
“Dia bukan milikmu, dia bukanlah barang yang bisa kamu miliki sesukamu. Bahkan kamu mencoba menculiknya dari keluarganya, sangat menyedihkan. Apakah ibumu tidak pernah membelikan mainan untukmu, hingga kamu harus mencuri milik orang lain?” sindir Hiroshi.
Tatapan Kawaki berubah makin ganas, aku sadar itu semua karena Hiroshi menyinggung kata ibu yang membuat Kawaki panas.
Kawaki berdiri dan naik ke atas meja lalu mengambil empat botol alcohol dari atas meja. Sembari tersenyum lalu dia melempari Hiroshi botol tersebut bertubi – tubi. Hiroshi mencoba melindungiku, dengan memelukku. Punggungnya terkena empat botol tersebut… “PYARRRR…PYARR…..PYARR…PYARRRR!!!”.
Suara pecahan botol mulai menggema di dalam ruangan.
“Hei…anak konglomerat sepertimu hanya bisa seperti katak dalam tempurung, yang selalu di susui oleh ibumu. Sedangkan aku di tinggalkan ibuku sejak kecil, jadi aku bisa menatap dunia tanpa takut. Memiliki apa yang ingin aku miliki” kata Kawaki dengan kedua tangannya berpangku di dada.
“Biar kami saja yang memberi pelajaran kepadanya” kata Uta.
“Jangan… dia akan jadi calon adik iparku, aku yang harus mengajarinya” jawab Kawaki.
Hiroshi menatapku dengan wajah sedih, menyentuh pipiku yang merah bekas gambar tangan Kawaki.
“Maaf kan aku Chiyo… tak bisa melindungimu. Aku akan berusaha membawamu kembali ke keluargamu” bisik Hiroshi kepadaku.
“Jangan lakukan itu Hiroshi, kamu akan terluka dan bisa saja terbunuh. Dia bukan lawanmu, dia pria gila dan sangat brutal” aku pun menasehati Hiroshi.
“WOIIII….Kemarilah, lawan aku bila kamu bisa mengalahkanku maka bawalah gadis itu pergi selamanya” tantang Kawaki yang masih berdiri di atas meja.
Aku memegang tangan Hiroshi sambil menatapnya sedih, “Jangan lakukan, dia tahu kamu akan kalah”.
“Tenanglah, setidaknya aku berusaha untuk membebaskanmu. Aku harus mencobanya, aku tak mau menjadi pengecut melihat gadis yang aku cintai di lukai” katanya dengan tekat yang bulat.
Dia menepis tanganku dari tangannya dan melangkah dengan percaya diri menghadapi Kawaki. Nampak punggungnya berdarah terluka karena pecahan botol.
“Jangan!!!” teriakku histeris.
Aku mencoba melangkah menggapai Hiroshi namun Uta dan Enju dengan sigap mengapitku, memegangi kedua tanganku hingga aku tak dapat bergerak.
“Lepaskan aku!!!” bentakku kepada Uta dan Enju.
“Diamlah…jal@ng, akan ada tontonan menarik yang menantimu” kata Uta sambil tersenyum remeh.
“Berhenti Hiroshi…ku mohon, jangan lakukan hal bodoh itu. Dia bisa membunuhmu!” teriakku memberi peringatan kepada Hiroshi yang tengah berhadapan dengan Kawaki.
“Diamlah, anak bodoh itu yang memulai maka dia harus di kasih pelajaran” tambah Enju.
Kawaki dan Hiroshi berdiri di atas meja berhadapan dengan tampang bengis, sedangkan Jiro menunggu di depan pintu memastikan tidak ada yang masuk. Aku yang diapit Enju dan Uta berdiri di sudut ruangan menatap keduanya.
“Lawan aku, sebisamu” kata Kawaki sambil tersenyum remeh.
“Aku akan melakukan segalanya untuk Chiyo, bersiaplah” kata Hiroshi tak gentar.
Hiroshi mulai menyerang Kawaki dengan pukulan bertubi – tubi, dengan mudah Kawaki membaca gerakan Hiroshi yang lamban. Kawaki terus menangkis, meski Hiroshi mulai melayangkan tendangannya pun tak pernah bisa mengenai tubuh Kawaki.
“Lanjutkan, hingga kamu puas” kata Kawaki dengan remeh yang sedari hanya melakukan pertahanan dan menghindar tanpa menyerang.
Dia ingin tenaga Hiroshi habis lalu mengalahkannya dengan mudah. Jelas Hirohi tak jago bela diri atau pun bertarung, dia sangat mudah terbaca dan terkalahkan. Setelah di rasa Hiroshi mulai melemah dan semakin melamban, Kawaki mulai melakukan serangan mendadak. Sebuah tendangan keras mengenai perut Hiroshi hingga tubuhnya terpental jatuh ke bawah meja “BRUKKKK!!!”.
“Hiroshi!” teriakku.
Kawaki menghampirinya yang terbaring di lantai dengan memegangi perutnya.
Kawaki langsung menunggangi tubuh Hiroshi, mencegkeram kerah bajunya dan meninjunya berkali – kali.
“Beraninya kamu menyebut ibuku, tahu apa kamu tentang ibuku. Bahkan ayahmu saja tak mampu memilikinya, begitu dengan dirimu tak akan mampu memiliki Chiyo. Dia milikku” katanya sembari melayangkan pukulan ke wajah Hiroshi.
“Ku mohon lepaskan dia…. Kawaki, dia bisa mati kamu pukuli seperti itu. Jangan bunuh dia, akan ku berikan apapun yang kamu mau dariku!!!” teriakku kepadanya karena panik melihat Hiroshi muntah darah.
Kawaki langsung melepaskan Hiroshi yang sudah tak berdaya dan beralih kepadaku.
“TAP…TAP..TAP…” suara langkah kakinya berjalan santai dengan tatapan tajam ke arahku.
“Lepaskan dia” perintah Kawaki kepada Enju dan Uta yang sedari tadi memegangiku.
Saat mereka melepaskanku, sontak aku berlari ke arah Hiroshi namun di halangi oleh Kawaki.
“Mau kemana, urusanmu hanya denganku” kata Kawaki memegangi tubuhku.
“Ku mohon biarkan aku memastikan keadaannya, lepaskan aku” rengekku sambil meronta.
“Dia tidak akan mati hanya dengan pukulan ringan seperti itu, dia memang pria yang lemah. Aku heran kenapa kamu menyukainya, sok menjadi pahlawan dengan tenaga selemah itu sangat memalukan” sindir Kawaki lalu menggendongkku di pundaknya.
“Lepaskan…lepaskan aku, ku mohon biarkan aku bersamanya!!!” teriakku tanpa ada yang memperdulikanku.
Saat keluar dari pintu, Kawaki meminta Jiro menghungi Ryota untuk mengambil adiknya yang babak belur di dalam. Tubuhnya lemas terkulai terkapar di lantai.
“Hubungi kakaknya, biar kakaknya membawanya pulang dan mengobatinya” perintah Kawaki.
“Baiklah akan ku telepon sekarang” jawab Jiro lalu mengambil ponselnya.
Kawaki dengan menggendongku berjalan meninggalkan ruangan VVIP itu menuju basement. Air mataku menetes tak terkendali, ini sama halnya dengan malam pertunanganku. Saat Kawaki menikam Hiroshi dan aku tak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa menatapnya dari belakang.
Setelah beberapa saat kak Ryota datang melihat adiknya terkapar di lantai ruang VVIP ditemani oleh manager night club.
“Hiroshi apakah kamu bisa melihatku dengan jelas?” tanya kak Ryota memastikan adiknya sadar.
“Ku mohon selamatkan Chiyo, dia pasti akan di siksa lagi” gumam Hiroshi dengan suara lirih.
“Diamlah, jangan mengurusi hidup orang lain. Urusi saja dirimu yang terluka seperti ini, sudah aku bilang lupakan gadis jal@ng itu” kak Ryota mencoba menasehati adiknya sembari memapah tubuh adiknya.
“Jangan sebut jal@ng, dia adalah korban dari tindakan gila sang anak Yakuza itu” protes Hiroshi.
Namun kak Ryota tak ingin menanggapi ucapan adiknya, dia hanya diam dan membantu adiknya berjalan ke mobil.
Setibanya di mobil kak Ryota langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat. Di perjalanan dengan luka babak belur Hiroshi masih bisa bersuara.
“Dia itu binatang, dia memperlakukan Chiyo dengan tidak senonoh serta melakukan tindakan kekerasan. Aku harus melaporkannya kepada polisi, Chiyo akan mati kalau terus menerus di siksa” ungkap Hiroshi.
“Diamlah, yang mati adalah dirimu kalau terus berurusan dengan Kawaki. Dia akan membunuhmu kalau kamu terus ikut campur dengan urusannya. Chiyo akan tetap menjadi miliknya kecuali dia mati” dengan tenang kak Ryota menanggapi.
Hiroshi mulai melemah dan tak lagi bersuara, energinya terkuras habis dan tubuhnya remuk redam.
XXXXXXX