LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 39 : KANON SANG ADIK TIRI



Suasana hening terus menerus menggerogoti waktu, Kawaki minum alcohol hingga berbotol – botol. Aku hanya terdiam duduk di sebelahnya, wajahnya memerah menunjukkan dia mulai mabuk. Sesekali dia menatapku dengan ekspresi dingin.


Enju masuk ke dalam ruangan, lantas menghampiri kami berdua.


“Kawaki… ini sudah waktunya kita pulang” kata Enju mengingatkan.


“Baiklah, mari kita pulang” jawabnya.


Dia berjalan dengan tegap, meski dia sudah mulai mabuk. Enju menarikku mengikutinya menuju mobil. Di mobil di bangku belakang, Kawaki merebahkan kepalanya di pahaku.


“Aku benci parfummu” keluhnya sembari menutup mata.


Aku tidak merespons keluhannya, meski aku menggunakan parfum yang dia benci tetap saja dia menempel kepadaku. Itu membuatku sangat muak untuk menatap wajahnya.


Enju menatapku sesekali melalui kaca spion, sepanjang jalan tak ada satupun kata yang terucap diantara kami.


Setibanya kami di kediaman klan Endo, Kawaki terbangun menatapku tajam. Dia mencengkeram pergelangan tanganku, menarikku ke dalam rumah utama. Kami tidak pergi ke bangsal melainkan menuju kamar pribadinya.


Seorang gadis menatapku dingin saat berpapasan di lorong, dia Kanon adik tiri Kawaki. Tak ada kata yang terucap, kami hanya saling menatap satu sama lain. Aku mencoba memberontak meminta dilepaskan tanganku, tapi semakin aku memberontak semakin erat tangan Kawaki mencengkeram pergelangan tanganku.


Kami masuk ke dalam kamar, di hempaskannya tubuhku ke atas ranjang. Di lepaskannya jaket yang menutupi tubuhnya, dia kini bertelanj@ng dada. Menatapku dingin lantas mengambil sebuah gunting dari dalam laci.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanyaku bingung saat dia menatap tajam ke arahku dengan sebuah gunting di tangannya.


Dengan brutal dia menggunting gaun yang aku kenakan, aku berteriak “HENTIKAN…Dasar breng$ek!”.


Hingga seluruh tubuhku tak berbusana, aku menangis melihat betapa tak ada harganya diriku saat ini. Bak pel@cur yang telanj@ng diatas ranjang tuannya.


“Kenapa kamu lakukan ini kepadaku?! Kamu gila! Kamu binatang!” makiku seraya menarik selimut menutupi tubuhku.


“Aku benci bau parfummu” ungkapnya.


Lantas dia menghampiriku, mengendusku seperti anak anjing lalu memeluk tubuhku yang tertutup selimut. Mendekapku dengan erat dan tertidur, sedangkan aku hanya menangis di pelukannya.


Aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri, ingin sekali aku membunuh pria yang memelukku ini. Namun apa daya, tubuhku terlalu lemah untuk melakukannya.


Pagi menjelang…


Serpihan sinar Mentari menembus tirai putih yang menutup jendela, mataku yang sembab mulai terbuka perlahan. Dengus nafas Kawaki masih terasa jelas di sampingku. Suara ketukan pintu terdengar.


“TOK…TOK…TOK…!”


Asahi masuk membawakan teh bunga krisan, di sebelah bilik kayu yang menutupi ranjang dimana kami terbaring. Asahi memasuki area sebelahnya menuju ranjang “TAP … TAP… TAP”.


Dia menatapku dengan Kawaki yang sedang berpelukan di ranjang, mungkin dia agak risih lalu menundukkan kepala.


“Tuan muda, sebentar lagi waktunya sarapan bersama” kata Asahi sopan.


Kawaki membuka matanya, menatapku dengan sorot mata datar. Lantas bangun dari tempat tidur, dia menatap di lantai penuh dengan sobekan pakaianku yang di gunting dia tadi malam. Tercecer dimana – mana.


“Baiklah nanti aku segera kesana” kata Kawaki ke Asahi.


Asahi lalu dengan sopan pamit keluar meninggalkan kami berdua. Sedangkan Kawaki masuk ke dalam kamar mandi. Tubuhku yang terasa kaku karena tak bisa bergerak semalaman, mulai ku coba menggerakkan. Kulilitkan selimut menutupi tubuhku, aku berjalan menyusuri kamar yang cukup besar.


Ku buka jendela yang ada di seberang ranjang, terdapat halaman cukup luas serta banyak assistant rumah tangga sedang bersih – bersih.


“SREEETTTT” suara pintu geser yang terbuka.


“Kamu mau kemana, melarikan diri…cobalah. Tak ada satupun orang di rumah ini yang peduli dengan hidupmu” kata Kawaki.


Dia sudah berganti baju Yutaka (baju adat jepang seperti kimono tapi khusus pria), wajahnya nampak segar setelah mandi. Dia tersenyum sinis kepadaku sembari menatap diriku yang terbalut selimut berdiri di depan jendela.


“Mandilah, aku akan mencari pakaian untukmu” katanya.


Lalu dia keluar kamar, bertemu dengan adik tirinya di lorong menuju ruang makan.


Kanon lantas menghampiri Kawaki, “Ada apa?”.


“Bawakan satu stel pakaian untuk wanita yang ada di kamarku sekarang, beserta pakaian dal@m juga. Dia telanj@ng sekarang” kata Kawaki memerintah adik tirinya.


“Ini pertama kalinya kamu membawa pel@cur ke rumah, ayah pasti tidak suka mengenai hal ini” ungkap Kanon.


“Jangan banyak bicara, lakukan saja apa yang ku perintahkan. Lalu bergegaslah ke ruang makan, sebentar lagi waktunya makan bersama” tambah Kawaki.


Lalu dia pergi meninggalkan adik tirinya, kemudian Kanon membawakan pakaian untukku.


Aku masih berdiri di depan jendela menatap keluar, Kanon menghampiriku dan meletakkan pakaian di ranjang.


“Pakailah, semua ini baru” kata gadis remaja itu.


Aku menoleh kearah gadis remaja yang cantik berambut panjang, dia mengenakan seragam SMA. Aku jadi mengingat diriku yang dulu.


“Terimakasih” kataku.


“Siapa namamu?” tanyanya polos.


“Chiyo” jawabku.


“Aku Kanon, adik Kawaki” dia pun memperkenalkan diri.


Aku tersenyum menatapnya, lantas dia duduk di pinggir ranjang menatap lantai yang penuh dengan sobekan pakaianku.


“Sudah berapa lama kamu kencan dengan kakakku?” tanya Kanon.


“Kami tidak berkencan” jawabku jujur.


“Jadi kamu hanya sebatas wanita panggilan? Sudah berapa kali kamu di pesan, hingga bisa leluasa keluar masuk rumah ini” dia mulai penasaran denganku.


“Aku bukan seperti yang kamu maksudkan, aku hanyalah korban dari Kawaki. Aku di culik, di sekap dan di lecehkan serta di siksa. Bisakah kamu membantuku untuk keluar dari sini?” aku pun berharap dia mengerti dan kasihan kepadaku.


“Apa yang kamu perbuat hingga dia melakukan itu, berarti dia sangat membencimu. Hingga dia tak sanggup membunuhmu” ujarnya.


“Aku tak melakukan apapun” jawabku.


“Di dalam rumah ini, tak akan ada yang peduli terhadapmu bahkan mau kamu cerita ke siapa pun. Karena peraturan di rumah ini adalah mengurus masalah masing – masing dan tidak ikut campur dengan urusan yang lainnya” jelas Kanon.


“Bahkan kamu tak bisa membantuku, apakah dalam rumah ini tak ada yang memiliki hati nurani?” tanyaku kelu.


“Aku punya hati tapi tak bisa memberikan belas kasihku kepada buruan kakakku, dia gila dan sadis. Aku tak mau berurusan dengannya, dia pernah marah kepadaku dan dia mencoba membakarku” katanya sembari membuka seragam yang dikenakan.


Aku terkejut menatap punggungnya ada bekas luka bakar yang cukup besar.


“Beruntung aku masih hidup, sejak saat itu aku tahu mana batasanku hidup dengannya” katanya kemudian mengenakan seragamnya lagi.


“Apakah orang tua kalian tidak menegur kakakmu, itu perbuatan keji?” tanyaku mulai emosional menatap gadis remaja yang ada di depanku.


“Ayahku sangat menyayangi kakakku sedangkan ibuku sangat mencintai ayahku, hingga menutup mata tentang apapun yang terjadi. Kawaki adalah penerus dari klan Endo, dia di siksa dengan latihan yang cukup keras dari ayah. Maka segala yang dilakukan Kawaki, ayah tak memperdulikannya selama kakak tak keluar dari peraturan klan Endo. Sebuah bentuk kompensasi dari ayah” jelas Kanon dengan raut wajah agak sedih.


Aku tak bisa mengatakan apapun untuk menghiburnya, dia tumbuh dengan keluarga yang tak memperdulikannya. Aku sadar kenapa raut wajahnya selalu datar dan sinis, karena dia terlahir tanpa cinta begitu pun Kawaki.


Dia melangkah meninggalkanku, setibanya di depan pintu dia menoleh ke arahku lagi.


“Berjuanglah untuk hidup, aku yakin kakakku punya titik lemah” katanya lalu meninggalkanku sendiri di kamar.


Kata – katanya memberiku setitik harapan, aku sadar tak ada manusia kuat yang sempurna. Pasti Kawaki memiliki titk lemah, aku pun harus mencarinya agar bisa keluar dari jeratannya.


XXXXXXXXX