
Setelah operasi yang memakan waktu 7 jam, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Kami seketika mengerumuni dokter tersebut, tapi dengan ekspresi datar dokter menyatakan bahwa operasinya gagal dan tak terselamatkan.
Nenek langsung pingsan mendengarnya, bibi dan Azura langsung membawa nenek ke IGD. Jiro datang saat aku beranjak pergi dari depan ruang operasi.
“Bagaimana kakek?” tanya Jiro yang baru saja datang.
“Tabahkan hatimu, kakek tak terselamatkan” kataku lirih.
Jiro yang berdiri di hadapanku, menatap jasad kakek yang keluar dari ruang operasi di dorong oleh para perawat menuju kamar jenazah.
Jiro menghentikan ranjang dorong yang terdapat jasad kakek, dia memeluknya sambil menangis tersedu – sedu. Aku hanya bisa mengusap – usap punggungnya mencoba menenangkan dirinya.
Kemudian kami pun duduk di depan ruang IGD, bibi Sanchi berada di dalam menunggu nenek yang masih lemas setelah pingsan. Azura membeli minuman buat kami, tinggal aku dan Jiro berdua duduk depan penuh kesedihan.
“Kakek sangat mencintaimu dan merindukanmu, dia menyebut namamu di sela – sela tidurnya. Maka saat kakak masuk ruang operasi, nenek memintaku menghubungimu”.
“Terimakasih telah menghubungiku, berkat dirimu aku masih bisa menatap wajah kakek meski sudah tak bernyawa”.
“Percayalah…kakek sudah bahagia disana, dia akan sedih melihatmu terus menangis seperti ini”.
“Aku tahu ini akan terjadi suatu hari, tapi aku tetap tak bisa mengendalikan rasa sedihku. Mungkin karena aku tak bisa menjaga mereka selama ini”.
Azura datang membawa sekantong plastik berisikan miniman kaleng. Dia menyodorkan sekaleng minuman kaleng kepada Jiro, “Minumlah dan tenangkan dirimu”.
“Terimakasih” kata Jiro lirih seraya mengambil minuman kaleng itu dari tangan Azura.
Aku dan Azura duduk mengapit Jiro di kursi tunggu depan IGD.
“Kini kamu tumbuh makin gempal yah, hahahha” oceh Azura mencoba memecah keheningan.
Azura merangkul bahu Jiro yang tertunduk sedih.
“Bersedihlah hari ini, tapi hidup tetap berlanjut. Dimana ada hidup maka kematian pun tak dapat dihindari. Pulanglah, temui keluargamu sebelum kamu kehilangan mereka” kata Azura.
Jiro mulai menangis tersedu – sedu dengan wajah tertunduk, aku pun hanya bisa menahan tangisku.
Setelah proses kremasi,abu kakek di taruh depan altar kuil sebagai penghormatan terakhir bagi para sanak saudara serta rekan almarhum. Secara bergantian mereka memberikan penghormatan terakhir dengan memberikan setangkai bunga.
Ditengah acara, Jiro menarik ku untuk keluar dari kuil. Aku yang duduk menyambut para pelayat, bingung dengan sikap Jiro yang mendadak itu.
“Pergilah…” kata Jiro yang membawaku ke pintu keluar kuil.
“Kenapa?” tanyaku.
“Uta dan semua anggota inti akan datang berbelasungkawa, mereka sedang dalam perjalanan” jelas Jiro sambil memerhatikan lingkungan sekitar.
“Benarkah?” tanyaku panik.
“Pakai ini, untuk menutupi wajahmu” Jiro memberikan sebuah masker hitam kepadaku.
“Terimakasih” kataku seraya mengambil dan mengenakan masker itu.
“Aku tak tahu harus berbuat apa untuk menolongmu, hanya dirimu sendiri yang bisa melakukannya. Pergilah secepatnya sebelum mereka sampai disini” tambah Jiro.
Aku pun langsung berjalan pergi meninggalkan kuil.
……………..
Bibi Sanchi dan nenek duduk sambil menangis, Jiro menemani mereka. Tak berapa lama setelah kepergianku beberapa mobil memenuhi parkiran kuil, mereka adalah para anggota klan Endo yang di pimpin oleh Kawaki.
Kawaki yang telah mengenakan pakaian serba hitam masuk ke kuil dan memberikan penghormatan terakhirnya.
“Kami turut berduka cita atas kematian kakekmu” kata Kawaki.
“Terimakasih telah datang” Jiro pun menanggapinya.
Saat Kawaki berjalan ke luar kuil, dia merokok di pelataran kuil dengan Asahi.
“Jiro nampak sangat terpukul atas kepergian kakeknya” kata Kawaki.
“Tapi tidak dengan kematian ayahnya, aku ingat betul dia memintaku untuk membunuh ayah kandungnya saat itu” kata Kawaki.
“Berkat hutang judi ayah kandungnya, Jiro masuk menjadi anggota di klan Endo. Dulu saya ingat betul dia meninggalkan keluarganya demi mendapatkan uang untuk mengembalikan sertifikat kedai dan rumah mereka yang tergadai karena ulah ayah kandungnya” kata Asahi.
“Aku membantunya waktu itu bukan untuk menjadikannya anak buahku, tapi karena aku tak tega melihatnya menanggung beban orang dewasa yang punya tanggung jawab. Aku merasa hidup kami mengalami kemiripan, aku ditinggalkan ibu kandungku sedangkan dia ditinggalkan ayah kandungnya” aku Kawaki.
Di tengah – tengah perbincangan mereka, Azura wara – wiri mencari Yoshiko. Kemudian dia menelpon Yoshiko tak jauh dari tempat Kawaki & Asahi merokok.
“Woi…Yoshiko, kamu dimana? Bukannya kita pulang bersama, acara belum selesai malah menghilang” suara Azura yang sedang menelpon menarik perhatian Kawaki.
“Yoshiko… nama itu sepertinya popular di Jepang” gumam Kawaki.
“Kenapa kamu harus pulang duluan, kalau begitu tolong bantu aku untuk menyiram tanamanku di atap ya” kata Azura menyudahi teleponnya.
Dia menghampiri Kawaki dan Asahi untuk meminta sebatang rokok.
“Permisi, bolehkah aku meminta sebatang rokok? Ternyata rokokku habis” kata Azura tanpa basa – basi.
Asahi memberikan sebatang rokok dan menyulutkan api untuk Azura.
“Terimakasih banyak” kata Azura.
“Apakah kamu mengenal Yoshiko?” tanya Kawaki degan wajah datar.
“Ya..aku mengenalnya, dia anak buahku untuk memanen sayur dan buah” jelas Azura.
“Aku juga mengenal Yoshiko bukankah ini sebuah kebetulan yang aneh” kata Kawaki.
“Di Tokyo terlalu banyak nama Yoshiko, pasti orang yang kita kenal berbeda. Tapi bakal menjadi sebuah lelucon kalau Yoshiko yang kita kenal adalah sama…HAAHAHAHAHA” Azura mencoba mengajak lawan bicaranya bercanda tapi nampak garing.
“KRIK…KRIK…KRIK…” Asahi dan Kawaki hanya terdiam dengan wajah datar.
“Apa hubungan anda dengan kakek dari Jiro?” tanya Asahi.
“Aku pelanggan tetap kedai milik bibi Sanchi, ibu dari Jiro. Aku juga mengenal kakek, kami sudah seperti saudara” aku Azura.
Jiro menghampiri Azura yang berdiri merokok bersama dan memanggilnya.
“Azura…kamu dipanggil ibuku” kata Jiro.
“Baiklah aku akan segera kesana” jawab Azura lalu berpamitan kepada Kawaki dan Asahi.
“Apa yang kalian bicarakan dengan Azura?” tanya Jiro memastikan.
“Kami membahas Yoshiko” jawab Kawaki.
DEGH…Jiro panik mendengarnya.
“Yoshiko?” Jiro pura – pura tak tahu menahu.
“Tadi dia menelpon dan menyebut nama Yoshiko, aku merasa nama itu sangat pasaran” kata Kawaki tak merasa curiga.
“Huft…berapa banyak orang bernama Yoshiko di Jepang ini, sepertinya kelak anakku bila perempuan tak akan ku berikan Yoshiko. Sangat pasaran” Jiro mencoba mengecoh Kawaki.
“Kamu berniat memiliki anak?” tanya Kawaki.
“Pastinya, aku ingin punya anak yang lucu dan gempal menyerupai ku” kata Jiro.
“HAHAAHAHAA…” Jiro mencoba tertawa meski itu sulit.
“Cobalah untuk tertawa seperti itu, setidaknya itu bisa mengikis kesedihanmu” kata Asahi sembari menepuk – nepuk bahu Jiro.
“Ternyata kehilangan orang yang kita sayangi, sangatlah menyedihkan. Semoga kakek tenang dan bahagia di sana” kata Jiro.
Semua terdiam menatap langit biru, kematian kakek membuat Jiro sedih namun dia akan tetap melanjutkan hidup dengan pilihannya.
XXXXXXXXX