
Aku kehilangan kesadaran setelah kelelahan melayani nafsu bej@t Kawaki, mendapati diriku tersadar masih di lantai yang dingin meringkuk kedinginan dengan selimut menutupi tubuhku. Nampak Kawaki tengah merokok duduk di sofa menyilangkan kakinya.
“Kamu sudah bangun, tidurmu sangat lama membuatku bosan menunggumu” keluh Kawaki melihatku beranjak bangkit dari lantai.
“Kenapa kamu menungguku?” tanyaku heran.
“Aku ingin mengajakmu pergi keluar, bersiaplah” jawab Kawaki.
Aku mengambil pakaianku dan membersihkan tubuhku di kamar mandi. Karena kamar mandi tak ada pintu, Kawaki bisa melihatku mandi dan sesekali dia mencuri pandang. Dia sangat menjijikkan, aku sungguh membencinya.
“Aku sudah siap, kita mau kemana?” tanyaku yang mengenakan sweater hitam dan celana panjang denim.
“Tidak banyak bertanya, nanti kamu juga tahu sendiri” kata Kawaki sembari mematikan rokoknya di sembarang tempat.
Menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari bangsal bawah tanah, memasuki mobil sport berwarna hijau metalik yang di modifikasi sangat mencolok. Aku yang duduk di bangku depan, masih mencium bau jok kulit yang masih baru.
“Aku ingin muntah” kataku sambil menutup mulutku lalu keluar dari dalam mobil.
Kawaki lalu membuntutiku dari belakang, menepuk – nepuk punggungku dimana aku sedang muntah di garasi sambil berjongkok.
“UEEEKKKK…UEEEKKKKK….”.
“Kenapa kamu muntah terus, bukankah kamu belum makan apapun tapi muntahmu banyak sekali” keluh Kawaki masih menepuk – nepuk punggungku dengan menutupi hidungnya.
“Entahlah…aku terus merasakan mual saat mencium bau – bau aneh” ucapku dengan lemas.
Setelah selesai muntah, Kawaki akhirnya memutuskan mengganti mobil yang dinaikinya. Sebuah mobil sedan berwarna putih, dengan lemas aku terduduk di sebelahnya. Dia menatap wajahku yang semakin memucat.
“Kamu seakan menjemput ajalmu sekarang.
Wajahmu seperti orang sekarat, sepertinya kita perlu ke rumah sakit” kata Kawaki lalu menyalakan mesin mobil dan melaju.
Kawaki melarikanku ke rumah sakit, aku di masukkan dalam UGD dan ditangani para dokter dan perawat. Kawaki menunggu di ruang tunggu sembari cemas, seorang perawat menghampirinya.
“Pak, tolong ikut saya untuk mengisi data administrasi pasien” kata perawat kepada Kawaki.
“Ok” jawab Kawaki lalu mengikuti perawat itu.
Dia tak membawa identitasku, lalu dia menelpon Asahi.
“Hallo..Asahi, aku berada di salah satu rumah sakit di Tokyo yang dekat rumah. Tolong kemarilah bawa data diri Chiyo, aku tak mengerti harus mengurus data pasien” kata Kawaki.
“Baik tuan muda, segera saya kesana” jawab Asahi.
Kawaki lalu memberitahukan kalau anak buahnya akan datang ke rumah sakit dan mengurus semuanya kepada perawat.
“Tolong segera di tangani dulu gadis itu” kata Kawaki.
“Kalau boleh tahu, anda siapanya pasien?” tanya perawat.
“Aku…hmmm…aku kekasihnya” kata Kawaki mencari jawaban yang pas.
“Baik, mohon di tunggu. Tim medis kami sedang membantu kekasih anda, bersabarlah dan jangan khawatir” kata perawat menanggapi.
Aku yang terbaring di ranjang pasien UGD membuat syok para perawat yang ada disana. Mereka melihat luka yang masih baru di leherku, lalu beberapa bekas luka lainnya di sekujur tubuhku. Dokter dan perawat menjadi berbisik – bisik satu sama lain.
“Sepertinya dia telah dianiaya pacarnya”.
“Bisa jadi, bekas lukanya sangat mengerikan. Apa perlu kita memanggil polisi?”.
“Pacarnya ada di luar, jadi bisa langsung di tangkap”.
“Kita harus mendengar kesaksian dari korban, tidak bisa menyimpulkan sendiri”.
“Apakah anda merasa lebih baik, nona?” tanyanya mengecheck kondisiku.
“Ya…sepertinya aku sudah mulai enakan, tapi tubuhku masih lemas” jawabku.
“Selamat…” kata – katanya terpotong dengan kedatangan Kawaki dan Asahi yang menghampiriku.
“Chiyo…kamu sudah sadar, ayo pulang” kata Kawaki.
“Apakah anda keluarga pasien?” tanya dokter itu.
“Aku kekasihnya, kenapa?” jawab Kawaki ketus.
“Selamat kekasih anda telah hamil dua minggu” kata dokter itu mengejutkanku serta Kawaki dan Asahi.
“Apa…benarkah?” tanya Kawaki tak percaya.
“Ini adalah hasilnya dari test yang telah kami lakukan kepada nona” kata dokter itu membawakan selembar kertas.
Kawaki tersenyum licik membaca hasil lab itu, sedangkan aku terbaring dalam keadaan yang sangat syok.
“Selamat tuan muda, anda akan menjadi seorang ayah” kata Asahi.
Kawaki mengalihkan pandangannya kepadaku, dengan lembut dia mencium punggung tangan kananku.
“Terimakasih Chiyo, kamu akan melahirkan penerus klan Endo” kata Kawaki sambil tersenyum penuh kemenangan.
Aku tahu rencananya telah berhasil membuat perangkap baru untuk mempertahankanku ke dalam kekuasaannya, yakni dengan kehamilanku. Aku telah mengandung benih darinya, kehamilan yang aku dan Kanon takutkan telah terwujud.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanyaku dalam hati dengan menatap Kawaki penuh kebencian.
Kawaki dan Asahi membawaku pulang ke kediaman klan Endo, aku digiring memasuki kamar Kawaki. Aku yang masih syok hanya bisa memandangi kamar itu dengan hampa.
Kawaki memelukku dari belakang, menyandarkan dagunya ke bahu kananku.
“Pelayan akan menyiapkan makanan untukmu, mulai sekarang tubuhmu tak lagi menjadi kekuasaanku saja tapi juga klan Endo. Selamat Chiyo, kamu telah masuk ke dalam klan Endo. Tak akan ada siapapun yang berani mengambilmu dariku, karena klan Endo akan melindungimu mulai dari sekarang” katanya membuatku semakin ngeri.
Asahi menghadap ayah Kawaki yang berada di ruang kerjanya, dengan tenang keduanya duduk berhadapan.
“Ada kabar apa Asahi?” tanya ayah Kawaki sambil mengelap pedang samurai favoritenya dengan sangat teliti.
“Selamat tuanku, nona Chiyo positif mengandung anak tuan muda Kawaki” jawab Asahi.
Mendengar itu, sontak ayah Kawaki menghentikan mengelap pedang samurai miliknya. Di masukkannya pedang itu dalam sarungnya lalu di letakkannya ke atas meja.
“Jadi akan tumbuh generasi baru dari klan Endo, sangat di sayangkan harus terlahir dari putri mantan anggota klan Aihara” kata ayah Kawaki mendengus pelan.
“Benar tuanku, lantas apa rencana anda?” tanya Asahi.
“Kawaki mengingatkan masa mudaku, tingkahnya sama persis denganku. Bahkan dia menuruni kebodohanku dalam hal wanita, menggilai dan mencintai wanita yang tak pernah punya perasaan kepadanya. Aku yakin anak itu menghamilinya hanya untuk mengikat gadis itu disisinya. Padahal langkah itu pun hanya sebuah langkah sementara, akhirnya dia akan di tinggalkan juga” ucap ayah Kawaki.
“Tuan muda sejak awal memang menyukai nona Chiyo, meski dia berusaha mengelak dan menyangkalnya tapi baginya nona Chiyo adalah candu yang terus menariknya untuk dapat memilikinya” ungkap Asahi.
“Kalau begitu, segera gelar pertemuan dengan kedua orang tua gadis itu. Setelah pertunangan Kanon, dia harus menikahinya bagaimana pun caranya darah daging klan Endo harus dilindungi” titah ayah Kawaki dengan wajah yang tenang.
“Baik tuanku” jawab Asahi.
“Semoga gadis itu tak mengulang tragedi Kumiko, kalau itu terjadi Kawaki tak akan tertolong” kata ayah Kawaki dengan tatapan tajam.
XXXXXXXXXXX