LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 41 : PENGAKUAN JIRO



Punggung bertattoo naga yang melingkar dengan garang membalut punggung Kawaki yang kekar sedang memunggungiku. Dia mematikan rokoknya di asbak yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Aku terduduk di lantai mengatur ritme nafasku, kemudian dia menoleh ke arahku.


“TAP…TAP…TAP” langkahnya mendekatiku.


Menggendongku ke tempat tidur, membaringkanku begitu pun tubuhnya di rebahkan miring ke arahku. Jemarinya menyentuh luka bekas jeratan kabel telepon yang di lilitkan kepadaku barusan.


“FUH…FUH…FUH..” dia meniup – niup leherku kemudian menciumnya lembut.


Aku benar – benar tak habis pikir mengenai sikapnya yang sulit di tebak, entah apa yang ada di kepalanya.


“Ini bentuk kepedulianku kepada korbanku yang putus asa untuk hidup” katanya dengan wajah datar.


Aku tak bergeming mendengarnya, tubuhku cukup lemas meladeninya. Jemarinya kemudian meraba tengkuk ke punggungku, di bukanya restleting dressku membuatku terkejut. Sontak aku menahan tangannya.


“Ku mohon jangan lakukan apapun kepadaku” mintaku dengan lirih.


“Tenanglah, aku tak akan menidurimu” katanya sembari menurunkan dressku hingga dada.


Dia mengamati luka bekas tendangannya, sundutan rokok di bagian atas dada serta gigitan di bahuku. Dia pergi keluar sebentar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, tanpa mengenakan apapun. Beberapa menit kemudian dia datang membawa kotak P3K. Menyiapkan beberapa obat saleb dan lainnya.


“SRETTTT…” dia melepaskan dress yang ku kenakan kemudian melemparnya ke lantai. Aku hanya mengenakan bra dan cel@na dalam, meringkuk menutupi tubuhku.


“Kamu tidak perlu menutupi tubuhmu, aku sudah melihat semuanya. Berbaringlah dengan terlentang, aku akan memberikan pengobatan gratis sebagai kompensasi” ujarnya. Aku pun menurutinya, meski risih dia menyentuh sekujur tubuhku.


Setelah selesai dia memberikan saleb ke sekujur tubuhku yang penuh luka, dia menyodorkan sebuah pil dan segelas air kepadaku.


“Minumlah” katanya.


“Tidak” tolakku.


“Ini bukan racun atau narkob@, ini adalah obat untuk menyembuhkan lukamu dari dalam” jelasnya.


Aku pun masih menutup mulutku, aku tak yakin dengan perangainya yang sulit di tebak itu.


“Kamu memilih meminumnya atau aku akan memperk@samu sekarang” dia mengancamku dengan wajah dinginnya.


Aku beranjak duduk dan mengambil pil serta segelas air yang ada di tangannya. Aku meminumnya meski perasaanku benar – benar takut. Dia pun mengambil gelas dari tanganku dan meletakkannya di meja sembari merapikan kotak P3K.


“SRETTTT…” dia menarik selimut dan menutupi tubuhku.


“Tidurlah, besok Jiro akan mengantarmu ke rumah orang tuamu” katanya.


“Apa benar yang kamu katakan barusan, berjanjilah kepadaku untuk tak mengingkarinya” kataku memastikan.


“Aku berjanji, selama kamu tetap bermain denganku. Apabila kamu mencoba melarikan diri, aku akan membunuh Jiro dan seluruh keluarganya” ancamnya kepadaku.


Seketika aku sadar kenapa Jiro yang ditugaskan untuk mengantarku, karena dia menumbalkan Jiro untuk mengikatku. Dasar licik, aku dalam posisi yang serba salah.


“Aku mengerti” jawabku.


Dia pun pergi meninggalkanku di kamar sendirian, perasaanku bercampur aduk meksi ku coba menutup mata.


Keesokan harinya…


Aku sedang berganti pakaian di toilet setelah mandi, menyisir rambutku di depan cermin wastafel. Tiba – tiba Kawaki membuka pintu toilet “Ceklek”.


“Wajahmu itu pasaran tidak perlu menatap cermin lekat – lekat terlalu lama, ayo turun kita makan” celetuknya.


Kemudian dia meraih pinggangku dan menggiringku turun ke bawah untuk sarapan.


Enju dan Jiro sudah menunggu kami di ruang makan hotel untuk sarapan.


“Lepaskan pinggangku” kataku risih yang sedari tadi di pegang Kawaki.


“Biarkan semua orang melihat, kalau kita adalah pasangan. Jadi kalau kamu membuat onar seperti tadi malam, mereka tahu kepada siapa harus melapor” jelasnya.


“Kenapa kamu tidak suka dengan kata pasangan, akan ku ubah menjadi majikan dan pel@cur. Seperti lebih bagus di dengar” katanya sembari jemarinya dari pinggangku naik ke dadaku lalu meremasnya.


“AAAAUUU” aku terkejut sembari melepaskan jemarinya.


“Jangan bertindak tidak senonoh kepadaku, apa kamu tidak punya rasa malu? Ini di tempat umum!” protesku mencoba jaga jarak darinya.


“Berarti aku dapat melakukannya saat hanya ada kita berdua, baiklah” sahutnya.


“Aku tidak mengatakan itu, dan tidak menyetujuinya” marahku.


“Aku tidak peduli kamu setuju atau tidak, bagiku seluruh tubuhmu milikku” katanya angkuh.


Kami pun tiba di depan Enju dan Jiro kemudian duduk bersama untuk sarapan.


Jiro nampak salah tingkah menanggapi keberadaanku yang ada di depannya.


“Antar kan dia hari ini ke rumahnya, biarkan dia melihat keluarganya. Setelah bertemu keluarganya, bawa dia pulang” minta Kawaki sembari makan.


“Ya, akan aku lakukan” Jiro menanggapi.


“Pastikan dia kembali…. Jiro” Kawaki memberi tekanan pada intonasi suaranya.


“Aku mengerti” Jiro meyakinkan.


“Tenanglah Kawaki, Jiro akan mengantarkan gadis ini kembali” tambah Enju.


“Aku selalu percaya kepada kalian, begitu denganmu Jiro” seakan Kawaki memberi sebuah tekanan kepada Jiro.


Suasana diantara kami semakin canggung membuatku tidak nyaman.


Jiro dan aku menaiki mobil sedan berwarna putih menuju ke rumahku. Suasana di mobil cukup tegang antara kami berdua.


“Kamu tak ingin mengatakan apapun?” aku memulai pembicaraan.


“Sejujurnya aku ingin mengatakan ini, maaf” katanya sembari menatap ke arah depan fokus menyetir.


“Mungkin aku bisa memaafkanmu mengenai keputusanmu untuk menipuku demi keselamatan keluargamu, namun aku tak bisa memaafkanmu membunuh Azura” jawabku dingin.


“Aku tak punya pilihan, malam itu Azura memintaku menurunkanmu dari mobil. Dia bilang tak akan meninggalkanmu meskipun harus mati ditanganku” ungkapnya.


“Dia sudah curiga sedari awal mengantarku, harusnya aku tak memintanya mengantarku malam itu. Ku kira dia sudah pergi meninggalkanku, aku tak percaya dia mencari tahu tentang apa yang aku lakukan. Hingga dia memutuskan melakukan aksi penyelamatan berujung maut” kataku dengan dada yang begitu sesak.


“Aku meminta Uta melakukan pemakaman dengan layak untuknya, setelah jasadnya di kremasi abunya di tabur ke laut. Malam itu rasa bersalah mengerutukiku, untuk pertama kalinya aku membunuh orang dengan rasa bersalah sedalam ini” aku nya.


“Dia menjaga keluargamu, disaat kamu pergi meninggalkan mereka. Azura menjadi orang yang standby 24 jam untuk bibi Sanchi, nenek serta kakek. Bahkan aku bekerja disana atas rekomendasi Azura, betapa sayangnya Azura kepada keluargamu. Dia menganggap mereka keluarganya sendiri” tambahku.


Aku menatap Jiro, matanya mulai berkaca – kaca. Dia tak bisa menutupi rasa bersalahnya dan kepedihannya telah membunuh orang yang berharga bagi keluarganya. Dalam diamnya, aku tahu dia sangat tertekan dengan rasa bersalah yang teramat dalam.


“Bibi Sanchi pasti mencari kami setelah malam itu, dia pasti kehilangan atas kepergian kami yang mendadak. Aku bahkan tak bisa mengatakan apapun dan bisa mengabari apapun hingga kini. Ponselku di sita Kawaki dengan semua identitasku. Kalau tahu kamu membunuh Azura, pasti bibi akan sangat sedih dan kecewa kepadamu” kataku.


Seketika Jiro menepikan mobil kemudian keluar untuk menumpahkan tangis yang sedari dia tahan. Dia berjongkok di pinggir jalan sembari mengusap matanya. Aku menghampirinya sembari menepuk – nepuk bahunya.


“Aku tak bisa melakukan apapun, maafkan aku. Aku benar – benar merasa menyesal, tapi aku tak punya pilihan. Nemo menyadap ponselku, Kawaki mengetahui semuanya lalu membuatku memilih kala itu dirimu atau nyawaku serta keluargaku. Aku terpaksa melakukan ini semua.


Sejak awal Kawakilah yang membantuku melunasi hutang judi yang ditinggalkan ayahku, dia sangat respect terhadap keluargaku. Membuatku bergabung menjadi anggota klan Endo. Kawaki tak mungkin tega membunuh keluargaku, namun semua ini menyangkut dirimu. Baginya pengkhianatan tidak bisa diampuni. Pamannya saja terbunuh karena meloloskanmu pergi ke Tokyo kala itu” cerita Jiro.


DEGH…


Hatiku sakit mendengarnya…


Semua yang terbunuh adalah karena aku, yang patut disalahkan harusnya adalah aku seorang. Menyadarinya membuat dadaku semakin sesak mendapati diriku sebagai penyebab pembunuhan berantai selama ini.


xxxxxxxxx