LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 43 : RENCANA PERTUNANGAN HIROSHI



Sekembalinya aku ke kamar hotel, ku dapati Kawaki sedang merokok terduduk di kursi. Emosiku yang membuncah membuatku semakin muak melihat wajahnya. Iblis yang menghancurkan kehidupanku dan orang – orang yang ada di sekitarku.


Aku mengacuhkannya, mengambil baju dan pergi ke kamar mandi. Dia memandangiku lalu mematikan rokoknya kemudian membuntutiku masuk ke dalam kamar mandi. Dengan dingin aku menghadapinya.


“Apa yang kamu mau dariku, aku sedang mau mandi” kataku dingin.


“Aku ingin mandi bersamamu” kata menjijikkan keluar dari mulutnya.


“Aku tak mau, kalau begitu aku urungkan untuk mandi sekarang” aku pun menanggapinya dengan tenang.


“SREEETTTT!” Dia meraih tubuhku menyudutkanku ke tembok, menciumi bibirku dengan kasar. Memagang pinggangku lalu meraba bokongku dan meremasnya, sedangkan aku hanya mematung bak manekin tak bernyawa. Dia sadar aku tak merespon apapun, lalu dengan kesal dia menghentikan tindakannya itu. Keluar kamar mandi dengan membanting pintu “BRAAAAKKKKK!!!”.


Aku hanya bisa menghela nafas tanpa berekspresi, terduduk di lantai dan merengkuh kedua kakiku. Membenamkan wajahku ke dalam kedua kakiku yang ku dekap. Aku tak memiliki tenaga untuk segala tindakannya, amarah, kebencian terlumpuhkan dengan kepedihanku mendengar kemalangan Naoko.


Kawaki tak kembali ke kamar hingga hari berganti, aku hanya terbaring mencoba memejamkan mata tak bergeming dengan sinar matahari yang menerobos masuk. Seorang pelayan hotel masuk dan menyajikan makanan di meja, aku hanya menatapnya lalu berbaring kembali.


Nafsu makanku sudah hilang, lidahku kelu, kerongkonganku seakan tercekat dengan semua pikiran yang ada dibenakku. Hingga malam kembali menyambut hariku, pelayan hotel mengambil makanannya dan menggantinya dengan yang baru.


“Nona makanlah, hari ini anda belum makan apapun. Apakah anda sakit?” tanya pelayan hotel perempuan muda dengan tubuh sedikit lebih pendek dariku.


Dia menghampiriku yang sedang terbaring di tempat tidur, saat dia ingin menyentuhku. Seketika dia terkejut menatap bekas luka di leher dan lenganku yang terlihat olehnya di balik t- shirt tanpa lengan yang sedang ku kenakan.


“Astaga…” katanya spontan lalu menutup mulutnya.


Berlutut di sampingku dan menatap wajahku yang datar tanpa ekspresi.


“Nona apakah anda baik – baik saja, saya akan membawakan obat untuk anda” dia pun dengan ramah menawarkan bantuan.


Tapi Kawaki masuk dan melihatnya mendekatiku, “Biarkan dia, keluar sekarang!”.


Pelayan hotel itu pun kaget dengan suara Kawaki yang meninggi kepadaku, lantas dia pergi meninggalkanku dengan wajah ketakutan.


Dengan sepatunya yang masih membalut kakinya, Kawaki menggoyangkan tubuhku.


“Bangunlah… jangan manja dengan terus terbaring seperti bayi. Aku ingin dengar tangisan, jeritan bahkan rasa frustasimu. Tidak menarik menyiksa kalau kamu hanya seperti patung begini” katanya.


Aku mengacuhkannya tetap diam tanpa menatapnya.


“BUUUUUKKKK!!!!” Dia menendang tubuhku dengan keras karena kesal diacuhkan.


“Apakah kamu akan terus begini, bangunlah!” bentaknya.


Tak tahan dengan diriku yang membatu di ranjang, dia pun menggendongku menuju kamar mandi. Menaruh tubuhku di bathtub dan menghidupkan air kran, aku pun bersuara saat dia melucuti pakaianku satu persatu.


“Hentikan” kataku lirih menatapnya tajam.


Dia hanya tersenyum sinis dan masih membuka pakaianku dengan paksa, hingga akhirnya tak ada sehelai kain pun yang menutupiku tubuhku yang terbaring di bathtub dengan air yang menggenang.


Aku pun melingkarkan tanganku ke lehernya, dimana dia sedang jongkok di pinggir bathtub. Ku dekatkan wajah ke telinganya. Sorot matanya sedikit berubah melihatku melakukannya, aku tahu dia menutupi keterkejutannya.


“Kamu puas melakukan ini, bukanlah tubuh ini yang penuh dengan luka tak berbusana membuatmu terus berhasrat memilikinya. Menyentuh dan menjamahnya adalah fantasi yang terus berputar di pikiranmu” bisikku menyindir sikapnya yang tak senonoh itu.


Dia pun membalas memeluk tubuhku dan berkata “Kamu mencoba memancingku, menurutmu aku sangat menginginkannya. Jangan bercanda, tubuhmu hanyalah mainan di waktu senggangku. Menjamahmu bukanlah fantasiku, tapi menyiksamu hingga mati itu paling menarik bagiku”.


Lantas di raihnya kepalaku dan ditenggelamkannya ke genangan air di bathtub, sontak aku pun meronta untuk minta di lepaskan. Sampai dimana aku kehabisan nafas dan melemah, dia pun melepaskanku dan meninggalkanku di bathtub. Kawaki pergi keluar kamar tanpa mengatakan apapun.


Aku keluar dari bathtub mengambil handuk dan menyelimuti diriku sendiri, terbatuk – batuk serta mengatur ritme nafasku yang hampir hilang. Tubuhku yang basah kuyup mulai terasa dingin, aku merangkak keluar kamar mandi lalu mengambil pakaian dan mengenakannya.


Meringkuk di ranjang dengan tubuh menggigil, selimut membenamkanku di tempat tidur. Tubuhku lemas, pandanganku mulai samar dan aku tak sadarkan diri.


Saat aku tersadar aku sudah ada di samping Kawaki di tempat tidur, tangan dan kakinya menindih tubuhku bagian atas. Di keningku ada sehelai handuk yang mengering, ku perjelas pandanganku ke sekeliling ada sebuah baskom serta pill dan gelas di meja.


“Kamu ingin membunuhku?” tanyanya melihat jemariku sudah ada di lehernya.


“Aku membencimu” ungkapku.


“Lakukanlah bila kamu mampu, mencoba mencekikku adalah hal yang sangat mudah yang bisa kamu lakukan sekarang. Tapi aku tak akan mati dengan cekikan jemari kecilmu itu” katanya angkuh.


Aku pun mengurungkan niatku dan mencoba beranjang bangun. Tetapi dia malah mendekapku, seakan tak ingin aku pergi.


“Lepaskan aku” protesku.


“Tidurlah lagi, aku merasa lelah. Akan ada banyak hal yang hari ini harus aku siapkan. Bersiaplah sebentar lagi kita akan menggelar pesta pertunangan untuk mantan calon tunanganmu” aku nya.


“Apa maksudmu? Hiroshi bertunangan? Dengan siapa?” aku pun memburu jawabanya darinya.


“Aku tak akan menjawabnya sebelum kamu menemaniku tidur lebih lama lagi” jawabnya sembari mendekapku dengan erat.


Dengus nafasnya terdengar jelas di telingaku, suhu tubuhnya yang dingin menempel di badanku. Aroma tubuhnya kini mulai ku kenali, kedua kalinya kami tidur dalam satu ranjang.


Tubuh inilah yang ingin sekali aku binasakan, tubuh inilah yang ingin sekali aku musnahkan. Banyaknya manusia tak berdosa menjadi korban atas kebrutalannya hanya demi mendapatkanku. Suatu saat nanti aku akan membalaskan kematian mereka. Tekadku membara dalam hatiku.


Waktu pun terus berlalu, kami terbangun di malam hari menunjukkan pukul 20.00


“TOK…TOK…TOK…” suara ketukan pintu dari luar.


Kawaki melepaskanku dan mulai menyadarkan diri, lantas terbangun dan menjawab “Masuk”.


Asahi datang menemui kami berdua yang masih terbaring di atas ranjang.


Aku mulai bangun dan terduduk di atas ranjang, Kawaki pun demikian.


“Ada apa Asahi?” tanya Kawaki.


“Tuan Muda, waktunya makan malam. Anda harus hadir di acara pertemuan antar keluarga” jawab Asahi yang berdiri di seberang ranjang sambil memandang ke arah kami.


“Baiklah, aku akan bersiap. Ayahku sudah datang?” tanya Kawaki.


“Sudah tuan, beliau pun sudah bersiap untuk ke ruangan yang sudah di persiapkan” jawab Kawaki.


“Baiklah, owh ya pesankan dia makan. Aku tidak mau peliharaanku mati sebelum aku membunuhnya” kata Kawaki yang ditujukan kepadaku.


“Baik tuan muda, kalau begitu saya permisi untuk pamit keluar” sahut Asahi lalu berjalan keluar.


Kawaki berdiri dari ranjang melakukan beberapa gerakan peregangan kemudian menatapku yang terduduk di atas ranjang.


“Makanlah, dan siapkan dirimu untuk mendapatkan kabar baik dariku” kata Kawaki dengan tersenyum licik.


“Siapa yang akan ditunangkan dari keluargamu untuk Hiroshi?” aku pun langsung menembak pertanyaan kepadanya.


“Tidak seru kalau aku katakana sekarang” jawabnya membuatku semakin yakin.


“Kanon?” tanyaku memastikan.


“Kamu tahu nama adik tiriku, baguslah. Sepertinya kalian cocok untuk menjadi mantan dan calon tunangan. Selamat tebakanmu benar, gadis itu lebih cantik ketimbang dirimu. Dia pun masih muda pasti anak konglomerat itu akan suka. HAHAHAHAHAHA” dia seakan meledekku dengan kata – katanya.


Aku yakin dia merencanakan ini semua pasti punya tujuan terselubung, aku harus bertemu dengan Hiroshi untuk memperingatkannya.


xxxxxxxxx