasanya terlihat berpakaian sangat rapi dan kalem, tampil sangat memukau dengan senapan laras panjang yang di bawanya. Setengah badannya muncul di atas mobil, dan menembaki ke semua penjuru.
Tak terima rencananya di rusak oleh Asahi, wanita itu menembak tali yang mengikat tubuhku. Aku hanya bisa memejamkan mata, bersiap untuk menjadi daging rebus. Namun dengan sigap Kawaki menggunakan kap mobil untuk melompat dan terjun menyelamatkanku.
Bak di film action, dia menangkapku mendarat keluar kolam. Suasana makin kacau, wanita itu mencoba melarikan diri dari huru – hara yang tengah berlangsung. Kak Soma menghadangnya dengan melempar pisau kecil yang tadi di curinya dari saku jaket Kawaki ke arah kaki wanita itu.
“SYUUUUTTTTT!!!”.
Wanita itu terjatuh dari pelariannya, para anak buahnya mengepung tubuhnya untuk di lindungi. Asahi langsung menembaki mereka begitu pun Enju dan Jiro.
Kawaki melepaskan ikatan yang melilit tubuhku serta lakban di mulutku. Nafasku tersengal – sengal dan tubuhku sangat lemas di pelukannya.
“Bertahanlah…kamu harus menggunakan sisa tenagamu untuk keluar dari ini” katanya lalu memapahku berdiri.
Setelah para anggota klan Aihara berhasil di lumpuhkan, wanita itu masih bisa terkekeh di kepung oleh kak Soma dan para anggota klan Endo.
“Menarik…kakak adik berhasil menyelamatkan putri dari pengkhianat, sad ending atau happy ending?” katanya lalu membuka topengnya perlahan.
Sontak kak Soma tercengang menatap wajahnya yang sama persis dengan photo ibunya.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu, kamu merindukan ibumu?” sindir wanita berusia 40an itu.
Kawaki yang memapahku berjalan, menghampirinya.
“Kamu masih saja banyak bicara, aku tinggal menggorok lehermu sekarang” kata Kawaki sinis.
“Kamu yakin, karena wajah inilah kamu melepaskanku malam itu. Kakakku mati karenamu, dia mengandung anak kepar@t itu sehingga membuat hidupnya penuh siksaan. Saking tak tahan dia pun memilih menghabisi nyawanya sendiri. Menyedihkan…seharusnya kamu tak ….” Kata – kata wanita itu terpotong karena Kawaki dengan cepat melempar pisau tepat ke lehernya hingga darahnya muncrat dari tenggorokannya.
“AAA…..AA…..AAA…” suaranya yang tengah sekarat memegangi lehernya dan ambruk ke tanah. Dia meninggal dengan mata terbelakak dan kedua tangannya memegang lehernya.
“Dia terlalu banyak membual, ayo kita pulang permainan sudah berakhir” kata Kawaki menggiringku menuju mobil.
Kak Soma masih terpaku menatap wajah wanita itu, dia sangat merindukan ibunya. Sorot matanya tak bisa menipuku, meski demikian aku tak bisa melakukan apapun untuknya.
XXXXXXXXXXXXX