LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 57 : MALAM PANAS



Sekembalinya ke kediaman klan Endo, Kawaki menyeretku dan memasukkan diriku ke dalam bangsal bawah tanah yang sebelumnya aku diami.


Berhari – hari aku di sekap tanpa seorang pun menghampiriku dan aku pun kelaparan. Hawa nafsu untuk memakan apapun seakan ku coba ku tahan dan hanya meringkuk di ranjang, bahkan air setetes pun tak bisa ku rasakan.


“Apakah aku akan mati seperti ini?” gumamku lirih dengan tubuh yang sangat lemas.


Tiba – tiba gemma suara langkah seseorang mendekat ke arah bangsal dimana aku berada.


“TAP…TAP…TAP”.


Ternyata Kawaki membawa sekantong makanan, dia tersenyum menatapku yang lemas di tempat tidur.


“BRUUUKKK!!!” di lemparnya sekantong makanan itu ke tempat tidur, tepat di sampingku.


“Makanlah, aku tak ingin kamu mati seperti ikan koi milik Kanon” katanya.


Seketika aku membuka bungkusan itu berisi air mineral, roti, pisang, apel dan susu. Dengan lahap aku memakan semuanya tanpa memperdulikan mimik wajah Kawaki yang sedari tadi memandangiku.


“Aku lupa kalau punya peliharaan, bahkan aku juga lupa harus memberinya makan. Kamu melebihi anjing yang tak makan tiga hari, aku sangat menikmati pemandangan ini” sindirnya.


“Setelah ini kita akan pergi bersama Kanon, aku harus mengajarinya menjadi jal@ng untuk bisa meraih hati calon iparku” lanjutnya.


Aku terdiam mendengarnya, tak merespon apapun yang dia katakan.


Setelah makan, dia menyeretku untuk ikut bersamanya. Memasukkanku ke dalam mobil off road berwarna hitam, nampak di bangku depan sudah ada Kanon disamping Uta bagian menyetir mobil.


Kanon menatapku dari spion tengah dengan wajah prihatin melihatku.


“Ayo jalan… saatnya kita menikmati hidup” kata Kawaki meminta Uta melajukan mobil.


“Siap…mari kita bersenang – senang malam ini” sahut Uta penuh semangat.


Kami tiba di sebuah tempat prostitusi bintang lima, dimana di dalamnya para petinggi negara serta kalangan elit lainnya berkumpul menikmati para wanita dan pria bayaran.


“Apa kamu yakin membawa adikmu yang masih duduk di bangku SMA, ke tempat seperti ini?” protesku kepada Kawaki yang ada di sampingku.


“Tempat seperti ini adalah salah satu bisnis yang di kelola oleh klan Endo, sedangkan Kanon adalah putri dari klan Endo” jelas Kawaki seraya menggiringku ke sebuah ruangan VVIP.


Seorang mucikari menghampiri kami dengan mengeluarkan beberapa minuman alcohol dan buah segar serta cemilan pendamping.


“Tuan muda, senang bisa melihat anda. Apa yang bisa kami bantu, apakah perlu kami panggilkan para penghibur?” tanya mucikari dengan tattoo di leher kirinya itu dengan sopan.


“Kami ingin melihat live show pasangan terpanas disini, aku membawa adik dan mainanku untuk menikmatinya” perintah Kawaki.


“Baik” jawab mucikari itu lalu keluar dari ruangan beserta pelayan yang menghidangkan makanan.


“Sebenarnya kita ingin menonton apa?” tanya Kanon yang duduk di samping kiri Kawaki.


“Sebuah tontonan yang akan kamu nikmati dan pelajari” jawab Kawaki sambil tersenyum licik.


“HAHAHAHAHAA….ini sangat seru, kamu pasti ketagihan melihatnya melebihi film dewasa” tambah Uta dengan girangnya sembari meneguk alcohol yang ada di depannya.


Tak berapa lama seorang pria dan wanita hadir di tengah – tengah kami berada, lampu di ruangan itu mati ada sebuah lampu utama yang menyorot ke arah pria dan wanita itu.


Keduanya memulai aksinya dengan melucuti pakaian masing – masing, membuatku merasa jijik harus melihatnya.


“Apakah kamu gila, menikmati tontonan tidak senonoh ini kepada adik perempuanmu yang masih belum cukup umur!” makiku kepada Kawaki.


Sebuah adegan tidak senonoh yang mereka pertunjukkan dengan berbagai gaya, ******* dan erangan menggema memenuhi ruangan. Aku tak sanggup melihatnya dan hanya menutup mataku, entah bagaimana Kanon menanggapi semua ini.


“Lanjutkan…makin panas!!!!” teriak Uta yang penuh semangat.


Sedangkan Kawaki sibuk menggerayangi tubuhku dan menciumiku, dari pelipis, telinga, pipi, leher hingga menarikku ke pangkuannya dan menciumi bibirku dengan paksa di tengah lampu yang padam.


Setelah berakhirnya pertunjukkan tidak senonoh itu yang berlangsung kurang lebih satu jam, lampu akhirnya menyala dan Kanon menatap diriku yang sudah ada di pangkuan kakaknya dengan wajah datar.


Kawaki menuangkan alcohol ke dalam gelas dan meminta adiknya meminumnya.


“Minumlah, ini akan membuatmu lebih baik” katanya.


Kanon dalam diam lalu meminumnya, sedangkan Uta tertawa lepas dan hanya dia menurutku menikmati ini semua. Kawaki memberikan terus menerus alcohol kepada adiknya.


“Hentikan, dia bisa mabuk!” protesku sembari melepaskan diri dari pangkuan Kawaki dan duduk ditengah – tengah antara Kanon dan Kawaki.


“Kanon…jangan minum lagi, kamu sudah mulai mabuk” pintaku sambil melepaskan gelas yang di pegangnya.


Wajahnya memerah, sambil tersenyum dia memelukku.


“Ayooo kita bersenang – senang” katanya mulai ngelantur.


Saat aku mencoba menyambut pelukan Kanon, Kawaki menjambak rambutku dari belakang.


“AAARRRGGHHH!!!” seketika aku pun sakit saat rambutku di tarik.


“Kamu pun perlu minum” kata Kawaki lalu dengan sebotol alcohol dia mencekokiku.


“Gluk … Gluk…Gluk!” alcohol itu terminum olehku.


Hingga aku pun mulai kehilangan kesadaran, Kanon di bawa Uta untuk pulang bersama. Sedangkan Kawaki mengajakku ke salah satu kamar yang ada di tempat prostitusi itu.


“Dasar breng$ek! Kamu menghancurkan hidupku, aku akan membunuhmu” aku pun mulai meracau di gendongan Kawaki.


“PLAAAKKKK!” Kawaki memukul bokongku dengan keras.


“Diamlah, sebentar lagi kita akan melakukan malam panas” katanya.


Sesampainya di dalam kamar, Kawaki mencekokiku segelas minuman entah apa.


“Minumlah, ini akan membuatmu semakin liar dan panas” katanya sembari terus memaksaku minum.


Benar saja…. Tubuhku terasa panas, aku mencoba melepaskan pakaianku. Dengan mata setengah sadar, mendapati Kawaki yang terduduk di atas tempat tidur ingin sekali aku sergap. Entah perasaan aneh apa ini, seakan aku tak bisa mengendalikan diri.


“Kemarilah, kalau kamu mau dengan senang hati aku akan memberikan malam panas untukmu” kata Kawaki sembari menyeringai.


Aku tak bisa mengendalikan tubuhku dengan otakku, entah efek dari mabuk atau minum aneh yang diberikan kepadaku terakhir kali.


Tanpa sadar aku menarik bajunya, dan menciuminya dengan brutal. Kawaki meresponsnya dengan menggebu – gebu, setelah semua pakaian yang kami kenakan telah di tanggalkan masing – masing akhirnya kami menyatu di atas ranjang.


Kawaki melancarkan hasrat terpendamnya selama ini kepadaku, kami berdua benar – benar menggila satu sama lain. Sebuah ritme yang cepat mengguncang tubuhku dan membuatku terus meliuk – liuk dan mengerang. Ku raba tattoo naga yang ada di punggungnya, saat kepalanya terbenam di leherku.


Sebuah malam panas tanpa kendali, seakan ada sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhku. Hingga akhirnya seakan lahar panas yang diberikan Kawaki memasuki muara inti yang aku miliki. Lalu aku pun tak sadarkan diri.


XXXXXXXXXXXXXX