LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 35 : KEPUTUSAN HIROSHI



Hiroshi masuk ke dalam rumah, di ruang tengah di temukan Ryota tengah duduk membaca buku. Hiroshi tak memperdulikan kakaknya itu, dia berjalan ke arah tangga menuju ke lantai 2. Ryota mendapati adiknya tak menyapanya, lalu menutup buku dan meletakkan di meja yang ada di depannya.


“Aku masih kakakmu, bersikaplah selayaknya adikku” sindir Ryota.


Hiroshi menghentikan langkahnya yang sudah di ambang tangga pertama. Ditatapnya wajah kakaknya dengan sinis.


“Haruskah aku menyapa orang yang telah menghancurkan pertunanganku? Berkat kamu, aku terbaring di dua minggu di rumah sakit. Tunanganku menghilang hingga kini” ketusnya.


“Kenapa kamu pendendam, itu kan hal yang telah berlalu. Aku tidak punya pilihan lain, bisnis kita sebagian besar di sokong oleh klan Endo. Aku harus mengorbankan obsesi adikku demi mempertahankan bisnis keluarga kita” jawab Ryota enteng.


“Kamu telah menghancurkan hidupku, bukan obsesi yang kamu sebutkan itu. Sejak kecil hanya Chiyo yang membuatku bertahan selama ini” marah Hiroshi.


“Berterimakasihlah kepadaku, akulah yang telah menyelamatkanmu dan Chiyo dari cengkeraman Kawaki. Dia bisa membunuh kalian berdua saat itu, kalau dia mau. Lupakan Chiyo dan lanjutkanlah hidupmu, masih ada masa depan yang cerah untukmu” Ryota mencoba menasehati adiknya.


“Tak segampang itu untuk melupakan masa lalu kami, perasaan yang aku bangun dari kecil bersamanya. Aku tidak peduli dengan masa depan yang kakak sebutkan itu. Bagiku Chiyo adalah segalanya” tegas Hiroshi.


“Apakah kamu memilih dia dan menghancurkan keluargamu?! Ayah tak mengatakan apapun tapi dia berusaha melindungi mu, bahkan demi dirimu dia memintaku menolong gadis itu. Sekarang Kawaki sedang meradang mengenai hal ini, itu semua ku lakukan demi dirimu!” kata Ryota dengan nada tinggi.


“Dimana Chiyo, dimana kamu menyembunyikannya?” tanya Hiroshi.


“Dia ada di Tokyo, Kawaki sedang mencarinya. Dia hilang setelah Kawaki mengendus keberadaannya” aku Ryota.


“Kamu tahu saat di Hokkaido waktu dia bertemu denganmu, dia membanggakan diri telah melecehkannya. Dia manusia yang tak punya hati nurani, aku akan mencari Chiyo bagaimana pun caranya” kata Hiroshi lalu melanjutkan langkahnya ke lantai 2.


Ryota sadar adiknya masih belum tahu keberadaan Chiyo, tapi Ryota sudah menyetujui membantu Kawaki menemukan Chiyo. Baginya, satu – satunya cara memancing Chiyo muncul adalah adiknya. Ryota tersenyum licik dan kembali duduk sembari membaca bukunya.


Malamnya Ryota menyelinap masuk ke dalam kamar Hiroshi, dia mengambil ponsel Hiroshi lalu memberikan kepada Nemo salah satu anggota klan Endo alias anak buah Kawaki. Sekitar satu jam ponsel itu sudah di pasang system hack yang tersembunyi.


Ryota kemudian meletakkan ponsel yang sudah di hack itu, ke tempat semula. Dia yakin melacak adiknya adalah langkah awal menemukan Chiyo.


Keesokannya …


Hiroshi menelpon kedai bibi Sanchi yang kini sedang berada di dalam kamarnya.


“Hallo…dengan Sanchi Bento disini, ada yang bisa kami bantu?” suara seorang wanita menjawab telepon.


“Hallo…saya mau order, bolehkah saya tahu dimana lokasi kedai bento ini? Soalnya saya mau ambil sendiri” kata Hiroshi.


Wanita itu pun memberitahukan alamat kedai bibi Sanchi kepada Hiroshi. Dimana wanita itu adalah aku yang tidak tahu kalau Hiroshi yang telah menelponnya.


Disisi lain Nemo terkejut mendapati kedai bibi Sanchi disebut dalam obrolan, karena dia tahu itu adalah kedai ibu Jiro temannya. Dia terdiam mencoba memahami situasi yang terjadi. Dia yakin ini hanyalah kebetulan saja.


………………………..


Siangnya di hari yang sama Hiroshi pergi ke kedai bibi Sanchi.


Aku sedang melayani pelanggan yang sedang mengantri memesan dan mengambil bento. Aku menyadari seseorang di ujung antrian adalah orang yang aku kenal. Hiroshi datang untuk membeli bento, aku tahu dia mencari tahu tentangku.


“Nona aku mau satu bento tolong pilihkan yang terfavorite” katanya menatap wajahku lekat – lekat.


“Baiklah, mau makan disini atau di bawa pulang? Kalau mau makan disini, duduklah disana” kataku ramah sambil menunjukkan kursi untuk pelanggan.


Dia duduk dan memandangiku, bibi Sanchi yang datang dari dapur menghampiriku.


“Yoshiko…telepon Azura, coba tanya apakah sayurnya yang sudah di panen tadi pagi bisa di kirim hari ini” minta bibi.


“Ok, aku telepon dia lebih dulu” sahutku langsung menelpon Azura dengan telepon yang ada di kedai.


Bibi Sanchi memperhatikan Hiroshi yang sedang memandangiku dari tadi. Setelah aku menelpon Azura, bibi menghampiriku sambil  bisik – bisik.


“Yoshiko…sepertinya dia tertarik padamu, dekati lah. Aku lihat wajahnya juga tampan dan nampak baik” bisik bibi kepadaku.


“Sudahlah bi, bisa saja dia pria mesum” elak ku.


“Jangan berpikir negative dulu, matanya sepertinya mata anak yang baik” bibi masih kekeh.


“Jangan hiraukan dia, bisa jadi dia sedang punya pikiran kotor di kepalanya” kataku mengecoh bibi.


“Bisakah kita bicara?” tanyanya sopan kepadaku.


“Maaf aku sibuk” jawabku.


“Aku akan menunggumu sampai kamu ada waktu” tambahnya.


“Ku mohon pergilah dan jangan menggangguku” aku memperingatkannya.


“Apakah kamu takut, penyamaran mu akan ketahuan?. Aku hanya ingin menolong kamu” katanya dengan menatapku tajam.


“Apa maksudmu, hidupku tak seperti drama yang ada dalam fantasimu” tepisku.


Aku meninggalkannya dengan wajah kesal, aku tahu dia tak akan menyerah. Dia duduk hingga kedai tutup, membuatku merasa tak enak kepada bibi Sanchi, nenek dan Azura.


“Tuh kan, dia memang tertarik kepadamu” kata bibi kepadaku yang sedang bersih – bersih kedai.


“Siapa?” tanya Azura penasaran yang sedang mencuci perkakas dapur.


“Itu pria yang ada di depan” kata bibi.


“Oh…sepertinya aku pernah lihat, dia bukannya mahasiswa kedokteran yang kemarin kita temui?” kata Azura memastikan.


“Sudah – sudah jangan di bahas” aku mencoba menghindari pembicaraan.


Kedai sudah di tutup, Hiroshi menghampiriku.


“Ku mohon bicaralah denganku” mintanya kepadaku.


Bibi Sanchi memberi kode kepadaku untuk merespons permintaannya. Azura menuntun nenek berjalan meninggalkan kami.


“Sepertinya bakal ada drama percintaan” celetuk Azura.


“Ini kesempatan bagus untuk Yoshiko, ayo tinggalkan mereka sepertinya dia sangat malu” kata bibi Sanchi sambil menggiring nenek dan Azura untuk meninggalkan kami berdua di depan kedai.


“Apa yang mau katakana?” tanyaku dengan dingin.


“Aku tahu kakakku menolong kamu untuk bisa hidup di Tokyo” Hiroshi to the point.


Degh…


“Apa maksudmu?” tanyaku pura – pura tidak paham.


“Ku mohon Chiyo, jangan berpura – pura lagi. Percayalah kepadaku, aku akan melindungi mu” kata Hiroshi dengan menggenggam kedua tanganku.


“Aku mohon kepadamu tinggalkan aku” kataku dengan wajah datar menahan diri untuk tak bersedih menatap dirinya yang bersemangat melindungi ku.


“Chiyo…aku tak akan melepaskan mu dan jangan pergi dariku, aku akan tetap melindungi mu. Apapun yang terjadi” katanya mencoba meyakinkanku.


Aku melepaskan tanganku dari genggaman tangannya, aku menyudahi pembicaraan yang membuat hatiku berat.


“Jangan mengikuti ku, atau aku akan meninggalkan tempat ini dan pergi sangat jauh yang tidak bisa kamu jangkau” kataku mengakhiri pembicaraan itu, Hiroshi terkejut mendengar kata – kataku.


Aku berjalan meninggalkannya…


Aku menangis saat memunggunginya berjalan menjauh dan tak berani menghadap kebelakang.


“Chiyooo…aku sudah putuskan untuk melindungi mu!” teriaknya.


Aku tak memperdulikan apa yang dia katakan dengan sangat pantang itu. Aku sadar aku saat aku menyambut pertolongannya maka aku sama saja menyeretnya ke dalam kemalangan ku.


Jauh dari lokasi kami ternyata Nemo berada di dalam mobil dan memotret kami dari jarak jauh.


...XXXXXXXXXX...