
Sepulangnya dari pertemuan bersama para mantan tetua klan Aihara, Kawaki menyambangiku ke kamar.
“BRUUKKKK!” dia menghampaskan tubuhnya ke ranjang tepat di sampingku terbaring.
Dengan sigap tangan kirinya memeluk pinggangku, kaki kirinya menindih kakiku. Dengus nafasnya terdengar di telingaku, aroma rokok yang pekat memenuhi tubuhnya.
Aku hanya terdiam membisu mendapat perlakuan yang sudah biasa dia lakukan ini, meski aku sangat risih di sentuh olehnya tapi tak cara untuk melepaskan diriku.
Lama – lama dia mendekatkan kepalanya ke belakang kepalaku, mempererat pelukannya hingga tak ada jarak diantara kami. Aroma rokok yang memuakkan seakan menempel ke sekujur tubuhku.
“Punggungmu terlalu kurus, seperti memeluk tulang belulang” sindirnya pelan.
“Kalau begitu lepaskan aku” sahutku menerima nyinyirannya.
“Pinggangmu sangat kecil” katanya seraya menyingkap t-shirt yang aku kenakan lalu menyentuh kulit pinggangku dengan lembut.
Aku hanya bisa mematung mendapati dirinya mulai berulah.
“Lantas kenapa kamu terus melakukan hal menjijikkan seperti itu dengan menyentuh tubuhku” keluhku.
“Ingin saja” aku nya membuatku semakin kesal atas tindakan semena – menanya.
Dia mulai menyingkap rambutku dan menciumi telinga dan leherku, perlahan jemarinya mengarah ke dadaku dan meremas keduanya bergantian. Aku mencoba memegang jemarinya untuk menepisnya dari dadaku, namun remasnya semakin keras.
“AAARRRGGGHH” eranganku yang merasakan sakit atas apa yang dia lakukan.
Tiba – tiba ponselnya bergetar di saku jaket kulit yang di kenakannya, dan aku terselamatkan oleh itu.
Kawaki menyudahi tindakannya lalu bangkit dan mengangkat telepon.
“Hallo… ada apa Jiro?” tanya Kawaki.
“Rumahnya terbakar” kata Jiro.
“Rumah siapa yang kamu maksudkan?” tanya Kawaki dengan mengernyitkan dahinya.
“Rumah gadis itu, Chiyo” jawabnya.
“Apa! Apakah ini ulah klan Aihara?” tanya Kawaki dengan wajah terkejut.
“Aku belum tahu pastinya, aku mencoba mengecheck kawasan disini dan menemukan pemadam kebakaran sudah standby menghentikan kobaran api yang menghanguskan hampir seluruh bangunan” kata Jiro yang berada di lokasi kejadian.
“Aku akan segera kesana” kata Kawaki lalu menutup teleponnya.
Aku dengan sigap menghentikan langkah Kawaki yang beranjak keluar dari kamar.
“Rumah siapa yang terbakar?” tanyaku dengan tatapan mata penuh kecurigaan.
“Rumahmu” katanya tenang.
“Apa!” aku histeris mendengarnya.
Aku berusaha menahannya dan berkata “Izinkan aku pergi bersamamu, aku perlu melihat sendiri”.
Kawaki hanya membisu, kami pun pergi dengan menuju ke rumahku yang sedang terbakar itu.
Nampak dari jauh kobaran api yang menyisakan kepulan asap menjulang tinggi. Para petugas kebakaran dengan sigap berkoordinasi melakukan pemadaman. Aku yang melihatnya dari jauh di dalam mobil mulai berkaca – kaca. Ku lepaskan sabuk pengaman lalu membuka pintu mobil dan berlari ke arah rumahku yang terbakar.
“Tidak… tidak… “ gumamku dengan mata berkaca – kaca.
Kawaki menyusulku dan menahan tubuhku yang berusaha mendekat.
“Lepas kan aku, tidak… lepaskan aku….!” Teriakku di tengah kerumunan orang yang melihat kebakaran itu.
Kawaki lalu dengan paksa menggendongku sambil berkata “Tenanglah”.
Aku tak sanggup menahan tangisku, rumah yang sejak kecil aku tempati. Banyak kenangan indah disana bersama kedua orang tuaku kini hangus terbakar.
“Rumahku…rumahku…” kataku lirih yang di masukkan paksa ke dalam mobil oleh Kawaki.
Di dalam mobil Kawaki memakaikan sabuk pengaman dan bergegas meninggalkan lokasi. Aku terus menangis menatap ke depan, Kawaki yang melihatku hanya membisu tanpa mengatakan apapun. Dia menyeretku kembali ke kamar, aku meringkuk di ranjang sambil terus menangis.
Dengan tangan di pinggang dan berjalan wara – wiri di hadapanku, dia mulai angkat bicara.
“Diamlah tidak ada yang perlu di tangisi, kedua orang tuamu sudah di evakuasi. Seluruh keluargamu selamat, sedangkan rumah masih bisa beli lagi atau membangunnya kembali. Tidak perlu kamu menangisi bak drama queen seperti itu” tegurnya yang kesal melihatku menangis.
“Disana banyak kenangan indah bersama keluargaku, dari bayi hingga sekarang rumah itu menjadi saksi keberlangsungan hidupku” ungkapku yang masih meringkuk di ranjang.
“Harusnya kamu merasa beruntung keluargamu masih hidup dan hanya rumahmu saja yang hangus. Para bedebah dari sisa pengikut klan Aihara itu tak menewaskan kedua orang tuamu. Ini adalah genderang perang yang di tujukan kepada klan Endo” kata Kawaki dengan tegas.
“Ini semua karenamu, menyeretku kedalam semua pertikaian tak berujung. Bahkan ayah dan ibuku harus hidup mengungsi dan tak bisa menikmati kedamaian” sahutku seraya duduk dan menatap ke arahnya dengan kesal.
Kawaki lalu mencengkeram rahangku dengan tatapan tajam.
“Berani sekali kamu menyalahkanku, aku sudah berusaha menolongmu. Kalau bukan karena ayahmu adalah salah satu alumni dari anggota klan Aihara, mereka tak akan tersulut sejauh ini. Hanya dengan anak gadisnya bersamaku, itu adalah sebuah pengkhianatan bagi mereka” jelasnya membuat mataku terbelalak tak percaya mendengarnya.
Lalu dia melepaskan cengkeramannya dan mengambil rokok di saku jaketnya, duduk dan mulai merokok.
“Apa maksudmu kalau ayahku adalah mantan anggota klan Aihara, ayahku tak pernah mengatakan apapun mengenai hal itu” aku mulai mencari kebenaran dari ucapannya.
“Sangat di sayangkan kamu harus mendengar ini dari orang lain, mungkin pencitraan ayahmu sebagus itu di matamu. Di masa mudanya bersama Fukoda, mereka masuk ke dalam klan Aihara. Fukoda memutuskan keluar setelah scandal yang dia lakukan lalu dia memulai bisnisnya dan berkolaborasi dengan klan Endo. Setelah itu ayahmu ikut pensiun dan memutuskan hidup menjadi warga biasa. Fukoda mencoba membantu ayahmu dalam bisnis dan berhasil hingga saat ini” jelas Kawaki.
“Setahuku mereka teman SMP, mereka tak pernah membicarakan mengenai klan Aihara” tepisku tak terima menerima cerita Kawaki.
“Mereka memang teman SMP, dimana Fukodalah yang mengajak ayahmu untuk ikut terjun ke dunia Yakuza dan masuk ke dalam klan Aihara. Menurutmu kenapa klan Endo mau bekerjasama dengan Fukoda, itu karena dia tahu seluk beluk dunia Yakuza terutama klan Aihara” tambah Kawaki.
Sontak aku mulai berpikir ulang dari yang merasa apa yang di bicarakan Kawaki tak masuk akal, kini menjadi jelas terlebih bisnis raksasa paman Fukoda di naungi oleh bantuan klan Endo. Bahkan dia tak menolak sikap semena – mena dari Kawaki. Pasti banyak rahasia diantara paman Fukoda dan klan Endo.
Jadi rumahku yang terbakar adalah bukti sanksi yang berikan klan Aihara kepada ayah selaku mantan anggota dari klan tersebut, yang dianggap sebagai pengkhianat. Berarti ini bukanlah masalah yang mudah untuk kami hadapi bersama.
XXXXXXXX