LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 58 : KEBEJATAN KAWAKI



Saat aku sadar, aku melihat sekitar dan tak tahu entah masih malam atau telah berganti hari menjadi pagi atau siang hari. Sebuah kamar dengan lampu disco berputar berwarna warni, membuatku pusing.


Aku merasakan linu dan perih di area muara inti milikku. Ku dapati tubuhku tak berbusana terbaring dengan Kawaki memelukku dari belakang.


Tangannya kanannya memegang dadaku sedangkan tangan kirinya menjadi alas kepalaku. Ritme nafasnya terdengar jelas, aroma alcohol yang pekat memenuhi tubuhku dan dirinya. Merasakan tubuhku yang bergerak – gerak jemari nakalnya menyentuh muara inti milikku dan bermain di sana.


“Kawaki hentikan…” keluhku yang merasakan sensasi aneh menjalar ke tubuhku.


“Aku sedang membantumu untuk merasakan kenikmatan hingga basah” katanya membuat diriku semakin jijik dengan tubuhku sendiri yang di sentuh olehnya.


“Dasar binatang, lepaskan tanganmu dari bawah sana!!!” makiku seakan ada yang merayapi tubuhku.


Sebuah cairan keluar dari bawah sana, membuat Kawaki meringis binal. Lalu dibukanya kedua pahaku dan memasukkan miliknya yang sedari tadi menegang.


“Mari kita ulang kenikmatan tadi malam” katanya memulai aksi bej@tnya kepadaku.


“AAAARRRGGGHHHH!!!” teriakku merasakan senjatanya memasuki muaraku dengan paksa.


“Dasar binatang!!! Hentikan” aku mencoba meronta, tapi tangannya kanannnya mengunci kedua tanganku dan tubuhnya menindihku. Seakan pemberontakan yang aku lakukan terhadap apa yang dia lakukan hanyalah sia – sia belaka.


“Munafik, dasar jal@ng. Kamu pun menikmatinya tapi terus meronta seakan aku memaksamu. Muaramu menyambut senjataku yang terus memberikan kepuasan di bawah sana. Nikmatilah dan ikuti ritmenya, aku akan membuat terengah – engah dan terus menjerit karena nikmat” katanya dengan tersenyum licik.


“Hentikan!!!” teriakku yang merasa kesakitan atas pelecehan yang ku dapatkan darinya.


Di sumpalnya mulutku dengan mulutnya, di masukkan lidahnya mengaduk mulutku. Diesapnya leher lalu di balikkan badanku dan menaikkan bokongku dan di masukkannya lagi senjata miliknya. Di kunci kedua tanganku ke belakang dengan tangan kanannya dan tangan kirinya terus meremas serta memukul bokongku.


Entah berapa kali dia melakukannya, berkali – kali lahar panas memenuhi muara inti milikku.


Aku tak sanggup untuk mengatakan apapun lagi… sebuah perlakukan bej@tnya yang dilampiaskan kepadaku berulang – ulang membuatku tak sadarkan diri lagi karena kelelahan.


Setelah puas dengan apa yang di lakukannya, dia meninggalkan tubuhku begitu saja di atas tempat tidur.


Ingin sekali aku menusukkan pisau ke lehernya hingga mati, tapi aku tak sanggup melakukan apapun.


Tattoo naga yang melingkar di punggungnya nampak jelas memunggungiku. Dia mengambil rokok dan menghisapnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Di kenakan semua pakaiannya, lalu memunguti pakaianku di lantai dan di lemparkan ke wajahku.


“Pakailah, sebentar lagi kita tinggalkan tempat ini. Aku harus menyewakan ruangan ini kepada para pelangganku, kita sudah satu malam satu hari disini. Tubuh penuh luka itu benar – benar nikmat, goresan bekas luka itu membuatku terus ingin menikmatinya” katanya yang duduk di samping diriku yang terbaring tak berdaya.


Aku mencoba bangun dan mengenakan pakaian, serasa linu dan nyeri di bagian muara inti milikku. Aku tak sanggup berjalan, benar – benar rasanya sangat tidak enak. Kawaki yang menatapku dengan senyuman mengejek.


“Kenapa, apakah aku terlalu keras bermain denganmu? Aku hanya memberikan setengah keperkasaanku, tapi tubuhmu sudah seperti itu. Mana sikap brutalmu yang terus memancing emosiku? Hah!” sindirnya sambil meremas bokongku.


“Aku akan membunuhmu” kataku tanpa takut.


“Lakukanlah selama kamu mampu, aku tak akan terbunuh di tangan gadis jal@ng yang lemah sepertimu” dia pun mulai menunjukkan keangkuhannya.


Air mataku menetes mendapati tubuhku sudah sangat kotor berkat dinodai olehnya.


Lalu dia menggendongku memasukkanku ke dalam mobil, aku bertemu dengan Hotaru dan Hatori setelah sekian lama. Keduanya pindah ke mobil lain, sorot mata mereka menatapku penuh keprihatinan meski tak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka.


Kawaki menyetir sendiri dengan aku yang ada di sampingnya.


Sepanjang jalan dia membahas rencana pertunangan Kanon dan Hiroshi, tapi aku tak meladeni semua omongannya.


“Apakah kamu marah mendengarnya hingga tak bersuara?” tanya Kawaki.


“Aku tak harus marah dengan apa yang kamu rencanakan” aku ku.


“Baguslah… tetaplah menjadi peliharaan yang baik, maka aku akan mengasihimu. Seperti Kanon, setelah dia tahu rasanya terbakar kini dia tumbuh menjadi anak baik. Aku memberikan hadiah atas pertumbuhannya yang makin baik itu” ungkap Kawaki.


“Apakah yang kamu maksud memberikan hadiah adalah dengan memasukkan dia ke tempat prostitusi serta menunjukkan pertunjukan tidak senonoh. Dasar gila” gerutuku.


“Tak hanya itu, malam kemarin dia menikmati malam panasnya bersama Uta di mobil. Sebuah hadiah menuju kedewasaan, karena dia akan menikmati itu semua kelak bersama Hiroshi” aku Kawaki membuat sontak terkejut.


DHEG!!!


“Apa kamu bilang?! Apa maksudmu dengan malam panas?” tanyaku memastikan pikiranku salah tentang perkataan Kawaki.


“Seperti yang kita lakukan, malam panas dengan kenikmatan yang selama ini tak dia dapatkan” jawab Kawaki sambil tersenyum puas.


“Kamu gila! Kamu telah merusaknya, kamu jahat… aku tak habis pikir betapa bej@tnya dirimu melakukan itu kepada adikmu sendiri!!!!” teriakku histeris dengan meluapkan amarahku memukuli tubuh Kawaki yang menyetir mobil.


“Hei…tenanglah, aku sedang menyetir!” bentaknya.


Dia langung meminggirkan mobil, lalu menamparku.


“PLAAAAKKKK!!!”.


“Apa kamu tidak waras, hah!” makinya dengan murka.


“Ya…aku tidak waras, karena berurusan dengan pria tak waras sepertimu! Teganya kamu meyuruh Uta meniduri adikmu sendri. Kamu benar – benar gila dan tak termaafkan!” teriakku lalu memukulinya kembali.


Dia pun menepis pukulanku dan mengambil tali lalu mengikat kedua tanganku.


“Apa aku perlu menurunkanmu dan melindasmu dengan mobil ini, Hah! Dia bukan adikku tapi dia adalah adik tiriku, dia berjuang untuk dapat aku terima dan itu membuatku muak. Jangan coba untuk merasa peduli kepadanya, aku muak melihatmu akrab dengannya. Apa yang aku lakukan itu demi kebaikannya, mengajarinya $ex di usia dini bukankah itu hal wajar. Jangan terus menjadi munafik, Chiyo” kata Kawaki dengan menjambak rambutku dan mendekatkan wajahnya kepadaku.


Sejak saat itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Kanon. Entah bagaimana keadaannya, ingin rasanya aku memeluknya dalam tangis. Kemalangan yang ia terima dari kebej@tan kakaknya, membuatku ikut terluka dan sedih.


Aku di sekap di dalam bangsal bawah tanah di dalam kediaman klan Endo berminggu – minggu dan hanya ada pelayan datang memberikanku makan secara rutin sehari sekali. Kawaki pun tak pernah datang menghampiriku, hingga musim dingin pun mulai datang menyambutku.


XXXXXXXXXXXXXXXXX