LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 29 : TRAGEDI NAOKO



Di sebuah halaman dengan rumput hijau yang luas, pepohonan yang teduh membalut pagi penuh kesegaran. Seorang pria berusia 50an mengenakan yutaka hitam duduk anggun menikmati secangkir teh hijau. Kawaki duduk berhadapan dengannya mengenakan pakaian senada, ikut menikmati teh hijau yang tersaji di atas meja dengan penuh ketenangan.


“Apakah kamu masih sibuk mencari kelinci mainanmu?” pria tua itu bertanya pelan.


Kawaki hanya terdiam tak menanggapinya, dia meletakkan cangkir tehnya di meja.


“Jangan buang waktu untuk hal tak berguna, setelah binasanya klan Aihara maka para klan lain akan sangat mewaspadaimu. Tetaplah fokus pada posisi yang akan kamu sandang, klan Endo ada ditanganmu” tambah pria tua itu.


“Aku hanya menikmati waktu luangku, jangan khawatir hal itu tak akan menggoyahkan kedudukanku serta berdampak buruk terhadap klan Endo” jawab Kawaki.


“Kau membunuh pamanmu hanya karena gadis itu, cinta akan membutakanmu ingatlah itu” tegur pria itu.


“Aku pun membunuh keluarga ibuku atas perintahmu, bukanlah kita sejenis…ayah” sahut Kawaki menatap lawan bicaranya yang ternyata ayahnya dengan sinis.


Ayahnya tersenyum dan menepuk – nepuk pundak putranya.


“Bersenang – senanglah” katanya mengakhiri pembicaraan.


Kawaki menuju ke sebuah ruang pemandian, dia menanggalkan pakaiannya kemudian masuk ke sebuah kolam yang mengandung air hangat. Kepulan uap air memenuhi ruangan, di sandarkannya punggungnya yang bertattoo naga itu di pinggiran dinding kolam.


Dia mengingat setiap scene dirinya bersama Chiyo, betapa angkuh dirinya terus melawan dan meronta saat di tindas. Kemudian dia membandingan dengan Yoshiko yang ditemui terakhir kalinya. Dia merasakan bahwa dia bertemu dengan orang yang sama.


Asahi mengetuk pintu dari luar, “TOK…TOK…TOK!!!”.


“Masuklah” sahut Kawaki yang terbangun dari lamunannya.


“Tuan muda saya sudah menyelidiki nona Naoko Kobayashi”.


“Lantas apa yang kamu temukan”.


“Nona Naoko Kobayashi memiliki adik bernama Yoshiko Kobayashi, akan tetapi tahun 2002 ditemukan jasad anak kecil yang ada di sisa puing – puing bangunan yang telah terbakar dimana di duga adalah adiknya. Jasad sudah berbentuk tulang belulang yang belum diidentifikasi oleh pihak polisi.


Hal ganjil adalah nona Yoshiko bergabung hidup bersama sejak satu tahun yang lalu, bertepatan dengan hilangnya nona Chiyo dari Hokkaido. Ini kami dapatkan dari security appartement. Nona Naoko sempat menjadi teman kencan tuan Ryota saat beliau kuliah di Tokyo, ini kami dapatkan dari salah satu teman nona Naoko saat kuliah.


Jadi ada dugaan bahwa nona Chiyo merupakan pengganti dari nona Yoshiko Kobayashi”.


“Berarti dia mencoba mengecohku, sangat menarik. Temukan Naoko malam ini, mari kita bersenang – senang”.


“Baik tuan muda”.


Naoko janjian dengan Hayami di appartement untuk membicarakan Yoshiko dengan makan malam bersama. Setibanya mereka berdua di appartement, mereka terkejut melihat ada beberapa orang mengenakan pakaian serba hitam menunggu mereke di dalam. Saat mereka mencoba untuk melarikan diri, seketika orang – orang yang bertopeng oni memukul kepala keduanya.


Di sebuah gudang container kosong di dekat dermaga, mereka berdua terduduk di lantai dengan tali melilit tubuh mereka. Kawaki duduk di kursi dengan memangku tangannya di dada menatap keduanya yang masih pingsan.


“BYUUUUURRRRR!!!” disiramlah seember air kepada Hayami dan Naoko yang duduk berdampingan.


Terbangunlah keduanya dan menatap satu sama lain, mulai mencerna apa yang ada di sekelilinya hanya dua orang bertopeng oni berdiri di kanan – kiri.


Kawaki yang menggunakan masker dan topi hitam menatap keduanya tajam.


“Dimana aku?” tanya Hayami.


“Apa salah kami, hingga kami diperlakukan seperti ini” protes Naoko.


“Kalian sangat berisik, sumpal mulut yang pria!” perintah Kawaki.


Salah satu anak buahnya lalu menyumpal mulut Hayami menggunakan kain.


“Singkirkan pria it ke gudang lain” tambah Kawaki, kemudian salah satu anak buahnya menyeret Hayami pergi.


“Jangan lakukan apapun kepadanya” minta Naoko yang menatap Hayami di seret keluar.


“Tenanglah, dia bukanlah targetku. Tapi bisa jadi terkena imbasnya karena dirimu” jelas Kawaki.


“Apa yang kamu mau dariku?” tanya Naoko.


“Dimana Chiyo kamu sembunyikan?” tanya Kawaki balik.


“Aku tidak tahu siapa itu Chiyo” jawab Naoko.


Anak buah Kawaki langsung menampar keras wajah Naoko “PLAAAKKKK!!!”.


Kawaki berjalan menghampiri Naoko memudian meraih rambut Naoko dan menariknya sehingga Naoko mendongak ke atas menatp wajah Kawaki.


“Apa maksudmu?”.


“Kamu masih ingin bermain lebih ganas dari ini, atau ingin melihat tangan kekasihmu di celupkan di timah panas. Agar tak bisa menyeduh kopi lagi”.


“Ku mohon jangan sakiti dia, sungguh dia tak tahu apapun”.


“Pukul kaki wanita ini, biar dia tak bisa melarikan diri seperti adik palsunya”.


“Ku mohon jangan siksa aku, sungguh aku tak tahu dimana keberadaan Yoshiko”.


“Jadi kamu mengkonfirmasi Yoshiko adalah adik palsumu?”.


Naoko tak menjawab, seketika anak buah Kawaki menarik paksa kakinya dan menghantamnya dengan tongkat baja berkali – kali.


“AAAARRRRGHHH!!!” suara teriakan Naoko memecah keheningan malam.


Hayami yang berada di gudang container yang gelap, mendengarnya hanya bisa sedih karena dia tak bisa melakukan apapun.


Rasa sakit yang begitu luar biasa dirasakan Naoko, hingga akhirnya dia pingsan.


Hari kedua penyekapan..


Naoko disiram dengan seember air laut, dia terbangun lemas.


Kawaki sibuk mengecek ponsel milik Naoko, Nemo berdiri di sampingnya.


“Sudah kamu kacaukan IPnya?” tanya Kawaki.


“Ponsel itu sudah tidak bisa dilacak, kita bisa gunakan tanpa ada yang bisa melacak lokasi kita sekarang” sahut Nemo.


“Kamu tidak akan bertemu dengan Yoshiko, dia sudah meninggalkan Tokyo” kata Naoko yang terbujur lemas di lantai.


“Yoshiko adikmu sudah mati 1999, jasadnya ditemukan 2002. Sedangkan adik palsumu dia dalah milikku, aku akan mendapatkannya kembali” jelas Kawaki.


“Tidak…adikku masih hidup, dia menulis surat kepergiannya bersama pria lain hidup bahagia” tambah Naoko.


Perkataan Naoko memprovokasi kemarahan Kawaki, langsung saja Kawaki menendang tubuh Naoko.


Kawaki menginjak dada tengah Naoko dengan wajah datar dia berkata “Dia bukan pel@cur seperti ibumu atau pun dirimu. Dia hanya bermain denganku, owh bahkan malam panas kami nikmati terakhir kali. Apakah kamu yang mengajarinya melakukan itu? Aku sangat berterimakasih telah membuatku menikmatinya. Meski aku membenci bau parfumnya”.


“Meskipun darahku dari seorang pel@cur tapi aku tak semenyedihkan dirimu yang tak pernah dicintai, hingga kamu mencari wanita dengan penuh keputusasaan” sahut Naoko dengan berani.


Kawaki terdiam mengambil pisau kecil di sakunya, lalu menggores wajah Naoko “SREEETTT”.


“Apa yang kamu lakukan terhadap wajahku?!” protes Naoko dengan wajah bagian kanannya mengeluarkan darah.


“Lebih baik kamu hidup dengan cacat itu lebih menarik ketimbang kamu mati, kamu akan merasakan keputusasaan abadi hingga kamu ingin mengakhiri hidupmu sendiri” kata Kawaki tersenyum sinis.


Dia berjalan kembali duduk menikmati rintihan Naoko yang di pukuli oleh anak buahnya. Enju datang menghampiri Kawaki “Kami sudah menggeledah appartement itu, tidak ada petunjuk hanya secarik kertas ini yang ada disana”. Enju memberikan surat Chiyo untuk Naoko.


Kawaki membacanya lantas tersenyum sinis “Jadi pasangan dua sejoli ini berencana menikah? Kabar yang menggembirakan, mempelai wanita lumpuh dengan bekas luka di wajahnya. Lantas bagaimana dengan mempelai pria? Hmmm… menarik, kebiri dia sebagai hadiah pernikahan keduanya dariku”.


Enju pun menundukkan kepala dan bergegas ke gudang container sebelah memerintahkan kedua anak buahnya mengeksekusi Hayami. Sebuah tragedi yang tak akan keduanya lupakan Hayami menjerit kesakitan saat dikebiri paksa, hingga total senjata yang ia miliki terpenggal habis.


Fajar telah tiba, keduanya yang terkulai lemas tak berdaya di buang di pinggir jalan jauh dari kota Tokyo. Mereka terkulai di semak – semak di tengah kegelapan, hingga akhirnya beberapa jam kemudian di temukan seorang supir truk sayur dan membawa mereka ke rumah sakit.


Disisi lain Kawaki sedang meremas kertas yang di tulis Chiyo dan membuangnya ke sudut kamarnya. Dia menatap foto – foto Chiyo yang diambil dari gallery ponsel Naoko.


“Kamu sedang mengecohku saat itu, bagaimana pun aku akan menemukanmu. Chiyo…”.


...XXXXXXXXXXXX...