LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 49 : MENGINGATKAN KEPADA IBUNYA



Matahari telah lengser menjadi malam, aku berselimut terbaring di ranjang sedangkan Kawaki terbaring di sofa. Matanya terpejam, hanya terdengar suara dengus nafasnya beritme sedang. Aku merasa haus, memutuskan berjalan ke mini kitchen yang tak jauh dari Kawaki tidur.


Aku membuka sebuah lemari gantung mencari sebuah gelas “NGEEEEKKKK”. Ku temukan beberapa gelas tersimpan disana, ku ambil satu gelas lalu ku tutup kembali lemari itu. Aku meminum air dari kran, untuk menghapus dahaga yang ku rasakan.


“GLUK GLUK GLUK…” aku meneguk air itu, terasa sangat menyegarkan.


Kawaki terbangun saat aku sedang meminum segelas air.


“Apa yang kamu lakukan? Tidurlah” katanya dengan mengerjapkan mata beberapa kali mencoba mencari keberadaanku.


“Aku haus jadi aku mencari minum” kataku sembari mencuci gelas yang ku gunakan di sink.


Dari terbaring lalu dia bangkit untuk duduk di sofa “Kemarilah”.


“Aku mau lanjutkan tidurku” jawabku lalu berjalan melintasinya, namun langkahku terhenti saat tangannya meraih tanganku.


“Kamu mengganggu tidurku, duduklah temani aku berbincang” mintanya.


Meski aku enggan namun aku malas untuk menghabiskan energiku menolaknya, karena pada akhirnya dia akan tetap memaksaku.


Aku duduk di sebelahnya, lalu diambilnya sebuah botol berisi alcohol dan dua gelas yang terisi es batu.


“Aku tidak mau minum” tolakku dengan wajah sinis.


Dia hanya terdiam mendengar penolakanku, meski demikian dia tetap menuangkan kedua gelas yang ada di atas meja tepat di depan kami dengan alcohol.


“GLUK…GLUK” dia meneguk segelas alcohol lalu menuangnya kembali.


Tangan kirinya meraih pundakku, dengan respon yang cepat aku lalu menutup mulutku. Dia menatapku dingin dengan sikapku itu.


“Kamu takut aku menciummu atau memasukkan minuman ini dengan paksa ke dalam mulutmu?” tanyanya menyindirku yang menutupi mulutku dengan telapak tanganku.


“Aku mulai hafal sikap acakmu itu kepadaku, aku harus melindungi diriku sendiri” aku ku kepadanya sembari memicingkan mataku.


“HA…HA…HA…” dia tertawa nyaring.


“Kamu ingin menjelaskan bahwa kamu mulai mengenalku dengan sikapku kepadamu yang terus berubah begitu, kamu mencoba menyusaikan diri denganku rupanya. Apakah kamu mulai tertarik kepadaku?” dengan percaya dirinya, Kawaki mengambil kesimpulan.


“Ya aku tertarik untuk membunuhmu” kataku tanpa rasa takut, entah seberapa besar kebencianku kepadanya hingga rasa takutku terkikis.


“Saat kamu mencoba membunuhku, keluargamu tak akan selamat dari klan Endo. Aku yakin kamu sudah memikirkan sejauh itu” tambahnya.


Dengan dingin dia meremas pundakku hingga aku merintih kesakitan.


“AAAAAUUUU” suaraku spontan yang merasakan sakit.


“Sikapmu yang bebal itulah, membuatku semakin menginginkanmu. Membencimu karena mengingatkanku kepada ibuku yang telah meninggalkanku. Bukankah ini sangat lucu, aku ingin sekali mencongkel kedua bola matamu yang penuh keberanian itu” katanya kepadaku sembari menatap mataku lekat – lekat.


Aku mencoba mengambil peluang memanfaatkan sikap lemahnya saat sedang membicarakan ibunya. Ku pegang wajahnya dengan tangan kananku lalu ku tatap matanya dalam – dalam.


“Bukankah kamu bilang aku sama dengan para pel@cur yang kamu tiduri biasanya, lantas kenapa kamu bilang aku mengingatkan kepada mendiang ibumu. Apakah ini hanya sebuah omong kosong untuk mengambil hatiku, dengan menorehkan cerita sedih agar aku bersimpati?” aku mencoba memprovokasi perasaannya.


Lantas di lepaskan bahuku dari cengkeramannya dan di tepisnya tanganku dari wajahnya, kembali dia meneguh segelas alcohol. Aku tahu dia mulai marah atas apa yang aku katakan meski wajahnya masih terlihat dingin.


Malam kembali hening… dia terus bungkam dan hanya meminum alcohol hingga pagi menyambut kami. Tak terasa aku tertidur di sofa di dalam dekapannya.


“TOK … TOK…TOK” suara ketukan di balik pintu.


Kawaki mengerjap – ngerjapkan kedua matanya, dia terbangun dan menatapku. Begitu nakal tangannya meraih bokongku  yang tanpa celana dal@m lalu mencengkeramnya. Membuatku terbangun kaget, dengus nafasku memburu karena terkejut.


Tubuhnya yang beraroma alcohol itu seakan menempel ke semua bagian tubuhku.


“TOK…TOK…TOK” suara ketukan kembali terdengar.


Dia mencoba menciumku dan segera ku tepis, aku bangkit dari tidurku lalu masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diriku.


Kawaki membuka pintu, ternyata Asahi dengan sebuah goodie bag berisikan pakaian sedang menunggu di luar.


“Masuklah” kata Kawaki.


“Selamat pagi tuan muda, senang bisa melihat anda kembali” kata Asahi dengan sopan.


Dia adalah pria yang sangat sopan dan rapi serta konsisten, bahkan parfum yang dia kenakan sangat smooth dan khas serta lembut tak pernah terganti. Hingga aku selalu bisa menyadari keberadaannya. Aku heran kenapa Kawaki tak protes Asahi mengenakan parfum.


“Tuan muda ini adalah pakaian anda serta pakaian nona Chiyo” kata Asahi seraya menaruh kedua goodie bag di atas meja.


“Terimakasih Asahi, apakah ada kabar dari Kanto?” tanya Kawaki yang duduk di Sofa.


“Nona Kanon akan segera terbang ke Hokkaido, rencananya lusa dia akan tiba disini” kata Asahi.


“Baguslah, aku harus segera mendekatkan keduanya untuk mencapai sebuah kata sepakat” respons Kawaki sembari tersenyum licik.


Aku keluar dari kamar mandi, “NGEEKKKKK”.


“Nona Chiyo apakabar?” sapa Asahi.


Dengan sangat malu aku menjawab sapaannya “Baik”.


“Dia membawakan pakaian untukmu, pakailah” kata Kawaki sambil menunjuk ke arah goodie bag yang ada di meja tepat di hadapannya.


“SRETTTTT” aku mengambilnya dan kembali ke kamar mandi untuk mandi serta berganti pakaian.


Disaat aku sedang berada di kamar mandi, Asahi menyiapkan teh bunga krisan untuk disuguhkan kepada majikannya itu. Tak di duga dia membawa kue tradisional buatan dari toko milik ayahku.


Saat aku duduk di sofa bersama Kawaki, aku terkejut mendapati beberapa kue itu tersaji di meja bersama teh buatannya.


Kawaki meminum tehnya lalu memakan sepotong kue begitu pun, Asahi hanya berdiri menatap kami berdua.


“Kenapa kamu tidak ikut makan bersama kami?” tanyaku yang agak sungkan makan sendiri.


“Saya sudah sarapan, terimakasih” kata Asahi dengan tersenyum.


“Pergilah bersamanya, untuk menemui orang tuamu. Ibumu pasti merindukanmu” kata Kawaki dengan wajah datarnya.


“EHHH??!”.


“Apa yang dia rencanakan hingga dia sepeduli itu kepada keluargaku?” tanyaku dalam hati dengan banyak prasangka.


Aku menatapnya penuh tanda tanya lantas dia membalas menatapku tajam.


“Apakah kamu tidak mau, kalau begitu baiklah kalau ingin berlama – lama denganku. Aku tidak sungkan menerima pelayananmu kepadaku kapanpun” katanya.


“Apa yang sebenarnya rencanamu kepada keluargaku?” tanyaku terus terang.


“Aku hanya sedang berbaik hati kepadamu, karena setelah ini kamu tidak akan bertemu dengan mereka. Kita akan segera meninggalkan Hokkaido” jawabnya.


“Kamu yakin hanya itu? Jangan pernah mengingkari janjimu, jangan pernah menyentuh kedua orang tuaku” tambahku dengan tegas.


“Selama kamu tidak mengecewakanku, janjiku pasti akan aku tepati” sahutnya.


Asahi hanya menatap kami berdua dengan wajah datar, berdiri di hadapan kami.


XXXXXXXXXX