LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 31 : PERTEMUAN DENGAN JIRO SI IKAN BUNTAL



Kepindahanku dari appartement Naoko bagiku merupakan jalan yang tepat, aku mulai menapaki hari demi hari sendiri. Tanpa menjadi beban dalam hidup orang lain. Entah bagaimana kabar Naoko dan Hayami, disini aku mendapatkan sebuah lingkungan yang ramah dan menyenangkan.


Azura selaku pemilik bangunan yang aku sewa, membantuku mencari sebuah pekerjaan di kedai kecil tak jauh dari tempat tinggalku. Sebuah kedai kecil yang menjual bento dimana penjualnya adalah seorang kakek dan nenek yang sudah tua. Namun semangat mereka seperti anak muda.


Bibi Sanchi merupakan anak dari kedua lansia tersebut, beliaulah bos baruku. Bertubuh gempal dengan wajah bulat, rambutnya tertata rapi dengan jambul di depan. Setiap hari aku bekerja di kedai dari pukul 08.00 hingga 05.00 sore, tak hanya gaji aku pun mendapatkan sekotak bento komplit setiap harinya untuk makan siang.


Aku melayani berbagai pelanggan dari karyawan kantoran, mahasiswa hingga pekerja kasar. Sesekali kami menerima orderan skala besar untuk sebuah organisasi atau event. Aku mulai nememukan kehidupan yang tenang dan menyenangkan.


Di saat libur Azura mengajakku untuk membantunya menanam & memanen tanaman hidroponik miliknya. Kadang dia membawaku ke sebuah perkebunan di wilayah lain, untuk membantunya. Dia pria lajang yang banyak bicara, meski demikian dia sangat baik dan humoris.


Aku telah menikmati kehidupan sendiri ini selama tiga bulan tanpa ada kendala, aku berharap semua baik – baik saja hingga waktu yang tak terbatas.


Minggu…


Aku menikmati memanen buah apel di sebuah kebun milik saudara Azura. Kami pun beristirahat sejenak di siang hari sembari meminum jus apel, sambil berteduh di pohon rindang dari terik matahari yang menyengat.


“Hoi…Yoshiko, kenapa makanmu banyak sekali. Aku bisa rugi memberi upah kepadamu tapi kamu masih saja menghabiskan makananku”.


“HA…HA…HA…Dasar pelit, aku pekerja wanita lihatlah kecantikanku memudar karena harus memanen apel di cuaca sepanas ini. Wajar saja aku butuh nutrisi lebih banyak, ini sebagai kompensasinya”.


“Hmmm…. Aku menyesal membawamu, tapi taka da lagi wanita penyewa yang rajin selain dirimu. Pria yang akan menikah denganmu pasti sangat senang mendapatkanmu sang pekerja keras”.


Aku mendengarkan kemudian terdiam, mengingat pertunangan berdarah yang ku alami. Hidupku terlalu menyedihkan untuk mengharapkan sebuah pernikahan.


“Kenapa kamu diam? Kamu marah, jangan terlalu memikirkan omonganku nanti bisa cepat tua. Wajah cantikmu akan segera layu seperti apel yang busuk itu berjatuhan di tanah”.


“Tidak, aku hanya mengingat sesuatu. Tenanglah aku punya mental baja untuk hidup”.


“Mengingat apa? Kekasihmu?”.


“Aku tak punya kekasih”.


“HA…HA…HA…HA…Sungguh kasihan, carilah mumpung masih muda. Pasti banyak pria yang ingin berkencan denganmu”.


“Sadarlah, kamu juga melajang diusiamu yang sudah semakin tua. Minum jusnya, dan kita selesaikan secepatnya. Aku ingin bergegas pulang untuk merebahkan tubuhku yang renta ini”.


“Cih…dasar anak muda, semangat musiman”.


Kami pun beranjak berdiri dan mulai memanen dari satu pohon ke pohon yang lain. Sepulang dari memanem apel, aku mendapatkan satu box apel dari Azura sebagai bonus. Ku putuskan mengambil beberapa dan sisanya ku berikan kepada bibi Sanchi dan yang lainnya.


Keesokannya…


Dengan penuh semangat aku membawa plastic berisikan apel merah kualitas premium hasil panen kemarin. Aku sengaja berangkat lebih awal, agar bisa menikmati the bersama bibi serta nenek dan kakek.


Setibanya aku masuk ke dalam dapur bagian produksi bento, ku dapati seorang pria gempal memunggungiku sedang berbicara bibi Sanchi.


“Bibi aku datang!” kataku.


“Yoshiko…tumben sekali kamu berangkat pagi sekali” sahut bibi.


“Kita kedatangan tamukah?” tanyaku sembari melihat punggung pria itu dari belakang,


“Dia mantan putraku, datang katanya karena rindu. Jangan anggap dia ada” keluh bibi yang mengenalkan pria di depanku.


“Kamu tetaplah ibuku, meski kamu membuangku seperti sampah. Aku akan tetap kembali untuk melihatmu” kata pria itu.


“Pergilah…aku mau mulai produksi bento, aku tak butuh uangmu. Aku sudah bahagia bisa berjualan seperti ini” tegurnya kepada pria itu.


“Aku akan memborong bentomu, maka siapkanlah” kata pria itu.


“Aku tak sudi melayani pesananmu, pergi kataku!” tegas bibi Sanchi sembari memukuli pria itu.


Akhirnya aku bisa melihat wajah pria itu, saat berbalik menghadap ke arahku. Seketika aku terkejut dan syok dia adalah Jiro si ikan buntal. Sekantong plastik berisikan apel itu terjatuh dari tanganku. Jemariku seakan lemas, apel yang ada di plastik menggelinding dan berpencar memenuhi sudut dapur.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku di hati dengan sangat panik.


“Ya ampun… Yoshiko ini apelmu malah berpencar kemana – mana, kamu ini bagaimana?!” bentak bibi sembari memunguti apel di lantai.


Aku pun tergugah dari lamunanku dan ikut membantu memungut apel yang ada di lantai. Jiro pun melakukan hal yang sama, kami hanya bisa terdiam tapi saling curi pandang.


Setelah apel terkumpul aku pun menaruhnya ke dalam keranjang dan mencucinya. Nenek dan kakek baru datang membantuku mengupas apel untuk di makan.


“Nak bawa apel ini yang sudah terkupas ke depan, biar cucuku bisa menikmatinya. Serta bawa ini untuk sarapannya, nenek tadi membuatnya untuk di bawa pulang” kata nenek kepadaku sembari menyodorkan sepiring apel yang telah terkupas dan satu porsi bentu sudah ada di plastik.


Aku masih mendengar bibi Sanchi mengomel kepada Jiro, suaranya memenuhi kedai yang tak luas itu. Aku pun memberanikan diri masuk ke tengah – tengah pembicaraan mereka di kedai bagian depan. Nampak Jiro hanya menundukkan kepala, si ikan buntal ternyata punya sisi anak manja juga.


“Sudahlah bi, kasihan dia … lihatlah dia sudah terdiam mendengar cari maki bibi sedari tadi. Biarkan dia melihat ibunya, karena seorang anak tak akan melupakan ibunya. Pasti dia sangat sedih tak bertemu bibi, meski dia tahu kalau pulang akan begini tapi dia tetap ingin melihat ibu yang dia cintai” kataku memotong omelan bibi.


Akhirnya bibi terdiam, aku pun menyajikan sepiring apel dan bento ke meja depan Jiro.


“Makanlah, ini apel yang sudah di kupas nenek untukmu. Dia pun menyiapkan seporsi bento untukmu. Meski apapun kondisimu, berkunjunglah. Sejujurnya mereka pasti merindukanmu juga” kataku kepada si ikan buntal Jiro yang sedari tadi menundukkan kepala.


“Terimakasih” kata Jiro pelan sembari mengangkat wajahnya.


“Jangan pernah kembali, aku tak pernah punya anak seperti dirimu. Hidup kotor mengikuti para gangster itu adalah pilihanmu, dan anakku mati dari pilihan yang kamu pilih” tambah bibi.


“Maaf kan aku bu” kata Jiro sambil memegang tangan ibunya.


Bibi Sanchi menepisnya, lalu masuk kedalam.


Aku pun duduk di depan Jiro yang sedih, aku sadar pasti perasaannya terluka mendengarnya. Entah sudah keberapa kali bibi melakukan itu kepadanya. Meski terlepas dari pilihan hidup Jiro yang salah, dia tetap menyayangi ibunya.


Aku jadi mengingat ibu dan ayah di Hokkaido, ingin sekali aku pulang ke rumah namun aku tak ingin menjadi beban bagi mereka. Selama Kawaki tak melepaskanku, hidupku akan terus dalam pelarian.


“Makanlah” kataku.


Jiro pun makan dalam diam, sesaat kami diliputi keheningan. Tak ada sepatah kata pun diantara kami, kami hanya bisa duduk berhadapan di keheningan kedai.


Setelah makan, Jiro pamit pulang…


Kami berdiri di depan seberang kedai.


“Aku tahu kamu Chiyo”.


“Aku adalah Yoshiko Kobayashi, jangan seenaknya menamaiku dengan nama orang lain”.


“Kawaki sudah tahu mengenai identitasmu, kamu tak akan bisa melarikan diri dengan identitas palsu itu”.


“Bagaimana dia tahu?”.


“Kamis sudah menyelidiki, bahkan Ryota juga sudah mengkonfirmasi. Kami di minta mencarimu, bersiaplah untuk tertangkap”.


“Bisakah kamu menolongku saat ini untuk tidak mengatakan apapun pada Kawaki si iblis itu”.


“Menurutmu berapa lama kamu bisa tinggal disini? Kawaki tak akan pernah melepaskanmu. Aku pun bisa mati kalau mengkhianatinya, kali ini aku akan diam karena kamu membantuku bicara pada ibuku. Berarti kita impas, tapi segeralah pergi dari sini”.


“Aku butuh waktu untuk berpindah, sebenarnya aku sudah sangat nyaman dengan keluargamu. Mereka seperti keluarga bagiku, dimana keluargaku sendiri tak bisa ku temui karena harus melarikan diri terus menerus”.


“Aku akan diam dan tak membagikan informasi keberadaanmu kepada Kawaki dan yang lain, tapi tolong jaga keluargaku untukku. Aku tak bisa menjaga mereka setiap saat”.


“Sepakat”.


Kami memutuskan untuk pura – pura tak saling kenal dan melupakan pertemuan kebutulan ini. Sejujurnya baru kali inilah aku merasa si ikan buntal tak menyebalkan dan merupakan anak yang baik. Semoga aku bisa bertahan lebih lama disini.


XXXXXXXXXX