
Kak Soma kembali masuk ke dalam kamar pasien, dia menatapku yang sudah terduduk terbangun karena nada dering ponselnya tadi yang berbunyi.
“Kembalilah tidur Chiyo” katanya lalu duduk di kursinya kembali.
“Aku sudah tidak bisa tidur lagi, aku sudah beristirahat cukup lama” jawabku.
“Tahukah kamu kenapa Hiroshi menyukaimu? Karena tumbuh semakin cantik” katanya mencoba menghiburku.
Aku hanya bisa tersenyum getir.
“Pasti saat ini dia syok mendengar kondisiku yang semakin memprihatinkan, aku sedih terus menjadi beban pikirannya. Aku berharap dia bisa hidup bahagia dan melupakanku” kataku membuat kak Soma menghela nafas.
“Chiyo… bersabarlah, sebentar lagi aku akan membebaskanmu. Aku datang ke Jepang bukan hanya merindukan keluargaku, tapi aku memiliki misi menyelamatkan hidupmu. Aku berjanji akan membantumu. Mengenai Hiroshi, dia memang memiliki hati yang lembut dan sentimental. Percayalah seiring berjalannya waktu semua akan baik – baik saja” katanya memberikanku sebuah harapan baru.
“Apakah kakak yakin akan menghadapi Kawaki, itu jalan satu – satunya untuk menyelamatkanku” aku pun mencoba mencari kepastian.
“Tenanglah…aku dapat menghadapinya. Hidupku sangatlah keras di Filipina, 10 tahun aku diasingkan ayah dan bertahan hidup seorang diri. Menghadapi anak tengil itu, bukanlah hal besar bagiku” kata kak Soma mencoba meyakinkanku.
“Kakak tahu, Kawaki bukanlah seorang anak nakal yang mudah diatasi. Dia pria gila yang sadis dan tak bisa diprediksi, aku tak ingin kakak terseret dalam pusaran penderitaanku” aku mencoba memberi gambaran mengenai Kawaki.
“Yakinlah kepadaku… aku sudah mengatur skema untuk melarikan diri dari Jepang, dia tak mungkin mengejar dan melacak kita” katanya dengan penuh keyakinan.
“Bagaimana dengan kedua orang tuaku kak, aku tak mau keduanya dilukai olehnya” aku menjadi cemas.
“Aku akan mengungsikan kedua orang tuamu, setelah penyerahan dirimu kepada mereka. Kawaki pasti akan menepati janjinya untuk menyerahkanmu ke Osaka, kemudian kita akan mengungsikan paman dan bibi terlebih dahulu. Lalu kita pun menyusul” Kak Soma menjelaskan rencananya yang sudah disusun.
“Terimakasih kak” kataku dengan menangis haru, setidaknya ada sebuah harapan besar bagiku kepada kak Soma.
Kak Soma lalu berdiri dan memelukku, menepuk – nepuk punggungku dengan lembut. Aku terus menangis terisak – isak menumpahan kepedihan di dalam dada.
Keesokannya…
Kawaki datang sangat pagi bersama Asahi, ternyata dia mengurus kepulanganku dari rumah sakit. Wajahnya yang datar masuk ke dalam kamar dengan langkah yang sangat pelan. Sehingga aku dan kak Soma yang tertidur tak mendengarnya masuk.
Aku terbangun saat tangannya mengelus pipiku, saat aku membuka mata wajahnya sudah ada di hadapanku sangat dekat.
“Kamu senang tidur dengan ditemani pria asing?” tanyanya dengan wajah datar.
“Kamulah pria asing, aku sudah mengenalnya sejak kecil” jawabku.
“Sepertinya obat yang diberikan rumah sakit sangat manjur, hingga kamu ada tenaga hingga berani menjawab seperti itu. Kalau begitu saatnya kita pulang” katanya.
“Tidak…aku tidak mau pulang bersamamu” tolakku.
“Aku tidak butuh persetujuanmu” kata Kawaki sambil menarik selang infu dari tanganku sehingga membangunkan kak Soma yang tertidur dalam posisi duduk.
“Woi…pagi – pagi begini sudah membuat keributan, apakah kamu tidak ada kerjaan mengganggu pasien” sindir kak Soma.
“Aku hanya mengambil milikku yang tertinggal disini, dan bukan urusanmu. Jangan coba – coba ikut campur dalam hal ini” ancam Kawaki.
Lantas Kawaki menggendongku dengan paksa, melihat itu wajah kak Soma menunjukkan dia mulai geram dengan sikap Kawaki.
“Lepaskan…aku, Kawaki…!!! Turunkan tubuhku, aku tidak akan mau pulang bersamamu!!!” makiku mencoba melepaskan diri dari gendongannya.
“Lihatlah dia tidak mau ikut denganmu, seharusnya kamu sadar diri untuk melepaskannya. Dia bukan milikmu, dia bukanlah barang yang bisa kamu ambil sembarangan” tambah kak Soma.
Asahi datang menengahi sambil membawa surat kepulanganku dari pihak rumah sakit.
“Urus dia” kata Kawaki memberikan kode untuk menangani kak Soma yang mencoba mencegah Kawaki membawaku pergi.
“Baik tuan muda” jawab Asahi yang menghalangi tubuh kak Soma.
“Lepaskan…aku!!!” teriakku.
“Ini adalah penculikan” kata kak Soma melihat Kawaki keluar membawa dalam gendongannya.
“Maaf…nona Chiyo di bawah tanggung jawab kami. Jadi ini adalah sah di mata hukum” kata Asahi menyodorkan selembar kertas.
Dimana itu adalah surat keputusan konservator atau wali atas Yoshiko Kobayashi arena dianggap mengalami gangguan mental dan tak sanggup mengelola kehidupannya dengan baik.
“Siapa Yoshiko Kobayashi?” tanya kak Soma bingung.
“Dia adalah identitas baru dari nona Chiyo yang telah dianggap meninggal dua tahun yang lalu dan sudah didaftarkan kematiannya oleh kedua orang tuanya” jelas Asahi membuat kak Soma mengernyitkan dahinya.
“Jadi Chiyo menggunakan identitas palsu sekarang? Kenapa?” tanya kak Soma semakin tak mengerti.
“Anda bisa menanyakan lebih lanjut kepada tuan Ryota, beliau yang memberikan identitas tersebut” jawab Asahi.
“Apa! Ryota?!” kak Soma kaget kalau kak Ryota ikut berperan dalam kasusku.
“Benar, kalau begitu saya permisi dulu” Asahi pun menyudahi pembicaraan dan berpamitan pergi.
Kak Soma yang penuh tanya langsung pergi menemui kak Ryota yang masih berada di hotel.
Kak Soma menemui kak Ryota di lounge hotel, duduk sambil minum alcohol menghadap ke bartender yang sedang sibuk meracik alcohol di belakang meja bar.
“Apa yang membuatmu datang kepadaku, sepertinya kita tidak punya bahan pembicaraan untuk didiskusikan” kata kak Ryota yang enggan bertemu.
“Apa kamu yang memberikan identitas palsu kepada Chiyo?” tembak kak Soma tanpa basa – basi.
“Benar, aku melakukannya karena waktu itu ayah memintaku untuk menyelamatkannya dari kejaran Kawaki” jawab kak Ryota.
“Lantas kenapa Chiyo masih bersama Kawaki?” tanya kak Soma.
“Itu diluar kendaliku, aku sudah mengusahakan dia mendapatkan hidup baru di Tokyo tapi sayang sekali dia tertangkap” jawab kak Ryota.
“Ryota…kamu masih saja picik seperti dulu. Kamu tahu Kawaki menguasai Kanto termasuk Tokyo. Lantas kamu sengaja memasukkan Chiyo ke dalam perangkap. Meski dia berlari sejauh mungkin, Kawaki pasti menemukannya dengan mudah. Kamu berusaha tak mengecewakan ayah tapi kamu juga tak ingin melepaskan pengaruh klan Endo” kata kak Soma yang sadar saudara tirinya sedang bermain dalam kasusku.
Sejenak kak Ryota terkekeh…menyadari saudara tirinya masih saja pintar menganalisa trick yang digunakannya.
“Soma..jangan coba ikut campur, ini adalah bidang permainanku. Chiyo akan selamanya digenggaman Kawaki. Jangan coba mengacaukan semuanya, aku sudah menyusun puzzle mencapai puncak” aku kak Ryota.
“Kamu masih kurang puas dengan pencapaianmu, Hiroshi dan aku tak pernah berpikir akan merebut atau menguasai bisnis keluarga kita. Kamu bisa ambil semuanya lantas kenapa kamu mengorbankan gadis polos tak berdosa itu demi ambisimu” kak Soma meradang.
“Pencapaian katamu? Aku hanya menduduki posisi ini karena kalian berdua sulit di jangkau oleh ayah. Pernahkah kamu tahu, saham terbesar diatas namakan dirimu. Ayah melakukan itu karena perasaan bersalahnya telah mengasingkanmu selama 10 tahun ke Filipina. Aku tidak bodoh Soma, dengan dukungan dari klan Endo semua akan beralih kepadaku tanpa terkecuali” jelas kak Ryota menatap kak Soma dengan sinis.
“Jadi karena saham receh itu, ambillah. Asal kamu berada di pihakku, aku akan memberikan semuanya untukmu. Aku tidak butuh itu semua, bergabunglah denganku untuk menyelamatkan Chiyo. Ini kesepakatan emas antara kita berdua” kak Soma memberikan tawaran yang menggiurkan kak Ryota.
Keduanya saling menatap sambil melempar senyum licik.
XXXXXXXXXXXX