
Tubuhku terbaring di ranjang bangsal bawah tanah, terasa lemas dan berat. Saat aku membuka mata dikejutkan dengan Kawaki yang tengah duduk di atas perutku, menatap wajahku yang pucat pasif.
“Kamu sudah sadar,syukurlah. Aku membawakan vitamin untuk membuat tubuhmu pulih” katanya sembari menyentuh wajahku dengan lembut.
“Aku hanya butuh beristirahat, aku tidak perlu vitamin” tolakku.
“Aku tidak butuh persetujuanmu” katanya lalu turun dari tubuhku mengambil segelas air berwarna.
Di pegangnya rahangku lalu di paksanya aku meminum air itu, aku meronta mencoba menutup mulutku. Namun dia terus mencekokiku hingga air itu terminum olehku.
“GLUK … GLUK … GLUK”.
Setelah aku meneguk minuman yang diberikannya, lalu di lemparnya gelas stainless itu ke lantai.
“Tubuhku memanas, apa yang kamu berikan kepadaku?” tanyaku mulai merasa aneh dengan tubuhku.
“Aku hanya memberi vitamin untuk membuatmu lebih bergairah” jawabnya santai sembari menyingkap kimono yang menutupi kedua kakiku.
Lantas dijilatinya salah satu kakiku yang membuatku merasa sangat jijik, tubuhku semakin panas dan merasa haus.
“Hentikan tubuhku merasa aneh, ku mohon jangan lakukan itu” kataku mencoba melepaskan kakiku yang di pegang oleh Kawaki dan sedang dijilati hingga ke paha dalamku.
Aku mulai mengerang tak terkendali, seakan tubuhku merasakan kenikmatan semu yang entah bagaimana caranya merasukiku.
“Nampaknya obat perangsang itu sudah menjalar ke seluruh tubuhmu, aku akan membuatmu semakin menikmatinya” kata Kawaki membuatku tersadar aku telah ditipunya.
“BRUUUKKKK” Aku mendorongnya dan beranjak bangun dari ranjang.
“Dasar bajing@an! Kamu menipu dan memaksaku untuk meminumnya, ingatlah tubuh ini yang kamu anggap pasaran dan tidak lebih baik dari para pel@cur yang kamu tiduri di luar sana!” kataku histeris meradang dengan sikap bej@tnya.
“HAHAHAAHAHAHHAA….”dia menertawakanku.
Aku mencoba menahan diriku sendiri lalu berlari ke arah pintu sembari menggedor – gedor daun pintu.
“TOLONG…SIAPAPUN YANG ADA DISANA KELUARKAN AKU!” Teriakku sebisa mungkin walau pun aku tahu tak akan ada yang menyelamatkanku meski suaraku menggema.
Kawaki semakin tertawa terbahak – bahak menatapku yang berusaha kabur darinya dan meminta pertolongan.
“Jangan lakukan hal yang sia – sia, ayo kemarilah Chiyo. Aku akan memuaskan mu, hingga kamu ketagihan dengan senjata milikku!” serunya yang berdiri bersandar di tembok dan memangku kedua tangannya di dada.
“Kuatkan dirimu…Chiyo, ingatlah perkataan Kanon. Berusahalah untuk mempertahankan diri” kataku dalam hati sambil menatap Kawaki yang berada di ujung sana.
Alangkah tololnya aku, tubuh dan pikiranku sudah tak bisa diajak bekerjasama karena obat perangsang yang menguasaiku. Aku mulai menggerayangi tubuhku sendiri, dan Kawaki menghampiriku.
“Aku bisa membantumu” katanya lalu dengan cepat menarik obi (sabuk pinggang dari kain yang dililitkan pada kimono).
Tanpa ku sadari, aku sudah merengkuh tengkuk leher Kawaki, aku menciuminya dengan sangat brutal sedang tangan Kawaki sedang bergerilya di bawah sana.
“Chiyo…kamu mulai liar, aku suka ini” katanya yang terus memasukkan jarinya keluar masuk di bawah sana.
Dikepalaku aku mengerutuki diriku sendiri yang tak bisa menahan diri, aku benar – benar sudah hilang akal mengatakan hal itu. Obat itu membuatku menjadi jal@ng dan tak bisa menguasai efek yang dimunculkan.
Kawaki yang merasakan jemarinya mulai basah di bawah sana lalu mengangkatnya kemudian menjilat jemarinya, terus melepaskan kimono yang aku kenakan hingga tak ada sehelai kain pun menutupi tubuhku.
Dia membalikkan tubuhku dan membungkukkan tubuhku, tanganku memegangi daun pintu. Ditusuknya milikku dari belakang sembari terus meremas bokongku.
Setelah puas di balikkan lagi tubuhku, di tariknya paha kiriku menempel ke pinggangnya serta di rengkuhnya tengkuk leherku sembari memasukkan lidahnya ke mulut. Sebuah percintaan yang panas dan brutal.
Berkali – kali erangan lolos keluar dari mulutku, hingga akhirnya kami terbaring di lantai beralaskan kimono dan melakukannya lagi dan lagi peluh membanjiri tubuh kami.
“Kini kamu benar – benar jal@ng Chiyo… aku semakin menyukaimu. Teruslah seperti ini, kamu membuatku tak bisa menghentikan gairahku” ucap Kawaki yang masih berada di atas tubuhku dan menusukku berulang kali.
Nafas kami terengah – engah, Kawaki menciumiku seakan kenikmatan semu itu telah diraihnya. Dia berbaring di sebelahku lalu memelukku kemudian menarik Yutaka yang tak jauh dari tempat kami terbaring untuk menutupi tubuh kami berdua.
Di lantai yang dingin, di musim dingin ini aku telah menjadi sangat kotor dan jal@ng.
Di tatapnya wajahku dengan sorot mata yang dalam, di elusnya wajahku dengan lembut.
“Tetaplah menjadi jal@ng untuk memuaskanku, maka aku akan menjagamu dengan baik. Aku akan membuatmu tetap berada disisiku, meski kamu mencoba melangkah pergi melarikan diri. Ingatlah itu… Chiyo” katanya.
“Dasar binatang, tak sudi aku mempercayaimu. Dimana seluruh hidupku hancur karenamu, bahkan tubuh yang ku miliki sudah sangat kotor berkat dirimu” makiku.
“Aku menyukai matamu yang begitu angkuh dan berani, semua penolakan dan makianmu seakan tak lepas dari dirimu meski kamu tahu aku lebih kuat dan berkuasa atas hidupmu. Kamu sangat menarik, maka dari itu aku menghancurkanmu karena aku membenci diriku yang tak bisa lepas dari pesonamu” aku Kawaki sambil menyentuh bibirku.
Kaki kanannya yang menimpa pinggangku mulai merapat dan menempelkan tubuhnya makin dekat.
“Kamu menjijikkan…aku membencimu, dan aku bersumpah akan membunuhmu” amarahku seakan menggerogotiku.
“Sudah berapa kali aku katakan untuk mencoba kalau kamu mampu membunuhku. Aku tak mungkin terbunuh dengan mudah, apalagi dengan tubuh lemah sepertimu. Banyak musuhku di luar sana mencoba membunuhku, tapi aku berhasil membinasakan mereka lebih dulu. Tapi untukmu, aku lebih suka menyiksamu hingga aku puas” Kawaki menunjukkan keangkuhannya.
Lantas dia mencium daguku dan menjilat bibir bawahku dengan lidahnya yang basah.
“Mungkin kamu bisa memberikan bibirmu kepada pria lain seperti anak konglomerat Hokkaido itu. Tapi ingatlah tubuhmu seutuhnya milikku, hanya akulah yang dapat menjamahmu sesuka hati. Bahkan tubuhmu dapat ku hancurkan semauku, bekas cambukan menghiasi tubuhmu akan menjadi kenang – kenangan indah yang tak akan pernah kamu lupakan tentang kuasaku atas tubuhmu” ancam Kawaki sambil tersenyum sinis.
Tersirat dari perkataannya bahwa dia tahu apa yang aku lakukan dengan Hiroshi saat di perjamuan makan malam kala itu. Dimana dia sangat marah hingga mencambukku dengan sadis yang membuatku kesakitan berhari – hari.
DHEG!
“Jadi saat itu, kamu mengetahuinya?” tanyaku dengan tergagap.
“Tak ada yang bisa kamu sembunyikan dariku” katanya.
Aku yang tercengang mendengarnya tak bisa melakukan apapun, dia menguasaiku dan mengendalikanku saat ini. Kekejaman dan kesadisannya akan diriku menunjukkan bahwa dia berkuasa atas diriku. Dia benar – benar sudah gila dan aku terperangkap di kandangnya.
Kawaki menindihku lagi dan mulai melakukan kemauannya, dengan gairah dan hasrat yang menggebu dia menguasai tubuhku. Aku hanya bisa diam dan menerima tubuhku dijamah tanpa bisa memberikan perlawanan. Aku sudah sangat lelah, energiku terkuras habis akibat obat perangsang di diminumkan kepadaku. Efek menjijikkan itu masih teringat jelas di kepalaku membuat penyesalan yang terus menghantuiku.
XXXXXXXXXXX