LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 25 : KEMATIAN KENJI



Setelah kejadian di toilet, Kenji terdiam tak berani menatapku. Mungkinkah dia merasa malu atau takut?. Aku pura – pura tak menghiraukan hal itu dan ikut menyanyi.


Hayami duduk di sebelah Kenji mengajaknya berbicara, sedangkan aku dan Naoko asyik bernyanyi.


“Kenapa wajahmu itu, Kenji?” tanya Hayami.


“Tidak apa – apa” jawab Kenji.


“Kalau begitu sumbang lagulah untuk kami disini” ajak Hayami.


“Suaraku sedang tidak enak, lain kali saja” sahut Kenji.


“Bersantailah, jangan tegang seperti itu. Kita kesini kan untuk bermain, tunjukkan keceriaanmu. Ngomong – ngomong majulah, aku sudah memberi peluang untuk berkenalan dengan Yoshiko” pancing Hayami.


Kenji hanya diam dan meminum minuman kaleng yang ada di atas meja.


Selesai menikmati keceriaan di karaoke, kami berjalan berempat menuju penginapan. Di dalam kamar sebelum tidur Naoko mengajakku ngobrol sambil melihat langit – langit kamar.


“Bagaimana menurutmu tentang Kenji?”.


“Biasa saja”.


“Aku heran kenapa Hayami membawa pria yang tak menarik itu”.


“Hmmm…entahlah”.


“Kata Hayami dia seorang dosen junior di salah satu universitas di Tokyo”.


“Oh ya…”


“Terlihat orangnya agak kaku susah berinteraksi, apakah karena dia kutu buku?”.


“Mungkin saja”.


“Tapi setidaknya dia polos”.


“Ya…”.


“Hei…Yoshiko, pria seperti apa yang kamu sukai?”.


“Dia hangat, selalu tersenyum kepadaku, dia tak pernah marah meski aku berbuat banyak kesalahan. Meski dia lemah namun dia sangat berani membela dan melindungiku”.


“Wah…dia seperti pahlawan, sulit mencarinya. Hayami juga pria yang hangat dan humoris, tapi dia suka cemburu dan suka ngomel kalau aku melakukan kesalahan. Setidaknya dia pria penyayang”.


“Apakah kamu akan menikah dengannya?”.


“Kalau dia melamarku, aku akan menikah dengannya. Kami pacaran sudah 4 tahun ini”.


“Aku yakin dia akan menikahimu”.


“Semoga saja, ngomong – ngomong saat kita di pemandian air panas aku melihat bekas luka bakar kecil di punggungmu. Itu luka apa?”.


“Itu…bekas sengatan ubur – ubur, anggap saja begitu”.


“Hmmm…terserah saja, ayo kita tidur besok aku harus bekerja”.


Naoko lalu memunggungi Yoshiko dan menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Sedangkan aku mengenang penganiayaan yang ku terima dari Kawaki. Sundutan rokok di resort saat itu, menjadi bukti kekerasan yang aku terima darinya. Semoga kenangan buruk itu menghilang…


Aku benar – benar gelisah mendapati Uta ada di Tokyo. Apakah jalan yang aku tempuh kesini adalah salah?. Semoga itu hanya sebuah kebutulan yang tak terulang.


Disisi lain Uta berpesta dengan para wanita penghibur, semua anggota kelompok akhirnya hadir dan bergabung. Kawaki datang paling terakhir dengan wajah sadisnya, dia hanya duduk terdiam dan meminum alcohol yang ada di depannya.


Semua bernyanyi dan benar – benar pesta yang penuh kegilaan…


Uta tiba – tiba angkat bicara, “Kawaki, tadi aku melihat wanita persis seperti si jal@ng Chiyo. Kami sempat adu ngomong karena pacarnya menabrakku di karaoke. Tak salah wajahnya bak pinang dibelah dua, hanya saja rambutnya pendek dan wajahnya mengenakan make up”.


“Tak ada wajah yang sama kecuali mereka kembar atau mereka berdua adalah orang yang sama. Nemo coba selidiki semua CCTV yang ada di Karaoke itu” kata Kawaki sambil tersenyum sinis.


“Baik, besok aku akan telusuri” jawab Nemo.


“Mendengar namanya saja, seakan sebuah tanda permainan yang seru akan dimulai” kata Kawaki lalu tertawa…dan mengajak bersulang  dengan mata penuh kebencian. Semua menyambut dan bersulang dengan suka cita.


Dua hari setelah kejadian itu…


Kenji dengan posisi di gantung, tangannya diikat rantai di tarik ke atas. Dua orang bertopeng Oni (merupakan topeng yang menggambarkan wujud setan khas jepang yang menyeramkan). Di siramnya air ke wajahnya hingga akhirnya dia terbangun.


“Dimana aku?! Ku mohon lepaskan!!!” teriak Kenji ketakutan.


“Kamu tidak perlu tahu, kamu akan hidup bila menjawab pertanyaanku dengan benar” kata Kawaki dengan mata tajam mengenakan masker dan topi hitam.


Di sodorkan sebuah foto Chiyo kepada Kenji.


“Kamu kenal?” tanya Kawaki.


“Dia mirip dengan Yoshiko” jawab Kenji.


“Siapa Yoshiko?” tanya Kawaki.


“Dia wanita yang dikenalkan Hayami saat kami pergi ke pemandian air panas beberapa hari yang lalu” jawab Kenji.


“Apakah kalian berkencan?” tanya Kawaki.


“Tidak, kami baru mengenal saat itu” jelas Kenji.


“Dimana dia tinggal?” tanya Kawaki.


“Aku tidak tahu, aku hanya tahu dia bekerja di caffe miliki Hayami di pinggiran kota Tokyo” jawab Kenji.


“Siapa Hayami?” tanya Kawaki.


“Dia temanku saat SMA” jawab Kenji.


“Lalu apa hubungannya Hayami dan gadis ini” tanya Kawaki.


“Dia bos Yoshiko dan pacar dari kakaknya Yoshiko bernama Naoko. Hanya itu saja yang aku tahu, ku mohon lepaskan aku” tambah Kenji.


Nemo langsung memberikan ponsel milik Kenji, lalu Kawaki mendekatkan ke wajah Kenji untuk membuka kunci ponselnya. Dia mendapati nomor telepon Hayami serta foto kebersamaan mereka berempat waktu di penginapan. Kawaki ngezoom photo wanita yang disebut mirip Chiyo. Sambil tersenyum sinis dia berkata lirih “Ketemu”.


Di belakang Kawaki, Kenji di pukuli dengan balok besi berkali – kali dengan mulut yang di sumpal, kepalanya di tutupi menggunakan kain hitam. Sampai tubuh Kenji tak bergeming dan meninggal, Uta melepaskan topengnya menghampiri Kawaki yang masih sibuk memandangi photo Chiyo.


“Kawaki mayatnya mau kita apakan?” tanya Uta.


“Potong tangannya untuk sidik jari oleh – oleh buat kepolisian, sisa tubuhnya tenggelamkan ke perbatasan laut jepang dengan rantai beton hingga selamanya dia tak muncul ke permukaan. Kita harus memancing kelinci yang tersesat” perintah Kawaki dengan senyum kepuasan.


Keesokannya, seisi Tokyo gempar dengan penemuan sebuah telapak tangan di dalam box yang dibungkus bak kado hadiah di depan pos security univertias dimana Kenji mengajar. Seketika kantor polisi setempat tiba dan mengidentifikasi bahwa benar itu adalah tangan manusia dan langsung masuk di laboratorium forensik.


Menjadi sebuah kabar yang menggemparkan Tokyo hingga seluruh stasiun televisi dan semua media mengangkat kasus tersebut. Aku setelah sarapan, menatap layar televisi di ruang tengah sembari menyiapkan tas yang akan aku pakai untuk bekerja. Awalnya aku mengacuhkan berita itu karena belum diketahui identitas korban.


Ketika kepolisian mempublikasikan identitas korban setelah teridentifikasi dari sidik jari dan sisa darah dari yang ada di telapak tangan tersebut. Nama Kenji disebut dalam berbagai media, bahkan banyak beberapa nara sumber baik keluarga, rekan kerja di wawancari beberapa media.


Aku saat berita itu muncul sedang berada di caffe bersama Hayami, menatap layar televisi yang tergantung di salah satu dinding caffe. Seketika lemas terduduk di lantai, Hayami pun membeku mendengar temannya adalah korban dari kasus pembunuhan yang sedang marak diperbincangkan itu.


“Apakah itu ulah Kawaki?” tanyaku di dalam hati, aku bangkit dan berjalan terhuyung – huyung menuju bar. Mengambil segelas air dan meminumnya, seakan tenggorokan ku tercekat mengetahui Kenji orang yang baru di temui dan dia kenal telah meninggal akibat dibunuh dengan sadis.


“Kenapa Kenji meninggal dengan tragis, apa salahnya hingga seperti ini. Betapa kejamnya si pembunuh itu” kata Hayami menahan rasa marahnya.


Chiyo diam termangu tak memperdulikan perkataan Hayami.


“Yoshiko…besok aku akan pergi melayat, aku titip cafe ini kepadamu. Di grup chat alumni sudah ramai berita kematian Kenji. Keluarga memutuskan mengadakan pemakaman, meski sisa tubuhnya tidak diketemukan” kata Hayami.


“Semoga ini bukanlah karenaku, dia dibunuh dengan sangat tragis” kataku dalam hati.


“KRING…KRING…OLALALAALA” bunyi sebuah nada dering dari ponsel Hayami.


Sebuah telepon masuk ke ponsel Hayami, saat Hayami angkat lalu dimatikan.


“Sekarang banyak sekali orang iseng, aku beberapa hari ini ditelepon dengan nomor tak dikenal berulang kali namun tak ada suara” kata Hayami kesal.


Firasatku berkata buruk, tapi aku mencoba untuk tenang.


 


...XXXXXXXXXXXXX...