LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 36 : PILIHAN JIRO



Nemo menemui Jiro di markas klan Endo, dia mengajak Jiro berbincang berdua di tempat yang sepi yang tidak bisa di jangkau orang lain.


“Nemo…ada apa?” tanya Jiro.


“Apakah kamu tahu keberadaan wanita itu?” Nemo balik bertanya.


“Wanita yang mana ini, wanita bar yang cantik waktu lalu. Bukannya kamu sudah mengencaninya?” jawab Jiro.


“Bukan, yang aku maksud adalah Chiyo. Wanita yang menjadi target kita” jelas Nemo.


Sesaat Jiro kaget ditanyai mengenai Chiyo, dia bingung harus menjawab apa. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk berbohong.


“Mana aku tahu, bukannya selama ini kita mencarinya” aku Jiro.


“Benar kamu tidak tahu?” tanya Nemo sekali lagi.


“Jelas aku tidak tahu, kalau aku tahu sudah aku informasikan kepada Kawaki” tambah Jiro mencoba meyakinkan Nemo.


“Baguslah, jangan sampai kamu terseret dengan kasus ini. Kamu tahu kan, Kawaki tidak bisa memaafkan seorang pengkhianat” kata Nemo memberikan peringatan kepada Jiro.


Dalam hati Jiro cukup panik dan dia mencari cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Malamnya di hari yang sama, Jiro menelpon nomor yang pernah menghubunginya.


“Hallo…” suara Azura mengangkat telepon.


“Bisakah bicara dengan Chiyo, oh bukan maksudku Yoshiko” kata Jiro.


“Oh…Yoshiko, ini siapa?” tanya Azura.


“Aku Jiro, aku ingin membicarakan mengenai keluargaku. Ini siapa?” tanya Jiro.


“Aku Azura, waktu lalu Yoshiko meminjam ponselku untuk menelponmu. Baiklah akan aku kirimkan nomornya via chat” kata Azura.


“Terimakasih” kata Jiro.


Jiro meletakkan ponselnya di kamarnya, kemudian dia pergi untuk mandi. Disaat dia berada di kamar mandi, Nemo mengambil ponsel Jiro untuk memasukkan sebuah alat penyadap di ponselnya.


Semua data dan riwayat telepon Jiro telah di hack tanpa sepengetahuan Jiro.


Sebuah pesan masuk, Jiro keluar dan mengecek ponselnya. Dia mendapati nomor Yoshiko alias Chiyo. Pesan itu pun sampai di komputer Nemo, matanya terbelalak ternyata Jiro tahu keberadaan target yang mereka cari.


Jiro meneleponku tengah malam, Ketika aku mendapati nomor tak dikenal aku pun mendiamkannya. Namun karena terus berdering akhirnya aku mengangkat telepon.


“Hallo…” sapaku.


“Hallo…ini aku Jiro” suara Jiro menyapaku.


Aku kaget dia mendapat nomor teleponku, sontak aku terbangun dari ranjang. Aku duduk di lantai sambil merengkuh kedua kakiku.


“Darimana kamu dapat nomor teleponku?” tanyaku penasaran.


“Aku meminta Azura, ini penting. Sepertinya kamu harus melarikan diri dari kedai ibuku. Aku tak bisa membantumu, karena aku tak ingin mengkhianati Kawaki. Waktumu tak banyak segeralah” kata Jiro.


“Apakah Kawaki telah mengetahui keberadaan ku?” tanyaku berusaha tenang.


“Kurasa belum, kalau sudah pasti malam ini dia menghampirimu. Nemo bertanya tentang keberadaan mu kepadaku, mungkin ini sebuah pertanda. Makanya aku langsung menghubungimu. Aku tak mau keluargaku jadi korban Kawaki, akibat dirimu” tambah Jiro.


“Aku mengerti, aku akan bersiap – siap dalam beberapa hari ke depan. Terimakasih Jiro telah memberitahukan aku” kataku.


“Anggap saja, ini balasan karena merawat keluargaku. Kita impas” kata Jiro lalu menutup teleponnya.


Disamping itu Nemo berhasil mendapat rekaman teleponku dan Jiro, dia berencana memberitahukan kepada Kawaki.


Keesokannya…


Nemo menemui Kawaki di kediaman klan Endo.


Nemo duduk berhadapan dengan Kawaki yang mengenakan yutaka abu – abu.


“Ada apa kamu menemuiku pagi sekali?” tanya Kawaki tenang sembari duduk menikmati teh bunga krisan.


Nemo membuka laptop yang dia bawa, lalu memutar semua informasi yang dia dapatkan ke Kawaki.


“PYARRRRR!!!” cangkir berwarna putih yang di pegang Kawaki di lemparnya.


“Berani sekali Jiro mengkhianatiku demi wanita itu!” kata Kawaki dengan wajah penuh amarah.


Nemo yang tadi duduk, dia menghampiri Kawaki dan berlutut.


“Aku mohon maafkanlah Jiro, dia melakukannya karena Chiyo berjasa telah merawat keluarganya. Dia pun pasti dilemma dalam mengambil keputusan sulit ini” Nemo pun berusaha memohon pengampunan untuk Jiro.


Kawaki terdiam dia tak mengatakan apapun dan menatap ke arah Nemo dengan wajah datar.


“Bagaimana dengan Hiroshi?” tanya Kawaki mengalihkan rasa marahnya.


Nemo memberikan photo yang telah dia ambil kemarin sore.


“Mereka sudah saling bertemu, menarik. Awasi Hiroshi, dia akan berusaha membawa Chiyo pergi. Kita harus bergerak lebih cepat” kata Kawaki tersenyum sinis.


Sedangkan Hiroshi datang menghampiriku, seperti kemarin dia memesan bento dan mengajakku untuk berbicara empat mata.


Kami berbicara tak jauh dari kedai, dia menyodorkan sebuah amplop coklat.


“Apa ini?” tanyaku.


“Ini semua adalah hal yang kamu butuhkan untuk melarikan diri malam ini. Pasport palsu dan uang cash. Aku sudah menyewa kapal untuk menyelundupkan kita berdua ke Filipina nanti malam” katanya sembari memaksaku menerimanya.


“Kamu…” kataku terpotong.


“Mari kita pergi bersama, aku tak ingin kehilanganmu kedua kalinya” tambahnya.


“Hiroshi…apa kamu yakin tentang hal ini, bagaimana dengan keluargamu?” kataku.


“Jangan menjadi egois, ingatlah mereka keluargamu. Kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga, aku bahkan setiap malam menangis mengingat orang tuaku. Pikirkan perasaan paman Fukoda” kataku mengingatkannya.


“Chiyo…aku mencintaimu, apapun konsekuensinya siap ku tanggung” dia pun tetap kekeh dengan tekadnya.


“Ku mohon pikirkanlah, aku tak ingin kamu terseret dengan kemalanganku. Aku tak akan pergi, dan tinggalkan aku sendiri” kataku sambil melempar amplop coklat itu ke dadanya.


Aku pun berjalan masuk ke dalam kedai tanpa menatapnya lagi, dia terus meneriaki namaku. Namun aku tetap tak menghiraukannya.


Sorenya Jiro meneleponku dengan suara yang gugup.


“Aku sudah mencari cara untuk membantumu, pergilah ke dermaga Chiba nanti malam 22.00. Aku …aku sudah meminta temanku untuk bisa membawamu keluar Tokyo. Ini satu – satunya cara yang bisa aku lakukan untuk membantumu” katanya.


“Apa kamu yakin, ini aman?” tanyaku memastikan.


“Percayalah…aku sudah memastikannya” dia mencoba meyakinkanku.


Sebenarnya perasaanku ragu, tapi aku harus melewati ini semua dengan optimis. Semoga Jiro bisa mengeluarkan ku dari Tokyo dan lepas dari jeratan Kawaki.


Setelah aku menutup telepon, Azura menghampiri dari belakang dengan naik skuternya.


“Hoi…Yoshiko, ayo kita pulang bersama. Kenapa kamu malah melamun di pinggir jalan” katanya.


“Oh…Azura, nanti malam kamu bisa mengantarkan aku?” tanyaku.


“Kemana, kamu mau mengajakku kencan?” guraunya kepadaku.


“Aku mau pergi ke dermaga Chiba, aku harus pergi ke suatu tempat” kataku.


“Kamu mau pergi selamanya, tidak menyewa di tempatku lagi?” dia bertanya semakin penasaran.


“Ada masalah mendesak, membuatku tidak bisa menjelaskannya” aku ku.


“Baiklah, ayo naik kita pulang dulu” tambahnya.


Aku pun membonceng di belakang dengan segudang pikiran, banyak hal yang memenuhi benakku.


Malam sudah menunjukkan pukul 22.00 Azura menurunkan ku di dermaga Chiba, aku memberikan helm kepadanya.


“Kamu yakin, aku tidak menemanimu ke dalam?” tanyanya.


“Yakin, tenanglah. Ada orang yang aku kenal sedang menungguku. Oh ya Azura terimakasih telah menerimaku selama ini, tolong berikan salamku kepada bibi Sanchi dan nenek. Katakan kepada mereka, aku sangat berterimakasih dan minta maaf tidak bisa berpamitan karena terlalu mendadak” kataku.


“Baiklah, tenang saja akan aku sampaikan” katanya. Kami pun berpisah…


Aku mendorong koperku menuju ke tepi dermaga, nampak Jiro melambaikan tangan ke arahku. Aku berjalan menghampirinya.


“Kita bertemu temanku dulu untuk mengambil passport palsu mu” katanya sambil mengambil koperku.


Aku hanya mengikutinya dari belakang, kami tiba di sebuah gudang gelap. Tiba – tiba lampu mobil menyorot ke arah kami. Nampak seseorang keluar dari dalam mobil.


“Kawaki” kataku terkejut mendapati dirinya berjalan mengarah kepadaku dan Jiro.


“Maafkan aku, semua ini kulakukan demi keselamatan keluargaku” kata Jiro membawa koperku menuju mobil sport berwarna putih itu.


Aku perlahan berjalan mundur untuk melarikan diri, saat aku berlari ke belakang.


“DOORRRR!!!” suara tembakan terdengar menggema.


“Berlarilah…aku akan menembakmu!” teriaknya kepadaku.


Uta, Hatori dan Hotaru menghadangku di belakang.


“Sial…” gumamku lirih.


Aku tak bisa melepaskan diri, Kawaki langsung menarik rambutku. Menyeretku menuju ke mobil, semua yang ada disana hanya terdiam menatapku.


“Lepaskan aku!” teriakku.


“Diam!” bentaknya.


Kawaki melempar tubuhku ke dalam mobil dengan kasar, memborgol kedua pergelangan tanganku. Duduk di sampingku sembari merangkul bahuku.


Jiro dan Enju duduk di bangku depan. Saat kami menuju keluar ada Azura menghadang mobil kami.


“Azura” kataku bersamaan dengan Jiro.


“Siapa dia, berani sekali menghadang kita” geram Kawaki.


Kawaki mengeluarkan pistol dari sakunya, aku pun memegangi tangannya.


“Ku mohon jangan sakiti dia” kataku penuh pengharapan.


“Kamu mengenalnya, apa dia pacar barumu? Oh ya, aku mengingatnya. Kami bertemu di kuil saat pemakaman kakeknya Jiro. Kalau begitu, singkirkan dia Jiro” kata Kawaki.


Jiro tak punya pilihan, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan saat Jiro dan Azura berhadapan di depan mobil. Azura sepertinya ngotot ingin menyelamatkanku. Jiro mengeluarkan pisau dan menusuk perut Azura. Lantas menyeret Azura yang berlumur darah ke pinggir mobil.


“AZURA!!!” teriakku.


“Pastikan mayatnya tak menjadi masalah buat kita” kata Kawaki kepada Enju yang memegang setir.


“Aku sudah mengirim pesan ke Uta untuk menyelesaikannya” jawab Enju.


Jiro masuk ke dalam mobil dengan wajah merasa bersalah.


“Kamu tega melakukannya…dasar ikan buntal!!! Dia satu – satunya orang yang peduli terhadap keluargamu!!!” teriakku mengerutuki Jiro. Sedangkan Jiro hanya bisa menundukkan kepalanya duduk di bangku depan.


Kawaki mencengkeram rahangku, “Diamlah…semua ini karenamu, jangan mencoba memanipulasi teman – temanku”.


Aku hanya bisa menangis menatap Azura yang masih sekarat memegangi perutnya yang berlumur darah.


XXXXXXXXXXXXX