LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 27 : YOSHIKO KOBAYASHI ADALAH AKU



Selesai menutup café pukul 22.00, aku bergegas pergi untuk pulang ke rumah. Hayami bingung melihat tingkahku yang buru – buru.


“Kamu mau pulang, tumben sekali buru – buru. Memang kamu mau ada janji dengan siapa?” tanya Hayami yang sedari tadi memandangiku wara – wiri di depannya.


“Ada hal yang harus aku lakukan, oh ya… sepertinya beberapa hari ke depan aku tidak bisa datang. Cobalah cari penggantiku mulai dari besok, maafkan aku namun ini sangat mendadak” kataku sambil mengambil tas.


“Memangnya urusan apa yang membuat bolos, dan apakah kamu bosan kerja disini?” tanya Hayami heran.


“Jangan terlalu banyak bertanya, aku akan menjelaskannya nanti. Aku pulang dahulu ya…bye!!!” sahutku langsung keluar dari café.


Setibanya di rumah aku mencari pakaian Naoko yang ada di lemari, membongkarnya.


“Hei…Yoshiko, kamu sedang apa. Ngapain tengah malam mencari baju?” tanya Naoko yang baru pulang dari kantornya, duduk di ranjang sambil memandangiku mengobrak – abrik lemarinya.


“Apakah kamu punya bra yang bisa meningkatkan volume payudaraku?” tanyaku polos.


“Hah…” Naoko kaget mendengarnya.


“Kamu mau pergi berkencan, dengan siapa? Aku perlu tahu orangnya, jangan berikan tubuhmu seenaknya ke sembarangan pria” Naoko mulai menasehatiku.


“Aku tidak melakukan apa yang kamu pikirkan, bantu aku mencari pakaian tersexy yang pernah kamu miliki. Aku sudah tidak ada waktu lagi, ku mohon..” mintaku sambil menarik tangan Naoko yang masih duduk di pinggir ranjang.


Sebuah mini dress berwarna merah maroon tanpa lengan dan ketat serta jaket kulit hitam telah ku kenakan. Aku pun memakai riasan sedikit tebal, agar terlihat berbeda dari Chiyo yang dikenal oleh Kawaki. Stocking jaring – jaring berwarna hitam dan sepatu high heel telah menyempurnakan penampilanku.


“Kamu mau pergi ke night club yah, harusnya kamu mengajakku. Huft sayang aku besok harus bangun pagi untuk meeting” keluh Naoko yang sudah berdiri di depan pintu appartement.


“Next time kita akan pergi bersama” kataku sambil membuka pintu dan beranjak keluar.


Aku pergi menggunakan taxi, aku semprotkan parfum pekat menggoda di tubuhku. Supir taxi hanya tersenyum menatapku dari kaca spion tengah.


“Anda sepertinya akan berparty semalaman di Shibuya” kata supir taxi.


Aku hanya tersenyum tak menanggapinya, aku tahu tak jarang orang berpesta hingga pagi di Shibuya. Dimana mana banyak night club popular di Tokyo standby meraup pengunjung.


Nampak sebuah night club yang aku tuju sudah ada di hadapanku, aku berjalan layaknya wanita malam yang anggun masuk.


“Aku tamu VVIP dari tuan Uta” kataku pada security yang standby di gate depan.


Dua security yang ada di hadapannya saling menatap, dan menelpon salah seorang staff dengan earphone yang mereka kenakan.


Seorang pria berpakaian jas bunga – bunga dengan kalung rantai berwarna emas, pendek, menghampiriku.


“Silahkan nona, para tamu sudah menunggu anda” katanya.


Dia mengantarkanku ke lantai paling atas dan tersembunyi khusus untuk VVIP. Nampak gemerlap lampu dan interior yang mewah menyambutku dengan hiruk pikuk teriakan pengunjung yang menggila dengan dentuman music DJ di lantai dasar.


Beberapa tatapan pria hidung belang pun bergantian menatapku, tak jarang para wanita malam pun menatapku dengan sinis.


Aku tiba di sebuah ruang yang perornamen kaca yang terpasang random di setiap sisi dinding, dengan sebuah sofa merah melingkari meja panjang di tengah. Sebuah lampu gantung kristal terpasang kokoh dan menjuntai ke bawah.


Kawaki dan para anak buahnya sedang minum dan bercumbu dengan para wanita malam. Seorang penari striptis sedang meliuk – liukkan tubuhnya berdiri diatas meja tanpa busana. Kepulan asap rokok seakan menelan aroma parfumku, aku berdiri dan tersenyum menatap mereka.


“Saatnya beraksi Yoshiko!” teriakku dalam hati.


“Huah!!!... Siapa ini, kamu berubah di malam hari nampaknya” sambut Uta menghampiriku.


“Siang dan malam adalah dua hal yang berbeda” kataku santai.


Kawaki yang duduk di sudut tengah menatapku tajam dari kejauhan.


“Kamu lebih menarik di malam hari” ungkap Uta menatapku kagum.


Kawaki lalu mengangkat tangan kanannya dan melambaikan jemarinya ke arahku.


“Maaf… aku harus menemui pria di ujung sana, dia lebih dulu mengajakku bermain” bisikku ke telinga Uta.


Seorang perempuan berambut panjang duduk di sebelah kiri Kawaki, dia bersandar di tubuh Kawaki bak siluman ular yang menggoda. Aku langsung menyerobot duduk menyamping di pangkuan Kawaki, melingkarkan tanganku ke lehernya. Menjambak rambut wanita itu untuk menyingkirkan kepalanya dari bahu Kawaki.


“Hei jal@ng...berani sekali kamu melakukan ini kepadaku” marahnya.


Lantas aku mengambil gelas yang ada di meja depan Kawaki dan menyiramkan alcohol ke wajahnya.


“Aku adalah tamu undangan yang diminta untuk bermain dengannya malam ini, jadi pergilah. Atau aku akan menghabisimu” kataku dengan tenang.


Kawaki menatap wanita itu dengan dingin dan berkata “ Pergilah”.


Wanita itu menatap Kawaki penuh rasa rakut, dan berlalu.


“Ternyata wanita ini sangat brutal” celetuk Enju.


Kawaki menatapku dengan tajam, aku pun tersenyum kepadanya. Ku lepaskan sepatuku, lalu ku naikkan ujung kakiku keatas sofa.


“Apakah kamu menginginkanku?” bisikku ketelinganya.


“Apakah kamu tak takut kepadaku?” tanyanya balik.


“Kenapa harus takut, apa yang harus aku takutkan darimu” jelasku.


Kawaki meminta semuanya pergi dari ruangan, semuanya beriringan pergi meninggalkan kami berdua.


Lantas aku berdiri dari pangkuannya, dan duduk diatas meja menghadap kearahnya.


“Kenapa kamu datang kepadaku sore tadi, apakah aku sangat menarik?”.


“Wajahmu sangat menarik bagiku”.


“Oh ya, wajahku memang cantik terlebih aku jago merias diri”.


“Tapi aku benci bau parfummu, kamu tak seperti dia. Kamu hanyalah wanita jal@ng”.


“Siapa dia, aku bisa berikan kenikmatan yang kamu butuhkan lebih dari dia”.


Aku menantang keberanianku untuk beracting sebaik mungkin untuk mengecohnya. Aku pun duduk di sampingnya dan membelai wajahnya yang dingin. Ingin rasanya aku mencekiknya sampai mati.


Dia menepis tanganku, lantas menyambar bibirku dengan kasar.... dia mencium bibirku. Aku pun mengikuti permaiannya, hingga lidah kami pun saling beradu. Perasaan menjijikkan seakan menyelimutiku. Namun aku tak dapat berhenti dari ciuman yang makin panas ini.


Tangannya merengkuh tengkuk leherku, dia merebahkan tubuhku di sofa dan menindihku. Oh tidak ini, apakah ini akan berlanjut ke step yang tak kuinginkan. Lalu mendadak dia menghentikannya dan berkata “Kamu tetaplah bukan dia, dasar jal@ng”.


Dia berdiri lantas mengambil sebatang rokok dan menghisapnya, memunggungiku.


“Tapi bukankah kamu tertarik kepadaku?” tanyaku sembari merapikan riasanku.


“Dia tak akan membalas ciumanku, dan dia tak menggunakan parfum menyengat sepertimu. Dia selalu melawanku, matanya penuh kebencian dan dia adalah gadis yang akan aku temukan” jelasnya.


“Lantas kenapa kamu memintaku bermain denganmu, kalau sudah ada wanita lain yang kamu tunggu. Jemput saja dia, buang – buang waktuku saja” ketusku.


Lantas satu botol minum beralcohol di guyurnya ke kepalaku, hingga kepalaku basah kuyup.


“BYUURRRR!!!”.


“Apa ini!!!” kataku kesal.


“Pergilah, aku tak membutuhkan wanita ****** sepertimu” katanya.


“Baiklah, tapi kenapa kamu perlakukan aku dengan buruk. Aku bukan dia yang kamu tunggu, aku adalah Yoshiko Kobayashi. Ingat itu” keluh sambil mengambil tasku dan pergi meninggalkannya.


Diluar aku tak sengaja bertemu dengan Asahi, kami saling bertukar pandang namun aku tetap berjalan pergi. “Misiku berhasil, ini jalan untuk tak diganggu Kawaki” gumamku dalam hati. Chiyo tak akan kamu temukan dimana pun … saat ini hanya ada Yoshiko Kobayashi.


...xxxxxxxxxxxxxxxxx...