
Setelah hari itu, beberapa hari kemudian keluarga memutuskan untuk bertemu dari kedua belah pihak. Kami duduk melingkari sebuah meja makan panjang di kediaman paman Fukoda, ayah Hiroshi. Nampak kak Ryota sejak awal berwajah dingin tak senang mengenai hal ini.
“Hiroshi meminta izin kepadaku untuk menikahi Chiyo, namun mempertimbangkan usia Chiyo dan Hiroshi yang masih sangat muda ku putuskan untuk bertunangan terlebih dahulu. Sampai mereka tamat sekolah” kata ayah Hiroshi memulai pembicaraan dimana memecahkan keheningan yang sedari tadi terasa diruang makan yang cukup luas itu.
“Chiyo sudah mengatakan maksud Hiroshi, selama putriku menerima maka kami selaku orang tuanya akan mendukungnya” balas ayahku.
“Aku tak tahu, kalau mereka berdua tumbuh dengan perasaan suka satu sama lain. Aku sangat senang kita tak hanya sahabat tapi kini menjadi calon keluarga” tambah ayah Hiroshi.
“Benar, aku pun tak menduganya” aku ayahku.
Mereka tertawa bersama, namun ibu Hiroshi mulai angkat bicara.
“Aku berharap pertunangan ini tak merugikan putra kami, terlepas dari apa yang terjadi kepada Chiyo. Kami tahu kalau keduanya saling menyukai satu sama lain, tapi semoga hubungan ini tak mendatangkan masalah” kata ibu Hiroshi.
“Apa maksudmu?” tanya ibuku tak suka.
“Chiyo berkencan dengan anak dari partner bisnis kami, pasti akan ada dampak negative sebelum jelas hubungan mereka berakhir terlebih dahulu” jelas kak Ryota.
Ibu langsung menatapku tajam, kemudian Hiroshi angkat bicara.
“Aku percaya kepada Chiyo, dia tidak melakukan hal yang salah hanya saja Chiyo sedang dalam situasi diancam. Dia tak mengatakan apapun, karena dia menanggung semua terror dan penindasan sendiri. Maka dari itu, aku sebagai laki – laki yang mencintainya, ingin melindungi Chiyo seutuhnya” aku Hiroshi membuatku terenyuh.
Semua terdiam…
Berhari – hari terjadi perdebatan panjang antara orang tuaku bahkan keluarga Hiroshi. Tapi tetap di putuskan pertunangan akan diadakan secepatnya. Aku diungsikan ke kediaman paman Fukoda, agar aman hingga hari pertunangan.
Berangkat dan pulang sekolah, aku di kawal oleh bodyguard dari keluarga Hiroshi. Megumi sampai tak habis pikir dengan apa yang terjadi, setelah aku curhat kepadanya.
“Chiyo… ini kesempatanmu untuk keluar dari jeratan si iblis itu” katanya.
“Entahlah… aku merasa masih tak aman dengan keputusan pertunanganku ini. Aku tahu Hiroshi menunjukkan keberaniannya melindungi ku, tapi aku juga tahu seberapa kegilaan Kawaki” kataku.
“Aku akan selalu mensupport apapun yang terbaik untukmu, percayalah… semua akan baik – baik saja. Keiji sekarang sudah beraktivitas seperti biasa, aku menemuinya kemarin. Kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan, meski aku merasa sedih tapi menurutku inilah yang terbaik untuk kami berdua. Kamu pun bisa memilih jalanmu sendiri” tambah Megumi.
Kami saling melempar tatapan penuh arti, aku merasa senang masih ada sahabat terbaikku yang mendukungku.
Malam pertunangan pun datang…
Acara di gelar di salah satu hotel milik keluarga Hiroshi yang berada di Sapporo. Aku di salah satu kamar, sedang mempersiapkan diri di make up dan mengenakan gaun pertunangan kami biru langit. Gaun panjang yang terbuat dari sutera, dengan rambutku tersanggul modern.
Setelah MUA dan fashion designer selesai melakukan make over kepadaku, mereka pun berpamitan. Aku pun tinggal sendirian di kamar hotel dengan menatap arah luar jendela, mengamati malam dengan penuh bintang. Ada suara langkah kaki masuk ke kamar, “TAP…TAP…TAP”.
Pantulan wajahnya ada di kaca depanku, terlihat Kawaki berdiri di belakangku. Sontak aku terkejut, aku langsung menoleh kearahnya.
“Kamu…bagaimana bisa kamu menerobos kesini”.
“Menurutmu siapa aku? Aku datang untuk mengucapkan selamat kepadamu”.
“Aku tak akan tertipu dengan ucapanmu, keluar dari kamarku!”.
“Berani sekali kamu mengusirku, menurut kamu siapa? Owh calon tunangan dari konglomerat Hokkaido. HAHAHAHAAHA….mereka tak akan seperti ini tanpa sokongan dari klan kami. Lantas aku harus segan menatapmu, jangan bermimpi. Kamu tetaplah jal@ng milikku”.
“Dasar breng$ek!”.
Dia menarik ku tubuhku, menghempaskan ke ranjang dan menindih ku. Mencekik ku hingga aku sulit bernafas, aku hanya bisa meronta mencoba melepaskan tangannya dari leherku.
“Le…pas…kan…aku” kataku terbata – bata.
“Tak ada satupun yang bisa memilikimu selain diriku, tubuh dan nyawamu adalah milikku….kamu dengar milikku. Barang yang ku tandai tak akan pernah bisa lepas dari tanganku” katanya dengan mata berapi – api.
“ARRRGHHH…!!! Kamu benar – benar gila, aku akan membunuhmu!!!” teriakku mencoba melepaskan diri.
“Cobalah membunuhku kalau kamu mampu. Menurutmu dirimu sangat cantik hah! Sampai sebegitu gatal menarik perhatian anak konglomerat itu, menggoda laki – laki dengan tubuh kotormu itu!” dia mulai meracau dengan kemarahan meledak – ledak.
Dia dengan emosi yang tak terkendali, merobek gaun yang ku kenakan hingga tubuhku setengah telanj@ng. Basah terguyur air dari shower, dengan tubuh tak bisa bergerak karena diapit oleh tubuhnya. Aku yang bersandar di tembok dengan kedua pergelangan tanganku di cengkeram oleh tangan kanannya, paha kiriku di tariknya dan ditahan menempel di pinggangnya dengan tangan kirinya. Lantas dengan binal dia menciumi wajahku dan leherku, dengan guyuran air yang mengalir dari shower yang berada diatas kami.
Megumi berjalan masuk ingin memastikan keadaanku untuk bersiap ke ballroom, namun dia nampak terkejut mendapati diriku di lecehkan oleh Kawaki di dalam toilet.
“AAAAAAAA!!!!” teriaknya, dia bergegas berlari keluar mencari pertolongan. Megumi bertemu Hiroshi di lorong arah kamarku. Akhirnya Megumi meminta Hiroshi segera menyelamatkanku, sedangkan Megumi menuju ke ballroom untuk mengabari keluarga dan security hotel.
Hiroshi berlari menuju kamar, aku sudah tergeletak lemas di pinggiran pintu toilet. Kawaki melepaskan bajunya, dan bertelanj@ng dada sedang menelpon Asahi untuk segera menjemput kami.
Aku pun tak tinggal diam, ku raih lampu meja di atas meja di sebelah ranjang lalu memukul kepalanya namun dia berhasil menghindar. Kami pun berkelahi, aku terus melakukan serangan dengan tendangan dan pukulan. Tapi dengan ritme yang cukup cepat dia sigap menangkis serangan ku, dan melayangkan tendangan ke perutku. Di raihnya tengkuk leherku lalu dengan cepat di hantamnya wajahku ke meja hingga hidung berdarah, dan keningku memerah. Lantas menamparku, membanting ku ke lantai dan menginjak atas dadaku.
“HENTIKAN!!!” teriak Hiroshi yang datang ke dalam kamar.
“Ini calon tunanganmu telah datang” kata Kawaki yang berdiri tepat di atas ku tubuhku yang terinjak.
“Lepaskan tunanganku, kamu tak akan lepas dariku. Polisi sudah berjalan ke sini, dan security pun sudah siap menuju kamar” kata Hiroshi dengan lantang.
“Bukan tunangan wajib di ralat menjadi calon tunangan, HAHAHAHA… kamu sangat lucu sekali. Menurutmu aku takut dengan ancamanmu. Aku tak akan gentar dengan apapun” kata Kawaki.
“Larilah Hiroshi, dia bukan tandinganmu. Ku mohon larilah” kataku yang masih terkulai di lantai.
Aku tahu Hiroshi tak bisa berkelahi, dia cukup lemah dalam bela diri.
“Menarik, kamu di suruh untuk pergi. Maka pergilah, sebelum aku membunuhmu. Aku berjanji kepada kakak mu untuk tak membunuhmu” kata Kawaki.
Tapi Hiroshi malah berjalan ke arah Kawaki dan menyeruduk perut Kawaki, mencoba melakukan perlawanan. Kawaki langsung memukuli punggung Hiroshi dan membantingnya ke lantai. Dengan sekuat tenaga aku berdiri, mengambil kursi dan ku lempar ke arah Kawaki. Tapi dia masih berdiri tegap menghempas kursi itu dengan tangannya.
Kak Ryota datang lantas berkata “Kamu bisa pergi sekarang”.
Jadi kak Ryota dibalik keberhasilan Kawaki mengakses keamanan hotel dan menerobos masuk ke kamarku. Sungguh tega sekali…aku hanya terdiam terpaku melihat kak Ryota di depan pintu kamar.
“Sebentar lagi security tiba disini, sekarang waktunya untuk pergi” tambah kak Ryota.
Kawaki langsung menaikkan tubuhku dan memikul tubuhku di bahu kanannya.
“Lepaskan aku, dasar iblis…breng$ek!!!” teriakku.
Hiroshi bangkit dan menghalangi langkah Kawaki.
“Kamu tidak akan bisa mengambil Chiyo dariku” tegas Hiroshi. Tanpa basa basi Kawaki langsung dengan cepat menggores kedua kaki Hiroshi dengan pisau kecil miliknya, yang diambilnya dari saku celananya. Lantas menusuk perut Hiroshi dan berkata “Dia milikku”.
Kak Ryota langsung menghampiri adiknya yang berlumur darah ambruk ke lantai.
“Kenapa kamu melakukan ini kepada adikku?” protes kak Ryota sambil memeluk adiknya dengan menutup perut adiknya yang robek karena ditikam untuk meredam darah yang terus mengucur.
“Dia menghalangiku, aku tak membunuhnya aku hanya menusuknya. Tenanglah dia akan tetap hidup, karena aku tak menikamnya terlalu dalam” jawab Kawaki.
“Pastikan keluargamu tak menghalangiku atau akan bernasib sama dengan klan Aihara” ancam Kawaki sembari meninggalkan Hiroshi dan kak Ryota di dalam kamar.
“Hiroshi, maafkan aku” kataku menatapnya sedih.
...xxxxxxxxxxxxxx...