
Hiroshi terbangun di ranjang rumah sakit, dengan segenap luka di tubuhnya dia menatap langit – langit rumah sakit. Sebuah ruang rawat VVIP di salah satu rumah sakit Sapporo, hanya dirinya seorang terbaring disana. Kemudian suster masuk untuk mengecheck kondisi Hiroshi, melihat infus yang terpasang di lengan Hiroshi.
“Selamat pagi” sapa suster itu.
“Selamat pagi” jawab Hiroshi.
“Sepertinya anda akan pulih dengan cepat, lukanya mulai membaik. Hanya bengkaknya masih terlihat, apa masih ada yang terasa sakit atau nyeri?” tanya suster memastikan kondisi Hiroshi.
“Aku merasa baik – baik saja” jawab Hiroshi sembari bangkit dari tidurnya untuk duduk di atas ranjang.
“Sebentar lagi sarapan akan diantar beserta obat yang perlu anda minum untuk memulihkan kondisi anda, selamat beristirahat” kata suster dengan ramah.
Kemudian saat suster beranjak keluar berpapasan dengan ibu Hiroshi yakni bibi Ayane.
Ibu Hiroshi menghampiri putranya yang terduduk di atas ranjang, di tatapnya luka – luka yang ada di tubuh putranya. Dia duduk di pinggir ranjang sembari menyentuh wajah putranya yang masih lebam.
“Kenapa kamu harus berkelahi dengannya hanya untuk gadis jal@ng itu?” tanya ibu Hiroshi yang menyayangkan sikap putranya.
“Bu.. dia bukan gadis jal@ng, ibu tahu aku mencintainya. Dia mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya, aku tak sanggup melihatnya. Aku akan merebutnya dan membebaskannya bagaimana pun caranya” ungkap Hiroshi.
“Sadarlah, memangnya tidak ada gadis lain yang bisa kamu cintai. Aku tahu dia tumbuh dan besar bersamamu. Tapi dia tidak layak untuk kamu perjuangkan, jangan menjadi bodoh seperti ayahmu” kata ibu Hiroshi menegur putranya.
“Apa maksud ibu?” tanya Hiroshi tak mengerti.
“Sudahlah, yang jelas dia tidak akan bisa kamu lindungi atau kamu bebaskan. Dia sudah ditumbalkan untuk keselamatan keluarganya sendiri. Jangan ikut campur dengan klan Endo. Sebenarnya aku juga tidak setuju dengan rencana pertunanganmu dengan putri keluarga klan Endo. Kehidupan kita akan semakin rumit menjadi keluarga mereka. Bermitra dengan mereka memang menguntungkan bagi bisnis kita, tapi tidak untuk menjadi sebuah keluarga” jelas ibu Hiroshi yang enggan membahas mengenai ayah Hiroshi.
Hiroshi hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan ibunya.
“Aku sudah memikirkannya bu, aku akan menerimanya” aku Hiroshi membuat ibunya buang muka merasa tak senang mendengarnya.
Bibi Ayane berdiri lalu menatap menatap jendela memunggungi putranya.
“Kamu tahu pertunangan itu tak akan mudah di putuskan?” tanya bibi Ayane.
“Aku tahu, tapi aku harus masuk dalam permainan ini untuk bertahan” jawab Hiroshi.
“Aku berharap kamu dapat mempertimbangkannya lagi, karena penyesalan tak akan berguna setelah kamu terjerat ke dalamnya” bibi Ayane mencoba menggoyahkan keputusan putranya.
“Aku sudah yakin bu, kak Ryota dan ayah pun mengharapkan hal ini dapat ku putuskan. Aku tahu ke depannya akan semakin sulit aku tangani, tapi aku harus belajar dari kekalahanku saat ini” tegas Hiroshi dengan wajah penuh kemarahan.
Disisi lain…
Kanon adik tiri dari Kawaki telah menginjak kakinya di bandara menuju ke hotel tempat kakaknya berada. Kawaki dan aku duduk di restoran tertutup yang ada di dalam hotel untuk menyambut Kanon. Nampak Kanon dengan sweater phink dan mini skirt hitam menuju ke arah kami, dengan wajah dingin dia duduk di hadapan kami.
“Bagaimana perjalananmu?” tanya Kawaki basa – basi.
“Tak ada yang special” jawab Kanon.
“Siapkan dirimu, besok kamu akan bertemu calon tunanganmu. Dia sedang beristirahat hari ini, memulihkan tubuhnya yang lemah itu” kata Kawaki.
Aku melirik ke arah Kawaki dengan rasa tak suka atas apa yang dia katakan.
“Bagaimana pun dia, bukankah aku tak boleh mengeluh atau protes. Jadi aku akan menerimanya dengan senang hati” kata Kanon.
Seorang pelayan restoran datang ke tengah – tengah perbincangan kami, dia menyajikan makanan yang di pesan oleh Kawaki. Enju, Uta dan Jiro masuk bersamaan untuk bergabung.
Jiro duduk di samping Kawaki dan aku, sedangkan Enju dan Uta mengapit Kanon. Kami duduk saling berhadapan.
“Wah…makanan hari ini sangat berbeda, sepertinya karena kedatangan nona Kanon” sindir Uta.
“Tepat sekali, tak sabar rasanya untuk melahap semuanya” sahut Jiro.
“Kamu memang rakus, apapun makanannya pasti terlihat enak di matamu” celetuk Enju.
“Mari kita makan, kita perlu menyiapkan energi sebelum menyelesaikan para pembangkang dari tikus – tikus klan Aihara” kata Kawaki sambil tersenyum licik.
Kanon menatapku sesaat lalu menyapaku “Kamu nampak semakin kurus, apakah kakakku memperlakukanmu semakin buruk?”.
“Hei…diamlah, jangan membahasnya disini. Aku tak suka mendengarnya, aku selalu memberinya makan. Hanya saja aku tak menyuapinya” kata Kawaki sembari memalingkan pandangannya dari adiknya kepadaku.
“Aku baik – baik saja, seperti yang kamu lihat” jawabku lalu menggunakan sumpitku untuk menyuap nasi yang tersaji di mangkuk tepat di depanku.
Kanon terdiam menatapku menyuap makananku, lalu dia mengikuti untuk memulai makan.
Setelah kami selesai makan, Kanon yang berada di sebelah kamarku memilih untuk mengunjungiku saat Kawaki pergi bersama Jiro, Uta dan Enju.
“Biarkan aku masuk” kata Kanon kepada penjaga yang ada di depan kamarku.
Keduanya membuka kan pintu dan mempersilahkan Kanon masuk ke dalam kamarku.
Aku yang sedang terduduk sambil mendekat kedua kakiku di lantai menyandarkan punggungku di pinggiran ranjang menatap kedatangannya.
Kanon duduk di sebelahku tanpa sungkan, dia melihat tubuhku yang ku rengkuh.
“Apa kamu tidur dengan kakakku?” tanyanya langsung tanpa basa – basi.
“Terkadang dia menghampiriku dan seranjang denganku” jawabku sambil menatapnya.
“Kalian sudah melakukan $ex?” tanya Kanon penuh rasa ingin tahu.
“Apakah itu penting bagimu” ketusku.
“Kakakku sangat menginginkanmu, dia tak mungkin kuat menahan hasratnya untuk melakukan itu bersamamu. Aku sarankan jangan sampai hamil, saat kamu mengandung penerus klan Endo maka hidupmu akan berakhir” dia memberikan saran yang sama sekali tak ku duga.
Aku tersenyum menatapnya lalu berkata “Dia tak berani melakukannya, katanya tubuhku seperti candu baginya. Aku bahkan tak terpikirkan sejauh itu bisa hambil benih darinya. Bagiku ini sudah cukup mengerikan, meski aku tak tahu kapan semua berakhir”.
“Cobalah ikuti permainannya, jangan sering memberontak atau terus menolak permintaannya. Setidaknya dia tak akan menyakitimu. Kawaki memang tumbuh tanpa hati dan sadis, tapi sebenarnya dia hanya tak ingin ada yang tak sesuai dengan keinginannya. Lihatkah aku, dengan begini aku bisa hidup tanpa merasa takut kepadanya” tambahnya dengan wajah polos.
Aku tahu dia pasti punya trauma tersendiri terhadap sikap kakak tirinya yang telah melukainya. Hingga dia mencoba menelannya dan hidup sesuai kemauan kakaknya itu. Dia bahkan tak berani memberontak atau menolak, pasti Kawaki sangat kejam terhadapnya. Bohong kalau dia tak punya rasa takut, kepatuhannya itu hanya untuk bertahan hidup tanpa di ganggu Kawaki.
XXXXXXXXXXXXXX