
“Bangunlah… kita akan berpesta” kata Kawaki yang melihatku tertidur di ranjang.
“Buuuk…!!!” sebuah goodie di lempar ke ranjang tepat di samping tubuhku terbaring.
“Kenakan itu” perintahnya lalu duduk di kursi dan mengambil sebungkus rokok dari hoodie yang di kenakannya.
Aku membuka mataku, menatap goodie bag yang ada di sebelahku. Lalu aku buka isi dari goodie bag tersebut, sebuah mini dress berwarna merah maroon polos dengan lengan panjang serta sebuah kalung model choker (kalung yang ketat menempel di leher) berwarna hitam dengan ornament gold di tengahnya.
“Apakah kamu mengajakku pergi ke night club?” tanyaku memastikan.
“Kenapa, tidak suka? Aku tidak butuh komentarmu, kenakan lalu kita bergegas pergi. Jiro dan Enju sudah disana bersama Uta yang baru datang dari Tokyo hari ini” jawabnya dengan rokok menyala di jemari tangan kanannya.
Rasanya malas untuk berdebat dengannya, menolak pun percuma karena dia akan memaksa dengan menyiksaku. Aku pun membawa goodie bag itu dengan malas melangkahkan kakiku ke toilet untuk berganti pakaian.
Tanpa riasan aku pun mengenakan mini dress dan kalung itu, rambutku tergerai tanpa ku sisir. Aku bergegas keluar dari toilet, Kawaki mengamati wajahku hingga ke kakiku.
“Kenakan sepatumu, kita bergegas pergi” katanya sambil menarikku.
Setibanya di basement, kami berpapasan dengan Hiroshi yang baru saja memarkirkan mobilnya.
DEGH…
Tatapannya langsung tertuju kepadaku, dia langsung menghampiriku yang ada di depan mobil sedan sport warna putih.
“Kalian mau kemana?” tanya Hiroshi.
“Bukan urusanmu” ketus Kawaki.
“Aku harus tahu kemana calon kakak iparku pergi, agar bisa menyesuaikan lingkup pergaulan kita” sahut Hiroshi.
“Kami akan bersenang – senang, ah sepertinya anak cupu jarang pergi di malam hari. Anak baik hanya sibuk di siang hari, berbeda dengan kami. Aktivitas malam kami sangat padat” ungkap Kawaki dengan sindiran tajam.
“Kalau begitu, ajari aku. Biarkan aku ikut dengan kalian” kata Hiroshi.
Kawaki menatapku lalu menjawab “Baiklah, ikut saja bersama kami”.
Kawaki memegang setir mobil, aku duduk di sampingnya sedangkan Hiroshi duduk di kursi belakang.
Hiroshi melepaskan jaket yang dia kenakan menutupi pahaku yang terlihat di kursi depan.
“Pakailah” katanya.
“SRETTTT!!!” lalu di buang oleh Kawaki ke jok belakang.
“Tidak perlu, aku sengaja tak menutupinya agar aku bisa menyentuhnya” kata Kawaki sangat vulgar.
Hiroshi dengan mimik marah dia meremas jaketnya, dia menatap tak suka kepada Kawaki yang sedang memegang setir mobil. Aku hanya bisa menghela nafas ditengah ketegangan antara keduanya. Kawaki mulai menginjak pedal gas dengan kencang dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesekali dia meraba pahaku, yang membuatku risih dan memancing emosi Hiroshi. Aku hanya bisa terdiam menerima perlakuan tidak senonohnya itu. Lalu mencoba menepis tangan si breng$ek Kawaki, namun dia malah menggenggam tanganku dengan erat. Nampak dari spion tengah, wajah Hiroshi menahan emosinya yang sudah mulai membuncah.
Setibanya di sebuah night club di Sapporo, Kawaki keluar kemudian menarik tubuhku dan merangkulku menuju gate depan night club. Hiroshi yang berdiri di sebelahku hanya bisa menatapku dengan marah.
Kami pun masuk di ruang VVIP yang telah di booking oleh Enju sebelumnya, nampak Enju, Uta dan Jiro dengan berpesta minuman alcohol bersama beberapa wanita malam. Asap rokok mulai tercium menyegrakkan pernafasanku, sangat pekat.
Seorang wanita setengah telanj@ng sedang menari meliuk – liukkan tubuhnya diatas meja. Aku tahu Hiroshi risih menatapnya, namun dia mencoba untuk tenang dengan wajah datar. Kawaki menggiringku duduk di sofa paling ujung menghadap ke depan, sedangkan Hiroshi duduk di sofa bagian kanan menghadap ke arahku.
“Bawakan wanita lagi untuk tamu kita ini” perintah Kawaki kepada manager night club yang berdiri di depan pintu.
Segera manager itu memanggil dua wanita dewasa dengan dress terbuka serta riasan yang tebal. Mereka berdua duduk mengapit Hiroshi, nampak Hiroshi tidak nyaman dengan kedua wanita itu yang mulai menempel kepada dirinya. Tanpa sadar aku tertawa melihatnya “hahaha…”.
“Kamu pasti seperti Kawaki, membenci bau parfum yang menyengat. Bercanda… mereka seperti junior di sekolah yang menempel kepadamu” sindirku.
“Chiyo…tolong singkirkan mereka, aku merasa tidak nyaman” katanya sambil menempis tangan para wanita yang mencoba merabanya.
“Lepaskan…Hiroshi bukan pria cabul sepertimu, harusnya kamu sadar yang kamu lakukan adalah pelecehan terhadapku” protesku sambil melepaskan tubuhku dari rangkulannya.
“Lepaskan…Chiyo, dia tidak sama dengan wanita yang ada disini” Hiroshi mulai angkat bicara.
“Harusnya kamu tahu posisi, dia milikku dan aku berhak melakukan apapun” kata Kawaki dengan wajah dinginnya menatap tajam ke arah Hiroshi.
Suasana menegang, Jiro,Enju dan Uta sedari tadi tak bersuara mulai saling memberikan kode dengan tatapan mata mereka.
“Sudahlah, hai teman…nikmatilah malam ini dengan bersenang – senang. Kalau kamu mau belajar, kedua wanita ini akan membantumu” kata Uta mencoba mencairkan ketegangan.
“HEHEHEHE…benar, atau penari yang ada di depan kita ini. Dia jago dengan berbagai gaya, kamu bisa menikmatinya juga” tambah Enju.
“Minum dulu sebagai permulaan…biar malam panasmu makin menggebu” Jiro pun ikut andil berbicara menyerang Hiroshi.
Hiroshi menatap ke semua orang yang ada disana, lalu dia mengambil botol berisi alcohol dan menegukknya beberapa kali.
“Hiroshi…hentikan, kamu tidak bisa minum” kataku memperingatkan.
“Diamlah, jangan ikut campur. Lebih baik fokus saja pada dirimu sendiri” kata Kawaki menatapku tajam kemudian menyergapku yang ada disampingnya.
Mendekapku dan menciumku secara paksa, aku terkejut dan mencoba melepaskan diri. Semakin aku memberontak tubuhku seakan makin menempel dengan tubuhnya. Hiroshi yang melihatnya dengan spontan melempar botol alcohol yang di pegangnya ke arah Kawaki.
“Awas…Kawaki!” teriak Uta.
Kawaki tak bergeming, botol itu mengenai kepala.. “PYARRRR!!!!”
“AAAAAAA…..!!!! Kepalanya berdarah!” teriak penari yang berdiri di atas meja, dia pun turun dan keluar.
“Bang$at!!! Apa yang kamu lakukan anak bodoh!” protes Enju yang duduk di satu sofa dengan Hiroshi kemudian berdiri dan mencengkeram kerah bajunya.
Kawaki masih tetap menciumi bibirku dengan panas dan brutal, lalu meraba pahaku hingga ke atas mendekati muara inti milikku.
“Lepaskan dia!!!” Teriak Hiroshi yang masih menatap Kawaki tajam tanpa menghiraukan Enju yang ada di depannya.
Tak tahan dengan perlakuan Kawaki, seketika aku mengigit bibir Kawaki hingga berdarah.
“Dasar…pel@cur” katanya yang telah melepaskan bibirku dan menatapku tajam.
“PLAAAKKKKK!!!” tamparan keras mendarat ke wajahku hingga menimbulkan warna merah di wajahku.
“Beraninya kamu melukainya!” Hiroshi memanas, dia melepaskan cengkeraman tangan Enju dan berlari ke arahku.
Darah menetes dari kepala Kawaki yang duduk di sebelahku, aku melihatnya kaget. Dia nampak tenang menatapku tajam.
“Chiyo..” panggil Hiroshi lalu menjauhkanku dari Kawaki.
“Kalian binatang, kenapa diam saja melihat perbuatan jahanam seperti itu. Wanita bukan untuk di siksa seperti yang kalian pikirkan, mereka adalah makhluk hidup juga yang perlu kita kasihi” Hiroshi murka.
Dia berdri di depanku, bak seoarang pahlawan yang mencoba melindungiku.
“Hiroshi…” kataku lirih.
“HAHAHAAHAHAHA….!!!” Kawaki tertawa.
“Wanita mana yang kamu maksud? Dia yang ada dibelakangmu adalah milikku, kembalikan atau aku akan membunuhmu disini” ancam Kawaki.
Keduanya saling menatap dengan tajam, suasana di dalam ruangan itu memanas. Para wanita yang ada disana berhamburan keluar karena ketakutan.
XXXXXXXXXXXX