LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 54 : PERTEMUAN KANON DAN HIROSHI



Di pertemukanlah Hiroshi dan Kanon secara resmi dalam sebuah perjamuan makan malam. Meskipun makan mala mini di usung tak resmi hanya sebuah perjamuan makan malam biasa, namun segenap keluarga Hiroshi hadir kecuali kakak Soma anak kedua dari paman Fukoda.


Kawaki mengajakku untuk bergabung meski pun aku menolaknya.


“Bersiaplah, sebentar lagi kita ada makan malam bersama” katanya yang sudah mengenakan pakaian rapi.


“Sebenarnya acara apa sehingga membuatmu tampil rapi seperti ini?” tanyaku curiga.


“Nanti kamu juga tahu, ada pakaian dari Kanon yang bisa kamu kenakan di atas meja” jawabnya membuatku semakin curiga.


“Apakah ini perjamuan antar keluarga kalian?” aku pun langsung menembak ke intinya.


“Tidak juga, orang tuaku tidak hadir” jawabnya singkat.


“Aku tidak mau” tolakku.


“Kamu tahu konsekuensi atas penolakanmu ini?” katanya mulai mengancam.


Di ambilnya pakaian di atas meja lalu di lemparnya ke pangkuanku yang sedari tadi aku terduduk di ranjang.


“Apa motifmu menghadirkanku untuk jamuan makan malam yang akan membahas Hiroshi dan Kanon? Sudah jelas kamu memamerkan diriku kepada Hiroshi, dan menunggu reaksinya. Sungguh konyol” sindirku.


“Diamlah, lakukan yang seharusnya kamu lakukan. Apa perlu aku melucuti pakaianmu dan menggantinya, kamu menunggu menikmati sensasi sentuhanku?” responnya membuatku jijik.


Aku hanya bisa menghela nafas dan ke toilet untuk mengganti pakaianku.


Kanon telah menunggu kami di depan lift untuk dapat bergabung bersama kami datang ke jamuan makan malam itu.


“Apakah sebuah drama sedang berlangsung?” tanya Kanon dengan memangku tangannya di dada.


“Dia terus mencoba memancingku untuk terus menyiksanya” ungkap Kawaki dengan dingin sembari mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tanganku.


Situasi menjadi canggung di dalam lift, sampai pada akhirnya kami memasuki restoran di ruangan khusus.


Hiroshi beserta keluarganya sudah terduduk melingkari meja bundar menunggu kedatangan kami. Kami di sambut dengan senyuman ramah tamah tapi tidak dengan Hiroshi. Nampak wajahnya masih lembam bekas luka perkelahian malam itu.


“Terimakasih telah mengundang kami untuk malam malam, sepertinya akan ada kabar gembira mengenai rencana pertunangan yang waktu lalu terhambat” kata Kawaki memulai pembicaraan.


“Sesuai dengan janjiku, sebuah angin baik berhembus ke arah kita” sahut kak Ryota.


Kawaki duduk terapit antara aku dan Kanon, lalu di sebelah Kanon ada bibi Ayane, paman Fukoda, Kak Ryota serta Hiroshi yang duduk di sebelahku. Sesekali aku dan Hiroshi saling menatap satu sama lain, meski tak ada kata yang keluar dari mulut kami.


“Jadi bagaimana Hiroshi, apakah kamu sudah memikirkannya dengan matang. Lihatlah adikku yang cantik, muda dan baik ini cukup pantas bersanding denganmu. Menggantikan gadis yang seharusnya tak kamu harapkan” kata Kawaki memicu ketegangan.


Aku menundukkan kepala mendengarnya, tanpa di sangka – sangka Hiroshi menggenggam tangan kananku di bawah meja sambil menatapku. Aku terkejut dengan sikap berani Hiroshi, dimana Kawaki berada di sebelahku.


Dengan sangat santai di menjawab Kawaki dan menatap tajam ke arah Kawaki.


“Dengan senang hati aku menerima pertunangan ini, tapi dengan satu syarat. Izinkan Chiyo kembali kepada kedua orang tuanya” kata Hiroshi.


Semua mata mengarah kepada Hiroshi tak terkecuali Kanon yang tak tahu menahu mengenai hubunganku dengan Hiroshi.


“Begitu ya, baiklah akan aku kembalikan Chiyo kepada kedua orang tuanya setelah acara pertunangan itu berlangsung” jawab Kawaki dengan wajah dingin dan suara yang tenang.


Sepertinya dia sudah bisa memprediksi apa yang diinginkan Hiroshi sebagai syarat untuk pertunangannya bersama Kanon. Begitu tenangnya dia meminum teh yang tersaji di hadapannya sambil menatap Ryota sambil tersenyum licik.


“Kalau begitu mari kita mulai makan, hidangannya akan menjadi dingin kalau terlalu lama kita diamkan” kata paman Fukoda memecah ketegangan yang ada di ruangan itu.


“Semoga pertunangan ini tidak membuat pertumpahan darah seperti masa lalu” sindir bibi Ayane selaku ibu Hiroshi.


“Semoga saja, Hiroshi pasti sadar setelah menerima pembelajaran yang sangat berharga mengenai itu” sahut Kawaki tersenyum sinis.


Kami pun mulai makan makanan yang tersaji, Hiroshi melepaskan tangannya lalu aku pun memulai menyuap makananku. Kawaki menatapku dengan sinis, sepertinya dia menyadarinya.


Setelah selesai makan, aku meminta izin untuk ke toilet.


“Saya izin ke toilet” kataku pamit kepada semua.


“Hiroshi…kamu mau apa?” tanyaku bingung.


Setelah melihat kondisi cukup aman, dia masuk ke dalam ruangan dan menutupnya. Lalu dia memelukku dengan erat setelah memastikan tak ada siapapun yang tahu.


“Bertahanlah, maafkan aku hanya bisa mengatakan ini untuk saat ini. Aku sedang mencari cara untuk melarikanmu bersama paman dan bibi ke luar negeri setelah acara pertunanganku” katanya.


Aku menyambut pelukannya lalu dengan suara lirih ku katakan “Apakah kamu baik – baik saja?”.


“Jangan cemaskan aku, ku pastikan aku baik – baik saja” katanya menenangkanku.


Kedua mata kami saling beradu tatapan, menatap dengan tatapan yang sangat dalam. Ku sentuh wajahnya yang masih memar dengan sedih, lalu ku kecup bibirnya.


“Jangan lakukan itu lagi, kamu membuatku terus merasa bersalah. Aku tak mau kamu mengorbankan dirimu hanya untukku” kataku meratapi luka yang ada di wajahnya.


“Aku tak bisa menjadi pecundang melihatmu tersiksa, kamu tahu.. Chiyo. Kamu adalah segalanya bagiku, akan ku berikan nyawaku untukmu” aku nya membuatku miris mendengarnya.


Dia pun mendaratkan ciuman yang begitu lembut ke bibirku, ku kalungkan kedua tanganku ke lehernya begitu pun dengan tangannya yang melingkar ke pinggangku. Sebuah perasaan haru dan sedih bercampur menjadi satu.


Ingin sekali ku hentikan waktu agar dapat merengkuhnya lebih lama, melarikan diri sejenak dari bayangan Kawaki. Kami pun menyudahinya dengan pelukan hangat, mencurahkan rasa rindu yang menumpuk di dalam dada.


“Tunggu aku, akan ku pastikan kembali seperti dahulu. Aku akan berusaha mencari jalan untuk dapat melepaskanmu darinya” katanya.


“Jangan mengambil resiko yang besar, aku tak ingin kamu terluka” tambahku yang mencemaskannya.


“Tenanglah, semua akan baik – baik saja. Percayalah kepadaku” katanya meyakinkanku.


Aku pun mengangguk menandakan aku percaya kepadanya.


Aku kembali lebih dulu ke ruangan perjamuan, Kawaki menatapku sinis. Kemudian Hiroshi pun muncul dan duduk kembali bersama kami.


“Kalau begitu minggu depan kami akan datang ke Tokyo untuk memutuskan tanggal pertunangan” kata paman Fukoda.


“Dengan senang hati kami menunggu kedatangan kalian” jawab Kawaki sambil tersenyum.


Sebuah keputusan pertunangan telah di sepakati, Kanon hanya terdiam di sepanjang perjamuan itu.


Sepeninggalnya kami dari ruang perjamuan, Kawaki nampak sangat dingin dia hanya membisu di sepanjang perjalanan menuju kamar. Kanon pun sadar bahwa kakaknya sedang memendam kemarahannya, dia mengajakku untuk ke kamarnya. Namun di larang oleh Kawaki, Kanon takut Kawaki akan meluapkan kemarahannya kepadaku.


“Biarkan dia bersamaku” kata Kawaki lalu mencengkeram lenganku dan menggiringku masuk ke dalam kamar.


Aku hanya bisa menatap Kanon yang terus menatapku dari belakang hingga kami memasuki kamar.


“BRAAAKKKK!!!” Kawaki membanting pintu.


Di lemparnya aku ke atas ranjang dengan kasar, aku terbaring di ranjang dengan rasa was – was. Aku tak berani menatap wajahnya yang begitu murka, entah apa yang akan di lakukannya kepadaku.


Di bukanya bajunya hingga bidang dadanya terlihat jelas, lalu di lepaskan ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit itu berwarna hitam. Aku baru sadar diriku dalam bahaya, saat di layangkannya sabuk kulit itu ke arahku.


“AAAAAA!!!” teriakku terkejut dan menghindari cambukannya.


“Kamu tak akan bisa lari dariku” katanya dengan mata penuh kemarahan.


Begitu cepatnya dia menangkapku lalu mencambukku berkali – kali, suara teriakan kesakitanku menggema memenuhi ruangan.


“AAAARRRRRGGGGHHHHH!!!!” teriakku.


Setelah puas, di jambaknya rambutku di tatapnya wajahku dengan marah.


“Ingatlah bahwa dirimu adalah milikku, sekeras apapun dia mencoba melepaskanmu dariku. Aku akan tetap menangkapmu dan kembali ke pangkuanku” katanya lalu mendaratkan ciuman ke  bibirku.


Dia meninggalkanku begitu saja pergi keluar dari kamar, aku hanya bisa meringkuk kesakitan di sekujur tubuhku yang mulai memerah dan perih atas luka cambukan yang diberikannya kepadaku.


XXXXXXXXXXXXXXX