
Kapal yang aku tumpangi telah berlabuh, seorang wanita berusia sekitar 30an mengenakan sweeter merah dengan mini skirt melambaikan tangan ke arahku dengan wajah yang ceria. Rambutnya panjang, tubuhnya lebih pendek dariku, wajahnya bulat dan cantik.
“Oi…Yoshiko!!!” teriaknya memanggilku.
Aku hanya terdiam merasa asing dengan nama baruku. Dia menghampiriku, nampak dia adalah wanita periang. “Selamat datang… ayo kita pulang” katanya menggandeng tanganku.
Kami tiba di sebuah appartement sederhana di sudut kota Tokyo, namun cukup nyaman dengan 2 kamar, 1 toilet, 1 ruang tengah dan dapur yang menyatu dengan ruang makan.
“Inilah adalah kamarmu, TARAAAA…” katanya dengan menunjukkan sebuah ruangan yang cukup rapi dengan nuansa phink.
“Aku tidak tahu warna kesukaanmu, tapi aku menyukai warna phink. Jadi jangan heran kalau banyak ornament pink yang kamu temukan di seluruh ruangan rumah ini” tambahnya.
“Boleh aku tahu, siapa namamu?” tanyaku.
“Aku Naoko Kobayashi, kakak perempuanmu” katanya sambil memelukku.
“Kakak?” tanyaku.
“Ryota memintaku untuk menjagamu, mari kita hidup sebagai keluarga” bisiknya.
“Apa hubunganmu dengan kak Ryota?” tanyaku lagi.
“Aku bekas teman kencannya di waktu kuliah, kenapa apakah kamu menyukai Ryota?” tanyanya balik.
“Tidak, sudah ada laki – laki yang aku sukai”.
“Baiklah, mandilah dan pilihlah bajuku di kamar sebelah untuk kamu pakai lalu beristirahatlah. Nampaknya banyak hal berat yang telah menimpamu, badai pasti berlalu dan mari kita jalani hidupmu yang baru”.
Seakan hari – hariku terasa berat, hanya bisa merenung di setiap waktuku. Hingga akhirnya Naoko mengajakku untuk bekerja di sebuah caffe kecil milik kekasihnya di pinggiran kota Tokyo. Aku mulai memiliki aktivitas untuk menjalani kehidupan baruku.
Naoko adalah seorang staff di perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan ringan. Kesehariannya memasak dan bekerja, meski demikian dia wanita yang sangat hangat.
Hingga tak terasa satu tahun telah berlalu…
Senyumku mulai mengembang, menikmati keseharianku di caffe membantu Hayami kekasih Naoko untuk melayani customers yang datang. Aku pun membantunya membuat berbagai item promosi dan mengunggahnya di social media. Kebanyakan pelanggan kami adalah staff perkantoran.
Ada seorang pelanggan berseragam SMA menunggu kekasihnya di caffe, nampak wajahnya berbunga – bunga. Aku memberikan sebuah minuman rasa buah dan sebuah cake.
“Selamat dinikmati, semoga harimu menyenangkan” kataku sambil menyuguhkan makanan ke atas mejanya.
“Terimakasih” katanya sambil tersenyum.
Aku kembali ke bar dan menatapnya dari jauh.
“Aku merindukan seragam itu, tahun ini seharusnya aku sudah lulus dan menyiapkan diri masuk universitas” gumamku lirih.
“Siapa yang mau masuk universitas?” tiba – tiba Hayami bertanya dari belakang.
“Oh bukan siapa – siapa” kataku bingung.
“Kamu iri ya lihat gadis SMA disana yang sedang berkencan, makanya carilah pacar” sindir Hayami.
“He..he..he… bagaimana aku cari pacar kalau terlalu sibuk di caffe” keluhku.
“Mau aku kenalkan temanku? Aku punya banyak pria yang tampan dan baik” tambahnya.
“Tidak perlu” sahutku singkat.
“Kenapa? Percayalah pria yang aku rekomendasikan adalah pria baik” katanya penuh semangat.
“Aku tidak berencana untuk berkencan, aku memilih menikmati hariku dengan bekerja” tampikku.
Selang beberapa hari, Hayami memutuskan menutup tokonya dan mengajakku serta Naoko ke sebuah pemandian air panas di Nerima – Tokyo.
Kami janjian bertemu di depan stasiun Toshimaen untuk masuk kesana bersama – sama.
“Lama sekali, bukankah janjiannya jam 10 pagi?” keluhku yang sedari tadi berdiri menunggu Hayami.
“Entahlah kenapa dia sangat lama sekali, ini sudah hampir 1 jam kita menunggu” sahut Naoko.
Nampaklah dia datang dengan seorang pria dewasa berusian 20an datang membawa ransel.
“Oi…Naoko!!!” teriaknya dari kejauhan.
“Lama sekali, kami lelah harus berdiri sejam menunggumu” ungkap Naoko menunjukkan kekesalannya.
“Maaf … maaf, aku membawa temanku jadi lama” tambahnya.
“Hai…aku Kenji” sapanya.
“Hai…aku Naoko” sapa Naoko.
“Hai…aku Yoshiko” sapaku.
Kami pun pergi ke pemandian air panas, menyewa 2 kamar yang berdekatan. Setelah berendam kami pergi makan bersama restoran jepang kuno yang menyajikan berbagai makanan laut.
“Hua…ini enak sekali” kata Naoko memulai obrolan sambil antusias mengambil makanan yang tersaji.
“Ayo makanlah sepuasnya, ini adalah dedikasiku sebagai boss yang baik hati kepada karyawan terbaikku Yoshiko” kata Hayami narsis.
“Hmmm… terimakasih” sahutku.
Di sela – sela makan, Hayami mulai bertingkah aneh memberikan kode dengan mata kepada Kenji.
“Yoshiko kamu sebelumnya sekolah dimana?” tanya Kenji memulai obrolan.
Aku dan Naoko saling menatap dalam diam.
“Memangnya ini panggilan interview kerja menanyakan soal sekolah” smash Naoko.
“Oh iya ya…kalau begitu apa hobbymu?” tanya Kenji canggung.
“Bekerja” jawabku singkat.
“HA..HA..HA..dia memang karyawan teladan tidak pernah absen dalam bekerja, pantas hobbynya bekerja” sahut Hayami mencoba mencairkan suasana yang canggung antara kami.
Setelah obrolan yang tak berhasil membuat kedekatan antara kami, alhasil Hayami mengajak ke sebuah karaoke di dekat sana.
Beberapa kali Hayami dan Naoko bernyanyi couple, menunjukkan kemesraan mereka kepadaku dan Kenji. Kami banyak duduk diam dengan wajah penuh kebosanan. Aku pergi keluar ruangan untuk ke toilet. Kenji tiba – tiba mengikutiku dari belakang, seketika aku menoleh.
“Kamu mau apa?” tanyaku ketus.
“Aku mau mengantarmu ke toilet kan” jawabnya.
“Tidak usah, masuk saja aku hanya pergi ke toilet tidak perlu diantar” tambahku.
“Tidak apa, aku akan menjagamu” sahutnya membuatku merasa dia aneh.
Pas di dekat pintu toilet, sekilas aku bertemu sosok yang wajahnya tidak asing. Kenji tak sengaja menabraknya.
“Hei…kalau punya mata lihat ke depan!” bentak pria itu kepada Kenji.
“Maaf kan aku” sahut Kenji dengan sedikit ketakutan dengan wajah menunduk.
Pria itu langsung menyudutkannya ke tembok dan menarik kerah baju Kenji ke atas.
“Hah…maaf, mudah sekali kamu minta maaf” tambah pria itu.
Aku yang awalnya ingin masuk ke toilet mengurungkan niatku. Aku menghampiri pria itu dan melerainya.
“Lepaskan dia” kataku mendorong pria itu menjauhi Kenji. Nampak wajah Kenji pucat, sangat berbanding terbalik dengan perkataannya yang mau menjagaku tadi. Dia hanyalah pria penakut.
DEGH…
Pria yang mengganggu Kenji adalah Uta, jujur bola mataku tak bisa menipu. Ekspresi terkejutku ku coba ku sembunyikan.
“Wajahmu tidak asing” katanya.
Aku terdiam sejenak, mencoba untuk tetap tenang.
“Pria sepertimu selalu ku temui mengakatan hal demikian, kamu mau coba menggodaku hah!” kataku mengalihkan.
“Menggodamu, memangnya aku tidak punya kerjaan. Lihatlah yang cari masalah duluan adalah pacarmu” katanya geram.
“Dia kan sudah minta maaf, lantas kenapa kamu masih marah – marah kepadanya. Sudahi saja urusan ini” kataku mulai meninggikan suara.
“Dasar jal@ng, berani sekali kamu kepadaku” Uta pun tak terima.
Syukurlah ada seorang hostest yang berbusana terbuka memanggilnya
“Uta…kita belum selesai sayang” kata wanita itu sambil melambaikan tangan di ujung lorong.
“Baiklah, tunggu aku sayang, Aku akan memakanmu nanti. Berterimakasihlah aku sedang berbaik hati meloloskan kamu dan pacaramu” katanya seraya meninggalkanku.
Namun diujung lorong dia menatap lagi kearahku seakan memastikan wajahku. Aku pun bergegas masuk toilet. Didalam bilik pintu toilet, kakiku lemas seakan detak jantung berdetak dengan kencang. Sudah satu tahun aku lalui tanpa masalah dalam pelarian ini. Aku tak akan menghancurkan kehidupan baruku.
...XXXXXXXXXXX...