
Kawaki memasuki kamar, membawa ponsel milikku yang telah disitanya. Dia duduk di kursi sembari sibuk mengotak – atik ponselku, entah dari kapan dia mendapatkan sidik jariku hingga bisa membukanya. Namun Nemo adalah seorang hacker handal dalam klan Endo, pasti dia sangat mudah untuk membuka ponsel.
“Kemarilah” perintahnya kepadaku.
“Untuk apa?” tanyaku kesal.
“Cepat kemari, atau mau ku lempar asbak..HAH!” ancamnya.
Aku melangkah kearahnya, lalu dengan seketika dia menarik tanganku dan mendudukkanku di pangkuannya.
“Kita akan membuat sebuah pesan hangat” ujarnya seraya menyalakan kamera dari ponselku.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.
“Sebuah photo kemesraan kita” jelasnya.
“APA!” aku terkejut dia mendapatkan ide konyol seperti itu.
Dengan erat dia mendekapku sambil menghadapkan ponsel yang ada di tangannya.
“Senyumlah” perintahnya.
“Aku tidak mau, lepaskan!” protesku.
“Aku akan menghantam wajahmu dengan asbak kalau kamu tidak menurutiku” ancamnya.
Dengan terpaksa aku pun tersenyum getir menatap kamera, “CEKREK…CEKREK…”.
Setelah mengambil beberapa photo, dia melepaskanku sehingga aku leluasa menjauh dari dirinya.
“Dengan ini anak konglomerat itu tahu, siapa yang memilikimu” gumamnya.
“Jadi kamu pamer kepada Hiroshi, untuk menunjukkan kekuasaanmu atas diriku. Menyedihkan, aku bahkan tak pernah melakukan chat apapun dengannya. Dia tidak akan percaya itu nomor ponselku” aku pun menanggapinya.
“Diamlah…aku tidak butuh komentarmu” tambahnya.
Lalu dia mengirim pesan kepada Hiroshi, wajahnya menunggu respon dari penerima pesan. Tapi setelah beberapa jam tak ada pesan masuk. Raut wajahnya yang semula tenang, menjadi kesal. Entah berapa puntung rokok yang terkapar di asbak.
Lantas dia memutuskan pergi meninggalkan kamar, aku pun senang melihat raut wajahnya yang konyol itu. Menunggu reaksi Hiroshi sampai berkali – kali menatap beranda ponsel mengharap ada pesan masuk atau telepon. Sangat jarang aku menemukan moment konyol seperti ini.
Keesokannya…
Sekitar pukul 08.30, Kawaki masuk ke dalam kamar mengajakku untuk sarapan bersama.
“Bangunlah, kita makan di bawah” ajaknya.
Seperti biasanya dia adalah pria pemaksa, aku sangat membencinya. Kami duduk di salah satu meja makan yang ada di restoran bagian dari hotel. Saat kami makan, aku di kejutkan dengan kedatangan kak Ryota bersama Hiroshi mengarah ke meja kami.
Sontak aku berdiri dari kursi yang ku duduki, Kawaki memegang tanganku menyuruhku untuk duduk kembali.
“Duduklah” perintahnya.
Aku pun duduk kembali sembari menatap Hiroshi, wajahnya nampak jelas penuh tanya. Kak Ryota dan Hiroshi duduk di depan kami ikut memesan makanan. Aku dan Hiroshi terus saling menatap satu sama lain.
“TIK TOK TIK TOK…Waktu terus berjalan, aku berharap akan segara ada keputusan yang baik dari pihak mempelai pria” kata Kawaki memancing kak Ryota dan Hiroshi.
“Aku juga berharap demikian, Hiroshi pasti memberikan keputusan yang terbaik” sahut kak Ryota.
“Semoga semua yang kita anggap baik itu terealisasikan segera” tambah Kawaki sembari memberikan tatapan penuh tekanan.
Kemudian Kawaki menatapku dengan memegang tengkuk leherku secara tiba – tiba.
“Sepertinya kamu sangat menikmati makananmu, makanlah yang banyak agar permainan kita semakin berenergi” katanya.
“Permainan semakin berenergi? Apakah yang kamu maksud adalah penyiksaan yang kamu lakukan kepadaku?” sindirku.
Lalu didekatkan wajahnya kepadaku dan berkata “Bukankah kamu juga menikmatinya”.
Dia menatapku dengan tajam, sedangkan Hiroshi dengan kencang meletakkan sumpitnya ke atas meja.
“Bisakah kita makan dengan tenang” kata Hiroshi mencoba menyudahi sikap Kawaki yang menjengkelkan itu.
“Kalau kamu merasa terganggu, kamu bisa meninggalkan meja ini” kata Kawaki sembari melepaskan tengkuk leherku.
“Aku hanya ingin menyapa tamu kami, sembari menikmati sarapan bersama. Harusnya itu tidak memberatkanmu untuk menerima kedatanganku. Bukankah kamu menginginkanku sebagai ipar?” Hiroshi mulai mengikuti ritme permainan Kawaki.
“Owh…kata ipar membuatku senang, sepertinya akan ada keputusan yang baik darimu. Kalau begitu cobalah menyesuaikan diri denganku” Kawaki pun menanggapi.
“Baiklah, mari kita nikmati makanan yang sudah tersaji. Sayang kalau sudah dingin, karena kita asyik mengobrol” kata kak Ryota mencoba mencairkan suasana.
Kami pun makan dalam diam, lalu setelah makan Kawaki mengajakku kembali ke kamar.
“Terimakasih atas sambutannya kepada kami, kalau begitu kami akan kembali ke kamar” kata Kawaki dengan memegang pinggangku.
Hiroshi otomatis menatap tangan Kawaki yang mendarat di pinggangku dengan tatapan tidak suka.
“Bolehkah aku mengantar kalian?” tanya Hiroshi.
“Kenapa tidak, silahkan saja kalau mau mengantar kami” jawab Kawaki senang.
Aku tahu Kawaki menunggu reaksi dari Hiroshi sehingga dia sengaja menunjukkan kekuasaannya atas diriku.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Banyak hal yang harus aku kerjakan” kata kak Ryota berpamitan.
Kawaki terus memegang pinggangku, sesekali menyingkap rambutku yang menutupi pundakku. Aku benar – benar merasa risih akan perlakuannya kepadaku. Sedangkan Hiroshi terus menatapku dari belakang.
Suasana canggung ini membuatku semakin tersudut, aku tak tahu harus berbuat apa.
“Bisakah kamu melepaskan ku, aku tak leluasa untuk berdiri kalau begini” protesku sembari mencoba melepaskan diri.
Dari pinggang tangan Kawaki berpindah ke bahuku, merangkulku sembari sesekali memainkan rambutku yang tergerai. Nampak pantulan Hiroshi yang berdiri di belakang kami dari pintu lift, wajahnya menunjukkan kemarahan.
Setibanya di pintu kamar, ada dua penjaga yang masih siaga di depan. Hiroshi mengamati sekitar begitu pun dengan CCTV yang ada di sepanjang lorong.
Kawaki menghentikan langkahnya lalu menghadap ke arah Hiroshi dengan tersenyum.
“Terimakasih telah mengantar kami, semoga aku segera mendapatkan sebuah kabar baik dari calon iparku” kata Kawaki.
“Mohon di tunggu, aku sedang mempertimbangkan seberapa pantas aku bisa menjadi bagian dari klan Endo. Apalagi harus menyesuaikan sikap calon iparku yang cukup gila” sahut Hiroshi sembari melempar senyum.
Keduanya saling melempar senyum, namun dibalik senyum itu api membara terlihat jelas dari kedua sorot mata mereka. Aku hanya bisa terdiam tak bisa melakukan apapun yang berdiri di tengah – tengah mereka.
Hiroshi pun pamit pergi, Kawaki menunggu hingga Hiroshi tak nampak.
“Apakah kamu puas dengan reaksi yang diberikan oleh Hiroshi?” tanyaku kesal.
“Lumayan, bagaimana menurutmu?” tanyanya balik.
“Aku benar – benar muak dengan sikapmu” kataku lalu masuk ke dalam kamar.
Kawaki membuntutiku di belakang dan ikut masuk ke dalam kamar.
“Dia bilang kamu tubuh bersamanya sejak kecil. Pastinya dia menganggapmu sangat berarti, hingga dia masih tak melupakanmu setelah setahun lebih berlalu” ungkap Kawaki.
“Apakah kamu tak punya teman masa kecil? Dia selalu ada untukku hingga masa remajaku. Bahkan saat ini pun dia datang untukku. Mustahil hubungan sedalam itu terlupakan” jelasku.
“Aku tak pernah memiliki teman baik, aku hanya memiliki Asahi di sampingku” jawab Kawaki dengan polos.
Terkadang aku merasa kasihan dengannya namun rasa benciku lebih besar dari apapun kepadanya.
Aku terduduk di pinggir ranjang menatapnya berdiri di hadapanku.
“Saat dia melihatmu aku tahu dia sangat menginginkanmu, wajah dan tubuhmu pasti melekat dibenaknya” sindir Kawaki.
“Dia bukan pria cabul sepertimu, dia tidak pernah melecehkanku sepertimu” tegasku.
“Jadi dia tidak pernah menikmati tubuhmu yang murah itu?” tanyanya memastikan.
“Mulutmu sangat kotor, semua yang kamu katakan hanyalah sampah” umpatku.
“Mulut inilah yang menikmati bibirmu, seperti ini” katanya lalu menyambar bibirku dengan kasar.
Mencengkeram tengkuk leherku dan mendorongku terbaring di ranjang, terus menciumiku semaunya tanpa celah tubuhku bisa lepas dari dekapannya. Setelah puas, dia menatapku mengusap – usap bibirku. Ritme nafas kami bertabrakan, seakan detak jantungnya terasa didadaku.
“Aku membencimu” kataku tegas.
“Bencilah hingga kamu mati, aku tak pernah peduli. Ku tahu dirimu adalah milikku” jawabnya tersenyum sinis.
xxxxxxxxx