LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 66 : PERTEMUAN KAWAKI DAN SOMA



Pagi hari Kawaki menghampiriku, meletakkan sebuah setelan kimono jenis Tsukesage berwarna biru muda. Dia yang sudah rapi dengan kimononya serta sebuah kipas dia pegang di tangan kanan. Nampak anggun dan berwibawa, tatapan matanya yang sadis menambah kegarangannya.


“Pelayan akan membantumu berhias dan mengenakannya, jangan membuatku malu dengan wajah pucat dan tubuhmu yang semakin kurus itu. Berperanlah dengan lebih baik sebagai calon anggota klan Endo” titahnya dengan tatapan dingin kepadaku.


Aku yang tengah duduk di atas ranjang hanya menatap wajahnya datar, lalu ada dua pelayan memasuki kamar dan mulai membantuku bersiap ke acara pertunangan Kanon dan Hiroshi. Setelah aku sudah didandani begitu cantik layaknya wanita jepang yang anggun.


Kawaki yang sedari tadi menungguku sambil merokok di depan kamar, wajahnya membeku setelah melihatku keluar dari kamar bersama kedua pelayan.


“Kenapa kalian meriasnya sangat lama, harus butuh berapa orang biar bisa cepat. Aku tak mau terlambat, semua orang sudah berada di hotel kecuali kita” maki Kawaki kepada kedua pelayan yang ada di sampingku.


“Maaf kan kami tuan muda” kata salah satu pelayan.


“Pergilah kalian. Chiyo ikuti aku dengan cepat” kata Kawaki mengusir kedua pelayan itu dan memintaku mengikutinya.


Di memilih mobil sedan keluaran luar negeri berwarna putih, masuk ke dalam mobil dan membantu mengenakan sabuk pengaman. Perhatiannya tak memancingku berbaik sangka, karena semua yang dia lakukan akan berujung penyiksaan lagi dan lagi.


Di tatapnya wajahku dari dekat, lantas menarik daguku agar bisa lebih dekat kearah wajahnya.


“Aku tak akan merusak riasanmu, meski aku ingin sekali memakanmu. Aku akan sangat bersabar menunggu setelah hari ini kelar, bersiaplah” bisiknya ketelingaku.


Mobil sedan putih itu melaju dengan sangat kencang, di pertengahan perjalanan kami ada dua buah mobil sedan berwarna hitam mulai menyalip dan mengapit mobil yang kami kendarai.


“Siapa mereka?” tanyaku panik.


“Sial…mereka merusak moodku” alih – alih menjawab pertanyaanku, Kawaki meluncurkan umpatannya.


Kawaki mencoba lepas dari kedua mobil yang terus mengganggu kami melaju, dengan kecepatan tinggi Kawaki mulai menikung memotong jalan. Awalnya langkah ini berhasil namun ada sebuah truk towing berwarna merah di depan kami.


“KAWAKI!” teriakku panik.


“SIAL!” maki Kawaki namun dia terus menginjak pedal rem dan membanting setir hingga mobil oleng dan berbelok ke kiri jalan.


Ada sebuah mobil sedang terparkir berwana hitam terhantam oleh mobil yang kami tumpangi. Body depan mobil menghantam keras, hingga kaca mobil yang kami tumpangi pecah.


“AAAAAAAA!!!!!” teriakku spontan sambil memegangi perutku.


Airbag mobil akhirnya terbuka dan menahan wajah dan tubuh kami, tapi guncangan mobil yang dasyat membuat perutku mengalami kontraksi.


Pemilik mobil yang kami tabrak itu keluar dari sebuah toko bunga, dan berlari kearah mobil kami. Dia mencoba membuka pintu mobil setelah melihatku dari depan.


“BRAAAKKKK!!!!” pintu kaca di pecahkan dan dibuka paksa.


Kawaki menatapku dengan pelipisnya penuh darah, aku yang masih sadar merasakan sakit yang begitu hebat di perutku.


Pria tampan bertubuh atletis mengenakan kimono merah maroon sang pemilik mobil depan, melepaskan sabut mengaman dan mengeluarkanku dari dalam mobil.


“Nona…apa kamu baik – baik saja?” tanyanya.


“Perutku…” rintihku.


Darah segar mengalir hingga ke kakiku dan aku pun pingsan tak sadarkan diri.


Aku dan Kawaki dilarikan ke rumah sakit terdekat dimana pria yang menolong kami adalah pemilik mobil yang kami tabrak.


Kawaki yang hanya terluka ringan di bagian pelipis, di jahit bagian pinggir kepalanya lima jahitan. Sedangkan aku harus menelan pil pahit mendapati janin yang ku kandung telah tiada, aku mengalami keguguran akibat guncangan hebat di kecelakaan itu.


Proses persalinan begitu cepat, aku terbarik di rumah sakit dengan pakaian pasien. Saat aku terbangun nampak pria asing itu berada di sampingku.


“Nona…akhirnya kamu sadar juga” katanya dengan wajah cemas.


“Aku menolongmu, aku pemilik mobil yang kamu tabrak. Pasanganmu sebentar lagi akan kesini, dia hanya terluka ringan” jelasnya.


“Terimakasih” jawabku.


Seorang dokter datang ditengah – tengah perbincangan kami.


“Nona…janinmu tidak bisa kami selamatkan, mohon maaf kecelakaan yang kamu alami barusan merusak embrio di dalam rahimmu” kata dokter itu membuatku tercengang.


Tak terasa air mataku menetes hebat, lidahku kelu dan kerongkonganku tercekat. Tak sanggup rasanya aku mendengarnya, dadaku terasa sesak.


“Apakah anda suaminya?” tanya dokter itu kepada pria yang ada di sampingku.


“Bukan, saya hanya menolongnya. Suaminya sedang proses pemulihatan jahitan, sebentar lagi akan kesini” jelas pria itu.


“Baiklah kalau begitu, tolong sampaikan ini kepada suaminya saat dia kesini. Kami turut berduka cita” kata dokter itu.


“Baik” jawab pria itu.


Dokter itu pun berlalu, dan pria itu menyeka air mataku dengan tissue yang diambil di atas meja dekat ranjang tempatku terbaring.


“Nona…mungkin ini berat bagimu, percayalah akan ada kebaikan selanjutnya. Wajahmu mengingatkan aku dengan Chiyo, dia gadis periang dan adikku sangat menyayanginya” dia mencoba menghiburku.


DHEG!


“Apakah kamu kak Soma?” tanyaku tak mengenali wajahnya yang kini berpenampilan sangat nyentrik.


“Kamu mengenalku, apakah karena aku sangat tampan dan mulai popular di Jepang?” candanya.


“Ini aku Chiyo” ungkapku dia terhentak kaget.


“Chiyo…kamu, kenapa bisa…” aku tahu dia sangat bingung menemukanku dalam kondisi seperti ini.


“Ceritanya sangat panjang, hidupku telah hancur karenanya. Maafkan aku tak mengenalimu kak, kamu sangat berbeda dari 10 tahun yang lalu. Aku juga minta maaf atas kejadian hari ini, bukankah kamu harus menghadiri acara pertunangan Kanon dan Hiroshi malah terseret atas kemalanganku” kataku penuh kepiluan dan malu.


Kak Soma memegang tanganku dan mengelus kepalaku dengan lembut, sorot matanya tersirat kesedihan.


“Jangan tatap aku seperti itu kak, ku mohon” kataku sedih.


“Chiyo…maafkan aku, aku tak tahu kalau ini dirimu. Lantas janin itu…” dia tak sanggup melanjutkan perkataannya.


“Pria yang bersamaku adalah ayah dari janinku, dia menyekapku, menyiksaku dan memperkos@ku. Aku tak bisa menceritakan detailnya, tapi inilah yang aku alami. Dia adalah…” jelasku terpotong karena suara teriakan Kawaki.


“Lepaskan tanganmu dari tangan kekasihku!” teriak Kawaki yang berada di depan pintu dengan perban di kepalanya dekat pelipis.


Aku dan Kak Soma terkejut mendengarnya, namun kak Soma tetap menggenggam tangan kiriku dengan erat. Di tatapnya Kawaki yang berjalan menghampiri kami dengan sinis.


“Berani sekali kamu menyentuh milikku” kata Kawaki penuh penekanan.


Kedua beradu tatapan tajam dengan emosi yang tak ku mengerti, padahal keduanya baru pertama kali bertemu.


“Dia bukan milikmu” sahut kak Soma dengan lantang.


Suasana kamar rumah sakit menjadi sangat tegang, aku yang berada di tengah situasi ini hanya bisa bersedih atas kemalanganku sendiri.


XXXXXXXXXX