LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 23 : MELARIKAN DIRI



Di tengah perjalanan, Kawaki meminta Asahi untuk turun dari mobil. Dia memberikan perintah untuk memastikan keluarga Hiroshi tak membangkang kepada klannya. Sebuah kesepakatan yang akan diberikan untuk menutupi kasus penculikanku dan penusukan Hiroshi.


“Pastikan semua berjalan seperti yang aku perintahkan” perintah Kawaki yang sudah over handle setir mobil.


“Baik tuan muda, saya akan pastikan semua terkendali” jawab Asahi yang bediri di pinggir jalan.


Kawaki menginjak pedal gas dan melaju sangat kencang. Tubuhku yang lemas hanya bisa terbaring di jok bagian belakang. Sesekali Kawaki menatapku lewat kaca spion tengah, memastikan kondisiku. Dia mendarat di kuil, menggendongku ke sebuah ruangan yang berornament kayu. Seperti ruang peristihatan.


Seorang biksu memberikan sebuah pakaian untuk dapat aku kenakan, sedangkan Kawaki sedang berbincang dengan paman biksu yang waktu itu di luar.


“Apa yang kamu lakukan nak?”.


“Aku tak melakukan apapun, aku hanya mengambil milikku”.


“Ini tidaklah baik, apa yang dipaksakan pasti berujung tak baik untuk diri kita”.


“Aku tak butuh ceramahmu, paman. Simpan dia hingga kondisi terkendali”.


“Kawaki…apakah kamu punya perasaan terhadap gadis itu?”.


“Apa maksudmu? Dia hanya mainanku”.


“Nak, sadarlah dia bukanlah sebuah barang atau binatang peliharaan. Kamu menyukainya bukan? Jangan menipu dirimu sendiri, perasaan itu akan membuatmu sesak kalau di paksakan kepada orang yang memiliki perasaan yang tak sama terhadapmu. Lepaskan dia”.


“Paman, ku mohon jangan menceramahiku mengenai hal ini. Aku muak mendengarnya, apapun yang ku inginkan semua harus bisa ku dapatkan. Tak ada kata lain selain ku milki”.


Kawaki pergi meninggalkan paman biksu, dan semua perbincangan mereka terdengar olehku yang ada di dalam kamar.


Keesokannya aku mendapati kuil yang cukup tenang, nampak tak banyak kegiatan hari ini. Bahkan saat aku berkeliling di kuil, hanya ada bebepa biksu yang sedang membersih kan kuil. Sepertinya kuil ini di tutup untuk umum sementara dikarenakan untuk menyembunyikanku.


Aku mencari paman biksu, alhasil aku mendapatinya sedang berdoa di aula kuil.


Aku duduk di belakangnya, menunggu dia menyelesaikan kegiatannya berdoa. Setelah selesai berdoa, dia menghampiriku dengan wajah tenangnya.


“Apakah kamu sudah sarapan nak?”.


“Belum”.


“Mari makan bersama kami”.


“Tidak terimakasih, saya ingin meminta tolong untuk membantu saya melarikan diri dari Kawaki”.


“Saya tidak bisa menyanggupinya, karena Kawaki akan menjadi sebuah bom yang tak terkendali. Hanya kamulah yang bisa mengendalikannya”.


“Calon tunangan saya di tusuk tadi malam, saya di lecehkan dan saya terpisah dari keluarga saya. Apakah ini yang anda sebut pengendalian, dia akan tetap melakukan kekerasan kepada saya. Saya ingin hidup dengan damai, saya ingin melindungi orang – orang yang saya cintai”.


Paman biksu terdiam sejenak.


Dia pergi untuk mengambil sesuatu, yakni sebuah ponsel.


“Teleponlah keluargamu dan pastikan mereka baik – baik saja”.


Aku langsung menelpon rumah namun tak ada yang mengankat telepon, aku menelpon ke nomor ibuku dan akhirnya mendengar suaranya.


“Ibu ini aku, Chiyo”.


“Putriku… kamu dimana, suasana disini makin memanas. Ayahmu terkena serangan jantung setelah tahu kamu di culik dan paman Fukoda menutupi kasus itu dari polisi. Ayahmu berseteru dengannya, dan akhirnya tergeletak tak sadarkan diri”.


“Ibu sekarang dimana, bagaimana kondis ayah. Aku baik – baik saja, aku berada di sebuah kuil di Sapporo. Keluarga Hiroshi memiliki kesepakatan bisnis dengan keluarga Kawaki, sehingga mereka tidak mungkin memblow up kasus ini ke public atau ke kepolisian”.


“Berikan alamat kuilnya, ibu akan menjemputmu”.


Paman biksu menepuk – nepuk punggungku pelan.


“Maaf kan Kawaki nak, mungkin dia mencintaimu dengan cara yang salah. Dia tak pernah mengenal apa itu cinta, dia hanya bisa merasakan kebencian dan ambisi dalam hidupnya. Bahkan dia harus menelan kepahitan di pisahkan dari ibunya sejak lahir. Hingga dia tak pernah tahu apa itu kasih sayang, karena dia dibesarkan dengan kekerasan dan kekejaman ayahnya. Hanya untuk ambisi ayahnya yang mengharapkan Kawaki menjadi penerus klan Endo terkuat” jelas paman biksu.


Aku mengusap air mataku, “Lantas apa salahku? Hingga dia menyiksaku seperti ini. Aku membencinya”.


“Kamu tidak salah apapun, janganlah ada kebencian yang membuatmu makin menderita nak. Pasti ada jalan dari semua ini. Aku akan membantumu untuk pergi bersama ibumu malam ini”.


Mataku berkaca – kaca atas perkataan paman biksu yang mau membantuku.


Tengah malam, nampak mobil ibu berada di ujung jalan sekitar 150m dari pintu masuk kuil. Terparkir di kegelapan agar tidak terlihat. Paman biksu melepasku di depan pintu gerbang.


“Terimakasih telah mengizinkanku pergi dari sini”.


“Pergilah nak, ini memang bukanlah tempatmu. Semoga kamu di berkati oleh sang pencipta”.


Aku berlari ke arah ibu yang berada di dalam mobil, aku memasuki mobil lalu memeluk ibu sambil menangis.


“Anak bodoh, jangan menangis seperti ini. Kamu harus kuat, kita akan pergi ke pelabuhan”.


“Pelabuhan?”.


“Nanti ibu ceritakan, kita harus bergegas”.


Ibu langusng menginjak pedal gas dan melaju di salah satu pelabuhan kecil di Hokkaido.


Setibanya di pelabuhan, ibu memberikan sebuah tas ransel dan memintaku berganti pakaian. Sebuah, jaket bomber berwarna hitam, celana jeans berwarna hitam, t- shirt putih, topi dan masker hitam serta kacamata.


“Berbaliklah kata ibu”.


Aku memunggungi ibu, lantas ibu menguncir rambutku dan mengguntingnya pendek.


“Bu…ini untuk apa?”.


“Dengarkan ibu, di ransel ada sebuah indentitas palsu dan segala yang kamu  butuhkan. Hari ini kamu bukan lagi Chiyo putriku kelas 3 SMA tapi Yoshiko Kobayashi berusia 21 tahun. Naiklah kapal yang sudah ibu sediakan, kapal itu akan mengantarmu ke Pelabuhan Asashio, Ginza – Tokyo”.


“Apa maksud ibu, kenapa aku harus ke Tokyo, lantas kenapa aku harus jadi orang lain?”.


“Chiyo… ini adalah jalan yang bisa kita tempuh untuk saat ini, tak ada jalan lain. Paman Fukoda membantu kita untuk merencakan ini semua, karena dia merasa bersalah atas ketidak mampuan dirinya mempertahankanmu. Hiroshi masih di rawat di rumah sakit begitu pun ayahmu. Ibu tak mau kamu terus terjerat oleh laki – laki iblis itu. Maafkan ibu, karena ibu baru menyadari penderitaanmu selama ini”.


Ibu memelukku dengan sangat erat, menciumiku dengan mata berkaca – kaca. Aku pun mendekapnya, rasanya hatiku sesak harus meninggalkan keluargaku dan orang yang aku cintai.


“Bu sampai kapan aku dsana?”.


“Sampai semua benar – benar selesai, jangan pernah menatap ke belakang. Hiduplah dengan kehidupan barumu disana. Jangan cemaskan kami, dia tak akan melukai kami disini. Ingatlah bahwa kami sangat mencintaimu. Disana kamu akan menemukan keluarga baru, semoga semua akan berakhir indah…sayangku”.


“Bu…aku mencintaimu, sampaikan rasa cintaku kepada ayah. Lalu katakan kepada Hiroshi untuk melupakanku, sampaikan maafku kepadanya”.


Aku berjalan sambil menangis menuju ke kapal, dengan langkah yang sangat berat. Tanpa melihat kebelakang, aku menata perasaanku untuk tetap kuat menghadapi semua. Demi orang yang aku cintai, demi keberlangsungan hidupku.


Saat aku sudah ada di kapal, dengan lampu remang – remang kami pun berlayar. Tertiup angin malam yang dingin, menghapus air mataku yang mengalir. Menatap langit yang gelap…di saat itulah, firasat buruk ku rasakan.


Tepat di saat itu, Kawaki menembak paman biksu dengan brutal. Suara tembakan menyikap keheningan malam di kuil. Paman biksu mati bersimbah darah dengan wajah penuh kesedihan menatap Kawaki.


“Aku benci pengkhianat!!!” teriak Kawaki dengan wajah dingin penuh kebencian.


Kematian pertama akibat menyelamatkanku untuk melarikan diri dari kekejaman Kawaki.


XXXXXXXXXXX